
*
*
*
Gue tidak bisa menahan kerutan di dahi, saat melihat Mala terlihat turun dari mobil yang tidak gue kenali. Gue baru selesai visit pagi rencananya mau cari sarapan bubur ayam depan rumah sakit. Langkah kaki gue spontan berjalan menghampirinya dan bukannya menuju tukang bubur ayam.
"Siapa?" tanya gue sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada, "kalau dilihat dari mobilnya sih kayaknya mobil cowok. Siapa? Gebetan baru nih?"
Mala tidak langsung menjawab pertanyaan gue. Yang dilakukan perempuan itu malah mensensor tubuh gue dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. "Bentar, ini Agha beneran bukan sih? Apa jangan-jangan reinkarnasinya dia?"
Gue langsung mendengus saat mendengar pertanyaan konyolnya. "Apaan sih?" Gue juga merasa risih ditatap begitu, "enggak usah mengalihkan pembicaraan!" sembur gue galak.
Mala tertawa. "Buset galak bener, ini sebenernya lo masih ngambek nggak sih? Kemarin nggak mau nemuin gue, chat gue diabaikan, tadi udah mau tanya-tanya gue, terus sekarang kok ngegas lagi?" Ia kemudian memegang kepalanya sok dramatis, "aduh, lo bikin gue pusing deh, Gha. Labil banget, kek anak SMP."
"Kalau gue anak SMP terus lo apa?"
"Kakel yang suka manjain adek gemesnya kali ya," gurau Mala sambil mencubit pipi gue, "duh, lo itu gemesin banget sih kalau lagi cemburu. Padahal kalau lagi ngomel lo itu ngeselin parah, mana kadang galak banget lagi."
"Nggak jelas." Gue geleng-geleng kepala lalu berjalan meninggalkannya, tak lama setelahnya Mala langsung menyusul.
"Mau ke mana?"
"Cari sarapan."
"Tumben belum sarapan dari rumah?"
"Kesiangan. Nggak sempet."
Mala ber'oh'ria sambil manggut-manggut paham. "Bareng deh sekalian, gue juga belum sarapan. Ini lo mau sarapan apa?"
"Bubur ayam."
"Dih, kok bubur ayam sih? Kayak orang sakit aja masa makannya bubur, beli ketoprak aja, yuk! Gue traktir deh."
Dengan wajah tanpa bebannya, Mala langsung merangkul lengan gue dan mengajak gue menuju tukang ketoprak yang kebetulan mangkal dekat rumah sakit.
"Bang ketoprak dua ya, pedes," serunya pada sang penjual.
Gue langsung melotot kesal ke arahnya. "Biasa aja, Bang, jangan yang pedes," koreksi gue pada sang penjual, pandangan gue kemudian beralih pada Mala, "masih pagi, La, astaga!" omel gue sambil mendorong dahinya.
"Beres, Mas!"
Bukannya marah gadis itu malah tertawa. "Ya gimana, kalau nggak pedes kurang nampol, Gha."
"Kurang nampol, kurang nampol, mau lo yang gue tampol?"
"Galak banget sih lo," rajuk Mala sambil memanyunkan bibir, "masih ngambek lo sama gue?"
"Dih siapa juga yang ngambek."
"Ya, elo itu yang ngambek."
"Gue nggak ngambek tuh, emang gue anak kecil ngambekan."
"Kalau gitu marah?" Mala langsung memiringkan kepalanya saat menatap gue.
"Kalau gue marah, gue nggak bakal mau duduk sama lo di sini," balas gue.
Mala manggut-manggut paham. "Oh, berarti cuma ngambek?" tanyanya dengan wajah ngeselin.
Gue berdecak. "Dibilang nggak ngambek, astaga."
"Ya udah, biasa aja nggak usah ngegas bisa dong?"
"Enggak," ketus gue kemudian.
__ADS_1
Mala tidak membalas. Gadis itu memilih untuk tidak mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya mengangguk paham dengan pandangan menatap ke arah jalanan.
"Jadi siapa yang tadi?" tanya gue memecah keheningan yang sesaat tadi sempat tercipta.
"Tetangga."
Kali ini gue yang mengangguk paham. "Oh, jadi lagi pedekate sama yang kemarin toh?"
"Kalau iya, kenapa? Emang nggak boleh?"
"Yang bilang nggak boleh siapa?" Gue ikutan balik bertanya.
Agak aneh sih memang kita tuh, gue tanya dia balik nanya. Dia udah nanya gue masih ikutan nanya lagi, terus kalau begini siapa yang jawab coba?
"Elo mungkin."
Gue langsung tertawa. "Ngawur! Ngapain juga gue nggak ngebolehin, itu sih terserah lo-nya, kan yang ngejalanin elo. Selagi orangnya baik sih, ya bagus. Gue dukung."
"Baik kok, baik banget malah. Buktinya gue aja dianterin kan tadi, padahal sebenernya tempat kerja dia nggak searah sama RS."
"Lo kan punya mobil, ngapain dia anterin lo? Modusnya jelek banget," ledek gue meremehkan.
"Mobil gue bannya bocor, anjir, su'udzon aja lo."
"Oh, di mana?"
"Di basemant apartemen."
"Hah? Kok bisa?"
"Enggak tahu, kayaknya gue dikerjai sih."
"Siapa?"
"Ya mana gue tahu. Orang iseng kali ya, agak aneh nggak sih? Soalnya ban mobil gue baru aja gue ganti, terus kalau seumpama kena paku di jalan, kayaknya nggak mungkin sampe apartemen juga kan? Pasti udah mogok di jalan, atau kalau deket apartemen deh semisal, nggak bakal nyampe basement juga kan? Pasti orang iseng kan?"
Mendengar pertanyaan gue, Mala langsung menoleh ke arah gue dengan tatapan bingungnya. "Buat apa?"
"Ya, biar tahu penyebabnya lah. Siapa tahu ban mobil lo emang beneran sengaja dikempesin orang."
"Duh, Gha, nggak kepo gue. Bodo amat lah kalau seandainya emang ban mobil gue dikempesin orang. Udah gue maafin," balasnya santai.
Gue tersenyum tipis. "Baik banget," komentar gue kemudian.
"Emang. Baru tahu lo?"
"Iya."
Gue tertawa. Mala langsung cemberut.
"Bercanda. Ntar baliknya bareng aja, sekalian ntar gue gantiin ban mobil lo."
"Enggak usah ntar gue dijemput kok." Mala menaikkan alisnya naik turun seraya memasang wajah senyum jumawanya.
Hal ini membuat gue seketika langsung menatapnya curiga. Buset, ngegas amat pendekatan mereka sampe dianter-jemput. Perasaan jaman pacaran sama Danu nggak begini-begini banget. Kayaknya gue lebih sering berangkat-pulang bareng Mala deh ketimbang mantannya itu. Tumbenan ini baru gebetan udah langsung anter-jemput.
"Siapa?" tanya gue, "yang tadi?" sambung gue ragu-ragu.
Bukannya menjawab, Mala malah terbahak. "Nyokap gue, anjir, khawatir banget lo kalau gue dianter-jemput Robby."
"Siapa?"
"Ya, tetangga gue. Namanya Robby, Gha."
"Yang nanya?"
"Sialan lo!" amuk Mala sambil memukul bahu gue.
__ADS_1
Kali ini giliran gue yang terbahak. "Tapi seriusan gue nggak nanya siapa namanya sih. Nggak kepo juga," aku gue jujur.
"Gue juga cuma ngasih tahu."
"Lah, kan gue nggak kepo, ngapain lo kasih tahu?" goda gue.
"Lo ngeselin sekali lagi gue geplak ya, Gha, kepala lo," ancam Mala tidak main-main.
Kalau masalah begini, Mala tidak pernah main-main. Gue dulu pernah bercandain dan berujung ditonjok beneran sama dia sampe hidung gue mimisan. Serius.
Kalau udah diancem begini gue bisa apa selain menutup mulut rapat-rapat? Mau jawab juga nyali gue menciut seketika inget kejadian waktu kami masih sama-sama jadi mahasiswa.
Beruntung tak lama setelahnya penjual ketoprak datang dan membawa pesanan kami.
"Ini, Mas, Neng, pesanannya. Mau air minum bentar dulu, saya ambilin."
"Enggak usah, Bang, saya bawa sendiri kok," tolak Mala sambil menunjukkan botol air minumnya, "makasih, Bang."
Berbeda dengan gue kalau bawa tumbler isinya kopi, kalau Mala isinya air mineral dong.
Si Abang penjual mengangguk paham dan memutuskan kembali ke tempat duduknya. Membiarkan kami mulai menikmati ketoprak kami.
*
*
*
"Siapa yang ngundang, siapa juga yang telat," sindir Ohim saat Alisa akhirnya datang, "jam berapa ya sekarang, Bu?"
Alisa meringis sungkan seraya meletakkan tas selempangnya lalu duduk di sebelah gue. Biasanya kalau kumpul berempat gue akan selalu duduk di sebelah Ohim dan Abbas akan duduk di sebelah Alisa. Namun, berhubung keadaan sudah tidak sama lagi maka posisi duduk juga sudah tidak bisa sama lagi.
Kalau kalian penasaran apakah Abbas akhirnya menyatakan perasaannya atau tidak, maka jawabannya enggak. Pria itu memilih mengubur perasaannya dan tidak ingin memberitahu Alisa.
"Sorry, sorry, gue tadi ada meeting penting sama pihak WO kan, pihak keluarga gue sama doi agak bentrok dikit, jadi pembicaraan agak alot dan bikin gue telat. Sorry banget sekali lagi." Alisa menyatukan kedua telapak tangan sambil memasang wajah tidak enaknya, "gue telat banget ya? Telat berapa menit sih?" tanyanya panik. Ia kemudian melirik jam tangannya, "tadi kita janjian jam berapa sih? Gue lupa, anjir."
"Santai, lo nggak telat-telat banget kok. Ohim aja yang datengnya kecepatan karena abis meeting deket sini. Gue sama Abbas juga belum lama nyampe kok."
Abbas yang posisi duduknya berada di hadapan gue mengangguk dan membenarkan. "Iya, santai aja. Mending lo minum dulu deh, haus kan? Udah gue pesenin sekalian tuh."
Alisa langsung memasang wajah terharunya. "Duh, thanks banget ya, Bas. Tahu aja lo kalau gue lagi haus. Lo emang yang terbaik," ujarnya sambil mengacungkan jempolnya. Ia kemudian meraih jus tomat yang Abbas pesan tadi.
"Gue tahu." Abbas mengangguk, "tapi kalau makannya lo pesen sendiri, ya."
Alisa menggeleng seraya meletakkan gelasnya. "Duh, kayaknya gue nggak ikut makan-makan deh. Keluarga doi ngajakin makan malem bareng, ada pembicaraan yang musti dilanjut soalnya. Jadi abis ini gue cabut nggak papa kan?"
"Si anjir, terus ini makanan siapa yang bayar? Kan katanya lo mau traktir kita."
"Gue yang bayar deh, Bas," sahut Abbas tiba-tiba.
Reflek gue meringis saat mendengarnya.
Di sebelah Abbas, Ohim langsung menggerutu. "Dasar bucin."
"Eh, enggak, enggak, tetep gue yang bayar kok. Ntar abis ini gue langsung ke kasir buat bayar. Kalian makan sepuasnya aja, kalau mau nambah bisa kabarin gue, ntar gue transfer."
Dengan gerakan buru-burunya, Alisa langsung meraih tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Gue pikir sih dia mau ngeluarin dompet, tapi ternyata dia mau kasih undangan. Aduh, gue nggak tega banget lihat ekspresi Abbas sekarang. Antara kaget, sedih, kecewa, namun berusaha untuk tersenyum. Meski kelihatan banget dipaksakan.
"Nih, buat kalian." Alisa kemudian membagikan undangan kepada kami satu persatu, "jangan lupa dateng, ya? Syukur-syukur bawa gandengan." Alisa kemudian menoleh ke arah gue, "oh ya, buat Mala ntar sekalian ya."
Gue mengangguk. "Oke, mana, ntar gue kasih. Eh, besok aja deh kalau ketemu di rs."
"Maksud gue undangan punya lo sekalian sama Mala. Gue jadiin satu gitu. Enggak papa kan?" Alisa kemudian menunjuk kartu undangan yang gue pegang, yang di sana tertera nama gue dan Mala.
Astaga, ya ampun, kenapa harus selalu begini sih?
Tbc,
__ADS_1