
*
*
*
Acara pernikahan Abbas dan Alisa yang berlangsung secara sederhana akhirnya selesai digelar. Kini keduanya sudah resmi menjadi pasangan suami-istri di mata agama dan negara. Bahagia dirasakan keduanya. Tapi Abbas terlihat seperti merasa sedikit sedih. Bahkan helaan napas panjang terdengar keluar dari mulut pria itu, hal ini membuat sang istri merasa heran dibuatnya.
"Kamu kenapa sehari jadi suami aku malah menghela napas begitu? Enggak seneng kamu nikah sama aku?"
Tidak ada nada bicara sarat akan kekesalan. Ekspresi Alisa masih terlihat kalem dan tidak terlihat sedang menyimpan emosi.
Abbas menggeleng cepat. Tentu saja ia merasa senang, bagaimana mungkin ia merasa sedih karena impiannya menikah dengan Alisa akhirnya terwujud.
"Ya mana mungkin aku nggak seneng, Sa, yang ada aku seneng banget. Aku cuma kepikiran sesuatu."
"Apa? Ibu kamu?"
Sambil sedikit terkekeh Abbas menggeleng. "Bukan. Tapi kamu."
Alisa mengerutkan dahi heran. "Emang kenapa sama aku?"
"Kamu dulu dinikahi mantan suami kamu langsung diboyong ke rumah mewahnya, sedangkan sama aku, cuma diboyong ke apartemen ukuran studio. Jujur aku ngerasa insecure dikit, Sa." Abbas menatap Alisa ragu-ragu, "kamu ngerasa nyesel nggak sih nikah sama aku?"
Alisa tersenyum tipis lalu menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan sang suami. Kepalanya kemudian ia sandarkan pada lengan pria itu dengan sedikit canggung. Maklum, masih dalam suasana pengantin baru.
"Bas, kamu tahu nggak sih bahwa konsep kebahagiaan semua orang itu beda-beda ukuran maupun takarannya. Ada yang merasa bahwa kemewahan menjadi impian bahagianya seseorang, tapi ada juga kan yang lebih memilih kesederhanaan. Bagi aku asal kamu mau menghargai dan menghormati aku sebagai perempuan itu sudah cukup, aku tidak masalah meski kita hanya tinggal di apartemen ukuran studio. Karena buat apa sih tinggal di rumah mewah dan besar tapi kita-nya nggak dihargai? Percuma, Bas, serius. Aku sudah pernah mengalaminya. Jadi, please, jangan pernah ngerasa insecure. Kalau kamu aja ngerasa insecure, apalagi aku nanti."
"Maaf, enggak seharusnya aku begitu ya. Huh, kayaknya efek capek bikin pikiran aku kemana-mana deh, Sa."
Abbas tiba-tiba menegakkan tubuhnya membuat Alisa yang tadinya sedang bersandar pada lengan pria itu sedikit tersentak kaget.
"Kamu pasti capek juga, sekarang kamu bersih-bersih gih, mandi, biar kita bisa cepet istirahat."
Awalnya Alisa tidak terlalu puas dengan kalimat Abbas. Tapi mendapati ekspresi sang suami yang sepertinya sedang gugup membuatnya mau tidak mau langsung mengangguk paham dan menurutinya. Pertanyaan yang sejak tadi ingin ia tanyakan terpaksa harus ia telan kembali.
__ADS_1
Alisa merasa heran kenapa Abbas tak kunjung menyusul ke kamar. Padahal ia sudah selesai mandi dan beberes. Ia bahkan sudah menyempatkan diri untuk membalas beberapa pesan singkat dari rekan kerjanya yang mengucapkan selamat atas pernikahannya. Bahkan beberapa komen yang masuk dalam postingan sosial medianya pun sudah selesai ia balas satu-satu. Tapi kenapa sang suami tidak kunjung masuk ke kamar.
Karena penasaran ia pun memutuskan langsung berdiri dan meletakkan ponselnya lalu berjalan keluar kamar. Dan betapa terkejutnya ia saat menemukan Abbas terlelap di atas sofa. Dilihat dari posisinya, sepertinya ini bukan ketiduran, tapi justru terlihat seperti orang yang sengaja tidur di sofa. Batin Alisa berasumsi. Tapi tidak boleh, ia tidak boleh berpikir demikian. Bisa saja Abbas tadi mencoba berbaring di sofa, tapi habis itu malah ketiduran. Ya, bisa saja kan?
Alisa berniat membangunkan Abbas, tapi di sisi lain ia tidak tega karena takut mengganggu istirahat sang suami. Pikirnya nanti juga kalau udah kebangun, bakalan pindah sendiri. Jadi Alisa memutuskan membiarkan Abbas tidur di ruang tengah begitu saja. Sementara dirinya tidur di kamar.
Tanpa wanita itu sadari, saat pintu terdengar tertutup Abbas langsung membuka mata. Benar, pria itu hanya berpura-pura ketiduran padahal aslinya ia sama sekali tidak bisa tidur.
*
*
*
"Bas, Abbas, bangun! Sholat subuh dulu!"
Abbas merasa kepalanya seperti dihantam benda keras karena ia terkejut dan reflek bangun dari posisi berbaringnya. Ia mengaduh kesakitan hal ini membuat Alisa ikut terkejut karena reaksinya.
"Maaf, aku ngagetin ya?" sesal Alisa merasa tidak enak, "kepala kamu sakit karena dibuat bangun tiba-tiba?"
"Belum, masih subuh. Salat subuh dulu, yuk, kita jamaah," ajak Alisa yang membuat Abbas mengangguk pelan.
Itu artinya Abbas baru tertidur berapa menit saja. Astaga, ya ampun pantas saja rasanya kepalanya menjadi pusing.
"Lagian kenapa semalam nggak pindah ke kamar sih? Emang nggak sakit pinggang tidur di sini?"
Abbas pura-pura memasang wajah merajuknya. "Ya abis kamu nggak bangunin aku."
Alisa garuk-garuk kepala. "Iya juga sih, aku yang salah. Maafin ya, semalem pengen aku bangunin cuma nggak enak kayaknya kamu tidurnya pules banget gitu makanya nggak aku bangunin. Lagian kan biasanya kamu suka kebangun gitu kan, ya aku pikir nanti kamu bakalan bangun sendiri tanpa aku bangunin. Eh, tahunya malah ketiduran sampe pagi."
Abbas kembali meringis. "Iya, kayaknya gegara kecapekan deh," ucapnya berdusta.
"Ya udah, sekarang mending kita salat subuh dulu deh, abis ini kamu bisa tidur lagi biar segeran. Muka kamu kuyu banget kayak orang kurang tidur padahal kebanyakan tidur."
Lagi-lagi Abbas hanya mampu meringis canggung. Sembari dalam hati membenarkan kalau dirinya memang kurang tidur. Ia bahkan hanya tidur beberapa menit saja.
__ADS_1
Setelah keduanya selesai mengambil air wudhu, mereka kemudian menunaikan ibadah secara berjamaah.
"Kayaknya abis ini aku mau nge-gym di bawah deh, Sa, biar segeran. Kamu mau ikut nggak?" tawar Abbas sambil melepas sarungnya.
Alisa yang tadinya sedang melipat mukena tidak bisa menahan diri untuk tidak melotot. "Hah? Kamu bilang apa barusan, Bas?"
"Kamu masih ngantuk juga ya?"
"Lumayan."
"Ya udah, kalau gitu abis ini kamu mending istirahat terus tidur," saran Abbas.
"Terus kamu?"
"Aku mau olahraga dulu deh, udah lama nggak olahraga, mumpung sempet."
Sejujurnya Alisa ingin protes, tapi ia tak sampai hati melakukannya. Maka dari itu secara terpaksa ia pun pada akhirnya mengangguk dan mengiyakan.
"Ya sudah, hati-hati ya, jangan terlalu diforsir tubuhnya. Kasian. Kalau capek nggak usah maksain diri."
"Enggak kok, kan sekarang udah bukan punya sendiri lagi."
Alisa melongo kebingungan. "Hah? Maksudnya?"
"Tubuh aku kan sekarang punya kamu juga, jadi udah nggak bisa seenaknya lagi kayak dulu."
Alisa hanya mampu merespon dengan dengusan tidak percaya. Abbas tertawa sambil menyerahkan sarung miliknya pada sang istri.
"Nitip dilipatin ya, aku mau ke bawah bentar."
Alisa manggut-manggut. "Nanti mau dimasakin sarapan apa?" tawarnya kemudian.
"Enggak usah masak, ntar kita beli bubur ayam aja."
Lagi-lagi dengan ekspresi kecewanya, Alisa hanya mampu mengangguk dan mengiyakan. Serta dalam hati membatin, "Oh, ternyata Abbas nggak mau aku masakin."
__ADS_1
Tbc,