Married With My Besti

Married With My Besti
Hasilnya Keluar


__ADS_3

*


*


*


Sejak semalam Randu sudah tidak bisa tidur, otaknya memikirkan bagaimana hasil biopsi sang istri, yang kebetulan akan keluar hari ini. Cemas, khawatir, takut, semua bercampur jadi satu.


Berbeda dengan dirinya yang merasakan kecemasan luar biasa, Ayu, sang istri justru merasa sebaliknya. Perempuan yang sudah melahirkan kedua anaknya itu nampak biasa saja, tidak ada raut wajah khawatir atau cemas, apalagi ketakutan. Bahkan beberapa kali justru sang istri lah yang berusaha menenangkan dirinya agar tidak terlalu tegang, menunggu dipanggil oleh dokter.


Kalau boleh jujur, Randu ingin kabur karena saking tidak inginnya mendengar penjelasan dokter nantinya.


"Maaf, Agha telat," ucap Agha dengan napas yang sedikit ngos-ngosan. Ia masih mengenakan jas putih kebanggaannya, hal ini sedikit menarik perhatian beberapa pasien dan wali pasien yang sedang menunggu antrian.


Agha tersenyum canggung saat menyapa mereka, lalu buru-buru melepas jas putihnya karena sungkan mendengar bisik-bisik dari mereka.


"Enggak papa, Dek, kalau emang sibuk kan Bunda udah ditemani Ayah."


Agha menggeleng tidak setuju. Tentu saja ia tidak setuju, mana tega ia membiarkan sang Ayah sendirian yang menemani sang Bunda? Tentu saja ia tidak akan tega. Ale, sang Kakak tidak bisa menemaninya, tentu saja ia menyempatkan diri agar bisa menemani sang Bunda.


"Enggak, Agha nggak sibuk kok. Lagian harusnya Bunda yang nggak usah ikut, di rumah aja istirahat." Agha celingukan sebentar lalu memilih duduk di sebelah sang Ayah, "Ini antriannya masih lama?"


Randu menggeleng tanda tidak tahu. "Enggak tahu, pokok belum dipanggil gitu aja."


"Emang Bunda dapet nomor antrian berapa?"


Sekali lagi Randu hanya menjawab dengan gelengan kepala. Setelahnya Agha tidak berani bertanya.


"Ayahmu memang makin nggak banyak omong dari pagi tadi, biarin aja," bisik sang Bunda.


Sambil tersenyum tipis, Agha mengangguk dan memakluminya. Pasti pikiran sang Ayah sedang berkecamuk.


Tak berapa menunggu, akhirnya nama sang Bunda dipanggil juga.


"Ny. Pramesti Ayunindya Kalandra!"


Cepat-cepat Agha berdiri lalu membantu sang Bunda untuk berdiri. Hal ini tentu saja langsung mendapat protes dari Ayu.


"Apaan sih, Dek, Bunda masih sehat dan kuat. Nggak usah berlebihan."


"Enggak papa, Bun."


Agha menggeleng tidak masalah lalu mengajak keduanya masuk ke dalam ruangan.


Agha kemudian menyuruh kedua orang tuanya duduk di hadapan dokter sedangkan dirinya berdiri di belakang keduanya.

__ADS_1


"Dengan Ibu Pramesti ya?"


"Betul, dok."


"Baik, hasil biopsi sudah keluar. Dengan sangat menyesal kami harus memberitahu kalau tumor yang Ibu idap bukan tumor jinak. Sesuai dugaan kita di awal, memang ini tumor ganas, alias kanker."


Bagaikan disambar petir siang bolong, seluruh tubuh Randu terasa melemas. Kalau ia yang berdiri, sudah dapat dipastikan kalau tubuhnya akan berakhir ambruk. Ia menoleh ke arah sang istri yang terlihat sedikit terkejut, namun, masih cukup menguasai diri dengan baik. Bahkan Ayu masih sempat tersenyum sambil menggenggam telapak tangannya seraya mengangguk.


"Bunda nggak papa, Yah," ucapnya menenangkan.


Namun, bukannya merasa lebih tenang pikiran Randu semakin kalut. Ia tidak bisa berpikir jernih dan berakhir menangis sesegukan dan memeluk sang istri.


"Astagfirullah, Yu, kenapa harus kamu yang sakit. Kenapa nggak aku saja? Kenapa lagi-lagi harus kamu?"


Tangis Randu benar-benar pecah dan ini membuat hati Agha seolah teriris. Ia tahu betapa terpukulnya sang Ayah. Karena ia merasakan hal yang sama.


Melihat tangis sang suami pecah, Ayu tidak bisa untuk tidak ikut menangis.


"Ayah, kamu nggak boleh ngomong begitu! Aku nggak papa. Aku baik-baik saja dan akan baik-baik saja, aku nggak akan ninggalin kamu sama anak-anak, atau cucu kita."


Pelukan keduanya kini mulai merenggang.


Randu putus asa. "Tapi ini kanker, Bun. Kanker. Semua orang tahu kalau kanker itu penyakit yang cukup serius."


"Tapi semua orang juga tahu ada penderita kanker yang bisa sembuh. Bunda pun demikian, Bunda pasti bisa sembuh. Bunda janji akan menuruti semua anjuran dokter, operasi, kemoterapi, Bunda mau kok melakukan itu semua. Bunda nggak takut karena Bunda punya kalian. Jadi Ayah nggak boleh begini!"


"Kamu janji kan mau berjuang untuk sembuh, untuk aku, anak-anak, dan cucu-cucu kita?"


Tanpa keraguan, Ayu langsung mengangguk cepat.


Randu langsung memeluk sang istri sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang.


"Sorry, ya," bisik Agha kepada dokter onkologi itu, tanpa mengeluarkan suara.


Sang dokter tentu sudah terbiasa hanya mengangguk tidak masalah.


"Berhubung istri saya mau menuruti semua anjuran dokter, bisa dokter segera buatkan jadwal operasi dan jadwal kemoterapi secepatnya? Saya tidak mau kanker itu semakin menyebar semakin cepat."


"Baik, dok, akan segera kami buatkan jadwal secepat mungkin. Kami usahakan minggu ini Ibu sudah dioperasi."


"Terima kasih," ucap Randu tulus.


*


*

__ADS_1


*


"Cucu kita sudah dua, kalau Ayah lupa," protes Ayu saat sang suami memeluknya secara posesif dan membelai rambutnya.


Hal sederhana tapi mungkin tidak bisa ia lakukan lagi nanti kalau sang istri menjalani kemoterapi.


"Kalau lagi berdua, aku mau dipanggil nama, Yu," tegur Randu membuat Ayu tertawa.


Randu cemberut. "Aku serius."


"Iya, iya, Randu."


"Kenapa nggak Mas kayak waktu hamil Ale?"


"Rambut udah ubanan kok minta dipanggil Mas. Ngelunjak," ledek Ayu.


"Enggak nyangka banget ya, Yu, waktu berjalan begitu cepat. Aku masih inget banget gimana kamu mutusin aku dulu sebelum aku berangkat study ke Singapure, inget banget akal-akalan Febi yang bohongi aku agar kita bisa ketemu dan berani memulai lagi. Lalu pas tahu kamu hamil Ale tapi aku masih nggak bisa pulang ke Indo padahal kamu butuh banget aku waktu itu, Ibu juga di Solo. Kamu berjuang sendirian ngelewati masa sulitnya hamil muda. Lalu pas hamil Agha, kamu nyaris kehilangan nyawa kamu demi putra kita yang gedenya cengeng banget itu. Kamu udah banyak kasih warna di hidup aku, Yu. Ternyata banyak hal udah kita lewati bareng ya sampai akhirnya kita udah punya dua cucu. Kemarin malah nyaris tiga."


"Iya, banyak hal udah kita lewati, Ran. Makasih ya, karena masih mau bertahan dengan perempuan egois kayak aku. Maafin ya kalau aku ngeyelan dan suka nggak dengerin kamu."


Randu tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. "Rasanya kita kayak balik jadi pasangan muda ya, padahal cucunya udah dua."


"Enggak papa, seperti yang suka kamu bilang, yang boleh romantis atau mesra-mesraan kan bukan hanya pasangan muda."


"Yu," panggil Randu tiba-tiba.


"Hm?"


"Sejujurnya aku masih takut."


Ayu mengangguk paham. "Aku juga. Ngebayangin masuk operasi lagi, kemoterapi, mual muntah karena efek kemo, lalu rambut rontok. Aku takut semuanya, Ran. Tapi demi sehat, aku akan melawan semuanya. Demi kamu, demi anak-anak kita, dan demi cucu-cucu kita."


"Apa kamu mau memilih alternatif lain?" tanya Randu hati-hati.


Sambil tersenyum tipis, Ayu menggeleng. "Enggak, aku percaya dokter kok. Suami, anak-anak, menantu, bahkan besan kita kan dokter semua. Jujur kadang aku ngerasa insecure karena kalian semua dokter sedangkan aku bukan."


"Justru aku seneng karena kamu bukan dokter, Yu. Kalau kamu dokter, belum tentu loh aku mau nikah sama kamu."


"Jadi, kamu mau nikah sama aku cuma karena aku bukan dokter?"


"Mungkin."


Ayu tersenyum lalu mengangguk. "Syukur deh, untung aku bukan dokter. Mungkin akan terasa aneh kalau aku dokter terus sakit. Iya nggak sih, Ran?"


"Dokter juga manusia, bisa sakit."

__ADS_1


Ayu mengangguk lalu memilih memejamkan kedua matanya karena mulai mengantuk.


Tbc,


__ADS_2