
"Bang," panggil Aldi.
Gue menghela napas sambil mengangguk dan mengiyakan. Mau bagaimana pun juga Aldi berhak tahu.
Setelah melihat anggukan kepala dari gue, kini giliran Aldi yang mengangguk paham. "Kenal di mana, Bang, kalau boleh tahu?"
Gue tidak langsung menjawab dan menatap Aldi sekilas. Kalau gue perhatikan dari raut wajah pria itu, sepertinya Aldi sudah tahu dan kayaknya dia hanya ingin mengkonfirmasi kebenaran saja.
Sekali lagi gue menghela napas. "Temen sekolah dulu, Di."
"Cuma itu, Bang?" wajah Aldi terlihat ragu-ragu dan tidak puas dengan jawaban gue.
Kan bener dugaan gue, Aldi pasti udah tahu sesuatu.
"Mantan," gumam gue pelan.
Di luar dugaan, Aldi tersenyum tipis. "Jadi orang itu beneran lo, Bang?"
Nada bicaranya terdengar seperti hanya sebuah gumaman, tapi berhubung dia duduk tepat di sebelah gue. Jadi gue dapat mendengarnya dengan cukup jelas. Kalau sudah begini, gue jadi serba salah jadinya.
"Sorry, Di."
"Lo minta maaf untuk apa, Bang?"
Gue garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. "Kalau boleh jujur, gue sendiri juga nggak tahu, Di. Ini semua terjadi di luar kuasa gue, gue juga nggak tahu kalau bakalan ketemu lagi sama Ririn dengan keadaan yang begini."
Aldi mengangguk paham. "Iya, Bang, gue ngerti lo nggak perlu minta maaf karena ini juga bukan salah lo."
Tapi meski demikian gue tetap saja merasa tidak enak hati. Aldi tersenyum sambil menepuk pundak gue.
"Serius nggak papa, Bang, maksud gue, ini bukan salah lo. Jadi lo nggak perlu minta maaf. Karena kita nggak bisa mengontrol perasaan seseorang lain."
Gue mengangguk setuju. Apa yang Aldi katakan adalah sebuah kebenaran. Perasaan seseorang memang tidak bisa dipaksakan.
"Tapi cinta bisa hadir karena terbiasa, Di. Menurut gue, Ririn bisa aja jatuh cinta sama lo asal lo nggak menyerah untuk mendapatkan hatinya. Gue cuma masa lalu Ririn, tapi lo masa depan dia."
Aldi diam sesaat, senyum miris mulai terbit tak lama setelahnya. "Mungkin benar, Bang, kalau lo cuma masa lalu Ririn, tapi untuk masa depan dia, belum tentu orang itu gue."
"Lo mau menyerah begitu aja?"
Aldi tersenyum tipis. "Gue hanya akan menjalani takdir gue aja, Bang, gue nggak akan berusaha dengan keras untuk dapatkan hati Ririn, begitu sebaliknya, gue juga nggak akan nyerah gitu aja. Karena memang nggak ada yang gue perjuangkan."
Mendengar jawaban Aldi, gue tidak bisa berkomentar banyak. Bahkan menurut gue, gue nggak punya hak untuk berkomentar. Ini hidup dia, gue hanya tetangganya yang nggak punya hak untuk terlalu ikut campur ke dalamnya.
Mungkin kalau seandainya posisinya gue bukan pria itu, gue bisa aja sedikit memberi nasehat atau masukan buat Aldi. Masalahnya posisi gue adalah orang yang membuat Ririn belum bisa move on.
*
__ADS_1
*
*
Setelah hubungan gue dan Ririn di masa lalu diketahui Aldi, hubungan kami seperti menjadi lebih canggung. Wajar sih sebenernya, gue kalau berada di posisi Aldi juga bakalan begitu, gue rasa. Mau bersikap sebiasa mungkin tetep aja pasti susah. Apalagi mengingat Ririn yang masih belum sepenuhnya melupakan gue. Bukan bermaksud kegeeran atau apa, tapi masalahnya Ririn sendiri yang mengakui hal itu.
Untuk masalah ini, untungnya Mala sudah tidak terlalu ambil pusing. Kita sudah akur seperti biasa, tanpa adegan dibujuk, tahu-tahu ya balik aja kayak biasa. Kayak macem lupa sendiri, tapi kalau gue konfirmasi dia ngambek atau enggak dia pasti malah ngambek.
Ya, meski ribut hal-hal sepele masih tidak pernah absen kita lakukan. Tapi setidaknya masih dapat kami tangani dengan baik. Meski bagi gue, kadang gue merasa agak kesulitan dikit sih. Soalnya kehamilan Mala yang sekarang sudah memasuki trimester akhir, dan sekarang giliran dia yang jadi super sensitif. Enggak jarang gue dibuat kelimpungan sama mood swimming-nya. Tapi enggak papa deh, biar adil soalnya pas awal-awal kehamilan Mala, yang super sensitif kan gue. Jadi bagus juga karena gantian begini. Jadi gue merasa lebih adil.
Gue tiba-tiba merasakan ponsel gue bergetar saat keluar dari ruang operasi. Tanpa memutuskan untuk melirik ke arah layar, gue langsung menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Bang Agha?"
Bentar, suaranya kayak kenal. Gue langsung menghentikan langkah kaki gue dan memutuskan untuk menjauhkan ponsel gue dari telinga, lalu mengintip ke arah layar.
Eh, ternyata Aldi yang menelfon. Ada apa nih? Batin gue keheranan.
Cepat-cepat gue menempelkan benda pipih itu kembali pada telinga, karena kalau gue dengar dari nada suaranya tadi terdengar seperti orang yang sedang panik. Kedua kaki gue kembali melangkah.
"Ya, Di, ini gue. Ada apa?" tanya gue setenang mungkin.
Padahal dalam hati, enggak tahu kenapa gue tiba-tiba merasa cemas tanpa sebab. Gue nggak yakin apa penyebabnya, tapi enggak tahu kenapa kayak dapet feeling nggak enak. Ya, semoga saja ini cuma perasan gue aja.
"Ini gue Aldi, Bang."
"Iya, gue tahu, Di, gue simpen nomor lo kok. Jadi ini lo kenapa? Kok kedengerannya panik gitu. Lo baik-baik aja kan? Istri lo baik-baik aja kan? Kalian nggak abis berantem kayak yang waktu itu lagi kan?" berondong gue dengan pertanyaan bertubi-tubi.
Bukan apa-apal, masalahnya gue agak trauma dengan kejadian tempo hari pas tangan Aldi sampai lula karena mereka abis berantem. Terus juga Ririn yang sampai kecelakaan waktu itu. Jadi mengingat keduanya, pikiran gue enggak bisa untuk nggak overthinking. Menurut gue ini pasangan suami-istri lumayan agak membuat gue khawatir.
"Enggak, Bang. Ini bukan tentang gue atau Ririn."
Syukur lah, tidak terjadi sesuatu sama mereka.
"Tapi Kak Mala, Bang," sambung Aldi tiba-tiba.
Hah? Mala? Ini maksudnya Mala, Nirmala istri gue?
Deg. Langkah kaki gue spontan kembali berhenti. Tubuh gue mendadak kaku, mulut gue terasa kelu untuk sekedar menanyakan lebih lanjut. Tiba-tiba pikiran gue berkecamuk. Dalam hati gue terus merapal doa semoga apa yang gue khawatirkan tidak terjadi.
"Kenapa?" tanya gue mulai harap-harap cemas.
"Kak Mala pendarahan, Bang, abis jatuh, ini gue sama Ririn lagi mau bawa ke RS. Bisa lo hubungi dokter kandungan Kak Mala?"
Tunggu, sebentar, otak gue nggak bisa berpikir jernih. Mala pendarahan?
"Bang! Lo masih di sana?"
__ADS_1
Astaga, Tuhan, istri gue? Calon anak gue? Tolong selamatkan mereka, Tuhan!
Susah payah gue mencoba menenangkan diri. Oke, gue nggak boleh panik, nggak boleh panik. Mala sama calon bayi kami pasti bakalan baik-baik saja. Semoga saja. Aamiin.
"Bentar, bentar, kondisi dia gimana? Dia masih sadar kan?"
"Masih, Bang. Tapi Kak Mala keliatan kesakitan banget."
"Gue mau ngomong sama dia bentar!" Gue menggeleng cepat, "enggak, dia nggak perlu ngomong, yang penting lo kasih hape lo ke dia. Biar gue yang ngomong," ralat gue kemudian.
"Bang, lo bisa ngomong sekarang! Udah gue loudspeaker."
Gue mengangguk paham. "Halo, Mala? Kamu bisa denger suara aku?"
"Halo, Gha, ini aku. Aku bisa denger suara kamu," ucap Mala dengan nada bicara yang terdengar sedikit lemah.
Hati gue sakit banget dengernya. Tapi gue nggak boleh terlalu memperlihatkannya, gue harus tetap tegar dan berusaha untuk menenangkan dia.
"Kamu nggak papa kan? Jangan panik, ya, kamu sama bayi kita pasti baik-baik aja! Kamu jangan takut, aku langsung telfon Ayah abis ini."
Wah, pinter banget mulut gue nenangin Mala padahal aslinya gue sendiri kalang kabut karena panik. Apalagi setelah mendengar rintihan kesakitan Mala. Ya Tuhan, gue nggak sanggup.
"Gha, s... sa..kit banget, Gha. Aku nggak kuat, Gha, sakit banget."
Tanpa sadar kedua mata gue perih mendengar rintihan penuh kesakitan dari Mala.
"La, aku mohon bertahan, ya! Demi anak kita, aku percaya kamu pasti bisa, La. Bertahan ya! Kamu hebat, La, kamu kuat, kamu pasti bisa. Oke?"
"Bang, udah ya, gue matiin?"
"Tolong pastikan Mala tetap sadar ya, Di. Gue abis ini langsung telfon bokap gue."
"Akan gue sama Ririn usahakan, Bang. Tapi apa enggak sebaiknya lo telfon dokter kandungan kalian dulu aja, Bang? Biar nanti Kak Mala bisa langsung ditangani begitu sampe."
"Iya, bokap gue dokter kandungan Mala."
"Oh, sorry, Bang, gue nggak tahu."
"Enggak papa. Kalian hati-hati ya, gue tutup dulu telfonnya."
Setelah mematikan sambungan telfon, gue cepat-cepat menghubungi bokap dan meminta beliau langsung ke rumah sakit. Beruntung ternyata Ayah sedang tidak sedang melakukan tindakan dan hari ini sedang praktek di rumah sakit ini. Tapi beliau masih ada pasien rawat jalan di poli klinik.
Gue sendiri langsung bergegas menuju lantai dasar sambil menunggu kedatangan Mala. Saking paniknya, gue masih mengenakan penutup kepala dan masker. Namun, saat beberapa orang yang berlalu lalang terus-terusan mencuri pandang ke arah gue, gue akhirnya melepaskan semuanya.
Ya Tuhan, tolong selamatkan istri dan anak hamba. Gue nggak akan bisa memaafkan diri sendiri kalau sampai terjadi sesuatu dengan mereka.
Ya Tuhan, tolong lindungi mereka!
__ADS_1
Tbc,