
*
*
*
"Bagus." Gue mengangguk seraya kembali menutup perban pada bekas jahitan pasien gue, "udah mulai mau mengering, udah bisa pulang nih, Pak. Gimana masih ada keluhan lain?"
Gue kemudian menoleh ke arah Riska, dokter koas yang kebetulan hari ini menemani gue visit pasien. Dokter muda itu lalu menunjukkan papan karte yang tadi ia pegang.
"Tekanan darah si bapak masih tinggi, dok," ucap Riska. Gue kemudian membaca rekam medis beliau yang mana memang tekanan darah beliau cenderung tinggi bahkan sejak masuk kemarin.
"Ada keluhan pusing, Pak?" tanya gue.
Si bapak menggeleng. "Enggak, dok."
Lalu istri beliau menyahut, "Si Bapak emang suka tinggi tekanan darahnya dok, tapi nggak pusing. Jadi nggak papa, bisa pulang sore ini?"
"Waduh, nggak bisa, ibu, ini tekanan darah bapak masih tinggi, apalagi tanpa keluhan, bisa bahaya karena kalau tanpa keluhan tubuh nggak bisa kasih sinyal. Takutnya nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Untuk sementara istirahat di sini lagi dulu, ya, Pak. Kalau tekanan darahnya udah mulai turun baru bisa pulang." Gue tersenyum seraya mengajak beliau bercanda, "mikirin apa sih, Pak, kok tekanan darahnya bisa setinggi ini? Kan katanya anaknya udah nikah semua."
"Ya, namanya juga manusia, dok, pasti ada aja yang dipikirin."
"Dibawa santai saja, ya, Pak. Jangan dipikirin terlalu serius. Biar cepet sehat terus pulang, emang nggak bosen di sini terus? Ketemu saya terus?" Beliau cuma tersenyum tipis saat merespon gurauan gue.
Gue ikut tersenyum setelahnya. "Ya sudah, istirahat ya, Pak. Nanti sore pas suster cek tekanan darah harus udah turun ya, kalau enggak nanti nggak pulang-pulang loh," canda gue kemudian, "kalau belum turun juga, nanti kita kasih cairan infus penurun darah tinggi, ya?"
"Iya, dok, makasih."
"Sama-sama. Saya permisi dulu ya, Pak, Bu." Gue kemudian tersenyum kepada istri beliau dan pamit keluar.
"Dek, nanti bilangin ke suster ya, kalau tekanan darahnya belum turun, kasih cairan infus penurun darah tinggi ya?"
"Baik, dok."
Gue menghentikan langkah kaki gue saat merasakan wajah Riska yang sedikit berbeda lalu berbalik. Kening gue terangkat spontan saat menyadari wajahnya yang sedikit pucat dari biasanya.
"Lagi nggak enak badan?" tanya gue khawatir.
"Eh?" Riska terlihat panik, tangannya reflek memegang pipinya sendiri, "enggak, dok. Cum lagi dateng bulan. Udah biasa."
Gue mengangguk paham. "Udah minum obat? Makan?" tanya gue kemudian.
Kali ini gadis itu meringis sambil memeluk papan kartenya.
Gue menghela napas sambil melepas sarung tangan silikon dan membuangnya ke tempat sampah. "Ya sudah, ayo, cari makan dulu! Saya traktir."
"Eh, nggak usah, dok, saya makan sendiri aja," tolak Riska. Yang entah kenapa wajahnya terlihat makin pucat, entah karena panik atau karena nyeri datang bulannya kembali menyerang. Gue nggak tahu.
"Kamu berani menolak saya?" tanya gue pura-pura memasang wajah serius. Padahal aslinya gue juga cuma bercanda, tapi wajah Riska terlihat semakin pucat dan kalau kali ini gue yakin karena dia sedang panik.
"Eh, enggak, dok, enggak berani saya. Mana mungkin saya berani. Ya udah kalau begitu, saya mau," ucapnya pasrah.
__ADS_1
"Nah, gitu dong. Masa dokter koas berani nolak dokter spesialis." Gue berniat kembali menggodanya.
"Maaf, dok," sesal Riska dengan ekspresi penuh penyesalannya.
Kali ini giliran gue yang panik. "Haha, saya bercanda, Ris. Jangan terlalu serius! Nanti tekanan darah kamu tinggi juga kayak Bapak Mulyono, mau?" canda gue berusaha mencairkan suasana. Yang sialnya hanya direspon Riska dengan ringisan
canggung darinya.
Seketika gue memilih menutup bibir gue rapat-rapat. Kayaknya jokes gue garing banget. Maka dari itu gue memilih diam dan segera mengajaknya ke kantin rumah sakit. Karena kebetulan gue males juga nyari makan di luar.
"Kita makan di kantin RS nggak papa kan?"
"Nggak papa, dok."
"Belum bosen kan?"
"Hah?"
Spontan gue tertawa renyah saat menoleh ke arah Riska dan menemukan wajah bingung gadis itu.
"Makan di kantin maksud saya, Ris, udah bosen belum. Kamu ini kenapa sih kok kayaknya kalau sama saya susah banget fokusnya, padahal kata Mala--" gue menggeleng cepat dan buru-buru meralatnya, "maksud saya dokter Mala, kamu kalau sama dokter lain katanya paling fokus dibandingin koas yang lain kalau dijelasin ini-itu. Tapi kenapa kalau sama saya enggak? Padahal kamu ini cepet nangkep loh kalau diajarin sesuatu, cuma kenapa kalau disuruh fokus kayaknya susah banget. Emang saya kalau ngomong atau ngejelasin sesuatu ngebosenin banget ya?"
"Enggak kok, dok. Maafkan saya, dok, mungkin karena saya lagi datang bulan makanya kurang fokus."
"Setiap ketemu saya kamu datang bulan gitu maksudnya? Soalnya kamu kalau sama saya seringnya kurang fokus terus."
"Hah?" Riska terlihat bingung sesaat, namun, beberapa detik kemudian dia menggeleng panik, "enggak gitu maksudnya, dok."
Gue tersenyum maklum seraya mengangguk. "Ya udah, itu data rekam medis pasiennya dibalikin dulu, abis itu kita langsung ke kantin."
*
*
*
"Ris," panggil gue. Yang dipanggil langsung menoleh.
"Ya, kenapa, dok?"
"Muka kamu makin pucet. Yakin nggak perlu mampir ke IGD dulu?"
Gadis itu menggeleng. Namun, wajahnya terlihat makin pucat. Bahkan sesekali terdengar ringisin pelan dari bibir gadis itu. Sepertinya ini efek makanan pedas yang baru saja dia makan. Padahal gue tadi sudah melarangnya, tapi gadis berjilbab ini tidak mau mendengarnya. Gue baru tahu kalau Riska termasuk yang agak keras kepala. Mirip dengan Mala, cuma kalau soal makan pas lagi datang bulan Mala sangat aware dengan dirinya sendiri. Dia benar-benar akan menghindari makanan terlalu asin, berkafein, bersantan, maupun makanan pedas. Setidaknya pas datang bulan, karena kalau datang bulannya kelar, ya semua dihajar.
Gue baru mau membuka suara. Namun, tiba-tiba tubuh Riska limbung. Dengan gerakan cepat gue langsung menahan tubuhnya agar tidak sampai jatuh. Sesaat ia masih sadar meski kesadarannya sudah tidak penuh, baru beberapa detik kemudian ia benar-benar kehilangan kesadaran.
Lalu dengan langkah terburu-buru gue langsung membawanya ke IGD.
Selama Riska diperiksa dokter jaga, gue mencoba menghubungi teman-temannya lewat grup. Maksud gue minta salah satu dari mereka membawakan pembalut untuk gadis itu karena ternyata dia tembus, tapi, ternyata semua sedang sibuk. Mau minta bantuan ke perawat IGD tidak kalah sibuk. Alhasil, secara terpaksa gue yang pergi untuk membelinya sendiri.
Saat gue kembali ke IGD, dokter jaga yang tadi memeriksa Riksa memberitahu gue kalau gadis itu sudah sadar. Gue memutuskan untuk langsung menemui gadis itu.
__ADS_1
"Bagus ya, nggak mau dengerin saya tapi efeknya bikin saya harus gendong kamu dari lobi sampe sini. Enak ya?"
"Maaf, dok, saya mengaku salah. Makasih juga udah gendong saya dan bawa saya ke sini. Sekali lagi maafkan saya."
Melihat kedua mata memerahnya yang terlihat seperti menahan tangis, membuat gue yang tadinya berniat mengeluarkan ceramah panjang, akhirnya tidak tega.
Gue menghela napas panjang lalu duduk di tepi ranjang pasien. "Gimana kondisinya? Kata Cakra maag kamu kambuh. Kamu ini calon dokter loh, masa nggak bisa lebih jaga diri? Udah tahu lagi punya riwayat maag, makan pedes pas lagi datang bulan lagi. Efeknya apa? Pingsan dan bikin heboh lobi rumah sakit kan?"
"Maafkan saya, dok, saya benar-benar menyesal." Kali ini Riska sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi, kedua pipinya basah dan kini dia menangis sesegukan sambil minta maaf berulang-ulang.
"Lain kali nggak boleh begitu ya. Gimana pasien bisa percaya kamu tangani kalau kamu sendiri tidak bisa menjaga kondisi kamu sendiri?"
"Iya, maafkan saya, dok."
Gue kemudian membongkar isi kantong kresek dan mengeluarkan tisu dari dalam sana. "Jangan minta maaf ke saya, tapi minta maaf ke diri kamu sendiri." Gue kemudian menyerahkan beberapa lembar tisu kepadanya, "tadi saya sudah hubungi teman-teman kamu lewat grup tapi saya nggak tahu mereka bisa langsung ke sini atau enggak, soalnya tadi waktu saya tanya masih pada sibuk. Ini langsung saya tinggal nggak papa?"
"Iya, nggak papa kok, dok, makasih ya, dok, sekali lagi. Maaf sekali lagi karena udah ngerepotin."
Gue mengangguk paham lalu berdiri dan meletakkan kantong plastik yang gue bawa di samping Riska. "Ini tadi saya belikan minum sama pembalut juga. Pasti rasanya nggak nyaman kan, jadi kamu bisa ganti dulu baru istirahat lagi. Sekira masih lemes nanti minta bantuan perawat aja kalau semisal temen kamu belum ada yang ke sini. Oh ya, untuk pembalutnya saya beliin yang bersayap biar lebih nyaman buat berbaring, cuma saya nggak tahu merknya sesuai dengan biasa yang kamu pake atau enggak. Maaf ya, kalau kurang sesuai."
Ekspresi Riska terlihat sangat shock. "Ya ampun, dokter sampai beliin saya pembalut? Dokter sendiri yang beli?"
"Iya, memang kenapa? Soalnya kamu tembus," bisik gue pelan.
"Saya bawa gantinya, dok."
"Ya, mana saya tahu kalau kamu bawa ganti."
"Kenapa nggak nyuruh perawat aja, dok?"
"Mereka lagi sibuk, lagian saya ngerti kok cara milih pembalut. Kakak saya perempuan dan dulu dia sering nyuruh saya buat beliin dia." Dan kalau sekarang Mala yang sering nyuruh gue buat beliin dia. Imbuh gue dalam hati.
"Makasih, dok, maaf ngerepotin."
Gue tersenyum tipis. "Ya udah, saya duluan ya. Cepet sembuh. Kalau nggak mau ketinggalan sama temen-temen yang lain."
"Baik, dok, terima kasih sekali lagi."
Gue hanya mengangguk sekilas lalu pergi meninggalkan IGD.
Ponsel gue mendadak bergetar saat gue sedang menunggu pintu lift terbuka. Nama Mala yang tertera di layar.
"Ya, halo, La, kenapa?"
Terdengar isak tangis dari seberang. Membuat gue seketika dilanda kepanikan. "La, lo kenapa?!"
"Gha, tolongin gue, plis! Plis, tolongin gue!" ucapnya dengan suara bergetar, "Gha, gue takut." Detik berikutnya terdengar suara seperti benda jatuh dan jeritan dari Mala. Lalu sambungan telfon terputus.
Seperti orang kesetanan gue langsung berlari meninggalkan rumah sakit. Berhubung gue nggak bawa kunci mobil gue akhirnya memutuskan untuk naik taksi yang kebetulan sehabis mengantar penumpang. Dengan gerakan panik gue langsung melacak keberadaan ponsel Mala.
Ya Tuhan, semoga tidak terjadi sesuatu pada Mala.
__ADS_1
Please, La, bertahan demi gue!
Tbc,