
*
*
*
Abbas sedikit kaget saat pulang ke rumah tapi sang istri masih sibuk beberes karena ruang tengah yang begitu berantakan. Ia berdecak kesal tak lama setelahnya sambil menggulung lengan kemejanya. Mana bisa dia membiarkan sang istri beberes sendirian? Ya meski dirinya baru pulang bekerja dan capek sekalipun.
"Mala tadi jadi ke sini?"
Alisa mengangguk. "Jadi."
"Astaga, ya ampun, makan doang ya kerjaan dia di sini? Sampe rumah berantakan begini," gerutu Abbas kemudian. Ekspresi wajahnya terlihat kesal.
Alisa terkekeh. Ia maklum dengan kekesalan sang suami, apalagi kala mengingat kebiasaan Abbas yang bisa dikatakan suka dengan kerapian. Pria itu memang susah kalau rumah berantakan.
"Ya kan maklum, Bas, namanya Mala lagi hamil besar gitu. Apalagi kan dia bawa Kai. Duh, gemes banget deh sekarang dia. Udah pinter banget."
"Ya emang tuh bocah pinter kali, Sa. Lupa kamu pas kita bantuin Mala jaga dia pas apa tuh, Pas kandungan Mala lagi lemah atau pas dia udah keguguran ya, ya pokoknya pas itu lah, aku lupa. Dia aja udah pinter banget mana cewek cakep kok."
"Lucu ya?"
Abbas menghela napas. "Iya, Sa, nanti kita pasti dikasih kok kalau udah waktunya. Kamu sabar aja ya?"
__ADS_1
"Bas, kalau aku ajak kamu buat adopsi aja gimana?"
"Sa?" panggil Abbas terdengar tidak yakin, "berat banget ya hari-hari yang kamu jalani?"
Sambil menangis Alisa mengangguk cepat. "Iya, Bas, aku capek begini terus."
Abbas tidak langsung berkomentar dan memilih memeluk sang istri. Usapan lembut ia berikan kepada wanita yang kini tengah tersedu-sedu di dalam pelukannya. Semenjak keguguran, sang istri jadi begitu gampang menangis seperti sekarang ini.
"Kita coba adopsi aja ya? Siapa tahu nanti kalau kita udah ngurus anak aku-nya bisa cepet hamil."
Abbas menghela napas lalu mengurai pelukannya. "Sa, sabar, ya, bentar, pelan-pelan. Dengerin aku dulu! Kamu nggak lupa kan kalau rumah kita udah jadi, kita fokus dulu ke pindahan ya? Kita belum adain syukuran buat rumah dan lainnya juga, jadi step by step dulu. Nanti begitu semua udah beres baru kita pikirin soal adopsi. Gimana?"
"Kamu kurang setuju, Bas?"
Alisa terlihat ragu-ragu di awal, namun, pada akhirnya ia tetap mengangguk setuju.
"Tapi janji ya, begitu semua kelar kita adopsi?"
Abbas langsung mengangguk cepat dan kembali memeluk sang istri sebentar.
"Kita udah bisa pindah ke rumah baru kita, Sa, nanti kita adain acara syukuran dulu, ya. Kita juga belum beli perabotan lainnya. Besok kira-kira kalau kita pergi nyari perabot yang lain gimana? Kamu udah sehat betul belum?"
Alisa mengangguk cepat. "Udah kok, besok juga aku udah bisa masuk ke kampus."
__ADS_1
"Eh, tapi besok katanya ibu mau ke sini loh, kan soalnya belum sempet jenguk kamu dari kemarin."
"Enggak usah lah, kan aku udah sehat."
Abbas menggeleng tidak setuju. "Ya, mana bisa lah, Sa, kan ibu juga pengen liat anak mantunya. Masa nggak dibolehin."
"Nanti kita mampir aja ke rumah ibu."
"Begitu aja?"
Alisa mengangguk untuk mengiyakan. Abbas tidak protes, pria itu langsung setuju karena menurutnya ide sang istri boleh juga.
"Ya udah, ini biar aku terusin beresinnya, kamu mending mandi aja," saran Alisa yang tentu saja langsung ditolak oleh pria itu.
"Tanggung, tinggal segini kok, kita beresin bareng biar abis itu bisa istirahat bareng juga."
"Ya udah, terserah kamu aja. Tapi aku nggak tanggung jawab ya kalau semisal nanti kamu kecapekan."
"Ya elah, masa gini doang capek? Enggak lah, Sa. Aku kan strong," ujar Abbas jumawa sambil memamerkan otot lengannya.
Alisa hanya tertawa sebagai respon. Ia benar-benar merasa beruntung karena memiliki Abbas.
Tbc,
__ADS_1