
*
*
*
Gue pikir setelah kita kembali ke Jakarta, Mala akan menceritakan siapa itu Dirga. Tapi ternyata dugaan gue salah, sudah lebih dari seminggu sejak kejadian, Mala masih bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dia bahkan tidak pernah menyinggung masalah ini lagi dan jujur itu membuat gue semakin penasaran bercampur kesal.
"Menurut lo sikap gue wajar nggak sih, Bas?"
Abbas tidak langsung menjawab. Pria itu berdecak kesal lalu memilih menegak soda kalengnya lebih dahulu sebelum akhirnya mendengus samar.
"Gue nyuruh lo ke sini buat dengerin curhatan gue ya, nyet, bukan sebaliknya."
Gue spontan terkekeh sambil mengusap tengkuk gue malu. Benar juga ya, gue hampir lupa dengan tujuan gue tadi ke sini yang memang atas permintaan Abbas. Tadi siang pria itu tiba-tiba menelfon dan minta waktu gue untuk dateng ke apartemennya. Berhubung gue udah lama nggak ketemu sama Abbas, gue langsung mengiyakan tanpa bertanya dulu dengan Mala. Karena kalau dipikir-pikir, gue juga butuh temen curhat. Dan menurut gue bisa sekalian.
"Iya, nanti gue dengerin. Sekarang kasih masukan gue dulu, menurut lo gimana?"
Abbas menghela napas. "Ya, kalau masalah penasaran sih, wajar, Gha. Gue kalau jadi lo juga bakal sama penasarannya, cuma yang nggak wajar itu kalau lo maksa Mala buat cerita sekarang padahal istri lo belum siap buat cerita."
Gue diam.
"Lo kenal Mala udah berapa lama sih, Gha? Lama kan? Enggak cuma dua atau tiga tahun? Seenggaknya udah sampe hafal sama sifat dan kepribadian dia kan? Jadi, ya, selow aja lah, Gha, tanpa lo tanya, kalau Mala udah ngerasa siap buat cerita dia bakal cerita sendiri kan?"
Kali ini gue mengangguk setuju. Apa yang Abbas katakan ada benarnya, gue tidak bisa memaksa Mala. Gue harus kasih waktu buat Mala agar mau menjelaskan semua dengan sendirinya. Selama ini Mala selalu menjadi pihak yang berusaha untuk mengerti, jadi kini giliran gue.
"Jadi lo mau curhat soal apa?" tanya gue memilih untuk mengalihkan pembicaraan, "bukan soal Alisa kan? Lo udah move on belum sih dari dia?"
Gue kemudian meraih soda kaleng yang Abbas suguhkan lalu membuka dan langsung menegaknya hingga tersisa setengah.
Abbas terkekeh. "Gue bahkan nggak tahu makna dari kata move on itu sendiri." ia kemudian melirik gue, "menurut lo move on itu apa sih, Gha?" tanyanya kemudian.
Gue mengusap dagu gue seraya berpikir. Pertanyaan yang bagus, tapi gue sendiri bahkan nggak tahu jawaban pastinya.
"Menemukan orang baru?" tanya gue ragu-ragu, "eh, enggak deh, lebih ke mengikhlaskan masa lalu nggak sih?"
__ADS_1
Abbas tidak membalas. Pria itu hanya mengangkat kedua bahunya secara bersamaan sebagai respon. Setelahnya Abbas tiba-tiba seperti orang yang sedang melamun. Pandangannya kosong, seolah isi kepalanya sedang ribut sendiri.
Kalau gue perhatikan raut wajahnya saat ini, kayaknya masalah yang ia hadapi serius banget.
Gue langsung menendang kakinya pelan. "Jadi curhat nggak lo?"
Abbas masih tetap diam. Gue jadi khawatir melihatnya.
"Lo kenapa sih sebenernya, anjir, jangan bikin gue takut."
"Menurut lo kalau tiba-tiba gue nikah, lo bakal kaget nggak?" tanya Abbas random.
Gue menatap Abbas sekilas lalu menggeleng tak lama setelahnya. "Ya, enggak, umur lo udah sewajarnya untuk menikah soalnya. Dibanding kaget, gue bakalan seneng banget, Bas."
"Kok gue enggak, ya?"
Gue mengerutkan dahi bingung. "Maksudnya?"
"Gue juga kaget."
"Gue mau nikah, Gha. Tapi gue nggak seneng dan rasanya gue yang kaget karena tiba-tiba mau nikah."
"Anjir, bentar, lo kalau ngomong yang jelas. Ini maksudnya gimana? Lo beneran mau nikah?"
Abbas langsung mengangguk lemah.
"Sama siapa?"
"Glorya. Artis gue."
Mulut gue seketika langsung menganga lebar. "Kok bisa?"
"Dia hamil."
Telapak tangan gue langsung terkepal kuat. "Brengsek! Kok lo gitu sih, Bas?" Gue langsung berdiri dan mencengkram kaos yang Abbas pakai, "bos macam apa lo yang tega nidurin artisnya sendiri? Huh? Jawab gue!"
__ADS_1
Abbas tidak terima dengan perlakuan gue. Dengan gerakan cepat ia langsung menyingkirkan cengkraman gue pada bajunya.
"Bukan gue yang nidurin dia, sialan! Gue nggak sebrengsek itu."
"Ya, terus gimana bisa ceritanya artis lo hamil dan lo yang harus bertanggung jawab? Lo jangan coba-coba membodohi gue ya, Bas!"
"Adik gue."
Kedua bola mata gue membulat spontan. Kali ini telapak tangan gue terkepal lebih kuat.
"Maksudnya adik lo yang menghamili Glorya dan lo yang harus tanggung jawab?"
Abbas mengangguk untuk membenarkan.
Gue yang termakan emosi dengan kebodohan Abbas, langsung menonjok wajah pria itu untuk meluapkan kekesalan.
"Brengsek! Maksud lo apa, anjir, ngehajar gue tiba-tiba?"
Abbas jelas tidak terima. Ia langsung mendorong tubuh gue hingga tersungkur di lantai. Setelahnya ia balas menghajar wajah gue.
Sialan. Sakit juga ya tonjokan Abbas. Gue merasakan sudut bibir gue seperti akan robek. Saat gue raba, memang ada darah di sana.
"Biar lo sadar betapa bodohnya lo, Bas," balas gue emosi, "gue tahu posisi lo di keluarga lo, Bas. Iya, oke, gue akui jadi lo emang berat. Jadi tulang punggung sekaligus kepala rumah tangga buat ibu dan adek lo memang nggak mudah. Gue tahu itu tanggung jawab lo, tapi nggak semua perbuatan adek lo, harus lo juga yang nanggung. Enggak gini caranya, bro!" seru gue emosi.
Gue tahu betul bagaimana Abbas klau udah menyangkut ibu dan adiknya. Gue juga nggak suka kalau dia harus terus-terusan mengorbankan dirinya demi mereka. Menurut gue Abbas sendiri perlu bahagia. Dia sudah terlalu menderita selama ini. Sebagai sahabatnya, gue juga pengen lihat dia bahagia.
"Lo nggak ngerti, Gha."
"Bagian mana yang enggak gue ngerti? Kasih tahu gue!" balas gue makin emosi.
Kali ini Abbas diam.
"Bas, kalau lo emang bener sayang sama adek lo, gue percaya lo nggak bakal ngelakuin hal itu." Gue menepuk pundaknya, "pikirin semua baik-baik. Farhan harus lo ajari sebuah tanggung jawab, dia sudah cukup dewasa secara umur. Kalau dia berani berbuat itu artinya dia juga harus berani bertanggung jawab. Jangan terlalu memanjakan dia, mau bagaimanapun dia pria. Gue cabut duluan! Oh ya, jangan lupa dikompres pipi lo, kalau nggak mau besok memar. Dan sorry, karena gue tadi nggak bisa tahan emosi. Besok gue usahain ke sini lagi sama Ohim. Gue mau lo pikirin semua baik-baik dan gue berharap besok saat gue ke sini, gue nggak akan mendengar omong kosong kayak yang tadi."
Tbc,
__ADS_1
*