
*
*
*
Mood Alisa beberapa hari terakhir sangat lah bagus, apalagi jika mengingat rumahnya yang hanya tinggal tahap finishing. Bahagia jelas tengah yang sedang dirasa. Ia bahkan sudah belanja semua perabot rumah yang ia perlukan. Tapi ternyata semua itu tidak berlangsung lama karena ada pertanyaan mengganggu.
Bu Alisa gimana, udah isi belum?
Kalau boleh jujur sebenarnya Alisa sendiri seperti merasa hampir terbiasa dengan pertanyaan tersebut, tapi meski sudah terbiasa perasaan tidak nyaman itu masih tetap ada.
"Hehe, belum Pak Doni, belum rejekinya mungkin."
"Tapi sehat kan? Maksudnya nggak ada masalah apapun?"
__ADS_1
Sambil mencoba untuk memaksakan diri tersenyum, Alisa mengangguk dan mengiyakan. Kebetulan mereka sedang berkumpul di ruang dosen, biasa baru dapet syukuran dari salah satu dosennya.
"Insha Allah enggak, Pak."
"Tapi udah cek atau gelem belum?" dosen yang bernama Doni itu kembali membuka suara, "soalnya takutnya memang nanti ada masalah atau bagaimana, Bu Alisa. Soalnya kan ya mohon maaf nih, pernikahan sebelumnya Bu Alisa belum dapet, eh, ganti suami nasa nggak cepet juga."
"Pak Doni, nih, masa begitu banget nanyanya. Ya mungkin emang belum rejekinya aja," sahut dosen yang lain, "sudah lah, Bu Alisa jangan terlalu berkecil hati. Dulu saya juga nggak cepet kok dapetin anak-anak. Ya, diurut dulu, minum ini-itu, dan segala macemnya."
"Lah diurut segala, Bu Jessi?"
Dosen yang dipanggil Jessi itu mengangguk cepat. "Iya, soalnya saya pengen banget kala itu, katanya orang-orang suruh coba urut, saya yang kepengen banget ya nyoba aja."
Alisa tersenyum tipis. Dirinya memang sudah kalau disuruh berurusan dengan perjamuan, jamu yang dibelikan sang mertua saja belum sempat ia coba kembali. Soalnya dia terlalu trauma karena beneran habis muntah saat mencobanya.
"Tapi namanya jamu ya pasti nggak enak, Bu, cuma kalau nggak dipaksa emang nggak bakalan bisa masuk. Saran saya emang coba dipaksa pelan-pelan saja, Bu, siapa tahu berhasil. Ya mau berhasil atau enggak emang kehendak Tuhan yang Maha Eza. Tapi kan kita sebagai manusia tugasnya berusaha dan mencoba semampu kita. Bismillah dulu, Bu," ucap dosen yang lainnya lagi.
__ADS_1
Lagi-lagi Alisa hanya mampu memasang senyum tipis andalannya. Kali ini ia tidak akan protes atau marah.
"Atau mau saya coba kasih obatnya? Obat saya masih, Bu, siapa tahu pengen nyoba," ucap dosen yang lainnya.
Alisa tersenyum tipis lalu menolak tawarannya dengan lembut.
"Enggak perlu, Bu, nanti merepotkan. Kebetulan ibu mertua saya udah beliin kok, jadi nggak usah."
Si dosen mengangguk paham. "Tapi memang gimana ya, segala sesuatu yang ditungguin itu biasanya lama, giliran yang nggak ditungguin mah langsung dapet. Itu kayak bocah yang masih sekolah, lumayan sering kan?"
"Eh, tapi denger-denger dulu Bu Alisa pernah isi deh ya? Itu beneran apa gosip, Bu?"
"Iya, cuma emang belum direjekinya, Bu, Pak, jadi diambil duluan."
"Ya tapi udah jadi bukti lah kalau semisal masih bisa hamil."
__ADS_1
Kok mendadak Alisa tersinggung dengan kalimat tersebut. Apakah ia keterlaluan?
.Tbc,