Married With My Besti

Married With My Besti
Mendadak Kegeeran


__ADS_3

Dengan langkah ragu-ragu, gue akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke rumah Aldi dan Ririn. Pintu gerbangnya terbuka, alhasil gue langsung nyelonong masuk begitu saja sambil memanggil nama Aldi. Namun, tidak ada respon.


"Assalamualaikum, Aldi? Permisi! Ada orang?" teriak gue.


Butuh waktu sedikit lebih lama akhirnya sang pemilik rumah keluar. Gue langsung bernapas lega setelahnya. Oke, berarti nggak ada masalah karena Aldi bisa keluar rumah untuk menyambut gue. Ririn juga kata Mala pergi, berarti gue bisa basa-basi sebentar lalu pulang abis itu.


"Wa'alaikumsalam. Eh, Bang Agha? Ada apa, Bang?"


"Em... anu itu..." gue tidak jadi meneruskan kalimat gue karena tidak sengaja melihat telapak tangan Aldi yang terlihat mengeluarkan darah. "Astaga, ya ampun, Di, itu tangan lo kenapa?" tanya gue panik.


Cepat-cepat ia menyembunyikan tangannya. "Enggak papa, Bang, cuma luka kecil kok."


Gue melotot tidak percaya. "Enggak papa gimana, itu tangan lo berdarah, Di. Jangan lo anggap sepele sebuah luka itu meski kecil sekalipun, karena meski kecil tetep aja perlu diobatin, kalau nggak ntar bisa jadi infeksi. Coba sini gue cek, perlu dijahit nggak kira-kira."


Gue hendak maju untuk mengecek luka Aldi, tapi pria itu malah makin menyembunyikan lukanya sambil berjalan mundur.


"Enggak usah, Bang, serius, nggak papa. Ntar gue pergi ke klinik deh."


Gue mengerutkan dahi heran. "Ngapain? Gue juga dokter, sini biar gue cek langsung. Tenang aja ntar gue kasih gratis karena kita tetanggaan."


Wajah Aldi terlihat kaget saat gue menyebut profesi gue sebagai dokter. Hal ini membuat gue sedikit tersinggung.


Eh, maksudnya apaan tuh ekspresinya?


Maksudnya muka gue nggak cocok jadi dokter gitu?


"Hah? Lo dokter, Bang?" tanyanya seolah tidak percaya.


Gue mendengus. "Kenapa? Lo nggak percaya?" tanya gue dengan nada tersinggung.


Aldi meringis canggung.


Gue berdecak. "Anjir, seriusan, gue dokter, Di. Gue bahkan udah spesialis. Apa perlu gue ambil lisensi medis gue kalau lo masih nggak percaya?"


Aldi langsung menggeleng panik. "Eh, enggak, Bang, enggak perlu. Iya, gue percaya kok. Masuk dulu kalau gitu, Bang."


"Gitu kek dari tadi," dumel gue sambil mengikuti langkah kakinya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Gue sedikit tertegun saat masuk ke dalam sana. Satu kata untuk menggambarkan seisi rumahnya. Kacau.


"Sorry, Bang, agak berantakan."


Ini sih bukan agak berantakan tapi udah berantakan total.


Kali ini giliran gue yang meringis canggung. "It's okay. Jadi di mana obat P3K lo, biar bisa langsung gue obati luka lo."


"Bentar, Bang." Aldi pamit pergi.


Gue celingukan menatap seisi ruangan. Gila, separah apa sih mereka berantemnya sampe bikin seisi rumah jadi kayak kapal pecah gini? Buset. Serem juga ya. Perasaan gue kalau sama Mala berantem nggak sampai bikin barang-barang rumah berantakan begini deh. Gue mendadak penasaran sama pasangan yang berantem tapi harus sambil ngehancurin barang begini. Motif mereka apa sih? Emang saling berteriak, meluapkan emosi masih kurang?


"Bang?" panggil Aldi ragu-ragu.


Lamunan gue seketika langsung buyar. Gue menoleh ke arah suara.


"Udah ketemu?" Gue langsung berjalan menghampirinya yang kini sudah duduk di sofa, "sini coba gue cek!"


Aldi langsung menyodorkan telapak tangannya yang terluka.


"Agak dalem sih, cuma nggak perlu sampe dijahit kok ini. Nambah setengah senti aja lukanya udah harus dijahit nih."


"Sorry, Bang, gue nggak minum."


Gue spontan langsung tertawa. "Bukan alkohol yang itu, tapi yang buat mensterilkan luka. Enggak punya?"


Aldi meringis malu-malu. "Kayaknya gitu, Bang."


"Astaga. Lain kali lengkapi isi P3K lo, jangan cuma diisi panadol sama obat merah doang. Ya udah, tunggu bentar, gue ambil dari rumah gue dulu." Gue langsung berdiri.


"Eh, nggak ngerepotin, Bang?" tanya Aldi terdengar sungkan.


Gue tersenyum. "Ya, namanya sesama tetangga emang harus saling ngerepotin kan?"


"Hah?"


Gue mengibaskan telapak tangan gue. "Bercanda. Gue pulang dulu."

__ADS_1


Gue langsung bergegas pulang ke rumah untuk mengambil P3K. Setelah mendapatkan yang gue cari, gue langsung kembali ke rumah Aldi.


"Nih, isi P3K tuh, ya begini. Lengkap," ucap gue sambil memamerkan isi P3K gue pada Aldi.


"Tapi gue bukan dokter, Bang, nggak ngerti juga cara pake gituan."


"Ya nggak perlu dokter juga, Di, kan ini itu buat pertolongan pertama. Jadi bisa dipake semua orang, perlu loh punya ginian di rumah karena kecelakaan bisa aja terjadi kapan saja," ucap gue menjelaskan.


"Oke, Bang, besok-besok gue beli deh."


Gue kemudian langsung mengobati luka Aldi. "Di, sorry, gue boleh nanya?" tanya gue hati-hati.


"Iya, Bang?"


Gue celingukan sebentar. "Istri lo ke mana?" tanya gue kemudian.


"Pergi," jawab Aldi singkat.


Sejujurnya sampai sini gue sudah agak ragu-ragu buat lanjut nanya atau enggak. Tapi rasa kepo gue ternyata lebih besar, alhasil gue tetap nanya setelahnya.


"Kalau boleh tahu ke mana?"


Aldi menghela napas pendek. "Gue aja bahkan nggak tahu, Bang, dia pergi ke mana. Gue sama dia baru aja berantem." Kepalanya celingukan menatap ke seisi ruangan, "sampe bikin ini semua."


Gue kembali meringis canggung. "Gue tahu sih bukan kapasitas gue buat ikut campur, tapi menurut gue--"


"Gue sama istri gue dijodohin, Bang," potong Aldi tiba-tiba. Wajahnya terlihat sedih seperti orang yang sedang menahan pilu, tapi sudut bibirnya membentuk senyuman, "dia sebenernya nggak mau dinikahkan sama gue, tapi orang tuanya maksa. Dia juga belum move on dari mantannya. Gue sebenernya maklum sih, Bang, kalau semisal sesulit itu nerima gue di hidupnya. Karena bagi gue ini juga nggak mudah, cuma kadang yang membuat gue ngerasa capek banget itu sikapnya yang sama sekali kayak nggak ngehargai gue dan seolah nyalahin gue. Padahal ini juga bukan mau gue, Bang. Gue kalau dikasih pilihan juga bakal nolak dari awal."


Gue diam karena tidak berani berkomentar, takut salah ngomong juga. Tapi kenapa sih orang tua harus memaksa anaknya menikah padahal anaknya nggak mau? Ah, sudah lah itu bukan urusan gue.


Setelah selesai membersihkan luka dan memberinya obat merah, gue langsung membalut luka Aldi menggunakan plaster luka ukuran besar. "Lo tahu dari mana kalau istri lo belum move on?"


"Dia sendiri yang bilang ke gue."


Aduh, kenapa perasaan gue kenapa jadi nggak enak gini, ya? Ini nggak ada sangkut pautnya sama gue kan?


Duh, kenapa gue jadi kegeeran gini ya?

__ADS_1


Lagian nggak mungkin lah, ya, kalau orang itu gue. Mantan Ririn kan pastinya bukan cuma gue doang. Hahaha. Lucu banget pikiran gue.


Tbc,


__ADS_2