Married With My Besti

Married With My Besti
Pacaran Sekalian


__ADS_3

Karena merasa gabut di rumah, kami berdua memutuskan buat keluar. Pacaran aja sekalian mumpung enggak ada yang ngerusuh.


Biasa rame dirusuhin Kai, tetiba berdua doang sama Mala, rasanya benar-benar hampa. Kayak ada yang kurang aja gitu. Padahal sebelumnya juga kami biasanya berdua doang, tapi setelah kehadiran Kai. Semua rasanya berbeda.


"Jadi ini rencana mau ke mana?"


Mala baru turun dari lantai atas. Baru selesai dandan dan kini ikut duduk di sebelah gue.


"Nemenin aku hunting foto mau? Kebetulan aku udah lama nggak hunting foto nih," tawar gue yang langsung mendapat penolakan tegas dari Mala.


Mala menggeleng. "Enggak. Nanti endingnya pasti aku dicuekin terus kamu sibuk sendiri sama kamera kamu. Males," dengusnya kemudian.


Gue bahkan rasanya hampir lupa kapan terakhir pegang kamera. Mubazir banget juga sebenernya kalau dipikir-pikir, kamera gue tuh harganya nggak ada yang murah, mayoritas mahal semua, tapi berakhir dianggurin semua. Gue kalau udah curhat sama Mala soal ini pun bakalan berujung disalahin sama dia. Katanya ngapain beli kamera mahal-mahal, toh, seringnya juga dijadiin pajangan ketimbang dipake.


Iya, juga sih, mana kamera gue lumayan lagi jumlahnya. Enggak bisa dibilang sedikit. Apa gue jual aja ya, sebagian? Kan lumayan tuh bisa buat tambahan beli popok buat Kai.


Lagian gue heran sama diri gue sendiri, dulu gue kenapa bisa kepikiran beli kamera mulu sih, padahal jelas-jelas waktu gue untuk hunting foto itu terbatas.


"Agha!" panggil Mala sambil memukul paha gue jengkel.


Lamunan gue seketika langsung buyar.


"Hah?" gue memasang wajah bingung.


"Kamu dengerin aku ngomong nggak sih?" decaknya kesal.

__ADS_1


Gue mengangguk. "Dengerin, La, kamu nggak mau kan kalau aku ajakin hunting foto. Ya udah, ayo, berangkat. Kita pacaran aja ala-ala anak baru gede, yang mainstream aja, nonton, ngemall, makan, terus pulang."


Namun, cepat-cepat gue meralat. "Eh, jangan langsung pulang deh. Kalau semisal chek in hotel dulu seru kali ya?" usul gue sambil memasang wajah cengengesan.


Mala mengerutkan dahinya heran. "Ngapain chek in hotel segala? Rumah kita nganggur, Gha. Nggak usah sok berlagak kayak sultan deh." ia berdecak kesal, "kamu itu kebiasaan banget deh. Hobi banget perasaan menghambur-hamburkan uang, inget, uang besok-besoknya lagi masih berlaku. Jadi kamu nggak perlu khawatir!"


Gue terkekeh. "Ya, enggak papa loh, La, meski kita bukan sultan, tapi kita kan nggak semiskin itu juga. Masih mampu lah buat chek in hotel. Nyoba sekali, yuk!" ajak gue kemudian. Gue memasang wajah merayu, "ganti suasana baru gitu, La, biar kayak ala-ala pasangan bulan madu. Kan kita kemarin nggak sempet bulan madu karena Kai udah nongol duluan. Mau ya?" bujuk gue.


Mala menggeleng tidak setuju. "Kalau cuma mau ganti suasana baru, kan bisa pake kamar sebelah, Gha. Nggak usah aneh-aneh deh!" ia kembali berdecak tak lama setelahnya.


Gue berpikir keras. Gimana, ya, cara membujuk Mala. Masalahnya ini momen langka, jadi gue nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Soalnya kami sudah punya Kai di tengah-tengah kami, akan sulit menikmati waktu berdua kalau nggak saat momen-momen begini. Apalagi mengingat profesi kami. Susah. Jadi gue nggak mau kesempatan ini terbuang sia-sia.


"La, ayolah," rengek gue masih berusaha untuk membujuk Mala. Tangan gue berusaha menarik-narik ujung kemejanya.


Ia berdecak kesal. "Kenapa sih? Kamu pengen banget chek in di hotel yang biasa kena razia, biar nanti kena gerebek terus abis itu kamu tunjukin buku nikah kamu gitu?" dengus Mala, "basi banget."


Mala mengerutkan dahi bingung. Mungkin dia merasa tidak asing dengan nama itu.


"Pakde Lingga itu yang mana? Suaminya Bude Ajeng?" tanya Mala ragu-ragu.


Gue langsung menggeleng cepat sebagai respon. "Bukan. Suaminya Bude Ajeng itu namanya Pakde Akmal, La. Kalau Pakde Lingga itu temennya Ayah. Perawakannya tuh bule banget sebenernya, La, tapi Ayah


selalu nyuruh aku buat manggil beliau Pakde karena beliau ada keturunan Jawa. Enggak tahu deh, pertemanan mereka tuh emang agak-agak sih."


Mala mendengus. "Ya, sama aja kan, kayak kamu sama Abbas dan Ohim."

__ADS_1


Gue meringis malu-malu. Mungkin Mala ada benarnya juga.


"Terus di Pakde Lingga itu dateng nggak sih ke nikahan kita?"


Gue mengangguk. "Dateng lah, kan bestienya Ayah."


"Yang mana sih orangnya, yang pas kita ijab qobul ada juga nggak?"


Gue berpikir sejenak, mencoba mengingat-ingat. "Aku nggak yakin, tapi kayaknya beliau nggak dateng karena ada acara atau gimana gitu. Cuma kalau pas resepsi sama acara ngunduh mantu, beliau datang kok. Pokoknya tuh perawakannya bule banget, La, terus istrinya lebih muda dengan jarak yang cukup jauh gitu."


"Enggak tahu lah, nggak inget, tamu undangan kedua orang tua kita kan banyak banget. Pusing aku kalau disuruh nginget-inget."


Gue mengangguk paham sambil terkekeh. "Ya udah, nggak usah diinget-inget kalau gitu. Mending kita pikirin ini nasib kita gimana, jadi pergi nggak? Atau gimana kalau kita sekalian pergi ke Anyer atau Puncak?" usul gue kemudian, "pasti seru tuh, La. Mau ya?"


"Males ah."


Raut wajah gue seketika langsung berubah manyun. "Ah, kamu mah sukanya gitu, La. Nggak asik," rajuk gue kemudian.


Mala berdecak sambil memutar kedua bola mata malas. "Ya udah lah, terserah. Atur aja lah kalau gitu, aku ngikut apa kata suami," ucapnya pasrah.


Kedua bola mata gue langsung berbinar cerah. "Serius?"


"Hm," respon Mala seadanya.


"Makasih, sayang. Yuk, berangkat! Eh, ambil baju ganti dulu, La. Biar besok kita bisa langsung berangkat ke RS."

__ADS_1


Mala tidak protes. Dia berdecak samar, tapi tetap melaksanakan perintah gue.


Tbc,


__ADS_2