Married With My Besti

Married With My Besti
Kumpul Keluarga


__ADS_3

"Widih, penganten baru kita dateng juga akhirnya. Mentang-mentang lembur terus jadi bisa telat dateng seenaknya."


Gue langsung memukul bagian depan topi yang Fikri pakai, saat mendengar godaan dari anak bungsunya Om Rishwan dan Tante Hana. Dia adalah saudara sepupu gue yang paling aneh sekaligus paling normal menurut gue.


Lah, aneh dan normal? Situ sehat?


Bentar, santai, biar gue jelasin dulu. Kenapa gue bilang aneh, karena di antara tujuh saudara sepupu gue dari keluarga Tante Hana sama Om Rishwan doang tapi, ya, soalnya sepupu gue banyak, mencar di mana-mana. Fikri ini sesosok yang paling rame, rusuh, biang kerok, dan agak nyeleneh. Enggak agak deh, emang nyeleneh ini orang.


Dia sudah lulus SMA, sudah setengah tahun lebih atau mungkin udah ada setahun, gue juga kurang tahu pasti, pokoknya intinya udah lulus lumayan lama, tapi belum juga masuk universitas. Katanya sih doi nggak mau kuliah, padahal ibunya mantan dosen, dua kakak dan tiga kakak iparnya dosen juga. Tapi minatnya untuk masuk perguruan tinggi nol besar. Passion dia paling anti mainstream di antara keluarga besar. Yaitu sebagai content creator, follower sosmed dia nggak sedikit. Padahal kebanyakan isi konten dia itu cuma kayak video reaction doang, tapi gue suka heran kenapa banyak banget yang follow.


Mungkin karena wajah Fikri yang termasuk good looking juga sih. Secara masih muda juga kan, jadi gue rasa itu berpengaruh.


Nah, untuk urusan kenapa gue bilang dia aneh, karena dia paling beda di antara ke enam saudaranya yang lain, soalnya kehidupan dia yang terlihat paling normal, nggak kayak saudaranya yang lain kaku semua. Gue kadang aja sampai kayak agak segan kalau kumpul sama mereka.


"Yang lain udah pada dateng semua?"


Fikri mengangguk setelah tadi bertegur sama dengan Mala. "Kayaknya, mobilnya udah banyak soalnya."


Gue menyipitkan kedua mata curiga. "Kok kayaknya? Lo baru nyampe juga?"


Bukannya menjawab, Fikri malah cengengesan lalu mengajak gue dan Mala untuk segera masuk ke dalam. Ternyata saat kami masuk, acara sudah dimulai. Perasaan tadi gue sama Mala udah usaha cepet-cepet biar nggak telat deh, tapi kok ya masih telat aja.


"Kalian dari mana aja kok baru nongol?" tegur Bunda setelah kami bergantian mencium punggung tangan beliau.


Mala meringis tidak enak. "Maaf, Bun, tadi Agha agak rewel."


"Lo rewel kenapa lagi sih, Bang?" sahut Fikri tiba-tiba, "punya bini secakep Kak Mala masih aja rewel," gerutunya kemudian.


Ini bocah emang suka banget ikut campur.


"Lo mending diem aja deh bocah!"


Fikri langsung menampilkan wajah songongnya. "Dih, enak aja gue udah punya SIM sama KTP ya. Udah bisa bikin bocah nih, sembarangan aja lo sebut bocah."


"Mulut lo tuh yang sembarangan!"


"Udah, udah kenapa malah jadi ribut sendiri," lerai Bunda, "sana mending langsung cari makan, kalian udah pada sarapan belum?"


"Kalau Fikri udah Bude, jadi nanti aja lah. Mau nyapa yang lain dulu," pamit Fikri langsung pergi untuk menyapa tamu yang lain.


"Kalian?" Bunda kemudian beralih ke gue dan Mala.


"Mala udah juga, Bun, Agha yang belum."

__ADS_1


For your information. Meski hasil testpack yang dilakukan Mala beberapa hari terakhir masih menunjukkan tanda negatif, tapi gue masih musuhan sama nasi. Sarapan yang bisa masuk ke perut gue sejauh ini cuma sereal yang dicampur santan, karena gue mual juga kalau mencium berbagai jenis susu. Aneh banget kan, masa makan seral pake santan, tapi bodo amat lah yang penting perut gue terisi. Dan apesnya sarapan gue harus keluar lagi cuma gara-gara Mala pake parfum baru.


Melihat semua gejala yang gue alami, apakah kalian masih percaya kalau Mala itu nggak hamil?


"Ya udah, sarapan dulu sana, Gha! Bunda tinggal."


Gue hanya mengangguk dan mempersilahkan Bunda pergi.


"Mau gue ambilin apa?" tawar Mala selepas Bunda pergi.


"Cemilan aja deh, adanya apa gitu. Dibawa masuk ke dalam aja, ya?"


Kebetulan acara ulang tahun Gio berada di taman belakang, bukan di dalam rumah.


"Loh, nggak mau gabung sama lain?"


Gue menggeleng. "Pusing nyium parfum kecampur-campur."


Daripada ujungnya gue bikin heboh karena tiba-tiba muntah di acara ulang tahun Gio, mending ge cari aman.


"Apa mau nyapa Kak Ale bentar terus pulang aja, kalau kamu ngerasa nggak enak badan?" tawar Mala dengan raut wajah khawatir.


Gue menggeleng sambil tersenyum tidak masalah. "Masih mau main sama Gio ntar kalau udah agak sepi. Mending gue ke dalam aja deh."


Gue mengangguk lalu masuk ke dalam rumah Kak Ale.


*


*


*


"Loh, kok kamu di sini, dek? Bukannya di luar gabung sama yang lain?"


Gue sedikit melongok ke asal suara dan menemukan bokap baru saja keluar dari kamar mandi. Gue kemudian menegakkan tubuh.


"Pusing, Yah."


"Hah? Kamu sakit lagi?" Telapak Ayah langsung ditempelkan pada dahi gue, "enggak panas tuh. Kenapa? Pusing ditanyain Mala isi apa belum?" Bokap terkekeh lalu duduk di sebelah gue, "ya elah, yang begituan tuh udah biasa. Ayah dulu belum genap sebulan nikah udah ditanyain begitu terus. Ayah selow. Ntar kalau udah rejekinya juga dikasih."


Gue langsung berdecak lalu menggeleng. "Bukan itu, Yah."


"Terus?"

__ADS_1


"Pusing karena bau parfum orang-orang."


Wajah Ayah terlihat kaget. "Hah? Mala udah isi, dek?"


Gue menggeleng sedih. "Belum."


"Terus kamu kenapa?"


"Enggak tahu. Agha akhir-akhir ini ngerasa aneh deh. Agha tuh jadi sensitif banget sama wewangian, nggak bisa liat nasi, tiap pagi pasti mual kadang bahkan sampai muntah-muntah, padahal abis itu biasa aja asal nggak ngecium bau yang nggak Agha suka. Tapi Mala aku suruh tes hasilnya negatif terus, bahkan kemarin Mala udah datang bulan."


"Datang bulannya kayak biasa juga nggak?"


Gue menggeleng. "Enggak tahu, soalnya Agha nggak nanya soal ini."


"Kamu tahu kan sebagian wanita hamil, menyangka dirinya nggak sedang hamil karena mengalami pendarahan ringan hampir mirip seperti menstruasi?"


Gue mengangguk ragu-ragu, karena udah agak lupa tentang hal ini.


"Udah cek kadar beta-hCG belum?"


Kali ini gue menggeleng cepat sebagai tanda jawaban.


Ayah langsung berdecak. "Kamu dokter, istrimu dokter, bapakmu dokter, kakakmu dokter, iparmu dokter, mertuamu dua-duanya juga dokter. Masa soal ginian masih harus dikasih tahu juga, Gha?"


"Bukan begitu, Yah, Agha udah coba minta sama Mala tapi dia bilang belum sempet."


"Ya, disempetin lah."


Gue menggeleng. "Enggak berani, Yah, takut membebani Mala-nya."


"Iya juga sih, kalau hasilnya ternyata negatif lagi kasian juga mantu Ayah. Ya udah jangan dipaksa, Ayah percaya sama menantu Ayah kok. Dia pasti tahu yang baik untuk kalian."


Gue mengangguk setuju.


"Ya udah, anggap aja ini simulasi buat kamu, dek. Biar ntar kalau semisal Mala beneran hamil, kamu lebih perhatian sama dia."


"Iya, Yah, tapi Agha masih berharap Mala nggak usah ngerasain ini deh. Berat banget rasanya, Yah, Agha kadang suka kayak mendadak nggak sanggup turun dari kasur doang. Kalau ntar Mala ngalami beginian kan kasian, ntar biar Mala bagian yang bawa sama ngelahirin doang lah."


"Terus ntar yang nyusuin kamu?"


Gue menatap bokap datar. "Ya, sama itu juga maksudnya, Yah."


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2