Married With My Besti

Married With My Besti
AA Story 8


__ADS_3

*


*


*


Pernah gagal dalam pernikahan sebelumnya tidak membuat Alisa mengalami trauma dengan yang namanya pernikahan. Apalagi orang yang menikahinya itu adalah Abbas, pria yang benar-benar ia kenal sebelumnya. Setelah mereka menikah, mungkin ada beberapa hal yang baru ia ketahui tapi sejauh ini ia masih bisa menoleransi dengan cukup baik. Ia bahagia bisa menikah dengan Abbas meski ini adalah pernikahan kedua dan meski sampai sekarang mereka belum diberi kesempatan untuk memiliki momongan. Perasaan sedih tentu ada, tapi Abbas selalu bisa menghiburnya sehingga ia tidak terlalu merasakan sedih.


Tapi kalau sudah berurusan dengan ibu mertuanya, jujur Alisa merasa kewalahan karenanya. Maklum, dulu kedua mertuanya dari mantan suami yang sebelumnya tidak terlalu peduli dengannya, jadi Alisa tidak masalah. Tapi mertuanya yang sekarang sangat peduli dengannya, bahkan saking pedulinya ia menjadi kewalahan sendiri.


Kalau ditanya apa dia capek? Tentu saja iya, tapi di balik itu semua Alisa cukup sadar kalau bukan hanya dirinya yang mengalami ini semua.


"Maafin ibu sama keluarga aku ya, Sa, jujur aku sedih deh sama sikap mereka. Nggak inget apa dulu kalau butuh uang aja selalu aku yang dicari, giliran mereka semua udah pada sukses bisanya nyinyir aja."

__ADS_1


Alisa tertawa sambil memegang sebelah pipi sang suami. "Enggak papa kali, Bas, wajar kok sebenernya sikap mereka tuh, toh, mereka nggak sampai yang ngatain aku atau gimana kan? Kamu jangan berlebihan bisa kan?"


Abbas mendengus sambil memegang telapak tangan sang istri, yang kini sedang memegang pipinya. "Kamu kenapa sih selalu bilang kalau aku lebay? Padahal aku begini kan karena aku peduli, Sa, sama kamu."


"Iya, makasih karena udah peduli, tapi, please, disesuaikan jangan terlalu berlebihan. Oke? Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik."


Abbas manggut-manggut lalu memeluk perut sang istri. "Iya, iya, maafin ya. Lain kali nggak begitu lagi deh." ia kemudian teringat sesuatu dan mengangkat kepalanya, "oh ya, Sa, besok kita ke proyek, yuk!" ajaknya kemudian.


Pria itu kemudian terkekeh dan gantian mengelus pipi sang istri. "Hehe, ngantuk ya?"


Alisa mengangguk sambil mengucek kedua matanya. "Tadi kamu bilang mau ke proyek, proyek apaan maksudnya?"


"Proyek rumah kita maksudnya, Sa. Udah lama deh kita nggak ke sana, coba ke sana, yuk! Kira-kira udah sampai sejauh apa ya prosesnya."

__ADS_1


"Oh, boleh, besok kita ke sana deh. Apa sekalian nanti kita coba liat-liat furniture abis dari sana?" tawar Alisa, kini mendadak terlihat seperti orang yang sudah tidak mengantuk lagi.


Abbas menggeleng tidak setuju. "Enggak deh, kalau itu, kan rumahnya masih jauh pengerjaannya, Sa, jadi ntar aja lah kalau udah hampir finish."


"Ya nggak papa dong, Bas, sekalian jalan-jalan, cuci mata, liat-liat doang."


Abbas mendengus. "Nanti kamu pasti kepincut kalau cuma liat-liat, Sa, kalau mau langsung dibeli nanti bingung mau ditaruh di mana. Kalau dibiarin gitu aja terus disamperin pas rumah kita udah jadi, nanti keburu udah dibeli orang lah. Udah, nggak usah aneh-aneh."


Alisa merengut sebentar, tapi tak lama setelahnya ia manggut-manggut paham. Setuju juga dengan kalimat sang suami.


"Udah, mending sekarang kita tidur aja, yuk," ajak Abbas yang tentu saja langsung diangguki setuju oleh Alisa. Kebetulan ia sendiri juga sudah mulai mengantuk.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2