Married With My Besti

Married With My Besti
Soto Lagi?


__ADS_3

*


*


*


...Abbas Otw Taken!...


Abbas : anjir lah, ini siapa yang ganti nama grupnya jadi begini?


Anda : 🙋gue


Anda : emot beginian hang cowok gk ada ya? Kok di gue adanya cuma cewek doang?


Abbas : gaje lu, Gha!


Ohim : aminin aja kali, Bas, siapa tahu beneran langsung taken abis ini


Anda : nah, setuju gue sama onta Arab Cina KW


Ohim : elu sapi 😑


Abbas : anjir lah, ini bapak-bapak malah saling ngatain. Masing-masing udah punya bocah di rumah kelakuan masih aja kayak bocah. Malu sama anak kali!


Anda : iri bilang bos!


Abbas: lah, kenapa juga gue harus iri? Yang ada gue ngerasa empet dengan kalian berdua😒


Abbas : dah skip, ini gue mau nanya kalian mau ikut acara reunian kaga?


Anda : reuni apa?


Abbas : lo inget Umi?


Gue berpikir sejenak dan mencoba mengingat-ingat. Baru mau ngetik balasan, ternyata Ohim lebih dulu membalas.


Ohim : Umi yang mana? Temen kita ada dua kan yang namanya Umi?


Lah, emang iya?


Abbas : yang pinter masak. Jadi ceritanya dia buka rumah makan nusantara gitu, guys, dia lagi grand opening sekalian undang kita buat reunian gitu. Ke sana yuk, lumayan makan gratis


Anda : halah, otak lo, Bas, makan gratis terus


Abbas : anda sebagai suami beristri yang sudah pensiun membujang diem deh. Apalagi yang tipe anak bunda yang nggak bisa jauh dari rumah macem lo.


Abbas : kata gue diem nggak usah banyak komentar!


Anda : hahaha, gue ngakak kenceng, anjir


Melihat gue yang sedang terbahak kencang, Mala langsung melirik gue sinis. Gue cepat-cepat minta maaf sambil mengangkat kedua jari gue membentuk huruf V.


"Maaf, La, ini si Abbas lagi misuh di grup."


Abbas : kata gue mending lo diem sebelum gue kirim santet online

__ADS_1


Ohim : bisa bungkus gk?


Abbas : bisa lah, cuma kalau dibawa pulang tetep bayar, tapi tenang tetep ada diskon kok karena ini baru grand opening


Ohim : oke, gue gas!!


Abbas : sip, ntar gue share loc ya


Anda : ajak anak istri boleh?


Abbas : jangankan mau ajak anak istri, lo mau ajak warga sekomplek perumahan lo juga boleh kali


Anda : oke, tengkiyuuu buat infonya, kalau gitu gue mau ajak Mala sama Kai


"La, mau makan gratis nggak?"


Tanpa perlu berpikir panjang, Mala langsung menggeleng cepat. "Tiap ke rumah Mama atau Bunda kan makan gratis terus, masih kurang?"


Lah, bener juga sih.


Gue berpikir sejenak untuk memberi jawaban.


"Sekalian reunian ini sama temen-temen SMA aku, La, ikut, yuk! Ntar aku kenalin kamu ke mereka," kata gue kemudian.


Mala masih pada pendiriannya dan kembali menggeleng tegas. "Males. Kata Abbas mantan kamu di SMA banyak. Ngapain kamu mau ngenalin aku ke mantan kamu? Enggak usah jauh-jauh, itu tetangga samping rumah juga mantan kamu, Gha. Ngapain segala jauh-jauh ikut reunian? Malesin banget."


Gue garuk-garuk kepala bingung harus menjawab apa kalau udah bawa-bawa mantan begini. Takut salah ngomong.


"Serius nggak ikut kamu?" tanya gue memastikan.


Sekali lagi Mala kembali menggeleng. "Males, Gha. Kamu aja sana pergi sendiri sekalian nostalgia jaman masih jadi buaya."


"Enak aja, aku bukan buaya ya. Ganteng begini kok dibilang buaya sih?"


"Nah, justru yang ganteng begini biasanya jadi buaya, Gha. Kamu nggak tahu konsepnya?"


Seketika gue speechless.


"Udah, sana, kamu berangkat sama Abbas atau Ohim. Nggak usah ajak aku, atau gini aja deh, kamu ajak Kai juga boleh.


"Bukannya harusnya kamu ikut, kan mau ketemu mantan, La."


"Terus? Kamu berharap aku insecure sama mantan kamu makanya aku harus ngintilin kamu gitu, Gha?" Mala tersenyum penuh arti, "sorry, aku Nirmala, Gha. Bukan seperti perempuan kebanyakan. Jangan samakan aku dengan mereka."


Gue tersenyum bangga sambil mengacungkan kedua jempol. "Sip, makasih, sayang karena udah percaya sama aku."


Mala mendengus. "Aku nggak percaya sama kamu, Gha, tapi aku percaya sama diri aku sendiri."


Lagi-lagi gue kembali mengacungkan kedua jempol meski diiringi dengan tertawa. Ternyata gue yang kegeeran.


"Oke deh, aku berangkat sendiri kalau gitu, Ohim juga berangkat sendiri kok. Nanti aku bungkusin buat kamu."


Mala terlihat berpikir sejenak kemudian menggeleng. "Enggak usah deh, Gha, beliin aku soto aja."


Gue melongo lebar. "Soto lagi?" tanya gue dengan ekspresi tidak percaya. Dengar namanya saja gue rasanya sudah mulai jengkel loh, apalagi kalau disuruh beli.

__ADS_1


"Aku pengen soto yang ada mie-nya itu loh, Gha, apa sih namanya?"


"La, jujur sama aku deh, kamu nggak bisa makan makanan lain ya selain soto? Kok tiap hari makan soto terus, aku beneran bosen loh dengernya doang." gue memandang Mala ragu-ragu, "kamu beneran hamil ya?


Mala merengut. "Enggak mau beliin? Ya udah, ntar aku beli sendiri." ia langsung berdiri dan menggendong Kai dan mengajak putra kami pergi begitu saja.


Lah, ngambek nih si Mala?


Astaga, ya ampun. Cepat-cepat gue langsung berlari menyusul mereka.


"La, jangan ngambek dong, sayang. Kan aku cuma nanya."


Mala hanya melengos.


"Jangan begini lah, iya, iya, aku beliin soto sekarang juga. Mau berapa?"


"Enggak jadi. Sekarang udah nggak mood."


"Yakin?" tanya gue memastikan sekali lagi, gue sedikit memiringkan kepala berharap mendapat jawaban yang beda.


Mala terlihat ragu-ragu, hal ini membuat gue yakin kalau sebenernya Mala hanya gengsi.


"Ya udah kalau enggak--"


"Mau," potong Mala dengan suara pelan.


Susah payah gue menahan diri agar tidak tertawa. Karena kalau sampai gue tertawa, Mala bisa bertambah jengkel setelahnya.


"Berapa?"


"Dua."


Gue melotot kaget. "Hah? Emang bakalan abis?"


"Siapa tahu kamu mau?"


Sambil meringis gue kemudian menggeleng. "Kayaknya enggak deh, La, aku nanti makan di tempat makan Umi aja. Enggak papa kan?"


Mala mengangguk tidak masalah. "Ya udah, beliin dulu baru pergi kalau gitu."


"Sekarang?"


Mala menatap gue bingung. "Bukannya tadi kamu nawarinnya sekarang?"


Gue kembali meringis sesaat lalu mengangguk cepat. Setelahnya gue langsung bergegas ke kamar untuk mengambil dompet, tapi belum sampai di depan pintu kamar gue langsung menghentikan langkah kaki dan berbalik menghampiri Mala.


"Hehe, uangnya?" ucapnya sambil menodongkan telapak tangan pada Mala.


Mala mendengus. "Bukannya tadi kamu mau ke kamar ambil dompet."


"Kan yang pegang keuangan kamu, La, jadi mintanya harus ke kamu."


Mala tidak membalas, yang ia lakukan hanya melirik gue sinis lalu menyerahkan Kai agar gantian gue yang gendong. Padahal bocahnya sendiri lebih seneng jalan ketimbang digendong.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2