
*
*
*
Mala meringis prihatin saat mendapati wajah pucat sang suami. Tubuh Agha sedikit kurang sehat sejak pagi dini hari tadi, pria itu sempat muntah-muntah tadi, lalu sekarang malah gantian diare. Mala sampai tidak tega melihatnya. Tubuh Agha bahkan terlihat seperti bergetar saking lemasnya, jalannya pun terlihat sempoyongan seolah tidak kuat menopang berat tubuhnya sendiri.
"Gha, mending kita ke rumah sakit aja deh," saran Mala pada akhirnya. Ia benar-benar tidak tega melihat kondisi tragis sang suami yang benar-benar memprihatinkan.
Agha menggeleng lemah sebagai tanda jawaban. Untuk sekedar membalas ucapan sang istri, Agha terlihat seperti tidak mampu melakukannya.
"Tapi kamu udah lemes parah begini loh, Gha. Nanti malah makin parah gimana? Kamu itu dehidrasi, Gha. Soalnya kamu itu muntah sama diare, kamu bisa kekurangan cairan. Ke rumah sakit aja ya," saran Mala dengan wajah khawatirnya.
Demi Tuhan, ia paling tidak bisa tenang kalau yang sakit itu Agha. Apalagi sekarang pria itu terlihat benar-benar lemas dan tidak berdaya, bahkan untuk merengek saja suaminya ini seolah tidak memiliki tenaga.
"Kamu masih bisa nggak kalau pasang infus?"
Mala berdecak kesal. "Ke rumah sakit aja kenapa sih?"
Agha menggeleng lemah. "Kayaknya aku nggak kuat deh kalau harus ke rumah sakit dulu. Lemes banget, La. Lagian ribet, Kai mau dititipin siapa kalau kamu anter aku ke rumah sakit?"
Benar juga sih, ini masih terlalu pagi untuk merepotkan tetangga. Mau menelfon Mama-nya lebih nggak memungkinkan, karena selain jarak rumah mereka yang lumayan jauh. Ia juga tidak enak kalau terus-terusan merepotkan kedua orang tuanya.
Mala berdecak kesal. "Lagian kamu kemarin makannya kebanyakan tuh, nggak pake kira-kira, jadi muntaber kan," gerutunya menahan kesal, "udah dibilang berulang kali kan, makannya dikit-dikit aja. Udah tahu lambung kamu sekarang sensitif banget, masih aja ngeyel nggak mau dengerin istri. Begini kan jadinya. Aku juga yang kena karena harus ngurusin dua bayi."
"Maaf, sayang, besok nggak lagi-lagi deh."
"Udah, nggak usah aneh-aneh, kita ke rumah sakit. Kai tetep kita ajak."
"Tapi, La." Agha memprotes tidak setuju, "infus di rumah aja lah."
"Infus di rumah, infus di rumah, kamu pikir kita punya alat infusnya? Nggak ada lah, Gha, kalau mau beli dulu kelamaan, keburu kamu-nya makin lemes. Jadi jalan terbaik ya kita ke rumah sakit."
Mendapat pelototan sang istri, Agha tidak mampu membantah dan hanya mampu menurut pasrah. Ia membiarkan sang istri mondar-mandir menyiapkan segala keperluan yang ia butuhkan, sementara dirinya memilih untuk memejamkan kedua mata karena merasa lemas. Lalu tiba-tiba ia merasakan tepukan pelan pada pundaknya, Mala membangunkannya. Istrinya itu sudah berpenampilan rapi, bahkan Kai sudah berada di gendongannya.
"Sini, Kai biar aku aja yang gendong."
Agha berniat mengambil alih sang putra dari gendongan Mala, namun, dengan cepat sang istri langsung memukulnya.
"Nggak usah aneh-aneh! Berdiri aja nggak tegak kok sok-sokan mau gendong anaknya." Mala menggeleng tegas, "enggak usah! Nanti malah jatuh aku juga yang repot. Udah, ayo, buruan berangkat!"
Agha manggut-manggut paham. "Ya udah itu aja tasnya aku bawain."
Mala kembali menggeleng sambil menatap sang suami dengan kedua mata melototnya. Agha kalau sudah diberi jurus andalan ini tentu saja tidak bisa apa-apa selain menurut. Ya, begitu lah, segalak-galaknya pria kalau sudah berurusan sama istri kan suka kalah tuh. Begitu juga dengan dirinya.
*
__ADS_1
*
*
"Gha, jangan tidur dong, itu kamu sambil pangku Kai loh. Aku takut nanti kepalanya kepetok," tegur Mala sambil melirik ke arah sang suami sesekali.
Sebenarnya mereka sudah hampir sampai, tapi karena masih terlalu pagi dan semalam ia begadang jadi sekarang Agha merasa mengantuk.
"Enggak kok, enggak tidur, La."
Agha sedikit merubah posisi duduknya, sedikit menegakkan tubuh dan mencoba memaksakan kedua matanya agar tetap terbuka. Tumbenan juga ini bocil mereka, biasanya kalau diajak pergi dan masih tidur tahu-tahu terbangun. Ini masih pules aja tidurnya.
"Tahan bentar, ya, kita bentar lagi sampai kok."
"Iya, nggak papa, La. Masih kuat kok aku, cuma ngantuk aja," ucap Agha sambil menguap.
"Ya ngantuk, orang semalam kamu nggak tidur."
Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Mala langsung memarkirkan mobilnya lalu turun dari mobil. Membukakan pintu mobil untuk Agha dan membangunkan pria itu.
"Gha, bangun! Kita udah nyampe, ayo, turun!"
Agha mengangguk lalu menguap, sedangkan Mala langsung mengambil alih Kai dari pangkuan sang suami. Agha kemudian menggeliat lalu turun dari mobil.
"Buset, pules banget tidurnya Kai, La, apa dititipin ke ruang istirahat dokter jaga aja dulu," tawar Agha saat mereka masuk IGD dan mendapati Kain masih terlelap nyenyak di gendongan Mala.
Agha mengangguk paham saat meresponnya.
"Eh, dokter Agha? Kai-nya kenapa?" sambut si dokter jaga saat mereka masuk ke dalam IGD.
"Bukan Kai, tapi dia." Mala menunjuk sang suami.
"Eh, dokter Agha?" dokter jaga itu kemudian beralih menatap Agha, "lah, iya, pucet banget, dok. Keluhannya apa? Mari, dok, langsung ke branka!"
"Muntah sama diare."
"Astaga, ya ampun, dok, sejak kapan kok sampai lemes begini?"
"Baru semalem, cuma saya sampai nggak bisa tidur karena bolak-balik ke kamar mandi terus."
Dokter itu mengangguk paham lalu mulai memeriksa Agha. "Tekanan darahnya normal, nggak demam, tapi kita tes darah sekalian ya, sama kasih sekantong atau dua kantong infus biar dokter Agha nggak kekurangan cairan."
Agha mengangguk paham. "Tapi jangan suruh saya rawat inap, saya jam 10 ada operasi soalnya."
Hendri, nama si dokter jaga langsung tertawa. "Lagi sakit masih aja mikir operasi, dok."
"Ya, namanya juga tanggung jawab dan profesionalitas. Kayak kamu nggak saja."
__ADS_1
Hendri hanya merespon dengan kekehan. Ia kemudian beralih pada Mala. "Kai mau ditidurin di ruang jaga dokter aja gimana, dok?" tawarnya kemudian.
"Saya nggak usah ikut-ikutan dipanggil dok, kan udah bukan dokter lagi. Enggak usah, paling juga bentar lagi bangun bocahnya. Kalau gitu nitip suami saya bentar ya, saya mau urus administrasi dulu."
"Siap, dok!"
Agha kembali terlelap setelah infus terpasang rapi pada punggung tangannya. Sedangkan Mala memilih mengobrol dengan para perawat dan dokter jaga.
*
*
*
Agha merasa jauh lebih segar setelah mendapat dua kantong cairan infus. Ia sudah tidak merasa lemas lagi. Bahkan sebentar lagi ia bersiap untuk melakukan operasi, tapi sekarang ia masih mengantar sang istri dan sang putra menuju tempat parkir.
"Yakin nggak mau ikut pulang sama kita aja? Istirahat dulu aja lah, Gha Aku kok nggak tenang ya, Gha."
"Enggak papa. Aman kok, La, udah sehat lagi nih aku. Nggak usah terlalu khawatir gitu lah."
Agha membukakan pintu mobil untuk sang istri, Kai bahkan sudah duduk anteng di car seat-nya. Sedangkan sang istri terlihat gelisah saat hendak meninggalkan sang suami.
"Serius, La, aku udah sehat beneran."
Agha sedikit mendorong sang istri agar segera masuk ke dalam mobil. Meski ragu-ragu, akhirnya Mala masuk ke dalam mobil.
"Beneran nggak mau ikut pulang?" tawar Mala sambil menurunkan kaca mobilnya. Ia masih belum terlalu rela meninggalkan sang suami, entah karena apa. Tapi perasaannya seperti ada yang mengganjal.
Agha tertawa. "Beneran, La, kamu ini kenapa sih? Tumbenan banget sampe begitu."
"Ya, namanya orang khawatir, Gha. Kamu lupa tadi selemes apa tadi pagi?"
"Enggak sih. Udah, ah, sana buruan pulang! Itu kasian Kai pasti udah risih pingin mandi. Aku juga bentar lagi harus siap-siap operasi tahu."
Mala mengangguk paham. Meski perasaannya antara rela dan tidak rela, tapi pada akhirnya ia meninggalkan rumah sakit begitu saja.
Begitu sampai di rumah, Mala langsung memandikan Kai dan memakaikan sang putra baju. Setelah selesai, gantian ia yang mau mandi. Tapi baru mau masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Perasaannya tiba-tiba tidak enak saat membaca nama yang tertera pada layar ponsel.
Ragu-ragu ia menjawab panggilan tersebut.
"Ya, halo?"
"Halo, dokter Mala? Ini saya Dodit, perawat dari tim bedah. Mau ngasih tahu kalau dokter Agha pingsan."
Deg, tubuh Mala seketika langsung lemas.
Tbc,
__ADS_1