
*
*
*
Sesuai dugaan Agha, ternyata yang ditungguin Abbas memang Alisa. Si partner makan malamnya. Perempuan yang ditunggu pria itu sejak tadi.
"Loh, Bas, kok nggak bilang kalau ada Agha? Tahu gini kan gue beli makannya dilebihin. Gimana sih?" decak Alisa saat menyadari keberadaan Agha. Perempuan itu kesal karena Abbas tidak mengabarinya padahal sejak tadi mereka terus melakukan komunikasi melalui pesan singkat.
"Enggak perlu kali, Sa, orang ini si Agha mau langsung pulang kok," balas Abbas menenangkan.
Sementara Agha langsung melotot kesal. "Pulang gimana? Kan gue mau nginep, Bas," protesnya kemudian.
Abbas tidak kalah kesal karena Agha yang tidak paham situasi dan juga kondisi. Dengan emosi yang menyelimuti diri, ia kemudian menginjak kaki pria itu cukup keras sehingga membuat Agha mengaduh kesakitan.
"Anjir, apaan sih? Kenapa kaki gue diinjek? Salah gue apa emang?" protes Agha lagi, berlagak tidak paham padahal aslinya pria itu sengaja melakukannya. Dalam hati ia tertawa puas karen berhasil mengerjai sang sahabat.
"Kalian pada kenapa sih?" tanya Alisa heran.
"Enggak papa," jawab Abbas sambil mengibaskan telapak tangan dan tersenyum manis.
Agha langsung mengadu. "Ini loh, Sa, si Abbas masa injek kaki gue."
Abbas langsung berdecak kesal ke arah Agha, lalu menggeleng cepat saat menatap ke arah Alisa.
"Apaan sih, Gha lebay banget kan gue nggak sengaja."
Agha mendengus setengah tertawa. "Enggak sengaja apaan? Gue tahu lo sengaja ya, jangan lo pikir gue nggak tau.
Abbas melirik Agha sinis kemudian berbisik. "Pulang nggak lo," usirnya kemudian.
Dengan wajah polosnya Agha kembali mengadu. "Sa, masa Abbas barusan ngusir gue. Katanya gue ganggu lo berdua."
"Ganggu apaan? Emang kita mau ngapain? Kok lo gitu sih, Bas, sama temen sendiri."
"Kapan gue bilang gitu, anjir," sahut Abbas tidak terima.
Meski tidak bilang secara langsung, namun, Agha yakin jika Abbas memiliki pemikiran demikian.
"Lo emang nggak bilang, tapi sikap lo sudah menunjukkan semuanya," balas Agha penuh keyakinan.
Abbas seketika langsung menggerutu dalam hati. "Udah tahu kalau sikap gue menunjukkan semuanya, tapi kenapa lo masih berani-beraninya bersikap kayak gitu Agha sialan!"
__ADS_1
"Bas, serius lo ngerasa gitu?" tanya Alisa memastikan.
Abbas langsung menggeleng panik. "Enggak gitu, Sa." ia berdecak salah tingkah lalu melirik Agha sinis, sementara yang dilirik hanya menampilkan wajah tak bersalahnya.
Hal ini membuat pria itu semakin mengumpat kasar di dalam hati.
Meski kesal setengah mati, tapi Abbas berusaha untuk tetap tersenyum kalau sedang berurusan sama sang pujaan hati.
"Udah lah, ya, mending kita masuk aja, yuk, masa di depan pintu begini," ucap Abbas akhirnya mempersilahkan Alisa untuk masuk.
Bukannya masuk Alisa malah menggeleng sebagai respon, ia kemudian menyerahkan bungkus plastik-nya kepada Agha, yang tentu saja langsung diterima pria itu dengan senang hati.
"Gue mau balik aja deh," ucap Alisa.
"Lah, kok balik, makannya gimana? Emang kamu udah makan?"
"Anjir, kamu," sindir Agha dengan wajah bak tidak punya dosa.
Abbas langsung berdecak sambil melotot tajam ke arah pria itu. "Gha, mending diem deh lo sebelum gue panggil satpam buat usir lo," ancamnya galak.
Tak ingin diusir, Agha langsung menutup bibirnya rapat-rapat. Sepertinya sudah cukup bersenang-senang di atas penderitaan sang sahabat. Akan terkesan tidak sopan jika diteruskan.
"Enggak papa, aku gampang, bisa beli makan lagi abis ini."
"Lah, iya, lo kan punya rumah, anak, dan juga istri, kenapa lo mau nginep di sini? Apalagi istri lo lagi hamil anak lo, kok lo malah di sini."
Agha langsung merengut. "Ngambek doi, nggak kasih izin gue pulang makanya gue nginep. Lo ke rumah gue aja, ada mertua gue sama nyokap di sana, biasanya kalau dua-duanya di sana banyak makanan, jadi mending lo ke sana aja. Mala sama Kai juga pasti seneng banget kalau lo ke sana."
"Ya ampun, lo apain deh si Mala, kenapa dia jadi ngambekan gini?"
"Gue hamili lah, ege, pake nanya lagi. Hamil anak gue tuh si Mala makanya begini."
Alisa berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Bener-bener ya lo, udah tahu anak kalian masih kecil, udah digas lagi aja, tahan bentar kenapa sih?"
"Ya, gimana, istri gue menggoda jadi gue nggak tahan," gurau gue sambil tertawa, "kebobolan deh endingnya."
Alisa mendengus sambil melirik Agha sinis lalu pamitan. "Gue langsung cabut aja deh kalau gitu, takut kemaleman, ntar Kai keburu tidur."
"Hati-hati," pesan Agha.
Abbas terlihat begitu kesal, ia antara rela dan tidak rela membiarkan perempuan itu pergi begitu saja. Tapi ia juga tidak bisa memaksa agar perempuan itu tetap di sini.
"Anjing ya lo, Gha! Sengaja banget ya lo barusan?" amuk Abbas begitu Alisa masuk ke dalam lift. Umpatan kasar terus keluar dari mulut pria itu, "enggak mau tahu gue, ayo, kita ke lapangan."
__ADS_1
"Lapangan apa, anjir? Mau ngapain?"
"Gue pengen jedotin kepala lo sampe bocor," balas Abbas asal.
"Terus kenapa harus di sana?"
"Suka-suka gue lah mau di mana aja, ngapain lo yang atur?"
"Gue nanya ya, enggak ngatur."
"Bodo amat!"
*
*
*
Wajah Agha mulai terlihat pucat saat mereka akhirnya tiba di lapangan basket yang memang tersedia dekat unit gedung apartemen Abbas.
"Bas, lo bercanda kan kalau mau jedotin kepala gue? Lo nggak serius kan? Anak gue bentar lagi dua loh, masa lo tega ngebiarin dia jadi anak yatim? Enggak lah, lo kan tahu sendiri rasanya jadi anak yatim kayak apa. Masa--"
"Bacot lo!" potong Abbas kesal sambil melempar bola basket ke arah Agha dengan cukup keras. Agha yang belum siap menerimanya sampai oleng dan nyaris tersungkur.
"Anjir, kaget gue."
Abbas melotot tidak peduli.
"Buset, lo marah banget ya sama gue? Kan gue cuma bercanda, Bas, sorry deh kalau gue keterlaluan."
"Udah telat," decak Abbas sinis, "emang brengsek ya lo, udah tahu kondisi gue sama Alisa gimana masih aja lo ngerusuh, sumpah gue nggak bercanda pas bilang pengen jedotin kepala lo. Gue bahkan pengen ngelakuin itu sekarang."
"Main basket aja, yuk! Biar nggak makin emosi. Sekalian olah raga, biar kayak di drakor-drakor, cowok baikannya lewat main atau berantem, kalau berantem jujur gue nggak berani. Bukan karena gue takut sama lo, tapi sama pasien gue, lo ngerti kan maksud gue?"
"Bawel lo, gue rasa anak kalian yang kedua cewek deh."
"Aamiin, " ucap Agha yakin, "cewek cowok gue mau kok, yang penting sehat ibu dan anaknya. Ngerti kan?" ia mendesah tanpa sadar, "ah, lo mana ngerti kan belum ngerasain!"
"Emang brengsek lo, Gha!" umpat Abbas makin emosi.
Sementara Agha langsung berlari mendribbling bola basket. Abbas tidak mau kalah langsung mengejar dan berusaha merebut bola yang dikuasai Agha.
Tbc,
__ADS_1