
*
*
*
"Akhh..." rintih Mala terdengar kesakitan.
Gue langsung mendekat ke arah Mala dengan cepat, sambil berusaha menjaga tubuhnya yang tadi terlihat nyaris limbung. Gue tidak bisa untuk tidak panik saat ini, terlebih saat mendengar rintihan Mala barusan.
Gue perhatikan wajah Mala dengan serius. "Kenapa, La? Ada yang sakit?" tanya gue khawatir.
Mala menggeleng cepat. Kedua tangannya terlihat bertumpu pada tepi meja untuk pegangan. Matanya terpejam sejenak sebelum akhirnya ia tersenyum tipis untuk menenangkan gue.
"Enggak papa, semua baik-baik saja, Gha."
Gue berdecak tidak percaya lalu menyuruh Mala untuk duduk. Yang untungnya dia langsung menurut. Karena kalau enggak pasti akan berujung adu mulut.
"Enggak papa gimana? Lo keliatan kesakitan gitu kok tadi. Apa yang sakit atau bikin lo nggak nyaman? Mau gue telfon Ayah biar diperiksa beliau, ya? Atau kita langsung ke rumah sakit aja?" berondong gue dengan pertanyaan bertubi-tubi. Saat ini gue benar-benar tidak bisa untuk tidak panik.
Gue berjongkok di sebelahnya sambil mengelus perut buncit Mala yang terlihat semakin ketara. Wajah gue benar-benar terlihat khawatir sekarang, berbanding balik dengan Mala yang sempat-sempatnya tersenyum sambil mengelus pipi gue.
"Gue oke, Gha, gue nggak papa. Lo nggak usah panikan kenapa sih jadi orang? Tadi cuma agak kaget soalnya anak kamu tiba-tiba nendang dan aku masih belum terbiasa."
Gue memandang Mala serius, mencoba mencari kebohongan pada wajah Mala. "Serius cuma karena itu?" tanya gue setengah tidak percaya.
Mala langsung mengangguk cepat. "Iya, Agha."
Gue masih terus mengelus perutnya. "Emang dia udah bisa nendang?"
Mala kembali mengangguk. "Udah, kan udah 6 bulan, Gha. Jadi udah bisa ngerasain nendang."
Gue tersenyum takjub, jadi makin nggak sabar nunggu kelahirannya. "Cepet juga ya, bentar lagi udah mau tujuh bulanan, perasaan kemarin baru acara empat bulanan deh. Enggak kerasa ya?"
Lain dengan gue yang tersenyum takjub, Mala mendengus dengan wajah sinisnya. "Ya iya, kamu nggak kerasa, orang yang bawa kemana-mana aku."
"Bisa aja kamu," komentar gue sambil mencubit hidung Mala gemas, "tapi seriusan nggak papa kan? Kita nggak perlu telfon Ayah atau ke rumah sakit?" tanya gue mencoba untuk memastikan sekali lagi. Gue tidak mau terjadi sesuatu sama Mala maupun calon bayi kami.
Mala mengangguk untuk mengiyakan. Tangannya kemudian beralih naik ke rambut gue dan mengelusnya ke belakang.
"Enggak papa, Gha, aku baik-baik aja. Anak kita juga," ucapnya meyakinkan.
Gue mencoba untuk percaya, meski perasaan khawatir itu tetap saja tidak bisa hilang begitu saja. Tapi tetap saja gue merasa sedikit lega.
"Oke. Tapi nanti kalau kamu ngerasa nggak nyaman atau lainnya langsung bilang, ya."
Mala mengangguk. "Iya, Agha, astaga. Nggak percayaan banget sih lo sama gue?"
Gue terkekeh. "Bukan nggak percaya, gue cuma khawatir. Aku nggak mau kalian kenapa-kenapa, La."
__ADS_1
Mala terkekeh sambil mengangguk paham. "Iya, iya, gue paham, Gha. Gue juga nggak mau dia kenapa-kenapa," ujarnya sambil mengelus perutnya sendiri.
Keesokan paginya
"Loh, Gha, kok udah siap-siap?"
Gue langsung menoleh ke asal suara dan menemukan Mala yang baru saja keluar dari kamar mandi. Jadi ceritanya tadi pas Mala masuk kamar mandi gue masih tidur, tapi berhubung gue dapet emergency call gue langsung bangun dan ganti baju . Iya tanpa mandi, guys. Soalnya kalau gue mandi dulu nggak bakal keburu, belum kalau di jalan kena macet. Bisa bahaya kalau sampai nggak keburu, profesi gue taruhannya nyawa. Jadi gue harus gerak cepat. Jadi, kalian jangan bully gue karena gue belum mandi tapi udah harus berangkat kerja.
"Ada emergency call, La, ada operasi cito yang harus aku lakuin. Kondisi pasien nggak bisa nunggu, aku harus cepet," ucap gue menjelaskan.
"Oh, ya udah kamu langsung berangkat sana. Nanti perlu dibawain sarapan nggak?" Mala mengangguk paham.
Gue menggeleng sambil memakai jam tangan. "Enggak usah, nanti aku makan di kantin rumah sakit aja. Takutnya nanti operasinya selesai agak siang juga. Nanti kamu berangkatnya jangan nyetir sendiri ya, pesen taksi aja."
Mala mengangguk setuju. "Iya, nanti aku naik taksi. Kamu hati-hati nyetirnya!"
Gue mengangguk pasti lalu memeluk Mala sekilas. Mengelus perut buncitnya dua usapan lalu pamit pergi.
"Aku berangkat, ya, hati-hati!"
"Iya. Kamu juga."
*
*
*
**Anda** : udah, ini barusan keluar
Anda : 😖
Anda : capek banget, La
Anda : tadi ada sedikit kendala. jadi operasinya agak lama. sekarang aku laper banget🤤
Wifei ❤️ : oke, kalau gitu cari makan dulu ya. kalau udah selesai kabarin
Anda : gk mau nemenin???
Wifei ❤️ : aku nggak bisa
Anda : ya udah oke, aku ke kantin dulu ya
Wifei ❤️ : iya
Anda : sent a picture
Anda : dapet nasi kotak, La 🤣🤣
__ADS_1
Wifei ❤️ : dari siapa?
Anda : Mbak Lia. perawat senior bangsal. katanya syukuran anaknya yang akhirnya bisa jalan
Wifei ❤️ : terus itu kamu doyan nggak?
Anda : 😭😭 enggak. Begitu kelar ngintip langsung aku tutup lagi. Agak eneg aku liatnya. Kamu mau nggak? Aku bawain ke ruangan kamu ya?
Wifei ❤️ : aku masih kenyang. Mendung kamh kasih ke yang lain aja deh
Anda : masing-masing udah dapet satu. Dan ini yang dibagiin tim bedah btw😢
Wifei ❤️ : ya udah, sekarang yang penting kamu cari makan dulu deh, udah hampir masuk jam makan siang nih.
Anda : belum. Masih lama. Duh, enaknya makan apa ya, La?
Wifei ❤️ : Agha!! Buruan cari makan, nggak usah kebanyakan mikir!
Anda : iya, iya, aku keluar dulu deh
Wifei ❤️ : lah, katanya mau makan di kantin?"
Anda : mendadak pengen soto
Wifei ❤️ : pake nasi kalau mau beli soto😑 kamu itu kebiasaan banget setelah aku hamil kalau pesen soto nggak pernah pake nasi.
Anda : liat ntar ya, sayanggg
Wifei ❤️ : awas aja kalau berani!
Anda : 🙏🙏 ampun ndoro!
Wifei ❤️ : kalau udah selesai makan, langsung kabaran!
Anda : emang kenapa?
Wifei ❤️ : pokoknya. Nggak usah banyak nanya. Yang penting langsung kabarin aja
Anda : kalau aku bilang sekarang udah selesai makan gimana?
Wifei ❤️ : jangan coba-coba mau ngibulin aku ya, Gha. Buruan cari makan terus kalau udah kabarin! Nggak usah pake protes.
Wifei ❤️ : aku butuh bukti pap kalau kamu udah makan. Ngerti?
Gue langsung tertawa saat membacanya. Ya ampun, Mala kangen kali ya sama gue, sampe minta dikirimin pap segala.
Anda : mau sambil video call?
Wifei ❤️ : enggak boleh!! Aku sibuk. Pokoknya begitu udah sampai di warung soto langsung selfi dan kirim ke aku. Begitu selesai makan foto terus kirim ke aku juga.
__ADS_1
Seketika gue mengerutkan dahi. Kayak ada yang aneh. Batin gue keheranan.