Married With My Besti

Married With My Besti
Pov 3 (Keputusan)


__ADS_3

*


*


*


Mala memandang Kai yang kini terlelap di samping Agha dengan sebelah kaki yang menumpang pada perut Agha. Tidur keduanya terlihat cukup pulas di ranjang yang memang tersedia untuk wali pasien, sementara dirinya masih belum tidur sejak tadi. Bagaimana bisa tidur kala mengingat kondisi calon bayinya tidak berkembang dengan baik. Meski ia hadir tanpa disengaja dan kalau boleh jujur ia belum siap menginginkannya, tapi tetap saja naluri keibuannya tidak bisa ia abaikan begitu saja. Ia sedih dan merasa bersalah karena kondisi ini.


Mala benar-benar sedang berada pada posisi dilema. Meski belum menginginkan adanya tambahan momongan di dalam hidupnya, tapi di sisi lain ia juga tidak rela jika janin yang ternyata sudah ia kandung harus ia gugurkan. Mala benar-benar merasa serba salah, bingung harus membuat keputusan apa.


Karirnya dan juga perhatiannya terhadap Kai harus terbagi saat ia memutuskan untuk mempertahankan janinnya. Tapi kalau ia melepaskan calon bayinya begitu saja tanpa mau berjuang lebih dahulu, rasanya ia tidak tega. Ia takut kalau keputusannya itu akan membuat calon bayinya bersedih.


"Hei, kok nggak tidur?"


Lamunan Mala seketika langsung buyar. Ia bahkan tidak menyadari kapan Agha terbangun, berpindah tempat dan kini sudah duduk tepat di sebelahnya.


Agha sedikit memiringkan kepalanya karena tak kunjung mendapat jawaban dari sang istri. "La," panggilnya mulai khawatir, "kenapa? Ada yang sakit? Mau aku telfon Ayah?"


Mala hanya menggeleng dan malah menangis. Hal ini membuat Agha sedikit panik.


"Ada yang sakit atau bikin kamu nggak nyaman? Aku panggil dokter deh kal-"


"Enggak, Gha," potong Mala di sela isakannya.


Agha menghela napas sambil mengusap pipi Mala yang basah menggunakan ibu jari. "Terus kenapa? Kamu jangan bikin aku khawatir dong, La."


Mala diam dengan pandangan fokus menatap Kai yang terlelap sendirian di ranjang sebelah. Agha mengikuti pandangan sang istri.


"Aku ibu yang buruk ya, Gha?"

__ADS_1


"Ngomong apa sih kamu ini, La? Di dunia ini nggak ada ibu yang sempurna, pasti ada kurangnya, kalian hebat versi kalian sendiri. Kamu tetap ibu yang hebat buat Kai, La, sebagai suami sekaligus sahabat kamu, aku selalu bangga sama kamu." Agha mengusap kepala sang istri, "udah lah, nggak usah mikir yang aneh-aneh mending sekarang kamu istirahat dan tidur."


Pandangan Mala beralih ke sang suami, tangannya meraba perutnya sendiri. "Bayi kita gimana, Gha?" kedua mata Mala kembali terlihat memerah.


Agha menghela napas sambil menggenggam telapak tangan Mala dan mengelusnya perlahan. "Sejujurnya ini memang keputusan berat juga buat aku, La, tapi mengingat kondisi calon janin kita yang tidak berkembang dengan baik, bukankah lebih baik kita relakan? Kita pertimbangin lagi, La, kita udah ada Kai, dia masih terlalu kecil untuk punya adik di usia yang baru setahun kan? Jadi, menurut aku kita coba ikut saran Ayah sebagai dokter ya? Aku juga nggak mau terjadi sesuatu sama kamu, La. Kita ambil keputusan ini aja ya?"


"Tapi kalau begitu bukankah kita tidak adil dengan adik Kai, Gha? Sebagai orang tua bukankah kita harus bersikap adil? Bagaimana kalau dia pengennya dipertahanin?"


Agha menatap Mala ragu-ragu. "La," panggilnya kemudian, "kamu berubah pikiran?"


"Sejujurnya, selama ini aku emang udah ngeh kalau lagi hamil lagi, Gha. Maafin aku! Selama ini aku denial, aku takut karena kita udah ada Kai dan dia masih terlalu kecil untuk punya adik. Jadi tiap kamu singgung soal kehamilan aku mendadak bad mood karena aku takut, Gha."


"Maaf karena aku kurang hati-hati," ucap Agha merasa bersalah. Ia meringis tak lama setelahnya, "kita jadi kebobolan deh."


Bibir Mala sedikit bergetar, kali ini bukan karena menahan tangis, melainkan menahan tawa. Ia terbahak tak lama setelahnya, tapi kedua matanya tetap mengeluarkan air mata. Ia menangis sekaligus tertawa.


"Tapi Kai? Karir kamu? Gimana, La?"


"Kayak yang kamu bilang kalau Tuhan udah kasih kepercayaan itu lagi, aku rasa karena memang Tuhan percaya sama kita. Jadi apa salahnya kita coba dulu? Dalam beberapa kasus janin yang tidak berkembang dengan baik tetep bisa dilahirkan dengan selamat ibu dan anak, Gha, kita usaha mempertahankan dia dulu ya?" Mala meraih telapak tangan Agha lalu ia letakkan di atas perutnya, "kita serahkan semua pada adik Kai, semisal dia yang memilih untuk pergi baru kita relakan pergi. Menurut aku kalau kita ambil keputusan buat relain janin ini begitu aja, rasanya kurang sopan dan manusiawi nggak sih, Gha? Sama seperti kita yang butuh kesempatan, aku rasa dia juga butuh kesempatan itu."


Agha terlihat tidak bisa berpikir jernih. Sebelumnya ia sudah sangat yakin akan keputusannya tadi, tapi mendengar penjelasan panjang lebar Mala, mendadak ia meragu dan bimbang. Sekarang gantian ia yang dilema.


"Tapi, Kai? Karir kamu?"


"Aku bisa mulai lagi nanti, Gha, setelah adik Kai lahir. Selama ini Kai juga dibesarin bareng Mama dan juga Bunda, aku rasa nggak terlalu masalah, Gha."


Agha masih terlihat ragu-ragu. "Kamu yakin, La? Kata Ayah kalau kamu milih keputusan ini kamu harus bad rest total loh, dan sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Kamu yakin bisa? Kamu kan bosenan, La, aku nggak yakin deh," komentarnya tidak yakin, "kita coba pikirin sekali lagi ya? Kan kata Ayah nggak perlu buru-buru, La. Sekarang kita tidur dulu besok baru kita pikirin lagi."


Mala menggeleng tidak setuju. "Kayaknya kalau aku nggak ambil keputusan ini, aku bakalan nyesel deh, Gha. Jadi aku siap dengan segala resiko yang bakalan aku tanggung nantinya."

__ADS_1


"Tapi gimana kalau justru sebaliknya?"


"Gha?" decak Mala tidak suka.


"Aku cuma memastikan, La, segala kemungkinan bisa terjadi, jadi mending jangan buru-buru ambil keputusan ini ya? Kita istirahat dulu, tidur, besok begitu pikiran lebih fresh, baru kita bahas lagi."


Mala menatap Agha intens. "Kamu nggak percaya sama aku, Gha?"


"Enggak gitu, La, maksud aku. Aku percaya sama kamu--"


"Tapi?"


"Aku takut kalau keputusan kita yang ini bikin kamu kenapa-kenapa, aku nggak mau, La. Aku pengen liat kamu baik-baik saja, sehat dan berantem tiap hari sama aku."


Mala tersenyum sambil mengelus pipi sang suami. "Gha, kamu itu bisa nggak sih nggak usah over kalau kepikiran sesuatu? Ingat, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Aku baik-baik saja, Gha, insha Allah akan baik-baik saja, Aamiin. Kita juga bisa berantem tiap hari."


"Bener ya?"


Dengan wajah yakin, Mala mengangguk cepat. "Iya, Gha."


"Tapi gap years mereka deket dong jadinya?"


"Enggak papa, setelah aku pikir-pikir kamu sama Kak Ale juga gap years-nya setahun kan?"


Agha mengangguk cepat untuk mengiyakan.


"Ya udah, sekarang kamu tidur! Bumil nggak boleh tidur terlalu malem," ucap Agha sambil merapihkan selimut Mala, tak lama setelahnya ia hendak berbaring di sebelah sang istri, tapi sepertinya Kai tidak rela diacuhkan seorang diri. Tetap saat ia hendak masuk ke dalam selimut dan hendak memeluk Mala. Tiba-tiba Kai menangis sambil mencarinya. Mau tidak mau akhirnya ia langsung turun dari ranjang pasien dan langsung menggendong Kai. Beruntung Kai kembali tidur tak lama setelahnya.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2