Married With My Besti

Married With My Besti
Kehilangan


__ADS_3

*


*


*


"Gimana anak dan istri saya?"


Dokter itu menghela napas. "Dokter Agha, sebelumnya saya sangat menyesal harus menyampaikan berita ini."


Mendengar kalimat awalan yang diucapkan dokter jaga tersebut membuat pikiran Agha sudah melayang kemana-mana. Mau tidak mau, siap tidak siap ia mulai mempersiapkan diri.


Agha mengangguk paham.


"Kami gagal menyelamatkan janinnya dan sekarang kita melakukan tindakan kurete."


"Jadi calon bayi saya benar-benar tidak bisa diselamatkan?"


 Dengan kedua mata yang berkaca-kaca, Agha mencoba memastikan ulang. Lalu dokter jaga itu mengangguk dan mengiyakan dengan ekspresi penuh penyesalan.


Agha kembali mengangguk paham. "Lakukan yang terbaik untuk istri saya, saya akan mencoba mengikhlaskan kalau memang calon bayi saya memilih untuk menyerah. Pastikan istri saya baik-baik saja ya," pesannya pada dokter jaga itu.


"Baik, dok, akan kami usahakan. Dokter Agha tidak perlu khawatir karena nanti yang akan mengambil tindakan tetap dokter Randu sebagai dokter penanggung jawab dokter Mala."


Lagi-lagi Agha mengangguk dan mengiyakan. Lalu dokter tersebut pamit undur diri. Di sampingnya Ale mencoba menguatkan.


"Yang sabar ya, Gha, mungkin belum rejekinya." Ale menepuk pundak Agha pelan.


"Iya, Kak." Agha mencoba tersenyum untuk menguatkan diri. Kali ini ia tidak akan menangis demi bisa menguatkan Mala nantinya.


Tak berapa lama Abbas dan Alisa sampai lebih dulu.


"Gha, gimana keadaan Mala sama calon bayi kalian? Enggak papa kan?" tanya Abbas dengan raut wajah khawatirnya.


"Enggak papa, insha Allah abis ini Mala nggak papa, Bas."


Alisa dan Abbas saling bertukar pandang. Raut wajah mereka sama-sama terlihat tidak enak.


"Gha?" panggil Alisa ragu-ragu.


Agha mencoba memaksakan senyumnya. Pandangannya tidak sengaja melirik ke arah jari tengah perempuan itu. Baru setelahnya beralih pada Abbas. Tanpa perlu berpikir panjang ia langsung memeluk pria itu.


"Congrat's ya, bro, sorry, kalau gue harus mengacaukan hari bahagia kalian."


Abbas berdecak kesal lalu mendorong tubuh Agha sehingga pelukan mereka terlepas. "Ngomong apaan sih lo? Enggak ada yang namanya mengacaukan kebahagiaan. Gue sama Alisa tetep bahagia, lo nggak usah aneh-aneh deh, Gha. Kenapa cerita sama gue! Ada apa sih ini sebenernya? Ada masalah sama kandungan Mala? Huh?"


Bukannya langsung menjawab, Agha malah menundukkan kepala seperti orang yang sedang menahan sedih. Hal ini membuat Abbas dan juga Alisa semakin khawatir dibuatnya. Tak mendapatkan jawaban, Abbas kemudian memutuskan untuk menoleh ke arah Ale.


"Kak, sebenernya ada apa sih?"


"Mala keguguran. Bayinya udah nggak bisa diselamatkan."


"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, yang tabah ya, Gha. Mungkin emang belum rejekinya."

__ADS_1


Agha mengangguk dan mengiyakan. "Thanks, Bas."


"Terus kondisi Mala gimana?" Kali ini Alisa yang bersuara.


"Enggak papa, ini bentar lagi mau tindakan kuret. Minta doanya ya."


"Pasti lah, Gha. Tanpa lo minta bakalan kita doain." Abbas kemudian menepuk pundak Agha, "tapi lo yang kuat dan tegar juga, Mala butuh lo kuatin."


*


*


*


"Kamu yakin, Gha, nggak mau ditemenin Bunda atau Mama-mu? Atau mau ditemenin Kak Ale aja gimana?"


Agha tersenyum tipis lalu menggeleng cepat. "Enggak usah, Bun, Ma, Agha bisa kok jaga Mala sendirian. Besok aja ya, malam ini biarin Agha sendiri yang nemenin Mala."


Yana mengangguk paham lalu mengajak besannya untuk pulang. "Udah lah, Yu, biarin anakmu sendiri yang jagain Mala, nggak papa. Toh, sekarang kondisi Mala sudah stabil, ya mungkin untuk psikis nantinya dia bakalan sedikit shock karena baru saja kehilangan calon bayinya. Jadi biarin mereka berdua. Kita bantu urus Kai saja, tadi ikut Abbas kan, Gha?"


Agha mengangguk sebagai tanda jawaban. Sejak tadi siang, Kai memang lumayan nempel pada Abbas, tadi saat pria itu hendak pamit pulang, Kai tiba-tiba merengek ingin ikut. Alisa tentu saja girang bukan main. Ohim dan Rumi tadi bahkan sampai terheran-heran melihat rengekan Kai yang tumben-tumbenan ingin ikut Abbas. Padahal biasanya saja diajak salim belum tentu langsung mau, harus ada bujuk rayu dulu sampai bocah itu akhirnya mau salim dengan Abbas.


"Tapi nanti kalau semisal nggak mau diajak pulang biarin saja sama Abbas dulu ya, baru besok biar Agha jemput."


Yana terlihat kurang setuju. "Lah, nanti kalau tengah malem nangis gimana?"


"Nanti biar Abbas telfon Agha."


Agha tidak protes. Kepalanya sedikit pening karena belum makan sejak tadi siang, mau makan tapi tidak nafsu. Bagaimana ia tidak kehilangan nafsu makan, orang ia baru saja kehilangan calon bayinya. Meski janin itu hadir tanpa direncanakan tetap saja ia merasa sedih dan juga terpukul.


"Ya sudah, terserah Bunda sama Mama saja, gimana baiknya, Agha ngikut."


"Ya sudah, sana kamu masuk lagi ke kamar, temenin istrimu, kasian ntar kalau tiba-tiba bangun, pasti kaget kalau nggak ada siapa-siapa," usir Ayu.


"Iya, ini juga mau langsung ke kamar lagi kok, Mama sama Bunda hati-hati ya, kabarin juga ntar kalau udah sampai dan jadinya mau bawa Kai atau enggak."


Setelah memastikan Bunda dan Mamanya masuk ke dalam lift, baru lah Agha kembali masuk ke kamar inap Mala. Saat ia masuk ke sana, istrinya masih tertidur nyenyak karena pengaruh obat bius. Ia kemudian berjalan mendekat dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Dipandangi wajah sang istri yang terlihat sedikit pucat. Ada perasaan bersalah dalam dirinya yang sulit sekali ia hilangkan. Andai saja ia bisa lebih hati-hati menjaga keduanya, mungkin saja saat ini ia akan kehilangan calon bayi mereka. Tapi masalahnya ia kurang berhati-hati, jadi begini lah ujungnya, ia harus benar-benar merelakan calon bayinya.


"Maafin aku ya, La, karena gagal jagain dia," bisiknya dengan suara sedikit bergetar. Tanpa bisa ia kontrol, kedua matanya tiba-tiba terasa perih dan ia seperti ingin menangis.


"Bakso aku mana, Gha?"


Mala akhirnya membuka mata. Agha tidak bisa menahan kekehannya saat Mala justru langsung menanyakan baksonya.


"Udah dingin, La, nggak enak. Kamu masih mau bakso emang?"


Kali ini Mala menggeleng. "Kamu kenapa kuyu banget, Gha? Emang kamu nyari baksonya di mana?"


"Ya di tukang bakso lah, La, masa di tukang tambal ban."


Mala mendengus kesal. "Dih, nggak lucu."


"Ya soalnya aku nggak lagi ngelucu, La."

__ADS_1


"Pasti abis terjadi sesuatu kan selama aku tidur?" tebak Mala tepat sasaran.


Agha menghela napas lalu mengangguk dan mengiyakan. Ia tidak akan menyembunyikan fakta ini, ia akan langsung memberitahu sang istri kalau calon bayi mereka kini telah tiada.


"Kenapa? Kamu abis nyari gara-gara sama tukang bakso ya?"


Agha membelai rambut Mala. "Kamu nggak nyadar ya kalau tadi sebenernya kamu pingsan, bukannya tidur?"


Dengan wajah yang masih terlihat sedikit pucat, Mala menggeleng. "Pokoknya tadi tiba-tiba aku ngantuk aja gitu, Gha, terus tahu-tahu aku pas buka mata kamu udah dengan muka kuyu kamu. Emang aku kenapa bisa sampe pingsan? Kan aku udah nurut Ayah buat bed rest total?"


"Kamu pendarahan, La."


Mala terlihat terkejut. Cepat-cepat ia menyibak selimutnya.


"Udah ditangani Ayah. Kamu jangan banyak gerak dulu, harus banyak istirahat biar cepet pulih."


"Aku pendarahan? Terus anak kita gimana? Dia nggak papa kan?"


Agha mengangguk dengan kedua mata berkaca-kaca. "Sekarang dia nggak perlu ngerasa sakit, La."


"Dia nyerah duluan, Gha?" tebak Mala langsung, "dia milih pergi tanpa berjuang lagi sama aku?"


Dengan berat hati Agha mengangguk dan mengiyakan.


"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun." tangan Mala kemudian terulur dan menyentuh pipi sang suami, "yang sabar ya, Gha, kamu kalau mau nangis boleh kok, nggak papa. Jangan ditahan biar nggak jadi penyakit!"


Agha lumayan terkejut dengan reaksi Mala, yang menurutnya di luar dugaan. Istrinya tidak terlihat terpukul sama sekali.


"La, kamu nggak papa? Kamu nggak sedih karena anak kita memilih pergi."


Mala merengut. "Sejujurnya ya sedih, Gha, aku bahkan sedikit marah sama dia, kenapa dia memilih pergi duluan padahal aku masih mau berjuang sama dia. Kenapa dia begini ya, Gha? Padahal aku udah relain semuanya cuma buat dia, aku bahkan sampai nggak ngurusin Kakaknya cuma demi fokus ngurus dia, tapi kenapa dia memilih pergi? Apa aku bukan Mama yang baik makanya adik Kai memilih pergi?"


"No. Kamu tetap Mama yang terbaik buat anak-anak, La."


"Tapi adik Kai memilih pergi."


"Dia pergi justru karena sayang sama kamu, dia pasti nggak mau liat kamu sakit."


"Gha, aku mau dipeluk," rengek Mala tiba-tiba, "aku kayak pengen nangis tapi nggak bisa. Aneh banget deh."


"Udah, nggak usah terlalu dipikirin, yang penting sekarang kamu sehat, terus bisa balik ke aktivitas normal."


"Kamu nyalahin aku pasti ya, Gha? Soalnya aku nggak bisa jagain anak kita dengan benar sampai dia memilih pergi."


Agha menggeleng panik. "No, kamu kenapa ngomong begitu, La? Aku sama sekali nggak ada pikiran sedikit pun tentang itu. Aku nggak mungkin nyalahin kamu--"


"Tapi aku yang mengandung, pasti kamu berpikir demikian. Enggak papa kalau kamu memilih untuk nggak jujur. Aku terima kok, Gha. Aku nggak akan marah.


Agha menghela napas berat. "Aku sama sekali nggak punya pikiran itu, La. Demi Tuhan! Demi Allah!"


Kali ini Mala tidak merespon. Ia memilih diam dan pura-pura tidur. Sedangkan Agha bingung luar biasa bagaimana menghadapi sikap Mala yang sekarang.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2