Married With My Besti

Married With My Besti
AA Story Couple 12


__ADS_3

*


*


*


Alisa mengerutkan dahinya heran saat membaca pesan singkat dari nomor tidak dikenal. Batinnya bertanya-tanya, tapi ia memilih untuk tidak terlalu menggubrisnya dan memilih untuk langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


Abbas pun keluar tidak lama setelahnya tepat setelah Alisa selesai menyiapkan semuanya.


"Udah selesai mandinya?"


Abbas mengangguk dan menyerahkan ponsel milik sang istri. "Nih, tadi hape kamu bunyi, coba telfon balik aja siapa tahu penting," sarannya kemudian.


Alisa menerima ponsel itu lalu mengecek siapa yang menelfon. Masih nomor yang tidak dikenal tadi. Ia memilih kembali mengabaikannya dan mengajak Abbas untuk segera makan.


"Biarin lah, kayaknya orang salah sambung. Enggak penting. Mending sekarang kita makan aja, yuk!" ajaknya kemudian.


Abbas tidak protes dan hanya mengangguk untuk mengiyakan. Karena kebetulan ia juga sudah lapar. Menu makan malam mereka memang sederhana tapi Abbas senang karena ini adalah hasil masakan sang istri. Kalau boleh jujur sebenarnya Alisa kurang jago dalam urusan dapur, perempuan itu bisa memasak tapi hasil masakannya sedikit kurang pas pada indera perasanya. Itu lah sebab kenapa selama mereka menikah, ia lah yang akan lebih sering memasak. Tapi meski demikian ia tetap senang jika istrinya memasak, setidaknya kalau Alisa memasak menurutnya itu sudah cukup menunjukkan usahanya.


"Aku nggak tahu sih ini masakan aku layak dimakan atau enggak, tapi semoga bisa lah ya."


Abbas tersenyum lalu menarik salah satu kursi untuk didudukinya. "Enggak papa, mau kayak apapun rasanya tetep bakalan aku masak kok."

__ADS_1


Alisa tersenyum lalu mengambilkan nasi beserta tumis jamur buatannya. Untuk gorengannya ia membuat bakwan jagung.


"Bakwan jagung tadi aku udah nyoba, tapi kayaknya kalau buat kamu kurang asin deh apalagi kalau sama nasi."


"Enggak papa, makasih udah masak padahal kamu pasti capek banget abis ngajar seharian."


"Enggak lah, enggak capek kok. Ayo, buruan dimakan!"


Abbas mengangguk cepat lalu mulai menyantap masakan sang istri. Ia sedikit meringis saat sesuap nasi beserta tumis jamur masuk ke dalam mulutnya, bukannya langsung dikunyah ia malah menatap sang istri.


"Kenapa? Enggak enak?" tanya Alisa mulai panik.


Abbas menggeleng cepat lalu cepat-cepat mengunyahnya. "Enggak, enak kok, cuma agak asin, kayaknya kamu kebanyakan masukin garem nggak sih? Atau jatah garam yang buat bakwan malah kamu masukin ke bumbu tumisan juga?"


"Enggak papa, masih bisa dimakan kok, Sa, nggak sampai harus ganti menu juga."


"Tapi kamu yang suka asin aja bilang keasinan, berarti kan itu asin banget. Enggak bisa dimakan dong?"


"Bisa," ucap Abbas cepat, ia kemudian langsung berdiri dan mencari wajan, ia masukkan tumisan Alisa ke dalam wajan lalu memanaskan kompor. Ia kemudian mencoba menambahkan sedikit air dan sedikit gula, setelahnya ia menyuruh sang istri untuk menyicipinya, tentu saja setelah ia mencoba lebih dahulu, "gimana? Masih terlalu asin nggak? Kalau menurut aku udah nggak sih."


"Hm, enak, jadi kayak masakan kamu."


"Kan ini masakan kamu."

__ADS_1


Alisa merengut sedih. "Maaf, ya, aku kenapa payah banget sih di banyak bidang. Kayaknya ini deh penyebab Kevin memilih perempuan lain."


"Sa," panggil Abbas dengan nada menegur, "aku nggak suka deh kalau kamu ngomong begitu. Emang dasar dia aja yang brengsek dan nggak tahu banyak bersyukur, udah punya kamu masih aja cari perempuan lain. Emang dasar bodoh dia. Udah nggak usah dipikirin, sekarang mending kita makan!" ajaknya kemudian.


Meski awalnya Alisa sedikit ragu-ragu, tapi pada akhirnya ia mengangguk setuju tak lama setelahnya. Apa yang diucapkan sang suami mungkin ada benarnya, emang dasar mantan suaminya saja yang brengsek dan nggak tahu rasa terima kasih. Awalnya, sudah banyak hal yang coba ia lepas demi menikah dengan pria itu, eh, tapi justru begini ending yang ia dapat.


"Ngomong-ngomong, besok kita belanja, yuk! Rumahnya udah selesai dibersihin, nanti tinggal giliran kita yang bersihin lalu abis itu bisa mulai kita isi perabotnya."


"Abis itu kita pindah?"


Abbas mengangguk cepat. "Ya, kita bisa pindah secepatnya, nanti kita coba nanya sama Ohim kira-kira catering mana yang oke buat pesen makanan buat acara syukuran nanti."


Alisa manggut-manggut paham. "Terus gimana sama apartemen ini?"


"Nanti kita coba sewakan aja dulu dulu gimana?"


"Ya, asal ada yang mau aja, aku sih terserah kamu. Kan kamu yang punya apartemen."


Malvin berdecak. "Udah dibilang punya aku itu punya kamu juga, Sa. Harus bilang berapa kasih sih aku-nya?"


Alisa tidak membalas, perempuan itu hanya terkekeh sebagai responnya.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2