
*
*
*
Anda : di mana?
Simalakama : ruangan
Anda : oke, gue ke situ ya
Simalakama : wokehhhh
Setelah selesai membaca balasan dari Mala, gue langsung bergegas menuju ruangannya. Seperti biasa, tanpa permisi gue langsung membuka pintu ruangannya begitu saja. Namun, kali ini berbeda, gue cepat-cepat menutup pintu itu kembali. Mala terlihat panik, begitu pun juga dengan gue.
"Mala sialan! Kenapa nggak kunci pintu kalau lagi ganti baju," teriak gue kesal.
"Lo yang kambing! Dasar tamu nggak tahu adab! Udah tahu masuk ke ruangan orang, kenapa nggak permisi dulu? Minimal ketuk pintu dulu kek," balas Mala ikut berteriak.
Astaga, bayangan pinggang ramping Mala malah teringat kembali. Padahal tadi posisinya dia baru mau lepas baju doang dan yang tertangkap penglihatan gue hanya pinggang rampingnya yang putih mulus, itu pun hanya samar, karena gue buru-buru menutup pintu. Mala pun tak kalah cepat menutupi pinggangnya kembali.
"Udah belum?"
"Belum, elah, sabar kenapa sih?"
"Lama lo!"
"Ya, lo makanya jangan banyak nanya."
"Apa hubungannya?"
"Enggak ada, mereka cuma temen."
"Hahaha." Seketika gue langsung tertawa garing, "nggak lucu."
Tidak ada balasan, yang ada justru suara pintu yang terbuka. Gue otomatis berbalik.
"Emang nggak lucu, soalnya gue bukan pelawak." Mala menatap gue datar sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "mau ngapain sih?"
Tanpa menjawab, gue langsung mengangkat kartu undangan yang tadi gue bawa.
Mala langsung merebutnya tidak sabaran. "Anjir, lo mau kawin? Nggak ada angin, nggak ada ujan, tahu-tahu sebar undangan? Tanpa kenalin ke gue dulu gitu? Wah, besti macam apa lo? Parah banget lo, sumpah!"
Dengan gerakan gemas, gue langsung mendorong dari Mala hingga tubuh gadis itu sedikit terhuyung ke belakang.
"Baca dulu itu yang bener siapa nama mempelainya baru komentar!"
"Angga dan Frasa," eja Mala saat membaca nama mempelai pada kartu undangan, "njir, Angga toh, gue kira Agha."
Gue hanya memutar kedua bola mata malas dan enggan berkomentar. Setelahnya gue memilih masuk ke dalam ruangannya dan langsung merebahkan tubuh gue pada sofa.
"Tapi ini Angga yang mana sih?"
Gue menggeleng. "Enggak kenal."
"Lha terus kenapa gue dapet undangan."
"Dari Frasa."
"Frasa? Frasa yang mana sih? Gue perasaan nggak punya kenalan yang namanya Frasa deh. Eh, si anjir, ini kok ditulisnya nama kita? Temen lo ya ini?"
Masih dengan kedua mata terpejam gue tersenyum. "Sejak kapan sih lo dan gue jadi kita?"
"Sejak Upin Ipin masuk SMP," ketusnya judes, "ditanyain serius juga malah bercanda, gue getok juga kepala lo lama-lama."
"Dih, pengen banget lo diseriusin?" Gue membuka kedua mata gue seraya menegakkan tubuh.
"Najis! Frasa tuh siapa? Dan kenapa ini yang diundang gue sama lo? Kenapa nggak dikasih undangan sendiri-sendiri?"
"Masa lo nggak inget sih Frasa siapa? Di RS ini yang namanya Frasa yang lo kenal siapa?"
Mala berpikir sebentar dan mencoba untuk mengingat. "Perawat dari kamar bedah?" tanyanya tidak yakin.
Gue langsung mengangguk dan mengiyakan.
"Anjir, bukannya masih magang?" Mala terlihat masih setengah tidak percaya. Gue pun waktu nerima undangan itu juga begitu, soalnya si calon mempelai masih keliatan bocah, selain karena perawakannya yang kecil umurnya masih tergolong cukup muda untuk menikah.
"Eh, udah selesai deh ya? Buset, pada ngebet kawin banget sih anak jaman sekarang. Baru kelar magang langsung sebar undangan. Gokil!" Mala tertawa setengah miris sambil menoleh ke arah gue, "kita aja yang spesialis udah disandang, kenapa nggak kunjung sebar undangan?"
"Ya, kan undangannya belum jadi, gimana mau disebar?"
"Calonnya juga belum ada, njir, nggak tahu malah kabur ke mana," decak Mala sambil merubah posisi duduknya menjadi duduk bersila di atas sofa, "miris banget ya hidup gue?"
"Lah, katanya sama gue?"
"Dih, lo mah buat cadangan aja. Ntar kalau nggak ada yang nikahi gue, baru gue mau sama lo. Kalau ada yang lain sih, gue jelas mau sama yang lain aja."
"Sialan lo!"
*
*
__ADS_1
*
Anda : jemput!
Simalakama : kebalik woe!
Anda : !tupmej
Simalakama : kaga gitu maksud gueπ maksudnya lo yang harusnya jemput gue, bukan sebaliknya
Anda : gue lagi nggak enak badan, gk kuat nyetirπ
Simalakama : gk kuat apa males?
Anda : π males sih
Simalakama : emang guguk ya lo!
Anda : jadi intinya lo mau apa enggak? klo mau gue siap-siap. klo gk mau ya udah, gue titip salam
Simalakama : kenapa cuma titip salam? kenapa gk titip amplop?
Anda : di rumah gue gk ada amplop. ntar gampang tinggal minta no.rek Frasa
Simalakama : πππππ©
Anda : π§
Simalakama : buruan siap-siap, bentar lagi gue otw
Anda : wokeh, makasih sayangπ
Simalakama : π
Anda : π€£π€£
"Sakit apa lo?" tanya Mala saat gue masuk ke dalam mobilnya.
"Diare," jawab gue singkat sambil memasang seatbelt.
Mala yang mendengar jawaban gue bukannya langsung melajukan mobil malah memilih untuk menertawakan sakit gue. Emang temen laknat dia tuh. Tahu temennya lagi sakit bukannya prihatin malah diketawain.
"Abis makan makanan kadaluarsa apa lagi lo?"
Sialan. Gegara gue pernah kena diare gegara makan oatmeal Kak Ale yang ternyata udah kadaluwarsa, Mala hobi banget ngeceng-cengin gue perihal ini.
"La, gue emang pernah secara nggak sengaja makan makanan yang udah kadaluwarsa, tapi bukan berarti gue makan itu terus-terusan kan? Lagian juga sekali gue makannya."
"Ya, gue mana tahu kalau risolnya udah basi, orang masih enak dimakan kok."
Mala berdecak tidak habis pikir dan mulai melajukan mobilnya. "Lo itu, ya, bener-bener deh, Gha. Makanan kalau udah basi itu dari rasa dan penampilan aja pasti udah nggak sama. Emang lo nggak ngerasa ada yang aneh pas makannya?"
"Ya, kerasa, cuma gue pikir semacam varian baru gitu, atau ditambahin sesuatu makanya rasanya jadi begitu."
"Gue beneran udah nggak bisa ber-word-word lagi, Gha, kalau lo lagi di mode ini."
Reflek gue terbahak. "Berword-word apaan?"
"Berkata-kata."
"Astaga, bahasa mana tuh?"
"Bahasa gaul norak!"
"Aneh."
"Elu yang aneh!"
"Kok jadi gue?" protes gue tidak terima.
Mala langsung berdecak sambil melirik gue sekilas. "Diem aja deh lo, Gha, mending tidur aja daripada berisik."
"Ntar kalau gue tidur, lo kesepian dong nggak ada yang ngerecokin."
"Bagus. Soalnya gue suka kedamaian."
"Gue tidur beneran ya?"
Tanpa melirik gue, Mala hanya mengangguk dan menjawab dengan deheman. Kita yang kalau satu sama lain sudah tidak ada rasa sungkan atau tidak enak pun, membuat gue langsung memejamkan mata. Kebetulan gue agak ngantuk karena semalem nggak bisa tidur. Lalu tiba-tiba Mala membangunkan gue.
"Bangun, woe! Gila, ya, lo, gue tadi cuma bercanda kenapa lo tidur beneran sih?" omel Mala sambil membuka seat beltnya.
Gue menguap sambil merenggangkan otot. "Ya, kan lo nyuruh gue tidur dan kebetulan gue juga ngantuk, ya gue tidur beneran lah. Ngapain lo protes?"
"Dasar nggak peka lo!"
"Gue bukan anak Pramuka, jadi nggak paham kode." Gue kemudian celingukan ke arah sekitar, "udah rame, ya."
"Ya, namanya orang nikahan, Gha, pasti rame. Kuburan kalau ada acara pemakaman aja rame kok." Mala berdecak, "buruan, ayo turun!"
"Iya," ucap gue pasrah sambil melepas seat belt lalu turun dari mobilnya. Sekali lagi gue menguap dan tangan ringan Mala langsung memukul pinggang gue menggunakan tas selempang mahalnya.
Mirip punya Kak Ale cuma beda warna aja. Dan kebetulan punya Kak Ale gue yang ngebayarin jadi gue tahu seberapa mahal tas itu. Padahal kalau dipikir-pikir ukurannya kecil loh, cuma muat hape, dompet kecil, sama alat make up pun juga paling mentok bedak sama lipstik. Tapi kenapa harganya bisa buat bayar DP motor?
__ADS_1
"Kenapa sih?" protes gue kesal. Padahal juga gue tadi menguap langsung tutup mulut.
"Lo udah tidur sepanjang perjalanan dan sekarang masih berani nguap?"
"Ya, kan menguap di luar kuasa gue kali, La, protes mulu deh lo."
"Ya, kelakuan lo emang minta diprotes," balas Mala tidak mau kalah.
Kali ini gue memilih untuk tidak menjawab dan hanya mengekor di belakangnya menuju ke tempat resepsi. Kebetulan resepsinya diadakan di perumahan bukan gedung.
"Antrian masih panjang, Gha, cari makan dulu, yuk? Heels gue tinggi nih, bisa pegel berdiri ntar kalau antri salaman sekarang?"
"Terserah."
"Jangan kayak cewek kalau ditanya terserah deh, Gha," omel Mala langsung merebut ponsel gue sambil berdecak, "jawab dulu yang bener!"
Gue menghela napas sambil menodongkan telapak tangan. "Iya, oke, makan dulu. Mau makan apa lo? Biar gue ambilin."
Mala langsung tersenyum sumringah dan menyerahkan ponsel gue. "Ya kan gue nggak tahu menunya ada apa aja, Gha, jadi gue ikut aja. Biar puas milih sendiri."
"Oh, ya udah kalau gitu gue nyari tempat duduk deh."
"Lah, kok?"
Gue menggeleng sambil memegang perut. "Gue masih agak worry mules lagi, La, kalau ikut makan. Jadi gue skip aja deh, cari aman."
Mala langsung berdecak kesal. "Ah, nggak asik lo. Masa gue sendirian?"
"Ya, kan tadi gue nawarin biar gue aja yang ambil kalau lo sungkan ambil makan sendirian."
Mala menggeleng tidak setuju. "Ya mana puas kalau lo yang ambilin? Udah, nggak papa deh gue sendiri aja. Titip tas aja ya." Tanpa menunggu persetujuan gue, ia langsung menyampirkan tas selempangnya pada pundak gue begitu saja.
Gue pun pasrah dan tetap memakainya, lalu berjalan menuju meja yang sekiranya bisa gue duduki. Karena setelah gue perhatikan hampir tidak ada meja kosong, sampai akhirnya gue menemukan meja yang menyisakan dua kursi dan gue kenal di antara mereka.
"Boleh gabung duduk di sini?" tanya gue meminta izin.
Mereka secara kompak langsung menoleh ke arah gue. "Eh, dokter Agha. Boleh dong, dok, silahkan!"
Gue langsung tersenyum dan menarik kursi. "Enggak ganggu kan saya?"
"Enggak lah, dok, sama sekali nggak ganggu kok. Kami justru senang bisa semeja dengan sama dokter Agha si paling-paling. Ya nggak guys?" ucap salah satu dari mereka. Yang lain pun langsung mengangguk semangat untuk mengiyakan.
Gue hanya terkekeh saat meresponnya.
"Dokter Agha sendirian?" tanya salah satu dari mereka yang lain.
Mereka belum lama berada di stase bedah, jadi gue jelas belum hafal nama mereka. Kalau di rumah sakit setidaknya gue bisa mengetahuinya dari ID card mereka, tapi kalau sekarang? Tentu tidak bisa.
"Enggak, sama Mala. Dokter Mala maksudnya. Nah, itu orangnya."
Tak berapa lama Mala datang. "Pinter ya lo, Gha, milihnya gabung sama dedek-dedek koas cantik." Ia kemudian menyapa mereka satu persatu sebelum akhirnya duduk di sebelah gue, "btw, pudingnya gue ambil buat lo," sambungnya kemudian.
Gue mengangguk dan mulai memakan puding yang Mala bawa.
"Kalian udah pada salaman sama pengantinnya?" tanya Mala di sela kunyahannya.
Keempat dokter koas itu dengan kompak menjawab dengan gelengan kepala. "Belum, dok, dari tadi antrinya panjang, masih nunggu lega. Kebetulan kita hari ini libur jadi bisa agak nyantai."
"Nanti bareng aja sekalian ya?"
"Boleh, dok."
Mala kemudian menoleh ke arah gue sambil mengarahkan sendok. "Cobain, Gha, kambing gulingnya enak banget."
Gue langsung menolak dengan gelengan tegas.
"Yakin nggak mau nyoba?"
Lagi-lagi gue menjawab dengan gelengan kepala.
"Dokter Agha sama dokter Mala pacaran ya?" celetuk salah satu dokter koas yang kebetulan duduk di samping pas Mala.
Sebenarnya gue nggak kaget dengan pertanyaan semacam ini, baik gue sama Mala sudah cukup kebal dengan pertanyaan ini. Tapi kali ini gue agak kaget karena menurut gue pertanyaan itu terlalu tiba-tiba. Dan gue nggak menyangka kalau mereka cukup berani menanyakannya secara langsung.
Berbeda dengan gue, Mala terlihat biasa saja. Dia bahkan dengan santai malah menikmati sup buahnya. "Menurut kalian, kita keliatannya gimana?" tanyanya kemudian.
"Iya, pacaran/enggak."
Di antara mereka berempat hanya satu yang menjawab enggak. Hal ini membuat gue tersenyum. Gue inget perempuan ini, kemarin dia jadi ***-op gue pas menangani pasien usus buntu yang sudah abses. Dia sebenarnya termasuk golongan yang cepat belajar, cuma kelemahannya dia suka kurang fokus tiba-tiba.
Mala tertawa sambil menyuapi gue dengan sup buah. "Kok cuma Riska bilang enggak?"
Oh iya, namanya Riska.
"Itu sih gegara Riska-nya denial, dok, nggak mau terima kenyataan kalau dokter Agha sama dokter Mala beneran pacaran," sahut temannya.
"Dih, apaan gue nggak gitu. Lo jangan asal ngarang," elak perempuan yang bernama Riska itu dengan wajah memerahnya.
Harus gue akui gadis berjilbab pashmina ini cukup manis, apalagi di saat kedua pipinya yang bersemu kemerahan begini. Gemes juga ternyata.
Eh?
Tbc,
__ADS_1