Married With My Besti

Married With My Besti
Akhirnya


__ADS_3

*


*


*


Setelah memastikan putranya terlelap nyenyak di ranjang boxnya, Mala memutuskan untuk beberes kamar. Sekarang kondisinya sudah benar-benar pulih, namun, ia belum aktif kembali bekerja. Kebetulan pihak rumah sakit memang tidak menerima surat pengunduran dirinya, Mala dibiarkan cuti sampai waktu yang tidak ditentukan, jadi Mala bisa kembali sewaktu-waktu, karena memang kinerjanya sangat dibutuhkan di rumah sakit, mengingat tidak banyak dokter anestesi di rumah sakit tersebut dan memang tidak mudah mencari dokter.


Sebenarnya ada Ratih yang membantunya untuk beberes rumah dan lainnya, tapi untuk area kamar, ia memutuskan untuk membereskannya sendiri karena memang ia masih cukup mampu melakukannya. Toh, Mala merasa gabut kalau tidak melakukan sesuatu. Bahkan untuk memasak pun, Mala memilih untuk memasak sendiri, Ratih hanya bertugas beberes rumah, mencuci, dan menyetrika. Setelahnya ia akan pulang. Mama atau ibu mertuanya pun sudah tidak ke sana rutin untuk menemani. Jadi biasanya kalau sang suami pergi dinas dan Ratih sudah beres mengerjakan tugasnya, ia hanya akan di rumah bersama Kai seorang. Rumah akan terasa semakin sepi saat Kai sedang tidur seperti sekarang.


Setelah mulai paham mainan, rumah memang jadi lebih sering berantakan dan ia harus lebih sering beberes karena Kai akan senang membuat ruangan berantakan.


Mala berdecak kesal saat bola yang hendak ia masukkan ke dalam keranjang mainan, justru malah menggelinding ke bawah ranjang. mau tidak mau ia berjalan mendekat ke arah ranjang untuk mengambil bola tersebut, hatinya seolah terasa diremas saat secara tidak sengaja menemukan selembar foto hasil usg-nya. Ia tidak mengerti kenapa ada foto tersebut di sana. Perlahan tapi pasti, air matanya jatuh. Mala menangis tersedu-sedu sambil memeluk foto tersebut.


"Maafin Mama ya, Nak, karena gagal jagain kamu. Maafin Mama! Harusnya Mama lebih bisa berhati-hati waktu itu, tapi ternyata Mama gagal. Mama menyesal, Nak, maafin Mama ya!"


Kalau waktu bisa diputar kembali, Mala tidak akan merasa denial saat menyadari ada yang tidak beres pada dirinya kala itu. Harusnya ia menerima semua takdirnya lebih lapang dada kala itu. Tapi ia justru merasa sebaliknya, bukannya senang hamil lagi. Sejujurnya Mala sempat menyalahkan Agha selama beberapa saat, ia memang tidak mengungkapkannya terhadap sang suami, tapi ia sempat merasakannya dan setelah bayi itu pergi, baru lah ia menyesali semuanya. Mala benar-benar merasa bersalah terhadap dirinya sendiri.


Cklek!


Tak berapa lama pintu kamar terbuka, Agha yang kebetulan pulang lebih awal karena memang ia tidak memilik jadwal operasi sore ini, terkejut melihat sang istri menangis tersedu-sedu di atas ranjang. Sedikit panik, ia langsung berlari menghampirinya.


"La, kamu kenapa?" tanya Agha khawatir.


Bukannya menjawab tangis Mala justru makin pecah. "Maafin aku, Gha, maafin aku karena udah bikin kita kehilangan adik Kai. Aku nyesel, Gha, aku nyesel."


Agha tidak langsung membalas. Pria itu memilih untuk memeluk sang istri dan berusaha untuk menenangkannya.


"It's okay, La, nggak papa, mungkin memang belum rejeki kita. Nanti kita bisa berusaha lagi ya," ucap Agha mencoba untuk menenangkan.


Mala menangis di pelukan sang suami. "Aku salah, Gha, aku salah. Harusnya sejak awal aku langsung menerima kehadiran dia dan bukannya justru malah denial nggak jelas. Padahal nggak papa meski jarak usia Kai sama adiknya nggak jauh, tapi--"

__ADS_1


"Ssst, udah, La, nggak papa. Serius nggak papa, sayang. Kita udah berusaha semampu kita buat mempertahankan dia, sejak awal Ayah udah kasih pilihan buat gugurin kandungannya kan? Kamu tahu apa artinya? Artinya harapan hidupnya emang sangat rendah, tapi apa keputusan kamu saat itu? Kamu memilih mempertahankannya, itu artinya kamu ibu yang hebat, kamu udah berusaha semampu kamu, La, kamu nggak salah. Memang takdirnya sudah begini. Jadi, nggak papa ya?"


"Kamu nggak marah?"


Agha menggeleng cepat. "Sejak awal aku nggak pernah marah, La."


"Tapi kamu sedih."


"Orang tua mana yang nggak bersedih karena ditinggal anaknya, La? Semua pasti bersedih kan? Meski dia hadir tanpa kita rencanakan tapi tetap saja dia anak kita kan, La?"


Mala tidak berkomentar apapun selain memeluk sang suami. "Makasih, Gha, makasih banget. Maaf karena sikap aku selama ini yang nggak dewasa."


"Enggak, La, kamu sudah hebat. Jangan merasa berkecil hati ya. Kita sama-sama belajar." Kini giliran Agha yang mulai sedikit meregangkan pelukan mereka, namun, ia membiarkan tubuh Mala tetap menempel padanya. Tangannya mengelus rambut sang istri, "makasih ya, La, karena sudah mau jujur tentang perasaan kamu. Aku seneng. Kalau boleh jujur, aku lebih seneng kamu yang begini."


Mala mengerutkan dahi tidak paham. "Maksudnya?"


"Jujur sama aku, bergantung sama aku, nggak usah pura-pura kuat atau lainnya. Aku suami kamu loh, La, aku juga pengen bisa kamu andalkan bukan justru sebaliknya."


Agha langsung menggeleng cepat. "Kamu lupa pas kamu hamil Kai? Apa-apa suka sendiri, bahkan harus nemeni aku yang ngidam macem-macem."


"Tapi pas aku hamil adik Kai kan aku manja banget, mood swim banget lagi, jujur, Gha, kadang aku suka jijik sama diri sendiri kalau inget kelakuan aku yang waktu itu."


Dalam hati Agha mengangguk setuju dan mengiyakan, hanya saja untuk masalah jijik, tentu saja ia tidak merasakannya. Ya mana mungkin ia merasa jijik dengan istri sendiri kalau kesel, kadang ia merasakannya.


"Enggak papa, nanti kalau kamu hamil lagi boleh kok begitu."


"Dih, aku sih ogah, ntar kalau aku hamil lagi biar kamu aja yang begitu, aku ikhlas."


Agha sedikit terkekeh tidak percaya. "Kamu nggak masalah sama aku yang suka ngidam aneh-aneh pas malem?"


Mala menggeleng tidak masalah. "Itu masih mending ketimbang aku yang ngalami sendiri, rasanya lebih capek, Gha, ternyata, mending tinggal nurutin kamu doang deh."

__ADS_1


"Tapi kan kamu yang hamil."


"Ya iya lah aku yang hamil, tapi ya nggak papa aku malah lebih seneng begitu."


Agha kembali terkekeh lalu memeluk sang istri erat. "Istri aku emang agak lain ya?"


"Kita emang pasangan agak lain, Gha, kalau kamu nggak tahu."


Agha manggut-manggut paham. "Oh, begitu ya?"


Mala kemudian mengangguk dan mengiyakan.


"Ngomong-ngomong, udahan yuk, ganti posisi, pegel deh aku lama-lama begini. Bisa kesemutan nih."


Tersadar Mala langsung menjauhkan diri dari pelukan Agha. "Oh iya, aku lupa, kamu kan baru pulang, sana buruan mandi biar aku masakin sesuatu buat kamu."


"Emang Mbak Ratih nggak masak?"


Mala menggeleng cepat. "Bagian masak itu tanggungan aku, Mbak Ratih kan tugasnya cuma bantu beberes rumah. Lagian aku juga kurang suka masakan beliau. Kurang cocok di lidah aku."


"Kenapa? Kebanyakan ngasih micin?"


Mala kembali menggeleng cepat. "Justru sebaliknya, Gha, Mbak Ratih tuh kalau masak kayak nggak pernah pake micin. Mungkin karena kita berdua sama-sama tenaga kesehatan kali ya, jadi kayak takut gitu mau pake micin, padahal kan bikin masakan lebih sedep dan enak."


"Oh, jadi kenapa masakan kamu selalu bisa aku makan tuh karena micin?"


Mala mengangguk cepat. "Emang Bunda kalau masak nggak pernah pake micin?" tanyanya heran.


Agha meringis sambil mengangkat kedua bahunya. "Hehe, nggak tahu juga sih pakai atau enggaknya. Enggak pernah nanya juga soalnya."


Mala mendengus dan menyuruh Agha segera mandi sedangkan dirinya memutuskan untuk segera memasak.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2