Married With My Besti

Married With My Besti
Ohim Gagal Ngamuk


__ADS_3

*


*


*


"Enggak," jawab gue cepat. Gue tidak mau Ohim semakin curiga.


Namun, sesuai tebakan Ohim pasti langsung menyadarinya. Pria itu mendengus tidak percaya sambil melirik gue sinis.


"Gha, kita udah kenal berapa lama sih? Lo pikir gue nggak apal apa lo kalau lagi bohong gimana?"


Gue menghela napas sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku jas putih gue sambil menatap Ohim datar, namun, sekilas.


"Lo ke sini mau jenguk apa ngamuk?"


Ohim berdecak kesal. "Gila sih kalian kalau sampai nggak memperkarakan perihal ini, dia bisa makin ngelunjak, Gha."


"Him, gue tahu, gue ngerti banget, tapi bisa nggak kita hargai keputusan Alisa? Sama kayak lo, gue juga marah tentang hal ini, gue bahkan jadi keinget kasus yang menimpa Mala dulu tapi, Mala memilih untuk memperkarakan hal ini. Gue marah kala itu, bahkan sekarang pun kalau inget gue masih suka marah, tapi ada beberapa hal yang buat kita untuk nggak terlalu ikut campur ke dalamnya. Lo ngerti maksud gue?"


Ohim diam saja dan memalingkan wajah. Tidak merespon kalimat gue sama sekali. Gue menghela napas sambil menepuk pundaknya.


"Kita hargai keputusan Alisa ya?" bujuk gue.


Ohim tidak membalas dan hanya menyingkirkan tangan gue yang berada di pundaknya.


"Him," panggil gue kemudian.


Kali ini Ohim menoleh ke arah gue sambil menggeleng. "Enggak bisa, pokoknya nanti kalian berdua harus gue omelin dulu," ucapnya tidak ingin dibantah, lalu keluar dari lift begitu pintu terbuka.


Gue hanya mampu menghela napas lalu mengekor di belakang pria itu tanpa mengeluarkan protes.


Saat gue masuk ke ruang rawat inap Alisa, raut wajah perempuan itu sudah jauh lebih segar jika dibandingkan kemarin. Hari ini pun dia terlihat lebih tegar ketimbang sebelumnya, ia bahkan langsung menyapa gue sama Ohim dengan senyum ramahnya. Gue perhatikan sih, keliatannya Alisa sudah hampir sepenuhnya pulih.


"Ya ampun, Pak dokter sama Pak Ceo kita yang super sibuk kok bisa ke sini jam segini?" guraunya setengah bercanda.


"Iya lah, demi lo nih kita yang super duper busy bela-belain datang terus jengukin lo. Lo patut berbangga hati nih, Sa," sahut Ohim dengan wajah pura-pura sombongnya.


Alisa terkekeh samar. Sedangkan gue mendengus.


"Gimana keadaan lo, Lis?" tanya gue kemudian, "tadi dokternya bilang apa?" sambung gue setelah mendapat anggukan kepala dari Alisa.


"Udah bagus kok, besok juga udah boleh pulang."


Gue mengangguk lega. "Syukur deh kalau udah bagus semua, sekarang juga lo udah keliatan segeran sih."

__ADS_1


"Iya, udah kangen sama mahasiswa gue juga nih, Gha. Bosen banget buset gue di sini terus."


Gue langsung meresponnya dengan dengusan, karena niat Alisa yang ternyata udah nggak sabar buat ngajar.


"Sa, gue boleh pinjem Abbas bentar nggak?" tanya Ohim tiba-tiba. Reflek gue langsung menoleh ke arahnya dengan sebelah alis terangkat.


"Boleh lah, kenapa juga nggak boleh," sahut Alisa cepat, "lama juga nggak papa kok," sambungnya kemudian.


"Tapi lo harus sendirian dulu, nggak papa? Soalnya Agha juga harus ikut."


Alisa menatap kami bertiga secara bergantian dengan ekspresi ragu-ragu di awal, tak lama setelahnya ia mengangguk.


"Iya, nggak papa, Him, santai aja. Abbas juga mau lo ajak pulang pun gue nggak papa, soalnya gue beneran udah ngerasa sehat sih."


Ohim mengangguk paham lalu menatap gue dan Abbas secara bergantian lalu mengkode kami agar segera mengikutinya. Awalnya Abbas terlihat ragu-ragu, namun, pada akhirnya tetap pasrah saat gue tarik paksa agar mengikuti Ohim.


"Kita keluar dulu ya, Sa. Baik-baik, ntar kalau butuh apa-apa telfon aja ke nomor gue. Oke?"


"Kok ke nomor lo?" protes Abbas.


Gue tidak terlalu menggubrisnya dan hanya mendorong tubuh pria itu agar segera keluar dari ruang rawat inap Alisa.


"Ada apaan sih?" decak Abbas dengan wajah kesalnya.


Gue langsung mengangkat dagu menunjuk ke arah Ohim.


Bukannya menjawab, Ohim malah menatap gue. "Tangga darurat di mana, Gha?"


"Mau ngapain?"


Ohim berdecak kesal. "Kasih tunjuk aja kenapa sih? Nggak usah banyak nanya."


Gue menatap Ohim datar lalu mengajak mereka berdua agar mengikuti gue.


"Gue pengen ngamuk ke lo berdua," ucap Ohim begitu sampai di tangga darurat.


Oh, ternyata dia ngajakin ke tangga darurat karena hal ini. Astaga, Tuhan, gue kira mau ngapain.


Merasa sudah tidak mampu menangani Ohim, gue mengangkat kedua tangan gue tinggi-tinggi lalu memilih menyingkir dan duduk pada salah satu anak tangga.


"Silahkan, gue mau merem bentar kalau gitu."


"Lo mau ngamuk soal apa?" Abbas menatap Ohim sinis, "lo mau nyalahin gue atas apa yang terjadi dengan Alisa?"


"Gue pengen memastikan satu hal, Agha nggak bener kan?"

__ADS_1


Abbas menaikkan alisnya heran lalu melirik gue sekilas. "Enggak bener yang gimana? Hidupnya nggak bener gitu maksud lo?"


Seketika gue langsung tersinggung. Mau protes tapi ditahan oleh Ohim, alias karena dia tidak ingin berbasa-basi dan ingin langsung to the point.


"Alisa."


Kali ini giliran Abbas yang menoleh ke arah gue dengan tatapan tajam. Ekspresinya terlihat seperti sedang bertanya 'abis cerita apa aja lo sama ini orang?'


Cepat-cepat gue langsung menggeleng. ""Enggak, gue nggak cerita apa-apa. Belum, anjir. Emang dasar ini Arab Kw lagi kelewat peka."


"Enggak bener kan, Bas?" ulang Ohim.


Abbas terlihat seperti kehilangan kata-kata. Ia menghela napas berat sambil menyandarkan punggungnya pada tembok. Gue jadi nggak tega lama-lama melihatnya yang begini.


"Bas, lo oke?"


Abbas menggeleng lalu beringsut dan mengambil posisi jongkok sambil menyugar rambutnya secara frustasi. Kedua matanya tiba-tiba berubah memerah.


"Gue beneran nggak lagi baik-baik aja, Him, Gha. Gue frustasi, gue tertekan dan juga serba salah. Gue marah, marah sama semua keadaan ini. Gue banyak dosa banget ya, Gha, Him, sampai Tuhan menguji gue begini. Masalah adek gue baru juga menemukan titik terang, baru juga beres. Sekarang gue ditempatin di situasi yang begini. Gue harus gimana sih, Gha, Him? Gue beneran bingung."


Gue sama Ohim saling bertukar pandang. Ternyata Abbas kemarin-kemarin sedang berusaha tegar padahal kondisinya sendiri sedang tidak karuan. Gue kemudian mendekat ke arahnya dan menepuk pundaknya, mencoba menguatkan.


"Gue tahu mungkin kalimat 'yang sabar, ya, Bas' nggak akan cukup membantu keadaan lo sekarang, dan tapi seenggaknya lo harus ingat kalau lo nggak sendiri, Bas. Lo nggak harus gimana-gimana cukup ikuti apa kata hati lo. Mau orang bilang apa, itu terserah mereka. Yang penting lo sekarang sedang mengusahakan yang terbaik buat kebahagiaan lo dan kebahagiaan wanita yang lo cintai."


"Tapi di sisi lain gue marah karena nggak bisa bantu buat kasus Alisa, Gha."


Kali ini gue mengangguk paham. Tanpa perlu dijelaskan pun gue tahu betul perasaan Abbas karena gue sendiri sudah pernah mengalami kasus hal serupa.


"Gue paham banget perasaan lo, Bas, lo nggak sendiri. Gue pun pernah mengalami kasus yang hampir-hampir sama. Lo ingat kan Mala pernah hampir diperkosa mantannya? Gue pengen banget jeblosin si brengsek itu ke penjara atau minimal pengen banget gue hajar sampai babak belur. Tapi pada akhirnya gue nggak bisa lakuin itu kan, nggak ngelakuin itu bukan berarti gue nggak bantu Mala, tapi justru dengan menghargai keputusan dia. Sama kayak lo."


"Nggak waras kalian!" sahut Ohim tiba-tiba, "gue tahu kalian bucin ke pasangan kalian masing-masing, tapi enggak begini lah, bro. Menurut gue ini nggak bener," sambungnya emosi.


"Bagaimana negara ini mau maju kalau kaliannya aja begini, yang namanya hukum itu harus ditegakkan. Enggak begini, anjir, kalau kalian beneran peduli harusnya nggak begini."


Gue sedikit mendekatkan tubuh gue ke arah tubuh Abbas. "Enggak usah didengerin itu orang, biarin, dia nggak ngerti apa-apa karena belum ngalami sendiri. Percaya sama gue yang udah lebih berpengalaman," ucap gue meyakinkan.


Ohim menghela napas tidak percaya. "Oke, gini, kalau kasus Mala gue bisa ngalah. Mala nggak mau memperkarakan kasus ini karena si Danu itu sakit, terus kalau Kevin? Bro, dia sehat walafiat, yang ada kalau dia dibiarin dia nggak bakalan makin berulah? Lo nggak takut bakalan ada Alisa-alisa yang lain?"


Gue berdiri dan menatap Ohim datar. "Him, gue ingetin, kalau Kevin itu bukan sembarangan, power dia kuat, backingnya nggak main-main, kalau kita memperkarakan hal ini bisa jadi Alisa yang bakalan lebih menderita. Udah emang paling bener begini, Abbas udah bener dengan keputusannya, lo jangan bikin dia goyah kenapa sih?" decak gue kesal.


"Lo lupa siapa gue? Gue juga punya backingan yang kuat kali," sahut Ohim tidak terima, "jadi jangan takut. Kita harus bantuin Alisa. Gue nggak terima dia diginiin."


"Him, menurut gue menghargai perasaan Alisa juga termasuk bantuin dia loh."


Ohim ingin membalas tapi urung setelah melirik wajah frustasi Abbas. Ia berdecak tak lama setelahnya. "Tahu lah, bodo amat, terserah kalian. Pokoknya yang penting gue udah tawarin bantuan, kalian nggak perlu khawatir. Tapi kalau nggak mau ya udah, gue nggak bakalan maksa, kabarin aja gue kalau semisal sewaktu-waktu kalian berubah pikiran."

__ADS_1


Gue langsung mengangguk cepat, sedangkan Abbas hanya diam saja dan tidak merespon sama sekali. Sepertinya ia sedang sibuk dengan isi pikirannya sendiri.


Tbc,


__ADS_2