
*
*
*
Gue tidak bisa menyembunyikan ekspresi tidak suka gue, saat tidak sengaja bertemu dengan Danu. Benar, Danu yang itu. Pria brengsek yang pernah bikin Mala ketakutan setengah mati. Orang yang pengen banget gue jeblosin ke penjara tapi enggak bisa. Ingin rasanya menunggu lift selanjutnya, tapi tidak mungkin karena gue perlu segera turun ke IGD. Akhirnya dengan langkah terpaksa gue masuk ke dalam lift.
Serius, demi Tuhan kalau sekarang gue nggak lagi di rumah sakit, enggak lagi jas putih kebanggan gue. Gue pasti udah nonjok wajah pria itu minimal sampai bonyok, dan maksimalnya dia masuk IGD dengan kondisi tidak sadarkan diri. Sumpah, itu adalah impian gue kalau ketemu pria brengsek itu.
Ah, kenapa sih dari sekian banyak tempat gue harus ketemu dia di rumah sakit. Lagi bareng perawat magang pula, kan gue jadinya susah mau ngapa-ngapain dia.
"Hai, Gha, apa kabar lo?" sapa pria itu sok akrab.
Gue menoleh ke arah pria itu dengan sebelah alis terangkat tinggi. Ekspresi gue seolah sedang menjawab 'ngapain lo sok akrab sama gue? Emang kita kenal?'
Gue rasanya tidak sudi untuk sekedar mengenal pria ini lagi. Kalau ditanya apa gue menyimpan dendam? Gue rasa iya. Karena gue belum bisa memaafkan pria brengsek ini.
"Kayaknya lo masih marah banget ya sama gue?"
Pake nanya lagi. Jawab gue dalam hati.
Bahkan, untuk merespon jawabannya secara langsung pun gue ogah.
"Btw, congrat's ya untuk pernikahan kalian. Sorry karena gue nggak bisa dateng waktu itu--"
"Emang lo nggak diundang kali," potong gue sinis.
"Tapi gue dapet undangannya kok, gue masih simpen di kotak barang berharga gue sampe sekarang."
Telapak tangan gue terkepal marah. Jadi Mala mengundang pria brengsek ini tanpa sepengetahuan gue? Kok Mala tega giniin gue? Maksudnya apa? Dia sengaja ingin membuat gue marah atau gimana?
"Sama satu lagi, selamat ya atas kehamilan Mala. Gue turut senang dan berbahagia, sehat-sehat ya kalian bertiga."
Brak!
Gue sudah tidak bisa menahan emosi gue kali ini. Maka dengan sekuat tenaga gue mendorong tubuh Danu sambil mencengkram kerah kemejanya.
__ADS_1
"Maksud lo apa?"
"Astaga, dokter Agha!" jerit si perawat magang dengan suara panik yang terdengar jelas kentara.
Di dalam lift hanya ada kami bertiga, jadi wajar perempuan itu tengah ketakutan sekarang. Apa lagi kalau mengingat sifat dan karakter gue selama ini, gadis itu yang notabenenya masih menjadi perawat magang dan belum lama tentu saja kaget bukan main.
"Gue cuma mau ucapin selamat doang, Gha, emang nggak boleh?"
Kali ini gue melepaskan cengkraman kerah kemeja Danu lalu berjalan mundur dan mulai merapihkan stelan gue. Setelah berhasil sedikit menenangkan diri, barulah gue bertanya.
"Lo tahu dari mana kalau Mala hamil?"
"Gue tadi nggak sengaja nggak ketemu sama dia." Ekspresi terkejut masih terlihat samar-samar pada wajah Danu. Pria ini terlihat sedikit kesusahan menenangkan diri karena tadi sempat hampir gue serang secara tiba-tiba.
"Jadi beneran dia hamil?" tanya gue memastikan sekali lagi.
Gue tidak boleh gegabah dan terbawa emosi.
Ekspresi Danu terlihat kebingungan. "Emang lo belum tahu?" kedua bola matanya membulat kaget.
*
*
*
Brak!
Gue membanting pintu ruangan Mala dengan emosi. Wanita itu tampak terkejut karena kedatangan gue yang tiba-tiba sekaligus agak kasar.
"Astaga, Gha, lo ngagetin gue tahu. Tumbenan sih lo ke sini nggak kasih kabar dulu? Biasanya juga telfon dulu tuh," protesnya begitu gue masuk.
"Kenapa? Enggak suka?" Gue menatap Agha datar.
Mala berdiri lalu menghampiri gue. "Lo kenapa sih? Dateng-dateng kok marah?"
"Menurut lo, gue nggak punya hak buat marah?"
__ADS_1
Mala mencoba mengelus lengan gue untuk menenangkan gue. Namun, dengan cepat gue tepis.
"Kenapa? Gue salah pake sabun lagi? Lo nggak suka sama baunya?" Mala mencoba membaui dirinya sendiri, "gue masih pake sabun yang biasa loh padahal, Gha. Parfum juga gue lagi nggak pake."
Gue menghela napas panjang sambil menatap Mala serius. "Sekarang gue tanya, lo ada mau cerita sesuatu sama gue nggak?"
Bukannya langsung menjawab, Mala malah terlihat kebingungan. "Cerita apa? Gue nggak ada pengen cerita sesuatu kok."
Emosi gue kian meradang. "Oh, jadi enggak ada? Terus lo anggap apa gue selama ini?"
"Gha, lo kenapa sih? Gue nggak ngerti."
Gue menjambak rambut gue frustasi. Rasa kecewa gue sekarang ini bener nggak sih? Apa gue yang terlalu bersikap berlebihan, karena merasa kalah sama mantan Mala yang brengsek itu. Gue yang notabene-nya suami Mala harus denger kabar kehamilan dia dari orang lain, musuh gue sendiri. Orang yang paling gue benci di muka bumi ini. Dan menurut kalian gue nggak boleh kecewa atau marah?
Oke, gue nggak boleh marah karena Mala lagi hamil. Tapi tetep aja rasanya gue nggak bisa untuk nggak kecewa. Rasanya gue kayak dikhianati.
"Agha," panggil Mala dengan suara yang jauh lebih tenang.
Kepala gue masih menunduk sedih. "La, lo beneran hamil ya?"
Kedua bola mata Mala terlihat kaget. "Lo tahu dari siapa?"
"Jadi bener?" tanya gue memastikan.
Dapat gue lihat wajah panik Mala saat ini. Dan itu justru membuat gue semakin merasa kecewa. Dia panik itu artinya memang dia ingin menyembunyikan berita ini dari gue?
"Gha, gue bisa jelasin."
"Lo tahu nggak sih gue harus denger berita ini dari siapa?" Tanpa gue sadari gue tiba-tiba menaikkan nada suara gue. Sekarang giliran Mala yang menundukkan kepala, "dari mantan lo yang brengsek itu. Jadi bisa lo bayangin gimana perasaan gue, harus tahu berita kehamilan istri gue sendiri dari orang lain. Orang yang bahkan nggak pernah mau gue temui lagi seumur hidup gue. La, kenapa lo tega giniin gue? Lo anggep apa gue selama ini, huh?!"
"Gue bener-bener kecewa, La," ucap gue langsung pergi meninggalkan ruangan Mala dengan perasaan kecewa.
Gue tidak merasakan pergerakan dari Mala. Perempuan itu bahkan tidak memanggil gue, saat gue memutuskan untuk keluar dari ruangan begitu saja. Dan ini menambah rasa kecewa gue.
Kenapa sesakit ini Tuhan?
Tbc,
__ADS_1