Married With My Besti

Married With My Besti
Menjemput Restu Part 2


__ADS_3

*


*


*


"Bas! Abbas!"


Abbas seketika langsung tersentak kaget. Lamunannya buyar, atensinya sepenuhnya beralih pada perempuan yang memanggilnya barusan.


"Ya, gimana, Sa?"


Alisa berdecak kesal lalu menarik napas panjang, sebelum akhirnya melirik pria itu sinis.


"Kamu lagi mikirin apaan sih? Dipanggil dari tadi kok nggak nyahut-nyahut. Lagi ada masalah?" perempuan itu merengut kesal.


Sebenarnya Alisa bukan tipe perempuan yang akan mudah merajuk terhadap sang kekasih, hanya saja kalau sedang menuju periodenya Alisa memang lebih sensitif.


Abbas mencoba untuk memaksakan senyumnya lalu menggeleng cepat. "Enggak kok, enggak apa-apa. Tadi kamu ngomong sesuatu?" tanyanya hati-hati.


Sebelumnya Alisa sudah mewanti-wanti agar tidak membuatnya kesal karena moodnya sedang tidak begitu bagus.


Alisa menatap pria itu tidak suka. Perasaan kesal mendominasi. Namun, ia mencoba untuk tetap menahan diri agar terbawa emosi. Mengingat komitmen mereka, tentu saja ia tidak bisa seenaknya melampiaskan emosionalnya terhadap pria itu.


Ia menghela napas. "Aku cuma mau kamu cerita, Bas, kalau emang ada masalah. Susah banget ya?"


"Enggak ada masalah yang serius, Sa, serius," ucap Abbas mencoba menenangkan.


Alisa menggeleng tidak percaya. "Aku tahu kamu bohong, Bas."


"Aku cuma kepikiran sama kerjaan doang."


Kali ini Alisa diam, namun, hal itu tidak berlangsung lama.


"Kamu sudah ngomong sama Ibu kamu soal hubungan kita?" tebak Alisa.


Ekspresi Abbas terlihat terkejut. "Hah?"


Hal ini membuat Alisa tersenyum lalu mengangguk. "Iya, bener, kamu udah ngomong," tebaknya menyimpulkan, "padahal nggak papa, Bas. Aku ngerti, aku paham."


"Tapi, Sa--"

__ADS_1


"Bas, dengerin aku," potong Alisa sambil menggenggam telapak tangan Abbas, "aku tahu hal ini akan terjadi, kamu nggak perlu khawatirin aku, aku nggak papa. Serius, meski ibu kamu nggak kasih restu sekarang, kita bisa usaha sama-sama buat yakinin beliau pelan-pelan, meski berat, percaya sama aku, kita pasti bisa. Aku nggak akan ninggalin kamu, Bas."


"Kamu serius?" tanya Abbas mencoba memastikan.


Dengan wajah penuh keyakinan, Alisa mengangguk cepat. Sudut bibirnya membentuk senyuman.


"Makasih, Sa, makasih banget udah yakinin aku. Aku janji, cepat atau lambat aku bakalan yakinin ibu kalau kamu memang pilihan terbaik."


"Tapi sebelum kamu yakinin ibu, aku mau kamu yakinin diri kamu dulu, Bas."


Abbas mengerutkan dahi tidak paham. "Maksudnya?"


"Yakinin diri kamu kalau aku memang pilihan terbaik itu, Bas. Aku nggak mau nantinya kamu nyesel."


Dengan cepat Abbas mengangguk yakin. "Kalau masalah itu kamu nggak perlu khawatir, Sa, karena aku sudah sangat yakin akan hal itu."


Alisa mengangguk paham. "Pelan-pelan saja ya, Bas, jangan terlalu memaksa ibu kamu. Mungkin beliau masih perlu waktu, hal ini pasti tidak mudah."


Sekali lagi Abbas kembali mengangguk. "Iya, aku tahu. Aku akan coba lebih bersabar dalam menghadapi beliau, bantu aku ya, kamu juga yang sabar ya? Aku janji, aku bakalan pastiin cepat nikahin kamu."


Kali ini Alisa tertawa. "Aku bilang aku nggak papa, Bas, jangan terburu-buru. Kita nikmati saja dulu sekarang yang ada, toh, segala sesuatu yang diburu-buru kan akan berakhir tidak baik. Kamu mengerti kan maksud aku?"


Abbas mengangguk. "Iya, aku paham kok, Sa. Makasih ya, aku seneng banget karena kamu sangat pengertian. Aku jadi bingung, kalau seandainya orang itu bukan kamu, gimana ya?"


Kali ini justru gantian Abbas yang tertawa. Mungkin di dalam hati pria itu mengangguk dan membenarkan. Mungkin saja.


*


*


*


Setelah memberi waktu sang ibu selama beberapa hari, akhirnya hari ini Abbas memutuskan untuk kembali menemui sang ibu. Ia sudah bertekad apapun yang terjadi, ia tidak akan pantang untuk menyerah. Meski hari ini Hapsari belum memberi restu, ia akan datang kembali di kemudian hari dan kembali meminta restu sampai sang ibu memberinya restu.


Raut wajah sang ibu seketika langsung berubah masam saat menyadari kehadiran putra sulungnya.


"Mau ngapain?" sindir Hapsari. Ia sedang beberes rumah.


"Main."


Hapsari langsung mendengus tidak percaya.

__ADS_1


"Pengangguran kamu jam segini main?"


"Kerjaan Abbas masih bisa ditinggal, kalau Abbas ke sininya malem takutnya ntar ganggu istirahat ibu, makanya Abbas ke sinininya siang."


"Jam segini juga ibu masih beberes mumpung keponakan kamu tidur. Ganggu juga kamu kalau nggak mau bantuin."


"Ya sudah, ayo, Abbas bantuin." Abbas berusaha meraih kain lap yang Hapsari pegang, namun, dengan gerakan tak kalah cepat sang ibu menariknya kembali.


"Enggak usah, kamu kalau mau minta restu sama ibu, jawaban ibu udah pasti. Ibu nggak akan kasih restu kalau kamu masih nekat nikah sama bekas istri orang, kayak nggak ada anak gadis saja," dengus Hapsari dengan wajah cemberutnya, "kamu pikir ibu besarin kamu untuk ini."


Abbas mengepalkan telapak tangannya karena menahan emosi. "Lalu gimana dengan Farhan? Ibu ngebesarin dia untuk menghamili anak orang? Bahkan Farhan menghamili karyawan Abbas loh, Bu. Apa ibu lupa?"


"Itu kecelakaan, Bas, nggak bisa dihindari. Sudah terlanjur kejadian, nggak mungkin ibu nggak kasih restu sedangkan jelas-jelas adikmu sudah menghamili anak orang. Kamu yang benar saja."


"Terus apa Abbas juga harus menghamili calon Abbas biar ibu kasih restu ke kita?"


Plak!


Sebuah tamparan berhasil mendarat pada pipi kiri Abbas. Sakit dan juga perih. Ia yakin tamparan barusan akan meninggalkan bekas kemerahan.


"Jaga ucapan kamu, Bas! Jangan bicara sembarangan! Kalau kamu berani melakukan hal tersebut, jangan berharap kamu bisa memanggil ibu dengan sebutan ibu lagi!" ancam Hapsari tidak main-main, "apa sih kelebihan perempuan itu sampai kamu senekat ini?"


"Alisa segalanya buat Abbas, Bu. Abbas sudah jatuh cinta sama dia sejak lama, sejak awal Abbas yang bodoh karena membiarkan dia sampai dinikahi pria lain. Sekarang Abbas nggak mau kehilangan Alisa lagi, Bu, Abbas sayang banget sama dia. Abbas cuma mau Alisa yang jadi istri Abbas. Cuma itu, bukankah selama ini Abbas selalu jadi anak baik, jadi kepala rumah tangga sekaligus tulang punggung di antara kita bertiga sangat sulit untuk Abbas lakukan selama ini, Bu, tapi apa pernah Abbas mengeluh? Protes? Enggak nurut sama ibu? Enggak kan? Sekarang Abbas cuma ibu kasih restu saja, apa itu sangat sulit, Bu?" tak terasa kedua mata Abbas memanas, tak lama setelahnya ia menangis, "Abbas cuma minta ibu kasih restu. Hanya itu, Abbas nggak pernah minta apapun kan sejak kecil. Tapi kenapa setelah akhirnya Abbas punya permintaan ibu sulit sekali mengabulkan?"


Abbas mengangguk paham. "Abbas coba mengerti, Bu, keputusan ini mungkin berat untuk diterima. Meski tidak terlalu paham, tapi Abbas coba mengerti kalau ini memang tidak lah mudah. Tapi nggak bisa ya kalau ibu sedikit saja belajar pelan-pelan nerima keputusan Abbas. Semua orang punya jalan kisahnya masing-masing, Bu, Abbas pun begitu, dan memang jalan kisah Abbas begini. Abbas mohon, Bu! Kasih kami restu, Abbas pengen nikah juga kayak yang lainnya, punya anak, kasih ibu cucu. Bukannya ibu sendiri yang bilang kalau ibu pengen gendong anak Abbas mumpung masih sehat? Kalau ibu saja nggak kasih restu, gimana Abbas bisa kasih cucu buat ibu? Apa harus dengan cara seperti Farhan? Abbas serius bertanya, Bu, bukan mengancam."


"Dari sekian banyak pilihan kenapa harus janda, Bas," isak tangis Hapsari kembali pecah, "ibu rasanya sedih kalau harus melepas masa lajang kamu dengan perempuan yang pernah bersuami."


"Tapi kita nggak bisa memilih harus jatuh hati kepada siapa, hati lah yang memilih. Dan pilihan Abbas memang Alisa."


"Apa keputusan kamu tidak bisa diubah, Nak?"


"Maaf, Bu, Abbas nggak bisa."


Mau tidak mau akhirnya Hapsari mengangguk samar. "Ya sudah kalau memang itu keputusanmu. Ibu akan berusaha pelan-pelan menerimanya. Kamu ajak ke sini ya kapan-kapan, ibu pengen kenal."


Ekspresi Abbas seketika langsung berubah cerah. "Ibu serius?"


Hapsari mengangguk dan mengiyakan. "Kamu sudah terlalu banyak menderita selama ini, tapi ibu mengabaikannya, dan sekarang mungkin kesempatan ibu buat menebusnya. Ibu nggak akan menghalangi kalian. Menikah lah dengan perempuan pilihan kamu, ibu pasrahkan semua pada diri kamu sendiri. Asal jangan menyesal di kemudian hari ya, ibu sudah mewanti-wanti untuk saat ini."


Abbas mengangguk cepat. "Baik, Bu, Abbas janji nggak akan mengecewakan ibu. Makasih banyak, Bu, makasih." ia kemudian memeluk sang ibu dengan erat.

__ADS_1


Perasaan haru melingkupi dirinya. Ia benar-benar bersyukur karena sang ibu mau memberi kesempatan. Padahal hari ini ia lumayan pesimis kalau akan mengantongi restu hari ini, tapi ternyata ia salah. Ternyata rencana Tuhan lebih indah.


Tbc,


__ADS_2