
Apaan dah jdulnya, makin gaje aja🤣🤣🤣
*
*
*
Otak gue mendadak tidak bisa berpikir jernih begitu sambungan terputus. Pikiran gue kalut, ragu-ragu gue menoleh ke arah Mala.
"Kenapa sih? Kok ekspresi lo begitu? Ada masalah?"
Gue bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Gue sibuk dengan pikiran gue sendiri. Segala asumsi bersliweran di otak.
"Gha," panggil Mala karena gue tidak kunjung menjawab, "lo jangan bikin gue takut deh."
"Bentar, gue masih shock, La." Akhirnya gue mengeluarkan suara sambil menyugar rambut gue ke belakang, "lo punya musuh siapa sih?"
"Sembarangan! Gue nggak punya musuh, ya, satu-satu musuh gue tuh cuma lo."
Gue berdecak kesal karena Mala masih sempat-sempatnya bercanda saat gue saat ini udah ketar-ketir karen takut, seseorang yang mencoba membahayakan Mala ini akan berbuat hal yang lebih nekat.
"La, serius dikit bisa?"
"Dih, mau banget lo gue seriusin."
Emosi gue meradang. "Lo bercanda sekali lagi gue cium ya!" ancam gue emosi.
Serius, gue beneran emosi sekarang.
"Woi, woi, santai, Pak, santai! Jangan ngegas dulu bisa?" Mala langsung menegakkan tubuhnya panik, "ya, gimana gue mau jawab serius kalau lo aja bikin gue bingung. Ini sebenernya arah pembicaraan lo ke mana? Kasih tahu gue yang jelas dong, Gha."
"Robby bilang mobil lo disabotase, ada orang yang sengaja mencelakai lo dan gue rasa ini ada hubungannya sama ban mobil lo yang bocor itu. Lo ngerasa ada kejadian yang aneh nggak sih sebelum kecelakaan terjadi?"
Ekspresi bingung sekaligus kaget terlihat jelas pada wajah Mala. "Hah? Disabotase gimana? Nggak mungkin lah, salah gue apa sampe ada orang yang gituin gue?" Mala menatap gue setelah berpikir beberapa saat, "lo ada mantan yang masih ngarep sama lo?" tanyanya tiba-tiba.
"Kenapa jadi gue?" tanya gue tidak terima.
"Iya lah, lo itu jarang banget buat igs, nyaris nggak pernah. Sekalinya bikin ya itu pasti ada gue-nya. Bisa jadi orang yang masih ngarep sama lo nggak suka itu terus dia berusaha buat nyingkirin gue."
Buset, kok agak sinetron ya?
"Kok lo kesannya jadi nyalahin gue, La? Bisa jadi mantan lo sendiri tuh, mantan gue mana berani begitu."
"Oh, jadi mantan kamu masih ada yang beneran ngarep sama kamu? Siapa? Karin?"
Pembicaraan macam apa ini kok jadi ke arah sana pembicaraannya?
Gue menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan. "Karin nggak mungkin senekat itu, apalagi sampai celakai kamu, La."
Sekalipun Karin pernah mengecewakan gue tapi gue yakin dia tidak akan senekat itu. Gue kenal Karin dengan cukup baik.
"Tapi bener dia masih ngarep sama kamu?" Tatapan mata Mala berubah, kedua mata itu menatap gue penuh selidik curiga.
Apakah gue salah menjawab sampai Mala menatap gue setajam itu?
Dengan perasaan gugup gue berdehem. Biar nggak makin keliatan gugupnya maksud gue.
"Ya kan itu di luar kemampuan aku, La. Aku nggak bisa kontrol perasaan orang, apalagi buat nyuruh mereka berhenti suka sama aku. Nggak bisa kan?"
Mala memasang wajah cemberutnya. "Ya, makanya jadi orang jangan terlalu baik. Biar anak orang nggak gampang baper sama kamu, biar mereka nggak gampang naksir apalagi ngarep jadi istri kamu," omelnya kemudian.
Serius, muka Mala galak banget saat ini.
Gue agak takut sebenernya, cuma berhubung gue tidak terima dengan tuduhannya gue berniat untuk langsung protes, tapi terpaksa harus gue tahan karena Tante Yana tiba-tiba datang sambil membawa nampan berisi minuman dan cemilan.
"Cie cie, kenaikan progress nih, manggilnya aku-kamu gitu sekarang. Jangan-jangan udah kepikiran pake adat mana atau mau resepsi outdoor indoor. Ayo, dong, kasih Mama spill dikit. Kepo nih," ucap Tante Yana sambil meletakkan segelas jus jeruk di hadapan gue, "diminum, Gha. Ngadepin anak Mama butuh banyak tenaga."
Lah, gue bahkan baru nyadar kalau kita tadi pake aku-kamu. Tumbenan salah satunya nggak ada yang protes.
Mala langsung berdecak kesal. "Apaan sih, Ma? Mama-mama sok akrab banget."
"Ya kan emang biar akrab. Udah, ah, Mama mau ke Papa dulu. Kalian boleh dilanjut ngobrolnya, mau pacaran."
Gue tersenyum canggung seraya mengangguk dan mempersilahkan. "Iya, Tante."
Sedangkan Mala langsung mencibir. "Dih, udah tua juga pacaran terus!"
Tante Yana langsung berbalik. "Biarin daripada kamu masih muda tapi nggak pernah pacaran," sindir beliau.
"Mana ada begitu?"protes Mala tidak terima, "itu dulu yang suka bawain bolu talas siapa ya? Pacar Mala, Ma!"
__ADS_1
"Mantan kali, La," koreksi Tante Yana yang seketika langsung membuat bibir Mala tertutup rapat.
Ini Tanta Yana tadinya mau niat nyindir Mala doang apa gue juga sih? Kok gue ikutan kena mental?
Bokap gue sama nyokap Mala tuh satu server banget ya, apalagi kalau soal ginian, tiba-tiba kepikiran kalau ntar mereka beneran jadi besan. Kira-kira Bunda sama Om Saga pusing nggak ya?
Haha. Random banget sih isi otak gue.
"Mikirin apaan lo?" celetuk Mala tiba-tiba sambil menyodorkan potongan buah ke dalam mulut gue begitu saja, "kesindir, ya?"
Dengan mulut penuh gue mengangguk untuk mengiyakan, yang langsung direspon Mala dengan tertawa. Setelah buah gue tertelan baru lah gue membuka suara.
"Jadi gimana? Ada yang lo curigai nggak? Lo nggak serius kan curiga sama Karin?"
Mala menggeleng. "Enggak, yang itu gue bercanda. Hubungan gue sama Karin bagus soalnya, gue nggak ngerasa ada yang perlu gue curigai dari dia."
Gue mengangguk paham sekaligus bernapas lega. Setidaknya bukan gara-gara gue.
"Terus kalau yang lain?"
"Fans lo?"
Hening selama beberapa saat. Sebelah alis gue terangkat tinggi. Seriusan ini si Mala kenapa sih?
"Yang selebgram bokap gue, njir, bukan gue. Gue nggak punya fans."
"Anti fans lo mungkin? Mantan fans yang terlanjur sakit hati semisal?"
Makin ngaco ini si Mala. Nggak beres. Gue rasa kepalanya perlu dicek ulang.
"Ini gue rasa kepala lo perlu dicek ulang deh, ngaco banget perasaan dari tadi."
"Ini gue serius, anjir, lo aja yang belum tahu. Asal lo tahu ya, Gha, di RS fans lo itu buanyak banget, pasien sama wali pasien nggak usah gue itung karena dari staff aja, setengah dari penghuni gedung RS itu pengabdi lo semua."
Bukan bermaksud kepedean apalagi sombong, gue akui gue emang agak sedikit populer sih di kalangan staff dan pasien. Tapi tetap saja apa yang diucapkan Mala barusan terlalu berlebihan. Karena percayalah, masih banyakan staf rumah sakit entah itu dari kalangan medis maupun non medis yang tidak menyukai gue. Apalagi mengingat status gue sebagai putra bungsunya Randu Kalandra. Beban banget, bro!
"Apaan sih lo, lebay!"
"Seriusan, anjir, nih tiap departemen di RS tuh ada grup yang ngebahas lo tiap hari. Percaya deh sama gue, gue bahkan sering banget tiba-tiba dimasukin grup nggak jelas itu, ditanyain ini-itu, suka pusing sendiri gue kadang. Banyak banget, anjir," keluh Mala terlihat serius.
Kening gue spontan mengkerut heran. Masa sih sampai sebegitunya?
"Apalagi pas lo baru putus dari Karin kemarin, parah banget, anjir, gue sampe ribut mulu sama Danu waktu itu gegara hape gue berisik banget ditanyain mulu tentang lo."
Mala menoleh ke arah gue, kali ini sebelah alisnya ikut terangkat. Ia ikut bertanya balik, "Kenapa? Lo mau sama salah satu di antara mereka?"
"Ya, bukan gitu, La, seenggaknya kan kalau lo kasih tahu gue, gue bisa bilangin ke mereka biar nggak gangguin lo."
"Dan lo pikir mereka bakalan nurut gitu?"
Gue berpikir sebentar. "Bukannya harusnya iya?"
Di luar dugaan, Mala justru malah mengangguk dan mengiyakan. "Ya, iya, harusnya sih iya begitu. Cuma kenyataannya mereka nggak bakal begitu."
"Jadi menurut lo ini beneran ulah mereka?"
"Ya enggak lah, ya kali, nggak mungkin juga lah, Gha. Kan gitu-gitu mereka butuh bantuan gue."
"Terus? Menurut lo siapa?" tanya gue mulai kehilangan kesabaran.
"Ya, enggak tahu juga, Gha. Lagian lo yakin banget ya kalau semua ini disengaja?"
Gue menghela napas panjang. "Gue belum bisa memastikan, tapi emang dari semenjak insiden ban mobil lo bocor itu, gue ngerasa ini disengaja, La. Abis kejadian itu lo ngerasa ada yang aneh nggak sih? Kayak lo dapet teror tiba-tiba semisal?"
Mala menggeleng sebagai tanda jawaban. Tangannya sibuk membuka bungkus snack yang gue belikan tadi. Selama beberapa detik gadis itu sibuk mengunyah sampai akhirnya ia tiba-tiba berseru heboh.
"Gue inget sesuatu, Gha!"
"Apaan?"
"Selama sebulan terakhir gue lumayan sering dapet paket gitu cuma nggak ada nama pengirimnya."
"Paket apaan? Isinya apa?"
"Makanan."
"Hah?" Gue melongo dengan wajah kebingungan.
Mala langsung mengangguk cepat. "Iya, makanan, Gha. Cuma nggak ada nama pengirimnya."
"Terus lo makan?" Gue memandangnya malas.
__ADS_1
"Ya iya lah, orang buat gue. Jelas-jelas to Nirmala Afsheen Gavaputri. Bahkan kadang gelar gue dimasukin juga, njir."
"Lo tuh, ya, bener-bener! Lo nggak khawatir gitu kalau di dalemnya ada racunnya atau apa? Hah?" omel gue kesal.
Dengan wajah polosnya Mala menggeleng. "Gue mah positif thinking, Gha, nggak kayak lo dikit-dikit parnoan."
"Tapi, La--"
Mala berdecak sambil menyuapi gue dengan snack secara tiba-tiba. "Cerewet lo!"
Gue melototi Mala dengan kesal.
"Btw, gue jadi inget sesuatu lagi deh, Gha."
"Apa?" Gue langsung menegakkan tubuh dan memandang Mala serius.
"Ada kiriman bakpia juga, Gha, gue masih simpen di apartemen," bibir Mala manyun, "gue jadi pengen makan itu deh. Ambilin dong, Gha, ya, ya, kan lo baik." Sambil menunjukkan puppy eyesnya, Mala merangkul lengan gue. Hal ini membuat gue risih.
Gue langsung menjauhkan diri gue dari rangkulannya. "Geli, La! Sumpah lo itu kalau mode begini serem, anjir, mending lo mode bawel atau marah-marah deh. Sumpah!"
"Mau bakpia," rengek Mala seperti anak kecil.
Gue mengeram tertahan. "Iya, ntar gue beliin."
"Iiih, kok dibeliin? Kan tinggal ambil di apartemen gue, Gha."
Gue menggeleng tanda tidak setuju. "Enggak. Pokoknya lo nggak boleh makan itu."
"Dih, posesif." Mala langsung mencibir.
"Antisipasi, La, bukan posesif." Gue langsung berdiri, "ya udah, gue ke apartemen lo dulu. Gue mau coba minta rekaman cctv ke pihak keamanan."
"Anjir, ini udah malem, besok aja lah."
"Besok jadwal operasi gue full, nggak bakal sempet."
"Ya kalau udah tahu besok jadwal operasi lo penuh, harusnya lo langsung pulang dan istirahat dong, Gha."
"Enggak bisa, La, gue memastikan semuanya dulu baru gue bisa pulang dan istirahat. Gue cabut duluan, ya. Lo langsung tidur abis ini, jangan begadang."
Mala mendengus. "Harusnya gue yang bilang begitu."
"Mustahil. Karena gue pasti bakal begadang."
Ekspresi Mala langsung berubah cemberut. "Gue nggak suka banget deh sifat lo yang begini," gumamnya lirih.
Langkah kaki gue spontan terhenti. Gue kemudian berbalik dan menemukan wajah sedih Mala. Gue langsung menghampirinya.
"Gue nggak bakal kenapa-kenapa, La, meski malam ini gue begadang dan besok full operasi. Percaya sama gue, oke?"
"Tapi tetep aja gue nggak suka." Bibir Mala masih manyun, sebelah tangannya menarik ujung kemeja gue agar lebih dekat dengannya, "gue khawatir ntar lo kenapa-kenapa, Gha. Lo udah nggak muda lagi, anjir, lo udah tua. Pulang aja ya abis ini. Ya, ya, ya? Duit gue banyak, ntar gue nyari orang suruhan buat memastiin semuanya, tapi lo pulang ya abis ini. Gue nggak mau lo keseringan begadang, anjir, udah cukup lo keseringan begadang buat operasi. Gue masih pengen nikah tahu."
"La, jangan begini lah, serius, lo bikin merinding kalau lagi di mode begini."
Dengan wajah cemberut karena menahan kesal, Mala langsung mendorong tubuh. "Emang guguk ya, lo, gue begini biar lo nurut, anjir. Malah dibilang bikin merinding, sialan! Lo pikir gue setan?"
Gue mengangguk dan mengiyakan. "Kadang kelakuan kalian mirip sih." Gue langsung terbahak saat Mala melotot tajam, tangan gue mengelus pipinya, "bercanda. Udah dulu ya, gue nggak mau kemaleman. Lo langsung istirahat, ya, biar cepet sembuh. Gue nggak suka lihat lo sakit begini."
Mala mengangguk. "Jangan melakukan hal yang berbahaya, ingat posisi lo, lo dokter. Tim medis, tim penyelamat jadi lo nggak boleh kenapa-kenapa, gue nggak mau ngerasa bersalah."
"Anjir, lebay banget sih lo, La, kayak gue mau ngapain aja. Gue cuma mau ke apartemen lo buat lihat rekaman cctv doang."
"Mending lo diem deh, atau minimal iya in doang."
"Ya udah, iya."
"Hati-hati."
Gue langsung terbahak. "Iya, oke, gue bakal hati-hati."
"Jangan sampai nggak tidur lo, awas aja lo kalau sampai nggak tidur. Gue buang lensa kamera lo," ancam Mala terdengar tidak main-main.
Waduh, bahaya tuh. Masalahnya lensa kamera gue nggak ada yang murah.
Gue hanya mengangguk dan mengiyakan. Tubuh gue mendekat ke arahnya lalu mencium keningnya. Sejujurnya gue nggak tahu dapat dorongan dari mana sampai melakukan hal tersebut, karena semua terjadi begitu saja.
"Aku pergi, ya," pamit gue kemudian.
Di luar dugaan Mala langsung mencibir seraya mendorong tubuh gue. "Najis lo! Sana pergi!" usirnya kemudian. Nada suaranya terdengar ketus tapi ada semburat merah pada kedua pipi itu, menandakan kalau Mala saat ini sedang salting.
Haha, anjir, kok gemes? Gue selama ini ke mana aja sampai baru sadar sisi Mala yang ini?
__ADS_1
Tbc,