Married With My Besti

Married With My Besti
Obrolan Random


__ADS_3

*


*


*


Simalakama : Gha


Simalakama : Agha


Simalakama : Tolong beliin gue pembalut yang biasa dong, sama yang night juga. Kirantinya jangan lupa. Sama martabak deh. Yang coklat keju ya🙃


Simalakama : Tengkiyu ganteenggg😘


Gue hanya mampu menghela napas kasar disertai umpatan samar, setelah membaca pesan yang Mala kirimkan tanpa berniat membalasnya. Mala memang paling juara sih kalau masalah merepotkan orang. Eh, ralat, merepotkan gue, karena ini perempuan satu kurang suka ngerepotin orang tapi hobi banget ngerepotin gue. Kesal, tentu saja, tapi mau marah juga nggak bisa.


Akhirnya, yang gue lakukan hanya menyimpan ponsel gue di dashboard mobil dan langsung melajukan mobil gue menuju mini market. Setelah selesai membeli semua pesanan Mala gue kemudian memilih untuk segera bergegas menuju apartemen Mala.


Perempuan itu langsung menyambut kedatangan gue dengan senyum sumringahnya. Dan gue pun hanya mampu membalas dengan dengusan samar.


"Tengkiyu, ganteng, udah dibawain semua pesenan gue. Lo emang yang terbaik," ucap Mala sambil mengacungkan jempolnya, "ini lo mau masuk dulu apa langsung pulang?"


Tanpa perlu menjawab pertanyaannya, gue memilih langsung masuk ke dalam. "Baju ganti gue masih ada nggak di sini?" tanya gue kemudian.


"Ada. Banyak. Hampir setengah lemari gue isinya tuh baju lo tahu. Padahal lo nggak pernah nginep di sini." Mala berdecak kesal, "lo bawa deh beberapa biar nggak menuh-menuhin lemari gue."


Gue mengangguk paham. Memang sih, gue lumayan sering kemari, entah hanya untuk sekedar numpang mandi dan atau minta makan, meski hasil delivery.


"Biarin lah, males bawa gue. Lagian lo kan suka pake juga, ngapain protes sih?"


"Masalahnya gue jadi mikir-mikir mau beli baju lagi karena lemari gue udah hampir penuh sama baju lo."


"Ya, kan tinggal beli lemari lagi kalau gitu," balas gue enteng, "udah lah, gue mau numpang mandi."


"Enak aja. Ntar dulu, gue ganti dulu elah. Kamar mandi gue cuma satu, njir," tolak Mala sambil mencekal lengan gue. Perempuan itu kemudian masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan gue memilih duduk di sofa sambil mengeluarkan dompet, ponsel dari saku, dan melepaskan jam tangan gue.


Tidak perlu menunggu terlalu lama, akhirnya Mala keluar dengan piyamanya yang tadi dan duduk di sebelah gue. "Lo beli di mana ini tadi?" tanyanya sambil membongkar isi plastik.


"Mini market deket RS."


"Njir, kenapa lo beli di sana?" protes Mala sambil melotot kesal ke arah gue, "di sana itu mahal tahu, Gha." Tangannya dengan entengnya langsung memukul pundak gue.


"Yang penting enak. Lagian sekalian tahu, gue males kalau harus mampir-mampir cuma demi memenuhi semua pesenan lo. Enak aja, masih untung gue beliin."


Dengan wajah bak tak punya dosa, Mala menyengir. "Hehe, iya, juga sih, makasih ya, sayang. Maaf ngerepotin," ucapnya sambil tersenyum malu-malu.


Gue seketika langsung bergidik ngeri. Sambil geleng-geleng kepala tidak habis pikir, gue langsung berdiri, mengambil bantal sofa dan mendorong wajah Mala menggunakan bantal tersebut.


"Najis!" ketus gue langsung bergegas menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Handuknya pake punya lo sendiri, bro, ada di laci biasa!"


Enggak, enggak, gue nggak pernah beli handuk atau membawa handuk gue sendiri dan gue taroh di sini, ya. Handuk itu punya Mala, yang beli Mala juga, tapi yang pake gue. Tapi menurutnya itu adalah handuk gue.


"Anjir, itu ntar lo diketawain bokap lo nggak sih, Gha? Masa pulang kerja pake celana pendek gitu? Dikira abis kalah taruhan nggak sih ntar? Gegara anaknya berangkat kerja pake stelan mahal, masa pulang-pulang cuma pake kaos sama celana pendek," sambut Mala saat melihat gue selesai berganti pakaian, "ganti celana yang panjang kek, Gha, ada kok di lemari. Entah udah berapa lama nggak lo ambil-ambil."


"Nggak bakal dikira kalah taruhan kali, La."


"Terus apa?"


"Paling dikira habis ngapa-ngapain anak orang aja," balas gue ngawur.


"Bener juga lo, udah sana lo pake kemeja kalau gitu. Gue males ya, ntar bokap lo mikir yang macem-macem tentang lo. Padahal lo kan cemen, nggak mungkin berani gituan." Mala langsung berdecak sebal kala melihat rambut basah gue, "anjir, mana lo pake acara keramas segala lagi. Makin traveling ntar otak bokap lo."


Gue terkekeh seraya mengeringkan rambut menggunakan handuk. "Tenang aja, bokap gue santai kok, yang penting main aman aja."


"Keringin pake hair dryer gue dulu sana!"


Gue menggeleng sebagai tanda penolakan. "Biarin aja, ntar juga kering sendiri," ujar gue sambil meraih botol kiranti yang gue beli tadi dan membukanya, lalu menyodorkan pada Mala, "buruan diminum deh, gue males dengerin omelan lo."


Meski dengan wajah cemberut, Mala tetap menurut dan menghabiskan kiranti yang gue sodorkan.


"Nggak langsung pulang lo?" tanya Mala setelah membuang botol kiranti yang sudah kosong.


"Nanti, tunggu biar rambut gue agak kering. Capek banget gue hari ini, anjir."


"Penuh ya jadwal operasi lo hari ini?"


"Kenapa?"


"Abis nginep di rumah Kak Ale."


Spontan Mala tertawa di sela kunyahannya. "Pantesan. Lo itu aneh banget sih, perasaan kalau di rs lo tuh ***** banget deh, kenapa giliran tidur di rumah orang bisa-bisanya susah tidur?"


Gue hanya mampu mengangkat kedua bahu sebagai tanda jawaban tidak tahu. "Oh ya, La, soal tanah yang gue kasih tahu lo waktu itu, menurut lo gue ambil apa jangan?"


"Ya, gimana gue mau kasih komentar kalau lo aja nggak spill harga?"


Gue langsung berdecak. "Nggak usah tanya harga, itu urusan gue. Lo tinggal jawab aja menurut lo enakan beli tanah atau beli rumah langsung?"


Mala tidak langsung membalas, perempuan itu terlihat berpikir sejenak sambil mencomot sepotong martabak. "Ya, kalau ngomongin enakan beli tanah atau rumah, ya enakan beli rumah lah, tinggal isi perabot, beres. Tapi kalau beli tanah ribet sih ngurusinnya karena bener-bener harus bangun dari nol, tapi enak karena bisa bikin sesuai yang kita mau."


Gue mengangguk paham. "Jadi menurut lo beli rumah aja?"


"Kalau gue, iya, cuma berhubung lo orangnya agak rewel masalah detail, saran gue mending beli tanah sesuai rencana lo sih. Budget-nya mungkin lebih gede, tapi lo bisa lebih puas."


Gue mengangguk paham. "Berarti beli rumah aja ya? Oke deh, ntar gue minta bantuan kenalan Ohim buat nyariin perumahan yang deket RS."


"Lah, kenapa jadi nurut gue?"

__ADS_1


Mala menatap gue dengan kerutan di dahinya heran. Sedangkan gue masih tetap pada ekspresi santai.


"Menghindari perdebatan di masa yang akan datang. Ntar kalau ternyata orang yang nikahin lo itu gue, biar tinggal isi perabotan. Ntar lo yang milih rumahnya deh sekalian."


"Lah, iya, kalau orang yang bakal lo nikahin itu gue. Kalau orang lain gimana?"


"Ya, nggak gimana-gimana, kalau semisal dia nggak masalah tinggal di sana ya, gue bakal tinggal di sana. Tapi kalau dia-nya ntar keberatan ya tinggal dijual terus beli yang baru." Gue kemudian menoleh ke arah Mala, "lagian emang ada kemungkinan ya, kalau orang yang bakal gue nikahin bukan lo?"


"Jelas ada lah, kan kita cuma temen, Gha. Lo sendiri yang bilang, kalau lo lupa."


Entah ini hanya perasaan gue atau gimana, tapi ekspresi Mala terlihat seperti sedang menahan kesal. Melihat itu, gue tidak bisa menahan kerutan di dahi.


"Emang ada larangan temen nikahin temennya? Enggak kan?"


"Ya, emang nggak ada. Cuma masalahnya ini maksud lo apa? Kenapa random banget tiba-tiba bahas nikah?"


"Ya, enggak random juga lah. Seusia kita emang bukannya hal yang wajar, ya, bahas nikah?"


Di luar dugaan, Mala tiba-tiba tertawa. Bukan tawa renyah, melainkan tawa sinis.


"Ya, emang wajar kalau lo bahasnya sama pacar lo, tapi ini masalahnya lo lagi bahas soal nikah sama gue, Gha. Temen lo sendiri."


Gue semakin tidak paham dengan sikap Mala yang seolah begitu mempermasalahkan pembahasan ini.


"Ya, terus masalahnya di mana?"


Kali ini Mala tidak bersuara, bibirnya terlihat terbuka dan tertutup seolah siap membalas kalimat gue. Namun, hampir lima menit berlalu bibir tipis yang sedikit berminyak itu tidak kunjung mengeluarkan suara. Gue hanya mampu menaikkan alis, menunggu dengan sabar sampai perempuan yang menatap gue intens ini segera mengeluarkan suara.


Lima menit kembali berlalu, bukannya segera membalas Mala malah terlihat frustasi dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Decakan samar terdengar setelahnya, sebelum akhirnya ia berbalik dan menatap gue kembali.


"Gha, sebelum kita bahas perihal ini, gue mau nanya sesuatu sama lo. Tapi gue mau lo jawab dengan jujur sejujur-jujurnya. Paham?"


Tanpa perlu repot-repot mengeluarkan suara, gue langsung mengangguk cepat. Gue tipekal pria yang agak susah berbohong.


"Selama kita temenan, lo pernah nggak sih melihat gue sebagai perempuan?"


"Hah? Maksudnya? Lo kan emang perempuan, La, sebar-barnya lo sekalipun, gue tetep nganggep lo perempuan lah, lo kalau kasih pertanyaan jangan aneh-aneh bisa nggak sih?"


Mala langsung berdecak. "Maksud gue bukan gitu, Gha." Kedua matanya tiba-tiba menatap gue intens, "lo pernah nggak sih nganggep gue lebih dari temen?"


Waduh, pertanyaan sulit nih? Pernah nggak ya? Gue nggak inget lagi, anjir.


"Kenapa diem?"


Gue menggeleng. "Enggak tahu,"  balas gue jujur.


Mala cemberut sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kalau nggak tahu kenapa seolah-olah lo beneran mau nikahin gue?"


"Ya, karena menurut gue kalau orangnya itu lo, maka gue rasa semua akan baik-baik aja."

__ADS_1


Mala terlihat seperti orang yang kehilangan kata-kata. Tanpa berniat membalas kalimat gue, perempuan itu langsung berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tamu. Sedangkan gue memilih untuk merebahkan tubuh gue di sofa.


Tbc,


__ADS_2