Married With My Besti

Married With My Besti
Berkabung


__ADS_3

*


*


*


"Kita pulang ya, Gha," ajak Mala yang langsung direspon Agha dengan gelengan kepala.


"Kita ke rumah sakit," balas Agha.


Mala mengangguk paham. Ia tidak protes sama sekali lalu membantu sang suami berdiri dan berpamitan dengan rekan kerja sang suami. Baru setelahnya mereka bergegas menuju rumah sakit.


"Jadi aku beneran kehilangan Bunda ya, La," ucap Agha tiba-tiba.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil, menuju rumah sakit. Tadinya suasana mobil nampak hening, Agha nampak sibuk dengan pikirannya sedang Mala fokus memperhatikan jalanan.


Sambil menghela napas, Mala kemudian menggeleng. "Enggak, kamu enggak kehilangan Bunda, Gha, kita nggak kehilangan. Bunda tetap ada di dalam hati kita meski beliau udah nggak berada di tengah-tengah kita nantinya. Kamu harus ingat, Gha, konsep semua orang pada akhirnya akan meninggal. Semua hanya tergantung waktu."


Agha tidak membalas atau sekedar meresponnya. Yang dilakukan pria itu hanya menyandarkan kepalanya pada kaca mobil. Pikirannya kembali melayang, Mala yang melihat itu hanya mampu menghela napas panjang. Ia mencoba untuk memahami sang suami.


Tak butuh waktu lama. Keduanya akhirnya sampai di rumah sakit tempat sang ibunda dirawat. Bukannya langsung turun, Agha malah menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan kesedihannya. Mala yang melihatnya semakin tidak tega melihatnya. Lama kelaman ia tidak kuat juga, kini ia ikut menangis sambil memeluk sang suami.


"Aku tahu ini berat, Gha, tapi, please jangan begini. Kasian Bunda pasti sedih kalau melihat kamu begini. Harusnya kamu nggak boleh begini, karena Bunda udah nggak ngerasain sakit lagi. Kita harus kuat, setidaknya demi Ayah. Nanti Ayah pasti makin sedih kalau liat kamu begini."


Agha mengangguk setuju. Apa yang dikatakan sang istri ada benarnya, ia tidak boleh begini, setidaknya untuk sang Ayah. Mau bagaimana pun juga yang paling terpukul saat ini adalah sang ayah. Mencoba menguatkan diri, ia kemudian mengajak Mala untuk segera menemui keluarganya. Sebagai seorang pria, ia tidak boleh lemah. Ia harus kuat. Setidaknya ia harus membantu sang kakak mengurus jenazah sang Bunda, ia tidak bisa membiarkan sang kakak yang notabenenya seorang perempuan harus mengurus ini-itu sendirian.


Ale cukup terkejut dengan kedatangan sang adik. Cepat-cepat ia menghampiri sang adik dan memeluknya sambil menepuk pundak sang adik, mencoba untuk menguatkan sang adik.


"Enggak papa, Gha, sekarang Bunda nggak perlu ngerasain sakit lagi. Kita ikhlasin ya, kamu yang kuat!"


Meski sambil menangis, Agha mengangguk patuh. "Ayah gimana, Kak?"


Ale menggeleng dengan ekspresi sedihnya. Ia kemudian mengajak sang adik masuk ke dalam ruangan agar sang adik melihat kondisi sang ayah dengan mata dann kepalanya sendiri.

__ADS_1


Hati Agha seolah teriris sat melihat sang Ayah yang sedang memeluk jasad sang istri dengan erat. Ia memalingkan wajah karena tidak tega. Di sampingnya Mala secara sigap mengusap punggungnya, berharap sedikit membantu menenangkan sang suami.


"Seenggaknya Ayah udah nggak nangis histeris kayak tadi, Gha."


"Pasti berat buat Ayah, Kak. Ayah keliatan terpukul banget."


Ale mengangguk dan membenarkan. "Bahkan tadi beliau sempet lepas kendali. Kita tadi sempet kewalahan ngadepinnya."


Agha merasa bersalah. "Sorry ya, Kak, tadi gue nggak bisa langsung kesini begitu lo kasih kabar," sesalnya dengan ekspresi wajah bersalahnya. Ia merasa tidak enak sekaligus kasian melihat sang kakak menghadapi semuanya sendirian.


Ale menepuk pundak sang adik pelan. "Enggak papa, lo kan juga lagi di kondisi yang tidak memungkinkan." ia kemudian berjalan mendekat ke arah sang ayah, "Yah, Bunda kita ajak pulang, yuk!"


"Pulang ke mana?"


"Ke rumah kita."


Randu tidak mengeluarkan suara setelahnya, pria paruh baya itu hanya mengangguk dan mengiyakan.


*


*


*


"Sumpah, Sa, aku kaget banget deh pas denger Tante Ayu malah nggak ada. Padahal minggu lalu pas kita nggak sengaja ketemu lebih segeran ya?"


"Sama aku juga, Bas, tadi aku dapet kabar disuruh jagain Kai, katanya si Agha lagi sakit gitu sejak semalem, terus tadi sempet pingsan gitu. Eh, ternyata gegara bunda malah udah pergi duluan aja. Agha pasti shock berat."


Abbas mengangguk dan mengiyakan. Apalagi ia pernah kehilangan salah satu orang tuanya yang sangat ia sayangi. Jadi ia sangat paham.


Saat keduanya sudah sampai di rumah duka. Suasana rumah tampak sudah ramai meski jenazah belum sampai di sana. Kai yang berada di gendongan Abbas nampak kebingungan, ia bahkan tiba-tiba menangis tak lama setelahnya.


"Kayaknya Kai takut deh, Bas, kamu bantu-bantu aja biar Kai aku tenangin dulu!"

__ADS_1


Abbas mengangguk paham lalu menyerahkan Kai pada sang istri. Baru ia bergabung dengan sanak saudara Agha yang lain untuk bantu-bantu. Alisa sendiri langsung mengajak Kai ke lantai atas, karena mungkin pikirnya di sana tidak terlalu ramai jadi Kai bisa tidur setelahnya. Dan benar sesuai harapan, Kai tertidur tak lama setelahnya. Ia kemudian memutuskan untuk turun ke bawah, dan tenyata jenazah sudah sampai.


Bisa ia lihat wajah sayu Agha yang mencoba menguatkan diri. Berbeda dengan Ale, yang terlihat jauh lebih tegar. Kondisi Agha hampir mirip seperti Randu, bedanya kalau sang Ayah terlihat begitu sangat terpukul dan seolah tidak mau jauh.


Alisa kemudian menghampiri Agha dan Mala. Untuk mengucapkan bela sungkawanya.


"Yang sabar ya, Gha, bantu doa biar Bunda dapet tempat terbaik di sisinya. Udah nggak usaha nangis, nanti Bunda lo sedih kalau lo begini!"


Alisa menyuruh Agha agar tidak menangis, padahal dirinya sendiri ikut menangis.


"Iya, Sa, thanks ya udah dateng. Bantu doa juga ya, gue minta maaf mewakili almarhumah kalau semisal beliau pernah ada salah. Tolong dimaafin ya!"


Alisa menggeleng. "Enggak, Bunda nggak pernah ada salah kok, Bunda baik banget soalnya. Lo buruan ganti baju dulu deh, Gha, nggak enak sama tamu yang lain masa lo masih pake seragam rumah sakit."


Seragam rumah sakit yang dimaksud Alisa di sini adalah scrub suitnya. Agha bahkan tidak menyadari kalau masih memakainya. Pria itu mengangguk dan langsung bergegas menuju lantai atas untuk berganti pakaian.


Tanpa mengeluarkan suara atau kalimat apapun, Alisa langsung memeluk Mala. Perempuan itu kemudian semakin terisak tak lama setelahnya.


"Yang sabar dan kuat ya, La!"


"Thanks, Sa, udah ikut bantu-bantu." Mala kemudian mengurai pelukannya dan mengusap pipinya yang basah, "Kai mana?"


"Ada di kamar, tidur. Tadi begitu sampai sini dia agak rewel makanya gue ajak ke atas." Alisa kemudian memerhatikan raut wajah Mala, "lo ikutan sakit juga apa gimana, La? Kok muka lo pucet?"


"Kurang tidur gue, semalam begadang, nggak bisa tidur gegara Agha muntah-muntah."


"Salah makan atau gimana?"


"Enggak tahu, iya kayaknya, padahal pas dicek, hasil darahnya semua normal. Enggak ada infeksi pencernaan atau apapun padahal. Tapi nggak tahu juga, semua yang dimakan kemarin tuh dimuntahin semua, terus paginya ganti diare. Sampai bener-bener lemes, biasa kan dia kalau sakit rewel dikit-dikit ngerengek kayak bocah. Ini sampai nggak kuat buat ngerengek saking lemesnya."


Alisa mengerutkan dahinya heran. Enggak ada masalah sama pencernaan tapi muntah-muntah sama diare separah itu?


"Gue tinggal bentar buat cek Kai, ya, Sa," pamit Mala.

__ADS_1


Meski terlihat sedikit kebingungan, Alisa pada akhirnya hanya mampu mengangguk dan mempersilahkan. Baru setelahnya ia bergegas untuk bantu-bantu mengurus segala keperluan.


Tbc,


__ADS_2