
*
*
*
Setelah memantapkan diri, Abbas kemudian memutuskan untuk pulang ke rumahnya untuk menemui sang Ibu. Apa yang Ohim katakan tadi ada benarnya, memang ia tidak akan tahu jawaban pasti kalau tidak mencoba untuk bertanya langsung.
"Tumben inget pulang siang bolong begini?" sindir sang ibu begitu menyambut kedatangan putra sulungnya, "biasanya juga kalau nggak dibujuk-bujuk nggak pernah yang namanya inget pulang. Ada apa? Mau minta restu buat nikahin anak orang?"
Abbas langsung berseru takjub dalam hati. Insting seorang ibu memang tidak pernah salah ya, meski terkadang hanya asal bicara tapi tetap saja suka bener.
Menyadari ekspresi wajah sang putra, Hapsari terkekeh samar. "Jadi anak gadis siapa nih yang akhirnya meluluhkan hati kamu? Ibu penasaran kayak apa orangnya? Kenapa nggak sekalian langsung diajak ke sini sih?"
"Pelan-pelan lah, Bu, step by step." Abbas kemudian celingukan ke penjuru ruangan yang terasa sepi, "pada kemana, Bu? Kok sepi amat?"
"Adikmu sama iparmu kalau jam segini mana pernah di rumah pasti keluar lah, terus kalau ponakanmu di kamar lagi tidur siang."
Mendengar penjelasan sang ibu, Abbas menghela napas berat. Perasaan bersalah hinggap pada dirinya. "Mereka ngerepotin ibu banget ya?" tanyanya dengan nada perasaan bersalah.
"Ngomong apa sih kamu ini, Bas? Ibu nggak ngerasa direpotin sama sekali, justru ibu ngerasa seneng karena nggak kesepian lagi. Ibu juga siap kok jaga anakmu, yang penting bagi ibu, ibu masih sehat saja sudah cukup buat jaga cucu-cucu ibu." Hapsari kemudian teringat sesuatu, "denger-denger temenmu yang dokter itu istrinya sudah hamil lagi kan? Siapa namanya? Ohim? Emang beda ya kalau orang kesehatan sama orang biasa kayak kita."
Abbas mendengus. "Bedanya apa? Sama aja lah, Bu, sama-sama manusia. Lagian yang dokter itu bukan Ohim, tapi Agha."
"Nah, iya, maksud ibu ya itu, Bas. Hebat banget loh temenmu yang itu, nikahnya cepet nggak pake drama langsung sat set sat set, nggak kayak kamu. Lelet banget kayak keong, mumpung ibu masih sehat dan kuat ini loh, Bas. Ayo, buruan langsung sat set, ibu kan juga pengen gendong anakmu."
Abbas berdecak samar lalu menghempaskan tubuhnya pada sofa yang ada di ruang tamu. "Ini anaknya pulang nggak ada rencana mau ditawarin makan atau diambilin minum?"
"Ibu nggak masak, kalau soal minum ya tinggal ambil di dapur sana! Udah jarang pulang masih mau nyuruh ibunya. Bawa mantu dulu buat ibu, nanti ibu ambilin."
"Kenapa nggak masak?"
"Ibu nggak sempet karena sekarang harus ngurus bayi ini loh, Bas, belum beberes rumah juga, mungkin karena sudah tua jadi tenaga ibu sudah beda, beberes sama jagain bayi doang udah gampang capek. Padahal ponakanmu ya belum bisa apa-apa."
Abbas menatap sang ibu dengan tatapan datarnya. "Itu ibu lagi ngode biar dicariin ART ya?"
__ADS_1
Hapsari tertawa malu-malu lalu duduk di sebelah sang putra. "Ya sebenernya enggak ngekode, Bas, cuma kalau kamu mau cariin ART buat ibu, ya ibu nggak nolak. Enak kali ya punya ART, jadi ada yang bantuin ngerjain ini-itu, ibu jadi bisa fokus ngurus ponakanmu doang. Terus ibu juga jadinya nggak kecapekan."
"Ya kan tinggal minta sama Farhan lah."
"Kamu ini nggak kasian sama adikmu? Dia kerjanya masih serabutan begitu kok, belum punya kerjaan tetap kayak kamu. Terus dia aja juga belum punya rumah."
"Lah, ibu lupa, Abbas juga belum punya rumah loh."
"Tapi kan kamu sudah ada apartemen bagus, punya perusahaan sendiri juga meski belum gede-gede banget. Lah, adikmu? Kuliah saja belum kelar, tapi sekarang sudah harus kerja banting tulang buat menghidupi anak istrinya, masa iya ibu tega. Ibu saja suka kasian liat Farhan. Dia pasti mengalami kesulitan akhir-akhir."
Sekali lagi Abbas mendengus. Dalam hati ia kemudian menggerutu. Setidaknya Farhan baru mengalami kesulitan akhir-akhir ini, lalu dirinya? Selama ini ia selalu melewati kesulitan sendirian tapi tetap harus terlihat baik-baik saja.
"Mental adikmu kan nggak kayak kamu, Bas."
"Ya itu karena ibu yang selalu manjain dia makanya mentalnya jadi nggak kuat."
"Kok kamu nyalahin ibu?" sahut Hapsari tidak terima, "kalau memang cuma mau nyalahin ibu, mending pulang saja kamu. Bikin bete ibu saja."
Abbas menghela napas panjang. "Ibu ada kriteria buat calon menantu nggak?"
"Ya tentu ada lah, Bas, masa iya nggak ada. Ibu nggak mau kamu nikah sama perempuan sembarangan, bibit, bebet, bobotnya harus tetap dilihat, bagus apa enggak. Pernikahan itu sekali seumur hidup masa iya mau asal-asalan."
"Yang pertama harus perempuan."
Abbas seketika langsung menatap datar sang ibunda. "Bu, yang benar saja dong."
"Loh, ini penting loh, Bas, jaman sekarang kan banyak yang nggak cepet nikah karena permasalahan ini, dia nggak suka perempuan makanya lama nikahnya. Wajar kan kalau ibu khawatir? Pokoknya calon mantu ibu harus banget perempuan, ibu nggak peduli dengan yang lainnya."
Abbas mengangguk seadanya. "Iya, calon mantu ibu perempuan kok, alhamdulillah, Abbas nggak aneh-aneh kebetulan."
"Ya bagus itu. Memang harusnya begitu."
"Terus apa lagi?"
"Harus berbudi pekerti yang baik, sopan, anggun, tahu tata krama, dan bisa mengurus kamu dengan baik. Cuma itu kok, ibu nggak akan neko-neko."
__ADS_1
"Kalau seandainya dia pernah menikah?"
Seketika Hapsari langsung tertawa. "Ya jangan terus sama janda juga dong, Bas, meski kebanyakan yang seumuran kamu memang sudah pada menikah, kan yang muda juga banyak. Kamu kan cowok, laki-laki, ya sewajarnya sama yang lebih muda, muda lebih jauh nggak papa, asal nggak di bawah umur. Itu bukannya si Agha juga begitu? Dia nikah sama bocah kan? Denger-denger istrinya itu masih kuliah."
"Kok Agha sih, Bu? Agha itu yang profesinya dokter itu loh, yang nikahnya sama temen sendiri juga, masa iya, masih kuliah, orang dua-duanya udah lulus spesialis juga."
"Ya pokoknya yang mukanya China itu lah, ibu lupa siapa namanya."
"Yang China itu namanya Ohim, si Ibrahim, Bu."
"Kok aneh sih? China kok namanya Ibrahim?"
"Ya emang kenapa? Nggak boleh?" Agha kembali menatap sang ibu dengan perasaan ragu-ragu, "ibu serius nggak mau punya menantu yang pernah menikah."
Ekspresi Hapsari berubah tegang. "Bas, calonmu janda?"
"Enggak boleh, Bu?"
Di luar dugaan Abbas, Hapsari tiba-tiba menangis. "Astaga, Bas, dari sekian banyak pilihan, kenapa harus janda? Kan yang gadis masih banyak, Bas."
"Di Jakarta nyari yang masih gadis susah, Bu," komentar Abbas membuat Hapsari langsung memukulnya.
"Yang penting nggak bekas istri orang, Bas."
Abbas langsung berdiri dan menatap ibunya tidak setuju. "Loh, justru bekas istri orang lebih bagus, Bu, lebih jelas."
"Jadi kamu berniat serius nikah sama janda?" tanya Hapsari memastikan ulang.
Tanpa keraguan, Abbas langsung mengangguk cepat. "Iya, Abbas serius dengan pilihan Abbas, Bu. Meski ibu menentang, ibu akan tetep menikahi dia."
"Tanpa restu ibu?"
"Kalau memang ibu nggak mau kasih restu buat Abbas dan pilihan Abbas, ya terpaksa Abbas akan menikah tanpa restu ibu."
Hapsari diam tanpa merespon apapun.
__ADS_1
Abbas menghela napas lalu memilih untuk pamit pergi. "Abbas mau pamit, Bu, mungkin Ibu pergi waktu buat berpikir. Mungkin saat ini ibu masih terkejut. Kalau sudah lebih tenang, bisa kasih tahu Abbas."
Tbc,