
*
*
*
Setelah berupaya membujuk Kai dengan berbagai macam rayuan, kami gagal mengajak Kai pulang, Mala pun akhirnya pasrah dan mengajak gue pulang tanpa putra kami. Agak mengejutkan memang karena tidak biasanya Mala akan sepasrah ini membiarkan Kai tidur tidak dengan kami. Biasanya kalau Kai sedang keasikan main dan nggak mau pulang, maka kami yang akan mengalah untuk tidak jadi pulang. Tapi malam ini pengecualian.
Gue tentu saja tidak protes, lumayan kan jadi bisa berduaan sama istri, syukur-syukur dapat 'bonus'. Meski endingnya enggak dapet sih, begitu sampai rumah Mala langsung mandi, bebersih dan tidur setelahnya. Gue pun mau tidak mau harus ikut demikian. Selesai mandi dan beberes ikutan tidur juga. Tidak ada sesi pillow talk, pillow talk.
Akhir-akhir ini kami jarang melakukannya, secapek-capeknya kita, dulu kita tetap selalu berusaha meluangkan waktu untuk pillow talk meski setelah Kai lahir.
"Gha, bangun!"
Saat sedang asik-asik tidur, tetiba gue mendengar suara Mala memanggil, mengusik tidur nyenyak gue. Gue berdecak kesal sambil membenarkan selimut.
Gue paling sensi kalau masih tidur sebentar tapi udah dibangunin. Masih mending kalau gue harus begadang semalaman ketimbang tidur sebentar tapi langsung dibangunin.
"Agha, ayo bangun! Anterin aku ke RS," ucap Mala ngotot membangunkan gue.
Gue berdecak kesal saat mendengar kata rumah sakit. "Ck, dokter kampret mana sih yang minta kamu jadi dokter anestesinya? Kasih tahu aku, biar aku labrak besok. Dokter anestesi di RS kan nggak cuma kamu," gerutu gue kesal.
"Bukan karena emergency call, Gha."
"Terus mau ngapain?"
Hening. Tidak ada jawaban, gue sedikit membuka mata dan mendapati Mala tengah mengigit bibir bawahnya. "Kayaknya aku beneran hamil deh, Gha," ujarnya setelah diam beberapa saat.
Mendengar kata hamil, gue langsung bangkit dari posisi berbaring dengan kedua mata melotot kaget.
"Kamu hamil?" tanya gue dengan nada seolah tidak percaya.
Mala terlihat ragu-ragu kemudian mengangguk. "Kayaknya."
Ekspresi gue seketika langsung berubah cerah. Sambil mengucap syukur gue kemudian memeluk tubuh Mala setelahnya. "Alhamdulillah. Makasih, sayang, makasih banget." gue kemudian mengurai pelukan dan menghujami wajah Mala dengan kecupan.
Ya Tuhan, gue seneng banget. Bentar lagi gue bakal jadi Papa dua anak? Ya ampun, nggak nyangka banget. Gue pengen nangis saking terharunya.
"Gha, jangan terlalu seneng dulu," ucap Mala berusaha menghentikan kecupan gue.
"Kenapa? Kamu beneran nggak seneng ya hamil lagi, cuma karena Kai baru umur setahun?"
__ADS_1
Mala terlihat ragu-ragu. "Bukan itu."
"Terus kenapa?"
"Ada darah, kayaknya bukan karena aku menstruasi deh. Enggak kayak darah haid soalnya, Gha."
"Apa?! Kenapa baru bilang sekarang? Ya udah, ayo buruan kita ke rumah sakit. Eh, enggak, kita telfon Ayah dulu."
Wajah gue langsung panik seketika. Celingukan kesana-kemari untuk mencari keberadaan ponsel.
"Gha tenang, jangan panik! Aku oke. Aku udah nelfon Ayah, kebetulan beliau lagi ada di RS karena lagi bantu pasiennya melahirkan. Sekarang kamu mending ganti baju sama cuci muka. Abis itu kita berangkat."
Gue mengangguk paham lalu segera melakukan apa yang diperintahkan Mala. Setelah siap, gue langsung mengajak Mala untuk segera bergegas.
"Gha, kita nggak mungkin ninggalin Kai sendirian kan?" tanya Mala saat menyadari gue hendak pergi meninggalkan kamar begitu saja tanpa mengajak Kai.
Oh iya, benar. Kai.
"Astaga, lupa!" gue menepuk dahi spontan, "apa kita titipin ke Aldi sama Ririn aja dulu?" tawar gue kemudian.
Mala menggeleng tidak setuju. "Mending kita ajak aja biar lebih tenang."
"Ya udah, oke." gue mengangguk paham lalu menggendong Kai dengan hati-hati.
*
*
*
"Lama nungguinnya?" sapa Ayah yang akhirnya datang untuk memeriksa kondisi Mala. Begitu sampai di IGD, ternyata Ayah belum selesai melakukan tindakan, alhasil kami harus menunggu.
"Lumayan/enggak, Yah," jawab gue dan Mala bersamaan, namun, beda jawaban.
Bokap terkekeh. "Hasil tesnya udah keluar, HCG-nya positif. Mala beneran hamil." Ia kemudian teringat sesuatu, "Kai mana? Dititipin ke siapa?"
"Tidur di ruang dokter jaga, Yah," jawab gue mewakili, "tadi ada dokter yang lagi istirahat, aku titipin ke dia kalau semisal bangun bisa panggil Agham"
Ayah kemudian mengangguk paham, merasa lega karena cucunya tidak dibiarkan tidur sendirian. "Kalau gitu dicek dulu ya?"
Mala mengangguk pelan. Spontan genggaman tangan yang sedang menggenggam gue menguat. Agha kemudian mengelus rambutnya untuk menenangkan.
__ADS_1
"Enggak papa, La," bisik gue meyakinkan. Lalu membantu Mala menarik kaos yang Mala pakai karena Ayah perlu melakukan usg.
"Ini kehamilan tidak direncanakan ya?" tanya Ayah begitu selesai melakukan usg.
Gue dan Mala bertukar pandang sebentar lalu mengangguk kompak.
"Ada masalah, Yah?" tanya Mala khawatir.
Mala dapat menangkap ekspresi kurang mengenakkan dari sang mertua, hal ini membuatnya curiga. Sejujurnya gue juga merasakannya. Perasaan gue mendadak tidak enak.
Ayah terlihat mengangguk dengan ekspresi penyesalan. "Janin kalian tidak berkembang dengan baik."
Seolah tersambar petir siang bolong. Lutut gue mendadak terasa lemas saat mendengar penjelasan Ayah. Maksud gue, gue baru mendengar berita bahagia tapi ternyata tidak terlalu membahagiakan. Otak gue tanpa diminta tiba-tiba membayangkan skenario terburuknya. Oh, Tuhan, jangan sampai kami berada di dalam skenario terburuk itu.
"Terus kita harus gimana, Yah?"
"Pilihannya ada dua. Mau dipertahanin atau digugurin aja. Kalau kalian mau mempertahanin, itu artinya kalian harus siap dengan segala resikonya. Terutama kamu, Mala, pertama kamu akan kehilangan karir kamu, karena kamu harus bener-bener fokus sama kesehatan kamu dan janin kalian, harus bed rest total dan nggak boleh kecapekan. Kedua perhatian kamu ke Kai mungkin harus berkurang karena mengingat Kai yang lagi aktif-aktifnya bisa bikin kamu gampang kecapekan dan berefek ke janin kalian. Kalau kalian minta saran Ayah sebagai dokter, Ayah bakal saranin untuk lepasin janin kalian ini. Tapi keputusan tetap di tangan kalian, terutama Mala, karena mau gimana pun yang jalani nantinya tetap Mala."
Gue dan Mala saling bertukar pandang. Ekspresi Mala terlihat sulit ditebak, terlihat sekali kalau ia ragu-ragu. Hal ini membuat gue mendadak yakin.
"Kita lepasin janin ini, Yah," ucap gue kemudian.
Mala masih tetap dalam mode diamnya, hal ini membuat gue bertambah yakin akan keputusan ini. Meski sejujurnya gue sedikit kurang rela, tapi seperti yang Ayah katakan kalau yang menjalani nanti Mala. Jadi gue harus sangat mempertimbangkan kenyamanan, karir, dan juga Kai. Gue tidak boleh egois. Kasian Kai masih terlalu kecil untuk menjadi Kakak.
"Enggak perlu buru-buru, Gha, kalian bisa diskusi sebelum ambil keputusan ini. Takutnya nanti nyesel."
Gue menggeleng cepat. "Enggak, Yah, kalau Ayah aja sebagai dokter nyaranin buat gugurin, masa iya aku sebagai suami mau mempertahanin? Bukannya kedengeran egois?"
Ayah tidak langsung menjawab, beliau diam sebentar sebelum akhirnya berkata, "Saran dokter hanya saran, Gha, keputusan tetap berada di tangan kalian sebagai orang tua. Sebagai seorang dokter juga kamu paham kan maksud kalimat Ayah?"
Seketika gue diam. Benar, gue paham banget kalimat beliau. Dokter hanya seorang perantara, sedangkan Tuhan tetap lah yang menentukan semuanya.
Gue menatap Mala. "Menurut kamu gimana, La?"
Mala menggeleng dengan pikiran kosong. "Enggak tahu, Gha."
Ayah mengangguk paham lalu menepuk pundak gue. "Ya udah, kamu urus dulu administrasi Mala, sekalian minta kamar, kita observasi semalam atau dua malam sambil kalian nunggu keputusan akhir kalian. Ayah mau nengok Cucu Ayah dulu."
Gue mengangguk paham lalu mempersilahkan Ayah pergi. Setelahnya giliran gue ikut pamit untuk mengurus administrasi dan lainnya, sementara Mala gue biarkan sendiri selagi nunggu Bunda dan juga kedua mertua gue.
Tbc,
__ADS_1