Married With My Besti

Married With My Besti
Bantuin Abbas


__ADS_3

*


*


*


Mala berdecak kesal karena bunyi nada dering milik sang suami yang seolah tidak mau berhenti. Padahal ia sedang asik menonton drama Korea kesukaannya.


"Gha, itu loh, hape kamu bunyi terus, berisik nih. Ganggu konsentrasi aku nonton nih," keluh Mala.


"Siapa emang?"


"Mana aku tahu, buruan samperin jangan main terus," omelnya kemudian.


Mala mulai bosen melihat sang suami terus-terusan bermain dengan anak mereka dan bukannya melakukan kegiatan yang lain.


"Ya elah, deket gitu juga cek bentar kenapa sih, La?"


"Aku lagi nonton, Agha, sibuk nih. Lagi seru, kamu jangan kebanyakan main makanya."


"Main apa? Orang dari tadi aku di sini jagain Kai loh."


"Tapi main itu, orang Kai-nya sibuk sliweran sana-sini kamu-nya yang sibuk main sendiri."


Agha berdecak kesal karena tidak tahu harus membalas apa. Ia kemudian berdiri dan meraih ponselnya. Ternyata nama Abbas yang tertera di sana. Batinnya bertanya-tanya, ngapain ini orang menelpon malam-malam begini?


"Kenapa, bro?" sapa Agha begitu sambungan terhubung, "kenapa? Nggak ada partner makan malam lo?"


"Apaan deh? Ada lah, noh, baru balik."


"Terus kenapa nelfon? Nggak mungkin mau minjem duit kan? Soalnya kalau lo mau minjem duit harusnya ke Ohim bukan gue."


Terdengar dengusan dari seberang. "Ya kali, emang tampang gue keliatan kayak orang yang lagi butuh duit banget sampe pinjem sana-sini?"


"Wisshh, jangan salah! Zaman sekarang tuh justru yang tampangnya sangat meyakinkan eh, justru lebih butuh pinjaman ketimbang orang-orang yang tampangnya biasa aja."


"Terus menurut lo, gue termasuk jajaran kaum seperti mereka?" decak Abbas dengan nada sebal.


Agha mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Ya kalau itu gue nggak tahu sih."


"Skip! Gue mau ngomong penting, jangan lo muter-muterin nggak jelas begini, ntar gue lupa."


"Lebay, emang mau ngomong apaan lo?"


"Besok Free?"


"Gue nggak ambil job motret atau nggak terima emergency call karena mau fokus quality time sama anak-istri, jadi kalau disebut free, gue rasa nggak bisa sih. Gue tetep sibuk ngurus anak-istri. Lo sendiri tahu kan gimana ribet dan rewelnya istri gue yang sekarang?"


Mendengar dirinya disebut-sebut, Mala langsung menoleh ke arah Agha dengan wajah protes. "Heh, istri kamu ada di sini, Gha, sembarangan banget!"


Agha tersenyum manis sambil mengedipkan sebelah mata dan mengangkat jari membentuk huruf love ala Korea.


"Love you, sayang."


"Najis! Ngapain lo?"


Agha berdecak. "Bukan buat lo, anjir, tapi buat bini gue. Buruan, nggak usah pake prolog, muter-muter, langsung to the point aja."

__ADS_1


"Besok anterin gue cari cincin ya?"


"Buat Alisa?"


Mendengar kata Alisa, spontan Mala langsung menoleh ke arah sang suami. Mendadak ia jadi sudah tidak minat dengan drama yang sedang ia tonton.


"Kenapa?"


Agha langsung menempelkan jari telunjuknya pada bibir, mengkode agar sang istri tidak banyak bertanya dulu.


"Ya iya lah buat Alisa, masa iya buat lo."


"Serius mau ngelamar Alisa lo?"


Minat Mala untuk menguping semakin besar saat mendengar kata melamar. Apakah ini sebuah pertanda kalau sebentar lagi kedua sahabatnya akan mengganti status?


"Serius. Masa iya bercanda. Kan kita udah bahas ini beberapa hari yang lalu, masa iya lo udah lupa."


Tidak. Tentu saja dia tidak mungkin lupa, ia ingat betul semua kalimat yang dikatakan pria itu. Hanya saja ia tidak menyangka kalau ternyata Abbas seserius ini.


"Enggak lah, enggak mungkin gue lupa, cuma gue agak kaget kalau ternyata lo seserius ini." Agha kemudian menyadari sesuatu, "eh, tapi emang kemarin niatnya udah serius ya, cuma lo maunya ngajak Ohim. Emang kenapa sama itu orang?"


Terdengar helaan napas dari seberang. "Mau ke rumah mertua mereka. Mau sekalian holiday katanya. Jadi nggak bisa, lo aja lah yang nemenin."


"Gue juga nggak bisa, kan mau quality time sama keluarga"


"Kai ajak aja."


"Terus bini gue? Lo suruh di rumah sendirian? Yang ada ntar gabut dong, bas."


Agha sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. "Kamu serius?"


Dengan wajah penuh keyakinan, Mala mengangguk cepat. "Buat Alisa, nggak papa, Gha, soalnya aku dukung banget niat Abbas kali ini. Alisa butuh kejelasan dengan segera."


Agha kemudian menghela napas pasrah. "Ya udah, oke, gue temenin. Tapi beneran loh besok kita ajak Kai, ini si Mala nggak masalah gue nemenin lo, tapi gue yang ada masalah kalau ngebiarin Kai sama Mala doang, kasian soalnya, ntar dia capek jagain Kai. Itu anak soalnya lagi aktif-aktifnya."


"Beres. Gampang lah tinggal diatur, bilangin makasih juga buat Mala karena udah mau diajak kerja sama, ntar sebagai tanda terima kasih gue beliin dia hadiah deh. Tanyain aja ntar dia mau minta apa."


"Hm," respon Agha seadanya, "udah kan gitu aja. Gue tutup."


Tanpa menunggu jawaban dari Abbas, Agha langsung mematikan sambungan telfon begitu saja lalu meletakkan ponselnya kembali. Baru setelahnya kembali menyusul Kai yang sedang asik memberantakin mainan.


"Oh ya, La, btw, tadi si Agha suruh nanyain kamu, kira-kira mau dibeliin apa?"


Mala mengerutkan dahi bingung. "Dalam rangka?"


"Kamu kasih izin aku pergi nemenin dia, katanya sebagai ucapan terima kasih gitu."


"Oh, kalau gitu dipending dulu bisa?"


Agha meringis canggung. "Kalau masalah itu besok kamu nanya sendiri aja sama orangnya, La."


Mala mengacungkan jempol sambil mengangguk paham.


*


*

__ADS_1


*


Abbas hanya mampu menatap datar Agha karena saat ia tiba di rumah pria itu, tampilan Agha masih terlihat seperti orang yang belum mandi. Bahkan Kai, putranya pun terlihat masih mengenakan baju tidur.


"Buset, ini emaknya ke mana kok anak lo sampai belum mandi begitu?"


"Minggu, bro," balas Agha. Pria itu kemudian mempersilahkan Abbas masuk ke dalam rumahnya, "kalau minggu mandinya nggak usah pagi-pagi amat."


"Biar apa?"


"Ya biar lebih santai lah, minggu itu waktunya bersantai, Bas. Gitu sih konsep hidup gue."


Abbas langsung mencibir. Padahal sebelum Mala hamil lagi kegiatan pria itu sudah seperti artis papan atas yang jobnya di mana-mana. Emergency call masih tetep diambil, bahkan kadang ditambah job memotret. Dih, minggu santai dari Hongkong.


"Iye, iye, terserah lo. Bodo amat, gue nggak peduli yang penting sekarang lo buruan mandi terus siap-siap!"


Agha mengangguk paham sambil mengacungkan jempolnya, lalu segera naik ke lantai atas setelah menyuruh Abbas duduk di ruang tamu.


Butuh waktu sedikit lebih lama dari perkiraan sampai akhirnya Agha dan juga Kai turun dari lantai atas. Abbas bahkan hampir ketiduran karena menunggu pria itu saking lamanya.


"Tidur dulu ya kalian," sambut Abbas dengan wajah betenya. Kalau tidak ingat ia butuh bantuan pria itu, sudah jelas pasti ia akan langsung pamit pulang.


"Ya elah, namanya sambil mandiin bocah, Bas, ya lama lah, belum kalau dia ngereog dulu, auto makin lama lah. Udah, yuk, udah siap nih gue sama Kai. Udah ganteng dan keren."


Abbas kemudian memperhatikan penampilan keduanya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kayaknya sedikit berlebihan deh. Batinnya berkomentar.


"Kenapa lo ngeliatinnya begitu amat?"


Abbas menggeleng lalu segera mengajak Agha pergi sebelum makin siang. Takutnya nanti kalau siang, jatah Kai tidur, itu bocah rewel kan repot. Rencananya bisa gagal total.


"Langsung berangkat aja lah," balas Abbas tidak ingin waktunya semakin terbuang percuma. Karena tadi ia sudah terlalu lama menunggu pria itu.


Namun, Agha meresponnya dengan decakan. "Langsung berangkat pale lu, gue belum pamitan sama bini gue. Bentar, gue pamit dulu! Lo nggak mau pamit sama Mala?"


"Enggak. Kelamaan. Gue tunggu di mobil lah."


Setelah mengatakan itu, Abbas segera keluar dari rumah Agha menuju tempat parkir mobilnya lalu masuk ke dalam mobil. Lumayan butuh sedikit waktu lagi sampai akhirnya Agha dan Kai masuk ke dalam mobilnya.


"Langsung berangkat kan!"


"Mampir ke mini market dulu buat beli cemilan lah."


Abbas berdecak. "Astaga, Tuhan! Kita cuma nyari cincin, anjir, Gha, bukan mau tamasya, ngapain beli cemilan segala?"


"Ya namanya ngajak bocah, ya begini lah, Bas, ntar kalau lo sama Alisa punya bocah juga kurang lebih juga bakalan begini."


Abbas terkekeh miris. "Optimis banget ya lo, Gha."


"Harus lah, bro, positif thinking itu perlu. Dengerin orang yang sudah berpengalaman macam gue! Biar nggak nyesel," ucap Agha jumawa.


Abbas langsung mencibir. "Halah, kebanyakan gaya aja lo!"


"Gaya itu perlu, bro!"


"Iya in deh." Abbas manggut-manggut seadanya dan fokus menyetir.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2