
*
*
*
"Dokter Agha yakin kuat kan?"
Agha langsung tertawa saat mendengar pertanyaan salah satu dokter residen yang akan menjadi asistennya saat melakukan tindakan operasi nanti.
"Kenapa kamu ikut-ikutan khawatir kayak istri saya deh. Saya baik-baik saja, serius. Emang sih tadi ngerasanya kayak lemes banget gitu, tapi sekarang saya baik-baik saja kok. Serius. Saya tahu pekerjaan saya berurusan dengan nyawa manusia, kalau saya tidak baik-baik saja tidak mungkin saya memaksakan diri untuk mengoperasi orang. Nyawa seseorang tidak bisa saya permainkan, Fan."
Fano mengangguk mengerti. "Baik, dok, maaf kalau sikap saya barusan lancang," sesalnya dengan wajah terlihat menyesal.
Kali ini giliran Agha yang mengangguk paham. Ia mengerti kekhawatiran sang junior, kalau dia yang jadi residen mungkin ia akan bersikap demikian.
"Udah siap kan ruang operasinya?"
"Sudah, dok. Sudah dipersiapkan."
"Lah, kenapa nggak bilang dari tadi. Ya udah, saya langsung ganti baju dulu. Kamu duluan saja nanti saya langsung nyusul."
Selesai berganti pakaian, Agha langsung bergegas menuju ruang operasi, langkah kakinya mendadak terhenti sebelum sampai di sana. Ponselnya bergetar. Ia memutuskan untuk mengecek ponselnya lebih dahulu. Nama sang kakak yang tertera pada layar ponsel.
"Ya, halo, Kak? Kenapa?"
"Lo di mana, Gha?"
"RS lah, mau di mana lagi emang kerjaan dokter? Kenapa? Kalau nggak ada yang penting gue tutup, udah ditungguin nih gue, mau tindakan."
"Lo ada operasi?"
"Ada. Ini baru mau cuci tangan, abis ini gue nggak bisa pegang hape loh. Buruan, Kak!"
"Gha, lo nggak ada rekan lain yang semisal diminta buat gantiin lo?"
Agha mengerutkan dari heran, saat mendengar pertanyaan sang kakak. "Maksudnya, Kak? Gue beneran udah ditungguin, nggak enak kalau nggak cepet-cepet."
Terdengar suara decakan frustasi dari seberang. Agha yang mendengarnya sampai keheranan dibuatnya.
Bukankah harus dirinya yang merasa keheranan?
"Gha, buruan lo minta tuker shift sama rekan lo, abis itu langsung ke sini. Penting!"
"Penting gimana? Terus lo di mana?"
"Gue barusan dapet kabar kalau Bunda nggak ada, lo nggak usah banyak nanya, terus buruan ke sini, Gha!" seru Ale terdengar emosi.
Di luar dugaan, Agha masih sempat-sempatnya terkekeh. Tapi wajahnya terlihat seperti sedang was-was. "Apaan sih lo, Kak? Nggak ada gimana? Lagi diajak Ayah jalan-jalan kali, coba lo telfon Ayah dulu."
Agha menggeleng cepat. Otaknya mengsugesti bahwa apa yang dipikirkan di dalam otaknya itu tidak lah benar. Tidak mungkin. Pasti maksud Kakaknya bukan itu.
Emosi Agha seketika meradang saat mendengar tangisan sang kakak yang terdengar seperti sedang ditahan.
__ADS_1
"Kak, lo jangan kayak anak kecil deh ditinggal nyokap sama bokap pacaran udah nangis. Lo jangan terlalu khawatir, gue yakin Bunda pasti lagi sama Ayah."
"Gha, Bunda nggak ada, Gha. Bunda nggak ada, bukan nggak ada pergi keluar tapi... meninggal, Gha. Bunda ninggalin kita."
Bagai tersambar petir di siang bolong. Agha terkejut luar biasa, tapi ia masih tetap tidak ingin mempercayainya. Karena dua hari yang lalu saat ia mengunjungi Bunda-nya, sang Bunda terlihat sangat sehat jika dibandingkan hari-hari biasa.
"Kak, lo jangan bercanda dong, Kak! Gue ini mau masuk ruang operasi bentar lagi?"
Kali ini Agha sudah tidak dapat menahan tangisnya. Wajahnya terlihat panik dan seperti orang kebingungan.
"Gha, lo pikir gue gila karena udah bercandain hal seserius ini? Gue serius, gue nggak bercanda. Bunda nggak ada, udah meninggal, lo yang jangan kayak anak kecil yang masih denial. Pokok gue nggak mau tahu, lo harus cepetan ke sini bantu urus pemakaman. Sekarang Bunda masih di rumah sakit."
Klik. Sambungan telfon terputus. Agha mematung sesaat, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Hingga sebuah sentuhan pada pundaknya membuat ia tersadar kalau semua ini nyata dan bukan lah sebuah mimpi. Sadar kalau ia telah kehilangan perempuan yang telah melahirkannya ke dunia membuat pandangan Agha tiba-tiba menggelap. Ia tidak terlalu ingat dengan pasti, samar-samar ia mendengar namanya dipanggil lalu ia tidak tahu lagi apa yang terjadi.
*
*
*
Selama menikah dengan Agha, Mala tidak pernah merasa secemas ini saat pria itu sakit. Baru kali ini ia merasa benar-benar khawatir dan juga takut. Mencoba mengusir segala pikiran buruknya, ia berusaha untuk tetap tenang.
Baik lah, ia tidak boleh panik. Batinnya mensugesti diri sendiri. Pandangannya kemudian beralih pada putra semata wayangnya yang terlihat asik bermain. Sepertinya tidak mungkin jika Mala kembali membawa sang putra ke rumah sakit. Ia baru tahu kalau Mama-nya sedang tidak berada di Jakarta. Mau dititipkan ke siapa coba kalau begini? Dibawa ke rumah mertuanya tentu saja tidak mungkin, mengingat kondisi sang mertua saja sedang sakit. Ia bawa ke rumah sang kakak ipar, jam segini pasti Ale sedang bekerja. Alisa pasti mengajar. Baiklah pilihan satu-satunya adalah tetangganya sendiri.
"Kai, sayang, mau liat adek nggak?"
Awalnya Kai tidak terlalu mengubrisnya, tapi setelah Mala menggendong dan membawa Kai ke rumah Ririn, putranya itu tampak kesenangan. Tanpa sadar, ia mendengus. Dasar bocah, giliran diajak ke rumah cewek aja langsung senang. Padahal tadi pas ia tawarin tidak menggubris sama sekali.
"Eh, Kak Mala, ada apa, Kak? Tumben? Mau nitipin Kai?"
"Boleh kok, Kak, nggak ngerepotin sama sekali. Lagian Kai anteng juga kan kalau main."
Mala mengangguk setuju. Putranya kalau sedang sibuk mainan, biasanya memang anteng. Kalau udah bosen baru deh dia nggak bisa diem.
"Iya, dia lagi seneng main kok. Insha Allah nggak bakalan ngerusuh. Nanti aku usahain nggak lama, kalau pun terpaksa lama, nanti aku telfon temen aku deh biar jemput Kai ke sini. Kamu tahu kan yang namanya Alisa?"
Ririn mengangguk paham. "Tahu, Kak, yang dosen itu kan?"
"Iya, bener. Kalau gitu aku langsung pamit ya?"
"Eh, tunggu dulu, Kak, emang mertua Kak Mala masuk rumah sakit lagi?"
Mala menggeleng cepat. "Bukan, tapi suami aku, dia emang lagi kurang sehat gitu, semalam muntah-muntah sama diare. Tadi pagi-pagi banget aku bawa ke rumah sakit, udah mendingan, tapi kayaknya gegara maksain diri deh. Tadi aku dapet kabar dari rumah sakit, malah dikasih tahu kalau Agha-nya pingsan. Aku panik banget, Rin. Makanya aku mau nitip Kai ke sini, kamu repot banget nggak?"
Ririn mengelus lengan Mala demi menenangkan tetangganya yang terlihat begitu panik ini. "Iya, Kak, nggak papa kok, insha Allah Kai aman sama aku. Nanti kalau Kai nyariin aku langsung telfon Kak Mala."
Mala mengangguk cepat. "Ya udah, kalau gitu aku pamit dulu. Maaf banget ya karena harus ngerepotin."
"Enggak, Kak, sama sekali nggak ngerepotin. Aku justru seneng karena kak Mala mau minta bantuan aku, nggak papa, kak. Serius. Sekarang mending Kak Mala langsung berangkat."
Mala mengangguk sekali lagi lalu pamit pergi. Kai saat ia pamiti pun tidak menangis, semoga saja nanti Kai tidak rewel atau sampai merepotkan Ririn. Sejujurnya ia juga merasa tidak enak sekaligus sungkan, tapi ia lebih tidak tega kalau mengajak Kai ke rumah sakit. Karena tak tenang Mala pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi Alisa. Beruntung karena panggilannya langsung terjawab.
"Halo, Sa, sorry, ganggu. Lo ada kelas nggak?"
__ADS_1
"Enggak sih, gue free, ini lagi di apartemen. Kenapa?"
"Gue mau minta tolong. Lo bisa nggak jemput Kai, dia gue titipin ke tetangga sebelah rumah gue."
"Hah? Emang lo lagi di mana?"
"Gue mau otw ke rumah sakit, Agha pingsan."
"Hah? Kok bisa?"
"Panjang ceritanya, ntar gue kasih tahu. Ini gue mau ke rumah sakit dulu buat ngecek kondisi Agha."
"Oke, kalau gitu gue siap-siap dulu. Lo hati-hati nyetirnya."
Setelah memutuskan sambungan, mala langsung bergegas ke rumah sakit.
*
*
*
Saat Agha membuka mata, ia langsung memeluk Mala saat menyadari keberadaan sang istri. Detik berikutnya ia menangis sambil meraung-raung seperti anak kecil. Mala yang tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi dengan sang suami jelas saja kebingungan.
"Gha, kamu kenapa, hei?"
"Bunda, La, Bunda. Ayo, kita ke rumah sakit!"
Mala menggeleng cepat. "Kamu masih sakit, Gha, nanti kita ke rumah sakit, oke? Kenapa? Kamu abis ngimpi apa?"
Kali ini giliran Agha yang menggeleng cepat. "Enggak, aku nggak ngimpi, La, aku barusan ditelfon Kak Ale, dia bilang Bunda nggak ada. Aku nggak bisa mikir jernih abis terima telfon terus tiba-tiba semua gelap. Itu ngimpi bukan sih, La? Aku takut."
"Kamu tenang dulu ya, oke? Aku sekarang coba telfon Kak Ale dulu," ucap Mala mencoba menenangkan.
Agha mengangguk paham. Wajah kebingungan Agha sekarang benar-benar membuat Mala khawatir.
"La, kalian di mana aja sih? Kok nggak nyampe-nyampe? Kalian udah otw kan?" decak Ale begitu sambungan terhubung.
Mala sedikit menjauhkan diri dari Agha. "Maaf, Kak, otw ke mana?"
"Lah, Agha belum kasih kabar kamu, La?"
Mala menggeleng sambil menatap sang suami dengan wajah gelisahnya. "Ini aku lagi di rumah sakit, Kak, barusan dapet kabar dari rumah sakit katanya Agha pingsan. Aku pikir dia pingsan karena sakitnya, soalnya tadi pagi dia sempet muntah-muntah sama diare."
Terdengar decakan kembali. "Astaga, ya ampun, terus kondisi Agha sekarang gimana?"
"Dia keliatan shock berat, Kak. Emang bener ya, Bunda nggak ada?"
Terdengar helaan napas dari seberang. "Iya, La, Bunda nggak ada, ini aku lagi ngurus kepulangan beliau. Ya udah, kalau emang Agha lagi kurang sehat, kalian langsung ke rumah duka aja. Nggak papa."
"Iya, Kak, nanti aku ajak Agha ke sana. Udah dulu ya, Kak."
Mala langsung mematikan sambungan telfon. Ditatap sang suami dengan ekspresi prihatin. Agha pasti sangat terpukul sampai shock begini.
__ADS_1
Tbc,