
*
*
*
Spontan gue menutup pintu kamar mandi lagi, tepat setelah mencium semerbak wewangian yang tidak gue sukai. Sambil menggerutu, gue berteriak memanggil Mala. Dia lagi di bawah, netflix-an sambil nyemil. Kegiatan favoritnya jauh sejak dulu.
"La," teriak gue dari anak tangga.
Mala menoleh dan sedikit mendongak. "Kenapa? Minta dimandiin?" tanyanya sambil berdecak kesal. Dia pasti sedang merasa terganggu karena sedang asik menonton tapi malah gue panggil.
"Sabun yang biasa abis?" tanya gue.
"Oh, iya, tapi gue udah beli yang baru. Udah ada juga di dalem, lo langsung mandi aja. Gue taroh di tempat biasa, lo kalau mau bilang nggak lihat, gue pulangin ke Ayah-Bunda, ya," ancamnya galak.
Gue berdecak sambil merengut. "Enggak. Bukan itu. Gue nggak suka baunya. Ada yang lain nggak? Tadi gue baru buka pintu doang langsung kecium baunya nggak enak banget, bikin kleyengan."
Mala menatap gue heran. "Tapi itu sabun yang biasa gue pake juga, Gha. Dulu lo kalau mandi di apartemen gue, juga pake itu, nggak ada itu ceritanya protes, apalagi bikin kleyengan. Kenapa setelah nikah lo protes?" ia kemudian melotot kesal sambil menodongkan telunjuknya, "lo jangan nyari perkara, ya! Gue mau nonton dengan tenang, aman, dan damai."
Gue sama Mala memang seringnya berbagi sabun untuk mandi, tapi kalau untuk sabun muka, tetap beda dong. Karena biasanya gue nggak pernah protes sama seleranya, jadi gue mau-mau aja berbagi. Tapi enggak tahu kenapa gue enggak suka sama selera dia yang kali ini.
"Enggak tahu. Jadi ada apa enggak yang lain."
Mala mengangguk. "Ada."
"Di mana?"
"Di tempat biasa. Deket pembalut gue."
"Cariin!"
Mala berdecak sambil melotot tajam ke arah gue. "Manja banget sih lo?"
Gue menyengir. "Lagi nyariin pahala buat lo nih, harusnya lo berterima kasih, La, bukannya protes."
Meski sambil menggerutu, Mala tetap menuruti permintaan gue. Perempuan itu berdiri dan langsung menyusul gue, naik ke lantai atas menuju kamar.
"Ada yang lain lagi nggak?" tanya gue setelah membuka tutup botol sabun cair yang Mala sodorkan. Baunya masih kurang gue suka.
"Enggak ada. Adanya ya cuma ini sama yang di kamar mandi. Mau apa enggak, ya terserah lo."
Sambil berdecak gue kemudian menodongkan telapak tangan. "Gue beli di indomaret dulu lah kalau gitu, minta duit."
Mala kembali menatap gue galak. "Gaji lo kemana? Perkara beli sabun aja minta istri."
__ADS_1
"Kan gue transfer ke lo, gimana sih? Lagian setelah nikah gue nggak pernah pegang uang cash, kecuali buat bayar parkir. Toh, seringnya duit parkir lo juga yang bayar kan?" Gue kemudian mencari dompet gue dan menyerahkan pada Mala, "lihat sendiri kalau nggak percaya. Enggak mungkin juga gue beli sabun doang masa pake debit."
"Suami gue ternyata miskin ya," komentar Mala saat hanya menemukan selembar uang sepuluh ribuan di dalam dompet gue, selain jejeran debit tentu saja.
"Emang."
Mala berdecak lalu mencari dompetnya. Mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dan langsung menyerahkannya pada gue.
"Widih, tajir ya bini gue, beli sabun doang dikasih seratus ribuan."
Mala menatap gue sinis. "Nitip sekalian beliin minyak goreng, anjir, jangan kepedean lo!"
"Yang berapaan?"
"1 liter aja nggak papa, kan weekend kita mau belanja bulanan."
"Merknya yang biasa kan?"
Mala mengangguk untuk mengiyakan.
"Jajannya?"
"Enggak usah."
Gue mengangguk paham lalu segera berjalan meninggalkan kamar. Namun, langkah kaki gue terpaksa terhenti karena panggilan Mala.
Gue meringis lalu melemparkannya pada Mala. Hal ini tentu saja membuat dia mengamuk. Karena gue nggak sengaja mengenai wajahnya, padahal maksud gue biar dia tangkep.
"Suami kurang ajar lo, Gha!"
"Maaf, sayang," teriak gue lalu melarikan diri.
*
*
*
"Nyari sabun di pabriknya langsung apa gimana, Gha?" sindir Mala saat menyambut gue yang baru masuk.
Gue menyengir saat membalas sindirannya. Lalu duduk tepat di sebelah, sengaja sampai mengenai tubuh Mala. Hingga tubuhnya sedikit terhuyung ke samping.
"Kenapa? Udah kangen ya?" goda gue.
"Najis. Itu apaan itu yang plastik kecil?" tanya Mala mengalihkan pembicaraan, saat kedua netranya menangkap plastik yang gue letakkan di atas meja.
__ADS_1
Gue ikut menoleh ke arah meja. "Martabak."
"Kan gue nggak pesen." Meski bicara demikian, tapi Mala tetap membuka kardus kecil yang menjadi wadah martabak. Seperti tidak tahu malu, ia langsung mencomot satu potong lalu memakannya, "lo kan kurang suka manis, tumbenan beli ginian pas gue nggak minta? Kesambet apaan lo?"
Gue menggeleng. "Enggak tahu, tetiba pengen aja."
Gue meraih tangan Mala yang masih memegang sisa potongan martabak yang dia makan, lalu mengarahkannya pada mulut gue karena males kotor.
"Lagi?" tawar Mala sambil mengelap ujung bibir gue yang sedikit kotor.
Gue menggeleng sebagai tanda jawaban. "Udah."
Mala langsung menyipitkan kedua matanya curiga. "Lo emang lagi dalam rangka memperlebar gue ya, Gha?" Ia kemudian berdecak kesal, "lo akhir-akhir ini ngerasa nggak sih, tiap kita pergi makan terus lo pesen makanan yang aneh-aneh, yang nggak lo banget lah pokoknya, tapi ujungnya siapa yang makan? Gue. Lo berharap BB gue naik berapa kilo lagi, hah?" amuknya kesal.
Gue meringis takut-takut. "Enggak gitu, La, cuma emang rasa martabaknya nggak sesuai ekspektasi gue. Jadi gue nggak bisa lanjut."
"Alesan lo basi. Sana lo pergi mandi!" usirnya kemudian.
"Ntar ah, udah terlanjur males," tolak gue sambil menyenderkan punggung pada badan sofa.
Mala langsung memukul paha gue kencang. "Mandi dulu, sekarang, Gha! Kalau ditunda-tunda yang ada makin males. Ntar lo-nya juga keburu ketiduran."
Gue masih menggeleng tidak setuju. "Enggak. Bentar dulu, gue mau ngomong."
"Kan ntar abis mandi bisa."
Gue kembali menggeleng tanda tidak setuju. "Enggak, maunya sekarang," tolak gue kemudian.
"Ya udah, buruan!"
"Kayaknya kita butuh motor deh."
Mala langsung menatap gue datar. "Buat apa? Kita udah punya dua mobil, Gha. Ngapain nambah motor?"
"Buat ke indomaret, kalau semisal butuh apa-apa mendadak kan enak. Nggak ribet gitu musti keluarin mobil dan semacemnya."
"Lo ke indomaret tadi bawa mobil?" tanya Mala dengan ekspresi tidak percayanya.
Gue mendengus. "Ya, masa jalan kaki?" tanya gue agak kesal.
"Kan ada sepeda."
"Males."
Mala berdecak. "Ya udah, ya, ya, besok kita beli. Tapi yang murah aja."
__ADS_1
Gue mengangguk setuju lalu bersorak senang. "Oke, kalau gitu aku mandi dulu, sayang." Lalu berdiri dan segera meninggalkan ruang tamu menuju lantai atas.
Tbc,