
Begitu sampai di tempat parkit rumah sakit, gue baru menyadari kalau ternyata Kai sudah tertidur pulas di pangkuan Mala, padahal tadi sepanjang perjalanan bocah itu masih banyak mengoceh. Eh, kok sekarang udah molor aja, pantesan anteng bener.
"Udah dari tadi itu tidurnya?" tanya gue dengan nada berbisik, takut kalau membangunkan Kai.
Mala menggeleng sambil mengelus dahi Kai yang sedikit berkeringat. Sungguh tidak sopan, jelas-jelas AC-nya menyala tapi masih keringetan. "Belum, barusan kok," ucapnya dengan suara hati-hati.
Gue mengangguk paham lalu turun lebih dulu sebelum membukakan pintu untuk Mala, lalu membantu mengambil alih Kai dari pangkuan Mala. Tidur Kai sedikit terusik sebentar, beruntung tak lama setelahnya ia kembali terlelap nyenyak.
"Tadi kamu udah sempet nanya Abbas belum Alisa-nya dirawat di ruang apa?" tanya Mala sambil menutup pintu mobil.
Gue menggeleng sebagai tanda jawaban. "Enggak kepikiran, La, coba sekarang kamu telfon Abbas."
"Kelamaan, ntar tanya aja sama staf langsung. Langsung masuk aja!" ajaknya kemudian.
Gue celingukan mencari barang bawaan Mala yang terlihat tidak menenteng apapun, padahal tadi sebelum sampai ke sini kita mampir dulu ke toko buah.
"Buahnya nggak dibawa sekalian?" tanya gue kemudian.
Mala menepuk dahinya. "Oh iya, lupa. Bentar aku ambil dulu."
Gue kemudian menghentikan langkah dan menunggu Mala berlari kecil menuju mobil untuk mengambil buah yang kami beli tadi. Baru setelahnya kami masuk ke gedung rumah sakit, bertanya pada staf resepsionis dulu baru bergegas menuju ruang rawat inap Alisa.
Saat kami di sana, yang menjaga Alisa hanya Abbas seorang diri. Gue tidak bisa menahan kerutan di dahi. Batin gue terus bertanya-tanya. Kok bisa? Maksud gue ke mana keluarga Alisa atau bahkan keluarga suami Alisa, kenapa cuma ada Abbas yang notabene-nya orang asing. Seakrab-akrabnya Alisa dan Abbas, tapi bukannya tetap terasa aneh kalau begini?
"Sendirian aja lo?"
Abbas mengangguk untuk mengiyakan lalu mempersilahkan gue masuk.
"Keluarganya?"
Kali ini Abbas menggeleng. "Mereka belum tahu kondisi Alisa."
"Kok gitu, Bas? Terus suaminya gimana?" Kali ini giliran Mala yang bertanya.
Bukannya langsung menjawab, Abbas malah menghela napas sambil melirik gue.
"Itu Kai-nya tidur?"
Gue mengangguk dan mengiyakan. "Baru aja, masih belum terlalu nyenyak, makanya masih gue gendong. Takut rewel ntar."
"Bas, nggak usah mengalihkan pembicaraan, Kai aman sama Papa-nya. Sekarang jawab pertanyaan gue, di mana suami, oke, gue nggak harus tahu sekarang di mana suaminya, tapi kalau keluarganya? Di mana mereka? Kenapa lo doang yang jagain?"
Sekali lagi Abbas menghela napas sambil menatap gue dan Mala secara bergantian. Pandangannya kemudian beralih pada Alisa yang terlihat terlelap di dalam tidurnya. Detik berikutnya ia menggeleng.
Gue nggak paham maksud dari gelengan kepala Abbas kali ini, maksud gue, Alisa kan masih memiliki anggota keluarga yang lengkap, terus kenapa tidak ada salah satu di antara mereka? Kenapa cuma ada Abbas?
"Bas," panggil gue pelan. Namun, penuh dengan nada penekanan.
__ADS_1
"Keluarga Alisa belum tahu kondisinya sekarang."
Gue menatap Abbas tidak percaya. "Bas, kayaknya menurut gue lo nggak harus bertindak sejauh ini deh," komentar gue kemudian.
Gue masih berusaha untuk tetap tenang karena saat ini sedang menggendong Kai yang masih terlelap nyenyak. Kalau enggak, udah pasti gue maki-maki si Abbas.
"Lo nggak ngerti, Gha," sahut Abbas tidak terima dengan kalimat gue.
Gue mengangguk setuju. Kali ini gue nggak akan protes karena memang benar, apa yang dikatakan Abbas, kalau gue nggak ngerti jalan pikiran pria itu.
Gue melirik Kai sebentar untuk memastikan apakah tidurnya sudah cukup nyenyak atau belum. Setelah menurut gue terlihat nyenyak, gue pun memilih menidurkan Kai pada ranjang khusus yang tersedia untuk wali pasien. Kebetulan Abbas memilih ruangan sekelas VVIP jadi tersedia.
"Lo bener, Bas, gue nggak ngerti sama lo. Gue tahu lo baik, gue tahu orangnya sangat care sama siapa aja, apalagi ini Alisa, gue tahu dan paham kalau urusan ini, tapi yang nggak gue paham kenapa lo sampai senekat ini?"
"Gue terpaksa, Gha. Gue nggak punya pilihan lain, Alisa maksa gue biar nggak kasih tahu keluarganya."
"Terus lo nurut gitu aja?"
Abbas diam dan tidak berani membalas.
Gue berdecak kesal. "Bas, lo nggak lupa kan Alisa itu perempuan bersuami, harus gue ingetin berapa kali sih? Alisa itu udah jadi istri orang. Dia punya suami dan suaminya itu berhak tahu terkait kondisi istrinya, lo siapa? Kenapa bisa-bisanya lo begini?"
"Gha," tegur Mala sambil menggeleng.
"La, Abbas salah sekarang, nggak seharusnya dia begini. Kalau dia begini terus-terusan, yang ada dia bakalan disalahin dari pihak suami Alisa. Nggak cuma itu, yang ada ntar Alisa bisa dituduh selingkuh sama Abbas." gue langsung menatap Abbas sedikit tajam, "kamu nggak mikir hal ini, Bas?"
Gue menghela napas panjang. Benar juga ya, jadi Abbas saat ini pasti tidak lah mudah, semua pihak menyalahkannya, termasuk gue saat ini. Kenapa gue sampai nggak berpikir ke sana?
"Sorry," sesal gue bersungguh-sungguh, gue kemudian menoleh ke arah ranjang tempat Alisa berbaring, "jadi gimana kronologinya, kok Alisa sampai harus dikurete?"
"Dia pendarahan karena stress, banyak pikiran."
"Karena masalahnya dengan suami?"
Abbas mengangguk untuk mengiyakan.
Gue menatap Abbas ragu-ragu. "Serius mau bercerai mereka, Bas?"
"Serius, gue sendiri bahkan yang nganterin Alisa ke pengadilan, Gha. Gue juga yang bantu cari pengacara dan ngurusin ini-itu."
"Sorry, kalau pertanyaan gue terkesan lancang, Bas, tapi boleh kita tahu penyebab mereka bercerai? Soalnya gue sempet denger gosip kalau yang pengen bercerai tuh Kevin, karena Alisa belum juga kasih keturunan. Tapi mengetahui fakta bahwa Alisa keguguran kan berarti Alisa sudah hampir bisa kasih keturunan. Apa sempat terjadi kesalah pahaman?"
"Gue nggak ngerti lo dapet gosip dari mana, La, tapi yang jelas semua itu nggak benar. Enggak ada yang salah paham, La. Kevin tahu kalau Alisa sempat hamil, dan masalah siapa yang ingin bercerai, dua-duanya menginginkannya."
Gue sama Mala langsung bertukar pandang. "Jadi ini keputusan bersama?"
Abbas mengangguk dan mengiyakan.
__ADS_1
"Kevin ingin bercerai meski tahu kalau Alisa sedang hamil?" tanya gue merasa seperti ada yang aneh, "itu anak dia atau orang lain? Bukan anak lo kan, Bas?"
"Gha, lo boleh tuduh gue sesuka hati lo, tapi enggak dengan Alisa. Dia perempuan baik-baik, dia tahu kewajiban dan tugasnya menjadi istri, dia nggak akan berani macam-macam di saat statusnya menjadi istri orang. Kalian tahu betul gimana Alisa kan? Mau apapun alasannya, perselingkuhan tetap tidak bisa dibenarkan."
"Terus kenapa?"
"Sebenernya Alisa jadi korban KDRT."
"Apa?!" koor gue dan Mala dengan kompaknya, "kok bisa?"
"Tahun pernikahan kedua Alisa ternyata udah nggak baik-baik saja, gue tahu ini belum lama memang, tapi ternyata dia udah menderita sendirian selama ini. Alisa bilang ia tidak akan memperkarakan soal KDRT yang Kevin lakukan asal ia bersedia digugat cerai Alisa."
"Astaga, ya ampun, kasian Alisa kita, dia pasti menderita banyak selama ini," ucap Mala sambil menatap Alisa iba.
Abbas mengangguk setuju. "Benar. Dia udah menderita banyak selama ini, jadi gue nggak kuasa menolak permintaan dia, Gha, La. Gue terpaksa nggak bilang ke keluarganya soal hal ini karena ini permintaan dia."
"Tapi nggak ada luka serius kan?"
Abbas mengangguk. "Syukur alhamdulillahnya, enggak, Gha. Enggak ada luka atau cidera yang fatal selain dia kehilangan calon bayinya."
"Itu juga ulah Kevin?"
"Bisa dibilang iya."
Gue berdecak tidak suka. "Kenapa nggak lapor polisi aja sih kalau udah begini?"
"Gha, gue mohon banget, gue ngerti perasaan emosional lo, gue pun juga merasakan itu, tapi, plis, tolong, kita bantu Alisa dengan menghargai keputusannya? Ini pilihan dia, biarin dia yang menentukan sendiri. Bercerai dengan damai menurut gue lebih baik ketimbang kita memperkarakan kasus ini tapi justru berujung Alisa sendiri yang kena masalah."
"Loh, kenapa harus Alisa yang kena masalah?" tanya Mala tidak paham.
Gue melirik ke arah Abbas. "Karena power dari keluarga Kevin?" tebak gue kemudian, lalu dijawab Abbas dengan anggukan kepala.
Kalau sudah begini, gue nggak bisa berkomentar lebih selain bilang, "Ya udah sih, semoga aja keputusan yang Alisa ambil, keputusan yang terbaik buat dia. Mau bagaimanapun juga, dia tetep sahabat kita. Mungkin memang kita nggak bisa ikut campur dan hanya bisa bantu doa dan juga support."
"Tapi aku rasanya masih nggak terima Alisa diginiin, Gha. Aku kayak pengen banget mempenjarakan si Kevin," gerutu Mala diselimuti emosi.
Gue mendengus. "Halah, gaya kamu, La. Lupa kamu soal si brengsek itu, yang pengen aku penjarakan juga tapi kamu nggak bolehin? Kamu itu sama aja sama Alisa." gue kemudian beralih fokus ke Abbas, "lo dari awal nggak ada protes ngamuk-ngamuk dulu, Bas? Langsung dukung keputusan Alisa gitu aja?"
Mendengar pertanyaan kepo gue, Abbas langsung tertawa kecil. "Ya, enggak lah, tetep pake adegan ngamuk-ngamuk, kita bahkan berantem dulu beberapa hari sebelum akhirnya gue terima keputusan dia yang ini."
Gue langsung menepuk pundak Abbas bangga. "Gue salut banget sama lo, Bas. Lo keren banget."
Serius, gue nggak bercanda. Menurut gue emang cinta Abbas ke Alisa tuh gokil banget, dia masih sesetia ini sama Alisa padahal dirinya sempat ditinggal menikah dengan pria lain. Gue kalau jadi Abbas, mungkin belum tentu bakalan berani menemui Alisa. Tapi lihatlah Abbas, masih begitu setia dengan Alisa dengan kondisi apapun. Kata gue Abbas beneran sekeren itu. Gokil sih.
"Gue juga," sahut Mala ikut-ikutan.
Tbc,
__ADS_1