
*
*
*
Randu menghentikan langkah kakinya yang tadinya hendak menaiki anak tangga, saat ia mendengar suara orang muntah dari kamar mandi dekat dapur. Ragu-ragu kakinya melangkah ke sana.
"Masuk angin, Gha?" tanya Randu dengan wajah khawatirnya.
Agha langsung menegakkan tubuhnya dan berbalik. "Loh, Ayah udah bangun?" Bukannya menjawab ia malah balik bertanya.
Kali ini giliran Randu yang menggeleng. "Ayah nggak bisa tidur."
Agha membasuh bibir lalu mengeringkan telapak tangannya. "Terus ini Ayah abis dari mana?"
"Jalan-jalan di komplek sambil nunggu biar ngantuk." Randu kemudian memperhatikan wajah sang putra lebih seksama, "kamu lagi sakit? Kalau nggak enak badan periksa, Gha, nanti takutnya serius. Ayah masih trauma sama kondisi yang menimpa Bunda-mu. Istrimu sekarang di mana? Biar Ayah panggilkan."
"Enggak usah, Yah," cegah Agha cepat, "Agha udah periksa kok, emang nggak ada yang serius. Semua normal dan baik-baik saja."
Randu mengerutkan dahi heran, merasa kurang puas dengan jawaban itu. "Kapan?"
"Kemarin, Yah. Kemarin pagi."
"Periksa ke siapa?"
"Rumah sakit. Udah tes darah juga, cuma emang nggak ada masalah. Semua normal."
"Semua normal tapi kamu masih muntah-muntah begini?" Randu terkekeh samar, "ngegas kamu, Gha?" ia geleng-geleng kepala lalu pergi begitu saja.
Sementara Agha memasang wajah bingungnya. Hah? Ngegas? Maksudnya? Agha loading beberapa saat, lalu membulatkan kedua mata terkejut, saat menyadari sesuatu.
Cepat-cepat ia mencari dompet Mala dan kunci mobilnya. Lalu setelahnya ia bergegas mencari apotek yang buka 24 jam. Setelah ketemu ia langsung membeli beberapa testpack dengan berbagai merk, baru kemudian ia pulang.
"Astaga, Gha, lo dari mana aja. Gue kaget banget sumpah pas bangun-bangun denger suara mobil." Pandangan Ale kemudian beralih pada kantong plastik yang ada di tangan Agha, "lo sakit lagi?" tanyanya kemudian. Ekspresinya berubah khawatir.
Agha menggeleng cepat. "Nanti gue kasih tahu, Kak. Gue mau ke kamar dulu." dengan langkah buru-buru, ia kemudian berlari menuju lantai atas. Sementara Ale hanya mampu memasang wajah bingungnya.
"Ssst!" bisik Mala saat menyadari kehadiran sang suami, "jangan berisik, ini anak kamu rewel lagi tadi gegara nyariin kamu. Abis dari mana sih?" decaknya sambil menepuk pantat Kai pelan.
Agha terkekeh samar sambil menunjukkan kantong plastiknya. "Nyari ini."
Melihat kantong plastik yang bertuliskan nama apotek, Mala langsung bangun dari posisi berbaringnya dan menatap sang suami khawatir.
"Kamu sakit lagi?"
Agha tersenyum sambil mengeluarkan testpack yang baru saja ia beli.
Kening Mala mengkerut heran. "Testpack?"
Agha mengangguk cepat. "Buruan kamu coba deh, La!" ia menarik telapak tangan Mala dengan hati-hati, takut kalau sang putra terbangun dan kembali rewel.
"Gha," panggil Mala dengan ekspresi tidak yakinnya. Perempuan itu menggeleng tak lama setelahnya, "kita kehilangan adik Kai belum terlalu lama. Bahkan baru kemarin kita kehilangan Bunda. Bisa nggak kamu jangan begini?"
Senyum Agha perlahan pudar. Mala yang menyadari perubahan ekspresi sang suami pun menjadi tidak tega. Akhirnya dengan sedikit terpaksa ia kemudian meraih testpack yang Agha pegang.
"Oke, aku coba, tapi kalau hasilnya negatif kamu nggak boleh sedih. Paham?"
Agha mengangguk cepat lalu mendorong tubuh sang istri agar segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku tunggu di sini."
__ADS_1
Mala berdecak. Dengan sangat terpaksa, ia pun akhirnya masuk ke dalam kamar mandi lalu mencoba testpack, sesuai intruksi sang suami. Kalau boleh jujur, ia sama sekali tidak menaruh ekspektasi apapun, kedua matanya melotot kaget saat melihat dua garis pada alat testpack tersebut. Tubuh Mala bahkan sedikit bergetar saking tidak percayanya.
"Gha, Agha!" panggilnya kemudian.
Agha langsung masuk ke dalam kamar mandi. "Gimana, gimana, La?"
Mala tidak mengeluarkan suara dan hanya menyerahkan hasil testpack tersebut. Ia membungkam mulutnya dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Positif?" Agha menatap Mala dengan ekspresi tidak percayanya, "jadi kamu beneran hamil lagi? Jadi aku yang muntah-muntah lagi barusan karena kamu hamil? Jadi sejak kemarin aku begini karena morning sick?"
"Kamu abis muntah lagi?" tanya Mala khawatir.
Agha mengangguk dan mengiyakan. "Iya, tapi nggak papa, La, itu semua kan karena kamu hamil. Aku cuma morning sick."
Ekspresi Mala terlihat tidak percaya. "Jadi yang morning sick kamu lagi?"
Sambil tersenyum Agha mengangguk dan mengiyakan sekali lagi. Mala tersenyum lalu memeluk sang suami.
"Makasih ya, Gha, makasih banget, maaf karena kamu harus mengalami semua ini sekali lagi." Mala kemudian mengurai pelukannya, "kamu sayang banget ya sama aku sampe nggak rela ngebiarin aku morning sick?"
Agha tertawa. "Iya, aku nggak rela kalau kamu yang morning sick, soalnya pas kamu hamil anak kedua, kamu ngeselin parah, La. Jadi mending begini."
Tok Tok Tok
Mendengar suara pintu kamar diketuk, Kai langsung terbangun. Ia celingukan lalu turun dari ranjang dengan sedikit kesusahan, baru kemudian berusaha untuk membuka pintu, tapi ia tidak bisa melakukannya.
"Buta!"
Agha tertawa lalu menghampiri sang putra. "Buka, Kak," koreksinya kemudian, "kalau buta ya nggak bisa lihat dong." ia kemudian membuka pintu, "Ayah?"
"Gimana? Udah tes?"
"Ayah tahu?"
"Nebak," jawab Randu singkat. Ia kemudian menoleh ke arah sang putra dan sang menantu secara bergantian, "kayaknya tebakan Ayah bener ya, Gha?"
Agha langsung mengiyakan. "Iya, Yah, alhamdulillah Mala hamil lagi. Bentar lagi Ayah bakalan nambah cucu."
"Dibilang santai aja nggak usah buru-buru juga," gerutu Randu, ia kemudian mengelus pundak sang menantu, "kali ini dijaga baik-baik ya, Nak. Ayah bantu doa semoga kalian sehat-sehat dan persalinan dikasih kelancaran."
"Aamiin. Makasih ya, Yah."
Randu mengangguk. "Alhamdulillah ya, Allah Maha Baik, setelah Bunda-mu diambil, ayah mau dikasih cucu." kali ini pandangannya beralih pada sang putra, "berhubung yang morning sick kamu lagi, nanti kalau ngidam jangan aneh-aneh! Kasian nanti istrimu."
Agha meringis malu-malu. "Iya, Yah, diusahakan insha Allah kali ini nggak bakalan aneh-aneh."
"Ya sudah, Ayah mau istirahat kalau begitu."
"Bentar, Yah," cegah Mala sebelum sang mertua pergi meninggalkan mereka, "Mala boleh minta permintaan nggak?"
Paham arah pembicaraan sang menantu, Randu kemudian langsung menggeleng cepat. "Ayah sudah tua, La, Ayah mau pensiun. Jadi kalian cari dokter lain saja, ya."
Meski kecewa, Mala tidak bisa memaksa. Ia pun mengangguk paham tak lama setelahnya.
"Maafin Ayah, ya?"
Mala menggeleng cepat. "Enggak papa, Yah, yang penting Ayah sehat itu aja cukup. Kalau Ayah udah ngerasa nggak mampu, nggak papa. Nanti biar aku sama Agha ke Om Malvin."
"Gitu juga bagus."
Randu langsung pergi begitu saja. Agha dan Mala menatap kepergiannya dengan helaan napas panjang.
__ADS_1
"Ngerasa nggak sih setelah Bunda nggak ada Ayah jadi kehilangan semangat hidupnya?"
Mala mengelus lengan Agha. "Wajar lah, Gha, Bunda baru meninggal kemarin. Pasti bagi Ayah berat banget."
"Sapa, Ma?" tanya Kai dengan wajah kebingungannya.
"Siapa apanya?" Mala balik bertanya karena kurang paham dengan bahasa Kai.
Meski orang bilang yang tahu bahasa anaknya yang belum lancar berbicara adalah Mamanya, terkadang Mala tetap saja manusia normal yang sering tidak tahu dengan apa yang dibicarakan sang putra.
"Yan itu."
"Yang itu apa?"
"Itu, Ma."
"Ya apa? Mama nggak ngerti, Kai," kekeh Mala karena tidak paham maksud sang putra.
Tidak puas dengan jawaban sang mama, Kai berdecak sedikit kesal lalu beralih bertanya pada Agha yang kini sedang menggendongnya.
"Apa, Pa?"
Agha ikut tertawa. "Ya mana Papa tahu."
Kai merengut kesal.
"Dih, ngambekan," cibir Agha meledek, "kamu mau nggak Papa kasih tahu rahasia?"
"Ahasia?"
Agha mengangguk cepat. Kai tidak langsung menjawab dan beralih kepada sang Mama. Seolah sedang meminta izin. Mala hanya merespon dengan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.
"Lah, kenapa tanya Mama, kamunya mau tahu nggak?"
Kai kemudian mengangguk untuk mengiyakan.
Agha kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga Kai kemudian berbisik. "Bentar lagi Kai bakalan jadi Kakak."
"No no no, Tay nda mau."
Wajah Agha seketika langsung berubah panik. "Enggak mau gimana? Kemarin katanya pengen punya adik, gimana sih? Udah terlanjur dibikin nih, Kai."
"Bitin? Apanya?"
"Adek buat kamu."
Kai mengangguk. "Tay mau ade, tapi nda mau jadi tatak."
"Aneh-aneh aja kamu, ya kalau mau punya adik berarti harus jadi kakak lah." Agha menatap sengit ke arah sang putra, seolah sedang menantang.
"No no no, Tay nda mau jadi tatak!" seru Kai tiba-tiba galak. Agha pun langsung menurunkan Kai dari gendongannya.
"Ya nggak bisa lah, kalau mau adek harus jadi kakak!"
"Nda mau!"
"Harus mau!"
"Nda!" Detik berikutnya tangis Kai langsung pecah, "Mama, Papa natal!"
"Gha, udah lah, iseng banget sih sama anak sendiri," omel Mala sambil melotot tajam ke arahnya. Kalau sudah mendapat jurus andalan ini, mana bisa Agha berkutik?
__ADS_1
Tbc,