Married With My Besti

Married With My Besti
Pulang


__ADS_3

*


*


*


Setelah memastikan Mala terlelap di dalam tidurnya, gue langsung bergegas keluar ruangan sebelum gue ikut ketiduran. Bisa gawat kalau sampai ketiduran, bisa-bisa gue terlambat menemui pasien rawat jalan gue yang udah antri dari tadi. Selesai menutup pintu ruang rawat inap Mala, gue bertemu bokap.


"Mau ke mana?"


"Kerja lah, Yah, jaga poli nih Agha bentar lagi."


Bokap mengangguk paham. "Oh, terus istrimu sama siapa? Bukannya Bunda-mu lagi pulang? Mama mertua juga di rumah jaga Kai kan?"


Kali ini giliran gue yang mengangguk untuk mengiyakan. "Ya, sendiri, Yah, tapi Mala lagi tidur kok barusan. Kayaknya efek semalam nggak bisa tidur jadi bawaannya pengen tidur terus. Ayah mau liat Mala?" gue berniat membuka pintu kamar inap lagi, namun, ditahan bokap.


"Enggak usah lah, biarin istirahat kalau begitu. Nanti malah nggak jadi tidur kamu yang repot."


Gue mengangguk paham lalu mengajak beliau meninggalkan bangsal, karena gue mau ke poli klinik dan kayaknya bokap juga mau cabut kalau dilihat dari penampilan rapinya.


"Jadi keputusan kalian gimana? Fix, mau direlain?"


"Mala pengennya tetep pertahanin, Yah."


"Yakin?" tanya bokap terlihat ragu-ragu, "begini loh, Gha, maksud Ayah, pertama kan karena pertama kan ini kehamilan tidak terencana, plan kalian juga maunya Kai punya adik setelah tiga atau empat tahun, sekarang masih setahun loh. Ini baru pertama, Gha, kedua kondisi janin Mala lemah, bakal ada banyak resiko yang akan kalian hadapi nantinya. Kai masih terlalu kecil untuk punya adik, dan karir Mala perlu dipertimbangin juga loh."


"Tapi Agha dan Mala lebih percaya sama rencana Tuhan ketimbang rencana kami sendiri, Yah. Dulu Bunda juga langsung hamil lagi kan meski Kak Ale masih kecil? Bunda juga kerja kan."


"Ya beda dong, Gha, Ayah sama Bunda-mu memang plannya mau nambah adik buat kakakmu dengan gap years yang nggak terlalu jauh. Kita memang nggak nunda, lain cerita sama kamu, kalian sebenernya menunda ditambah lagi kondisi janin Mala yang nggak begitu bagus. Apa nggak sebaiknya kita pertimbangin lagi, Gha?"


Gue menghela napas dengan kalimat Ayah yang terkesan tidak menyetujui keputusan kami.


"Mala keras kepala, Yah, dia mana mau nurut sama Agha kalau udah punya kemauan. Kita kasih kesempatan buat Mala ya, Yah, Ayah bantu jaga janin kami biar baik-baik aja."


Bokap menghela napas lalu mengangguk paham. "Ya sudah kalau memang itu keputusan kalian, Ayah akan bantu sebisa Ayah. Yang penting Ayah udah kasih masukan dan saran ya, masalah keputusan tetep kalian sendiri yang memutuskan."


"Makasih, Yah. Doain kita bisa ya! Kami cuma nggak mau calon bayi kami kecewa kalau kami memilih jalan itu, setidaknya kami juga mau kasih kesempatan, tapi kalau memang nantinya calon bayi kami yang memilih menyerah, baru akan kami relakan, Yah."


Ayah tidak berkomentar apapun dan hanya mengangguk paham sambil menepuk pundak gue.


*


*


*


Akhirnya, setelah kondisi Mala stabil Ayah mengizinkan pulang. Dengan catatan Mala masih harus bed rest total. Hari ini hari kedua dia di rumah. Dan sudah sesuai dengan perkiraan di awal kalau Mala memang lumayan keras kepala dan susah dibilangin.


Ting Tong Ting Tong


Gue yang masih menggendong Kai karena bocah itu baru saja bangun tidur, langsung bergegas menuju pintu gerbang untuk membuka pintu. Ternyata yang datang Abbas dan Alisa. Gue langsung mengajak keduanya masuk ke dalam.

__ADS_1


Kai langsung menggeleng cepat saat Abbas berusaha menawarkan diri untuk menggendong. Bahkan ka semakin mengeratkan pelukan pada leher gue, saat Abbas mulai memaksa. Moodnya masih belum terlalu bagus karena ia baru saja bangun tidur semakin tidak bagus karena pria itu.


"Salim aja deh kalau gitu," ujar Abbas mencoba membujuk sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Ayo, salim dulu!" ucap gue sambil berusaha meraih tangan Kai agar mau bersalaman dengan Abbas.


Namun, lagi-lagi Kai menggeleng cepat sambil menyandarkan kepalanya pada pundak gue. Kedua matanya bahkan terlihat siap untuk menangis karenanya. Padahal kemarin mereka habis main bareng.


"Loh, ini Om Abbas loh, yang kemarin main sama Kai. Masa udah lupa? Beli es krim, yuk, apa mau bali mainan? Asal mau salim dulu."


Abbas masih berusaha membujuk. Namun, bukannya tergiur atau luluh Kai malah menangis. Gue langsung berusaha menenangkan agar Kai tidak menangis kencang.


"Ntar aja, moodnya emang lagi nggak bagus. Baru bangun tidur soalnya," ucap gue.


"Kalau sama Tante?" Alisa mencoba mengulurkan tangannya mengajak Kai salim.


Kai terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya mau diajak salim dan mencium punggung tangan Alisa. Gue terkekeh karena respon Kai yang terkesan pilih-pilih sama orang yang mau mengajaknya salim.


"Anjir, anak lo pilih-pilih banget, Gha. Tahu aja mana cewek cakep," decak Abbas sedikit kesal karenanya.


"Iya lah, anak gue kan pinter," balas gue tidak mau kalah sambil tertawa.


"Ikut Tante mau?" tawar Alisa tak lama setelahnya.


Kali ini tanpa berpikir panjang Kai langsung meminta digendong Alisa. Dengan gerakan sigap Alisa langsung mengendong Kai.


"Mala mana? Masih di kamar, bed rest?" tanya Alisa begitu Kai sudah berpindah ke gendongannya.


Gue menggeleng. "Kamar mandi. Enggak. Udah jalan-jalan dia, susah banget disuruh bed rest, katanya bosen. Ngeyelan banget emang dia tuh, capek gue ngasih tahu. Nurutnya sama bokap gue doang, tapi gimana bokap gue sibuk juga kan jadi nggak bisa sewaktu-waktu ke sini ceramahin dia."


"Tapi keliatan udah sehat kan? Mual muntah masih nggak?"


Gue mengangguk. "Udah kok, udah keliatan sehat. Kalau mual muntah, dari kemarin pas pulang belum muntah lagi sih."


"Eh, ada tamu. Kok aku nggak dikasih tahu, Gha?"


Tak lama setelahnya Mala keluar dari kamar mandi lalu menyalami Alisa dan Abbas.


"Ya kan sekarang udah tahu," balas gue santai, "btw, ini kalian pada mau minum apa?"


"Americano," jawab Abbas tidak tahu diri.


"Lo kalau mau bertamu tahu diri dikit lah, Bas, lo pikir rumah gue Cafe?"


"Ya abis lo kayak sama siapa aja, ini gue, kita, anjir. Ntar kalau haus biar ambil sendiri lah, kayak tamu dari mana aja."


"Ya iya lah, lo kan kalau main nggak diambilin minum pasti ngomel," balas gue tidak mau kalah.


Alisa menggeleng. "Enggak usah lah, belum haus soalnya gue. Kita abis dari rumah makan tadi soalnya, jadi nggak usah. Ntar kalau haus kita ambil sendiri aja lah."


Gue mengangguk paham lalu ikut duduk di antara mereka. "Ya udah kalau gitu, ntar ambil sendiri lah di dapur, ada makanan juga di sana, dapet kiriman banyak banget, dari kalian juga sih tapi. Gue ogah ambilin loh kalau digituin."

__ADS_1


"Iya, santai, kita ke sini juga mau jenguk Mala kali bukan mau minta makan. Gimana keadaan lo, La? Udah sehat betul?"


Mala mengangguk. "Udah. Udah nggak mual muntah juga kok. Malah hampir lupa gue kalau lagi hamil, biasanya Agha atau Mama yang rewel ngingetinnya."


"Ya iya lah, abis kanu itu bandel, dikasih tahu susah banget nurutnya," ucap gue gemas, "kamu kalau nurut juga kita nggak bakal rewel kali, La."


"Aku nggak nurut di bagian mananya?" protes Mala tidak terima.


"Banyak," balas gue tidak mau kalah, "kan Ayah udah bilang bed rest dulu, tapi kamunya jalan-jalan ke sana kemari. Sampe capek aku ngasih tahunya."


"Ya kan bosen, Gha. Belum ngerasain sih, bosen tahu. Lagian juga aku jalannya kalau ada perlunya doang, nggak yang kamu sebutin itu." Pandangan Mala kemudian fokus ke arah putra kami yang sedang asik dengan Alisa, "btw, si Kai lengket banget sih sama lo, Sa? Lo kasih pelet apaan deh?"


Benar, padahal dibanding Alisa, justru Abbas lah yang lumayan sering datang kemari buat main sama Kai, ya meski nggak terlalu sering-sering banget tapi seenggaknya masih mending jika dibandingkan dengan Alisa.


"Tahu, sama gue padahal nggak mau sama sekali. Salim doang aja nggak mau, njir, malah mau mewek tadi. Eh, giliran sama Alisa langsung nempel. Emang calon-calon playboy keknya anak kalian. Milihnya cewek cakep doang."


"Masa sih? Biasanya kalau salim sama siapa aja masih mau kok. Lagian sama lo juga mau main juga kan biasanya?"


"Gegara masih ngantuk kali, kan baru bangun tidur," sahut gue.


"Emang tadi tidurnya bentar?"


"Lumayan. Cuma kan bangunnya nggak atas kemauan sendiri, gegara denger suara hape aku tadi."


Kai meski tidur lumayan lama tapi kalau bangunnya tidak atas kemauan sendiri memang kadang suka rewel.


"Oh, pantesan."


"Btw, Ohim nggak jadi ikut? Bukannya tadi katanya mau ikut?"


Abbas mengangkat kedua bahu secara bersamaan. "Enggak tahu lah, gue telfon nggak diangkat, paling juga anaknya rewel."


"Masa sih? Perasaan anteng deh anak mereka."


"Anaknya yang gede," kekeh Abbas membuat kening Mala berkerut heran.


"Maksudnya?"


"Arumi, La," jawab gue yang langsung diangguki Abbas.


"Ya abis bini Ohim tuh masih terlalu muda, gap yearsnya kebanyakan, cocoknya jadi anak tuh ketimbang istri."


"Sembarangan aja kamu," sahut Alisa tidak setuju, "ya enggak lah, masih wajar kok gap years mereka tuh, kamu aja yang sirik."


"Kok jadi aku yang kena?" protes Abbas tidak terima.


Gue dan Mala langsung bertukar pandang. "Cie, cie, aku-kamu lagi nih?" goda gue yang langsung membuat keduanya mendadak salah tingkah.


"Sirik aja lo!" sahut Abbas ketus.


Gue langsung merangkul pundak Mala. "Ngapain sirik? Lupa lo kalau kita bentar lagi mau punya anak?" tanya gue sambil mengelus perut Mala yang belum terlalu terlihat membuncit.

__ADS_1


Dengan wajah ketus, Abbas mendengus kesal.


Tbc,


__ADS_2