Married With My Besti

Married With My Besti
Manja Mode On


__ADS_3

*


*


*


Begitu kelar jaga poli, gue langsung menelfon Mala untuk menanyakan keberadaan perempuan itu. Yang beruntungnya gue, dia lagi di ruangannya. Tanpa berpikir lama gue langsung bergegas menuju ruangannya.


"La, pusing," keluh gue saat masuk ke dalam ruangannya.


"Kalau pusing ke IGD sana, ngapain ke sini?"


Gue merengut kesal. Lalu berjalan ke arah Mala. Mengambil salah satu telapak tangannya lalu gue tempelkan pada dahi gue.


"Gue demam. Bentar lagi pingsan deh kayaknya."


"Ya udah, pingsan dulu sana, ntar gue telfonin dokter jaga IGD."


"Jahat banget." Gue melirik Mala sinis lalu duduk di sofa sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.


"Ngambek? Eh, iya, kan kita belum baikan ya?"


"La!"


Mala langsung menertawakan gue dengan puas. Ia kemudian berdiri dan berjalan menghampiri gue. "Ya ampun, calon suami gue clingy banget sih kalau lagi sakit? Utututu, sini-sini disayang-sayang dulu. Mau apa sayang? Mau dikompres? Dimasakin bubur? Disuapin? Iya?" Mala menarik kepala gue pelan lalu menyandarkannya pada pundaknya. Sebelah tangannya kemudian memeluk pundak gue, sesekali menepuk lengan gue.


Gue terkekeh saat mendapat perlakuan seperti barusan.


Mala mendengus. "Enggak usah ketawa lo! Btw, gue bentar lagi ada operasi."


"Susah ya punya calon istri super sibuk?"


"Emang. Jadi gimana, masih mau lanjut nggak?" goda Mala.


Gue langsung memelototinya tajam. "Sembarangan banget pertanyaan lo! Ya, lanjut lah. Kalau enggak, udah gue batalin semua. Tinggal berapa hari juga."


Mala terbahak lalu berdiri meninggalkan gue. Saat kembali duduk di samping gue, tangannya kemudian terulur. Oh, ternyata dia pergi tadi buat ambil minum.


Gue langsung menegakkan tubuh gue dan menerima gelas itu. Menegak air minum hingga tandas lalu kembali bersandar pada badan sofa.


"Mau gue anterin ke IGD apa gimana, Gha?" tawar Mala sambil mengelus rambut gue, "demam lo kayaknya lebih tinggi sekarang ketimbang semalem?"


"Enggak perlu."


"Mau ke sana sendiri?"


"Enggak perlu ke IGD maksud gue, La. I am okay."


"Ya udah, istirahat aja kalau gitu. Lo masih ada operasi nggak abis ini?"


Gue menggeleng.


"Visit?"


Gue mengangguk sambil mengacungkan jempol.


"Ya udah, pulang aja gimana kalau nggak mau ke IGD. Gue pesenin taksi ya? Jangan nyetir sendiri."


Gue menggeleng. "Mau pulang bareng lo aja," ucap gue sambil merangkul lengannya, "mau disetirin lo juga."


Mala memutar kedua bola matanya sambil memasang wajah pura-pura hendak muntah. "Najis, Gha," responnya sambil melepaskan lengannya dari rangkulan gue, "ngeri banget gue sumpah."


"Gue lagi sakit, La, astaga! Jangan dinajis-najisin kenapa sih?"


"Geli gue, anjir."


"Lo pikir gue ulet bulu?"


"Mirip kan? Lo kan suka gatel tuh sama dedek-dedek koas atau perawat magang."


Males banget gue kalau bahasan udah ke arah sana. Maka dari itu gue memilih diam dan memejamkan kedua mata. Berharap segera menjemput mimpi.


"Tidur yang enak! Baring yang bener," ucap Mala sambil menepuk paha gue.


"Bawel! Sana deh lo pergi! Katanya mau operasi?"


"Kok jadi lo yang ngusir?"


"Abis lo berisik."


"Ya udah, tidur yang nyenyak. Gue kerja dulu."


"Hm," respon gue seadanya dan mulai memejamkan kedua mata gue kembali.


*


*

__ADS_1


*


"Masih belum mau makan, Bun?" tanya bokap saat masuk ke dalam kamar gue.


Akhirnya setelah dua hari berlagak sok kuat, tetep kerja di saat badan gue lagi nggak karu-karuan, pada akhirnya gue tumbang juga. Kalian tidak perlu mengolok-olok karena profesi gue. Itu cuma profesi gue, guys, gue tetep manusia biasa yang bisa sakit. Jangan kalian pikir kami para petugas medis nggak bisa sakit, ya, mentang-mentang kami berkecimpung di dunia medis. Sakit itu wajar, dan tetep aja kita butuh petugas medis lainnya saat kita sedang sakit.


"Belum, Yah. Susah banget ini anak kamu disuruh makan."


"Bunda jangan gitu lah, kan tadi Agha udah makan."


"Dua sendok nggak masuk itungan makan ya, dek."


"Terus apa?"


Nyali gue belum cukup menciut, meski wajah Bunda terlihat sangat-sangat tidak bersahabat.


"Yah, kasih tahu anak kamu ini. Bunda capek."


Dengan wajah kesalnya, Bunda langsung berdiri dan meninggalkan kamar. Oho, sepertinya beliau merajuk.


"Bun," panggil gue. Namun, tidak digubris.


"Mampus, Bunda kamu ngambek tuh, makanya makan," omel bokap.


"Enggak enak, Yah. Pahit. Nggak enak."


"Ya, namanya orang sakit nggak enak lah makan, Gha. Tapi ya dipaksa dong dikit-dikit, yang penting perutnya keisi, biar kamunya nggak lemes begini. Malu sama gelar kali, masa soal ginian masih harus diceramahi juga?" Bokap berdecak dengan kesal sambil menatap gue sinis. Sebelah tangannya berkacak pinggang.


Gue diam dan tidak berani membalas. Membiarkan bokap yang kini mulai melakukan tugasnya, mengecek tensi darah gue.


"Masih rendah nih. Gimana? Mau dibawa ke rumah sakit aja apa gimana? Ayah males deh ngurusin kamu lama-lama."


"Ya ampun, jahat banget sih sama anak sendiri. Istri orang aja dirawat sepenuh hati, masa anaknya sendiri males ngurusnya?" protes gue ikut kesal.


"Ya abis, kamunya nggak mau dengerin Ayah. Nggak mau dengerin Bunda kamu juga. Ya, Ayah kesel lah. Jadi kamunya mau gimana?"


"Mau tidur aja lah, pusing dengerin Ayah ngomel mulu." Gue menarik selimut sampai menutup wajah.


"Terserah kamu lah, Gha. Ayah juga pusing ngurusin kamu lama-lama. Sekarang terserah kamu. Ayah nggak peduli. Susah banget dibilangin."


Kali ini giliran bokap yang merajuk.


Tak ingin ambil pusing, gue memutuskan buat tidur lagi. Kebetulan kerjaan gue seharian memang tidur sama dengerin Ayah dan Bunda ngomel.


Namun, tak lama setelahnya. Gue tiba-tiba merasakan usapan lembut pada rambut gue. Dan saat gue membuka mata, gue menemukan Mala di samping gue. Sedang tersenyum dengan wajah lelahnya. Gue langsung membalasnya dengan senyuman juga.


Bukannya menjawab pertanyaan gue, Mala malah menjewer telinga gue. Gue yang kaget dan kesakitan langsung mengaduh lalu protes.


"Kok gue malah dijewer?"


"Rasain! Siapa suruh sakitnya lama-lama?"


"Ya, gue juga maunya cepet sembuh kali, La. Lo pikir enak sakit lama itu?"


"Ya kalau tahu nggak enak, makanya cepet sembuh. Makan yang banyak, jangan nekat terus nggak mau makan. Lo itu bener-bener tahu nggak, Gha. Heran banget gue, astaga! Lo bukan anak kecil lagi, ya makan doang harus diingetin sama disuapin."


"Lo kalau ke sini cuma buat ngomel doang, mending pulang deh," usir gue sebal. Udah kenyang banget gue sumpah sama omelan Ayah dan Bunda.


"Bangun, duduk yang bener!" perintah Mala, "gue suapin."


"Lemes," rengek gue.


"Ya makanya makan biar nggak lemes." Mala menatap gue tajam, "nggak usah manja! Ayo, duduk yang bener! Senderan bantal kalau masih pusing."


"Lo bisa nggak sih nyuruhnya lembutan dikit? Jangan galak-galak gitu." Gue kemudian menata bantal untuk gue bersandar agar lebih nyaman.


"Kesabaran gue lagi setipis tisu dibagi sekampung terus kena air. Jadi nggak bisa untuk nggak galak." Mala menyendok bubur lalu mengarahkannya pada mulut gue.


Gue antara rela dan tidak rela, akhirnya membuka mulut.


"Lo udah makan?"


Mala mengangguk.


"Kapan?"


"Sebelum ke sini."


Mala kembali menyuapi gue. "Sama apa?"


"Cah kangkung sama ikan goreng."


"Oh, beli di mana?"


"Rumah makan Bunda."


"Enak?"

__ADS_1


Mala mengangguk dan berniat kembali menyuapi gue, tapi gue tolak.


"Di mana itu."


"Di bawah."


"Hah?" Gue bengong kayak orang bego, dan itu membuat Mala dengan mudahnya menyuapi gue kembali.


Gue melotot kesal ke arahnya, sedangkan Mala tersenyum puas dan kembali menyendok.


"Maksudnya gue makan di rumah lo, Gha. Ayo, buka mulutnya lagi. Aaa!"


"Udah," tolak gue dengan nada merengek.


"Sekali lagi."


"Udah kenyang."


"Mana ada dua suap kenyang," protes Mala, "ayo, sekali lagi. Abis itu udah, gue janji, tapi dilanjut ntar lagi."


"Lo jangan mengarang bebas! Mana ada cuma dua suap. Lo nyuapin gue berkali-kali, ya."


Mala manggut-manggut. "Iya, iya, oke. Tapi intinya Aaa lagi dulu."


Gue menggeleng tegas sambil menutup bibir gue rapat-rapat. Mala masih berusaha untuk menyuapi, namun, gue tetap bersikeras menolaknya. Akhirnya Mala pasrah. Diletakkan kembali mangkuk berisi bubur sisa makan gue. Tangannya kemudian mulai sibuk membuka bungkusan obat.


"Nginep di sini apa pulang?" tanya gue sambil menerima sebutir obat.


"Nginep di sini kayaknya. Gue udah nggak sanggup deh kalau harus nyetir pulang, takut ikutan tumbang kalau gue paksain. Apalagi acara lamaran kita tinggal menghitung hari."


"Nginep di sini?" ulang gue yang langsung diangguki Mala dengan cepat, "seriusan di sini?" tanya gue masih tidak percaya. Tangan gue menunjuk ke arah bawah, "di kamar gue banget?"


"Gue gampar ya lo, Gha?" ancam Mala emosi.


Gue terbahak lalu mulai meminum semua obatnya sekaligus. "Bercanda, sayang, marah-marah mulu deh lo


perasaan."


"Wah, beneran minta digampar ini orang."


"Hei, jangan sembarang lo, La! Gue lagi sakit ini, main gampar-gampar aja," gerutu gue kesal. Pasalnya Mala sudah terlihat bersiap-siap seolah benar-benar ingin menggampar gue.


"Makanya jangan macem-macem sama gue, lo," kata Mala sambil meraih buah jeruk, "makan buah ya? Gue kupasin," tawarnya kemudian. Nada bicaranya terdengar lebih lembut dari yang tadi.


Gue menggeleng sebagai tanda jawaban.


"Gue suapin juga, anjir, tapi lo makan sesuatu gitu loh, Gha. Biar cepet sembuh," omel Mala kembali ke nada bicara galaknya, "atau lo mau buah yang lain. Atau mau makanan yang lain? Mau apa lo?" tanyanya kemudian. Namun, malah terdengar seperti nantangin.


Gue terkekeh saat mendengarnya. "Peluk."


"Enggak usah aneh-aneh! Lo mau kita dikawinin besok pagi kalau sampai ke-gap sama Ayah atau Bunda?"


"Bukannya malah bagus?" goda gue.


Mala menatap gue sinis sambil mendorong pipi gue menggunakan jari telunjuknya. "Stop aneh-aneh deh, Gha! Ngerepotin banget sih."


"Ya elah, masa sama calon suaminya sendiri dibilang ngerepotin sih, La?" protes gue kesal.


Mala mendengus. "Tapi lo emang beneran ngerepotin pas sakit begini. Mana bandel banget lagi." Ia berdecak kesal tak lama setelahnya.


"Tapi tetep sayang kan?"


Mala memilih untuk tidak menjawab dan malah balik bertanya, "Lo udah ngantuk belum?"


Dasar gengsian.


"Kenapa?"


"Gue ngantuk," ucap Mala sambil menguap.


"Ya udah tidur."


"Lo nggak papa gue tinggal?" tanya Mala ragu-ragu.


Dengan wajah penuh keyakinan gue mengangguk. "Lo tinggal pulang juga sebenernya gue nggak papa kali, La."


Mala mengangguk paham lalu berdiri. "Ya udah, gue tidur duluan ya," pamitnya kemudian.


"Hmm. Jangan lupa baca doa dulu!"


Mala berbalik sambil terkekeh. "Biar nggak mimpiin lo ya?"


"Sialan lo!"


Mala hanya tertawa lalu menutup pintu kamar. Setelahnya, gue tentu saja ikut tidur.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2