Married With My Besti

Married With My Besti
Bikin Anak, yuk!


__ADS_3

*


*


*


Abbas langsung mematikan kompornya saat menyadari ada panggilan masuk. Cepat-cepat ia menghampiri meja ruang tamu, di mana ia meletakkan ponselnya di sana. Ia pikir yang menghubungi adalah Alisa sang istri, ternyata bukan, melainkan nama Agha yang tertera di layar ponsel. Ia menggerutu sesaat, sebelum akhirnya menjawab panggilan tersebut.


"Hm," respon Abbas sedikit ogah-ogahan.


Terdengar decakan dari seberang. "Buset, reaksi lo begitu banget, Bas," protes suara dari seberang.


Abbas menghela napas lalu memilih duduk di sofa. "Ya lo ngapain, telfon malem-malem?" ia kemudian menyadarkan punggungnya pada badan sofa. Tubuhnya cukup lelah seharian ini ditambah ia baru saja menyelesaikan masakannya. Sejujurnya tiba-tiba ia merasa sedikit mengantuk.


"Kenapa? Gue ganggu malem pertama lo yang tertunda itu ya?" ledek Agha sambil terkekeh geli, "udah nggak bingung lo?" sambungnya kemudian.


Abbas mendengus kesal. Umpatan samar keluar dari mulutnya. "Halah, gaya lo kayak paling bener aja. Nggak usah ngeledek gue lo," decaknya kemudian.


"Ya abis lo aneh-aneh, udah tua masa gitu aja pake nggak berani. Cemen banget sih lo, Bas? Masa kalah sama bocah."


Agha kembali meledek Abbas. Meledek Abbas cukup menyenangkan. Dan ia senang melakukannya. Lumayan buat hiburan.


"Ya emang dasar bocah jaman sekarang aja yang nggak tahu adab. Nggak mikir jangka panjang, tahunya seneng doang," elaknya tidak terima. Apalagi ini dibandingkan dengan bocah, tentu saja ia tidak terima.


"Ya, daripada lo nggak tahu cara bersenang-senang," balas Agha tidak mau kalah. Ia kembali terkekeh samar tak lama setelahnya.


"Lo kalau nelpon cuma mau ngeledek gue, mending gue matiin sih."


Abbas memutar kedua bola mata kesal karena tidak tahan menanggapi ledekan Agha.


"Dih, gitu aja ngambek. Gue mau kasih info penting nih."


"Apaan? Kalau nggak jelas gue samperin terus gue hajar beneran ya, Gha!" ancam Abbas terdengar tidak main-main.


"Kaga, ini seriusan penting," ucap Agha yakin, "Ini soal Alisa, bro."

__ADS_1


Abbas yang tadinya hendak mematikan sambungan telfonnya, mendadak urung, karena mendengar nama sang istri disebutkan.


"Gini, bro, sebenernya nggak enak sih ngomong ditelfon, cuma gue capek banget kalau harus nyetir buat nemuin lo, jadi gue ngomong di telfon aja nggak papa kan?"


Abbas mengangguk tidak masalah. "Gue juga capek banget kalau mau ngalah nemuin lo, ngomong aja di telfon nggak papa."


"Oke, intinya lo harus segera, secepatnya meng-unboxing Alisa. Udah itu."


"Lo beneran minta dihajar ya, Gha?"


"Bukan, serius gue, anjir. Lo serius harus segera meng-unboxing Alisa, sebelum bini lo makin overthinking. Lagian ya lo aneh kok, Bas, punya bini secantik Alisa bisa-bisanya lo anggurin gitu aja. Wajar lah kalau Abbas mempertanyakan orientasi lo."


Agha mendengus tidak percaya kala mengingat kelakuan sang sobat. Benar-benar tidak habis pikir.


"Overthinking?" beo Abbas dengan wajah terkejutnya, "maksud lo, Alisa overthinking karena sikap gue?"


Agha mengangguk dan mengiyakan. "Iya, Bas, kasian loh si Alisa. Udah lah, lo jangan begitu terus. Harus berani, jangan cemen, lo cowok loh, Bas, kalau lusa. Kan yang penting Alisa mau."


Seketika perasaan bersalah menghantuinya. Abbas tidak menyangka kalau sikap canggung yang ia rasakan akan berefek demikian.


Klik


Tut Tut Tut


Sambungan terputus. Pikiran Abbas mulai berkelana karena perasaan bersalahnya.


*


*


*


Alisa benar-benar ingin menangis rasanya saat pulang dan langsung bergegas menuju dapur, tapi di sana sudah terhidang sayur dan juga lauk pauk hasil masakan Abbas. Padahal tadi sebelum ia pulang, ia sudah mampir ke warung makan untuk membeli makan. Ia sedih karena ia merasa seperti tidak berguna, bahkan untuk urusan perut pun, ia masih belum dapat mengurus Abbas dengan cukup. Kalau sampai sang mertua tahu tentang semua ini, mertuanya mungkin akan merasa menyesal karena telah mengizinkan sang putra menikah dengannya.


"Eh, Sa, udah pulang? Kok aku nggak denger suara kamu? Udah lama?"

__ADS_1


Alisa menggeleng. "Kamu kenapa nggak bilang kalau masak sih, Bas? Kan tahu begini aku tadi nggak usah beli makanan. Lumayan lebih hemat."


Abbas meringis dengan ekspresi bersalahnya. 'Maaf aku nggak kepikiran."


Alisa menatap sang suami dengan ekspresi sedihnya. "Bas, kamu masih suka lupa ya kalau udah punya istri? Atau kamu merasa pernikahan kita ini cuma mainan atau gimana sih? Atau hanya status yang kamu inginkan?"


"Sa," panggil Abbas dengan nada putus asa, serius, bukan inginnya membuat perempuan itu merasa demikian, "enggak gitu. Maaf kalau sikap aku keterlaluan. Aku nggak maksud bikin kamu mikir begitu. Aku nyesel, Sa. Maafin aku!" sesal Abbas serius, "aku cuma nggak mau kamu yang pulang kerja capek terus masih harus mikir makan. Makanya aku inisiatif masak."


Alisa diam sesaat, lalu melirik Abbas sambil menghela napas panjang. "Sikap aku sekarang berlebihan banget ya, Bas?"


Abbas menggeleng cepat. "Enggak, Sa, sama sekali nggak berlebihan. Justru aku yang ngerasa demikian. Maafin aku, ya. Aku yang bodoh karena nggak paham situasi dan kondisi. Aku beneran nyesel, Sa. Maaf karena udah bikin kamu overthinking."


"Apa aku kurang menarik, Bas?"


Abbas kembali menggeleng cepat. "Sama sekali bukan karena itu, Sa, emang dasar aku yang bodoh, cemen dan juga payah. Kalah sama bocah kalau kata Agha. Maafin aku ya? Aku janji abis ini nggak bakalan begitu lagi. Yuk, bikin anak!" ucap Abbas membuat Alisa tertawa. Merasa lucu dengan kalimat ajakan sang suami. Kenapa kalimatnya mirip yang Mala ucapkan, apa perempuan itu langsung menemui suaminya setelah ia selesai curhat?


Kalau iya, Alisa bersumpah akan menjambak rambut perempuan itu.


"Mala abis nemuin kamu?"


Abbas mengerutkan dahi heran. "Ngapain?" tanyanya dengan ekspresi bingung, "maksudnya ngapain aku nemuin Mala? Bukannya nemuin Mala sekarang susah ya? Eh, kalau nemuin langsung ke rumahnya enggak deh ya, tapi yang susah itu kalau ngajak ketemu di luar soalnya Mala ada Kai."


"Jadi intinya kamu nemuin dia nggak?"


Abbas menjawab dengan gelengan kepala cepat. Alisa kemudian manggut-manggut paham. Oh, hanya kebetulan. Batinnya kemudian.


"Bukan kebetulan, cuma aku copas kalimat Agha.kayaknya emang dasar merekanya yang sehati deh."


Sekali lagi Alisa mengangguk paham sambil ber'oh'ria.


"Jadi mau apa enggak?" tanya Abbas memastikan.


"Aku rasa pertanyaan itu nggak perlu dijawab deh karena kamu pasti udah tahu jawabannya. Kalau nggak mau, aku nggak akan mau nikah sama kamu. Aku mandi sama bebersih dulu ya?"


Abbas mengangguk paham dan mempersilahkan sang istri untuk masuk ke dalam kamar sedang dirinya bersiap-siap. Mendadak ia sudah tidak lapar, sepertinya keduanya akan melakukan makan malam.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2