Married With My Besti

Married With My Besti
Tetiba Ngidam


__ADS_3

*


*


*


Begitu sampai rumah bukannya mandi, gue justru malah berbelok menuju ruang tengah di mana anak istri gue biasa ada di sana. Dan benar saja ternyata mereka sedang berada di sana sambil menonton acara televisi ditemani nyokap gue.


Lah, gue pikir hari ini jatahnya mertua gue yang nemenin Mala, eh, tahunya nyokap gue sendiri.


"Mandi dulu, Gha!" tegur Mala saat menyadari keberadaan gue.


Gue meringis samar lalu menghampiri Kai, tentu saja setelah tadi sempat mencium punggung tangan Bunda lebih dahulu.


"Keburu kangen sama anak kesayangan nih, La, bentaran kenapa sih?"


"Bentarnya kamu itu lama pake banget, Gha, bisa hampir sejam atau bahkan lebih," omelnya kemudian.


Ya, begini lah Mala, meski bokap gue bilang kondisi Mala dan janinnya agak rentan tapi kalau masalah ngomel-mengomel tetep juara. Nggak ada duanya.


"Bener kata Mala, Gha, kamu kan baru abis dari luar, apalagi kamu dari rumah sakit, mandi dulu lah, kan mainnya bisa ntar-ntar," sahut nyokap ikut-ikutan mengomeli.


Gue langsung merengut sambil menatap keduanya secara bergantian. Kalau giliran ngomel-mengomel mereka tuh klop banget deh, eh, tapi untuk beberapa hal menurut gue nyokap sama Mala lumayan klop sih. Meski sekilas sifat keduanya itu terlihat berbeda tapi sebenarnya mereka lumayan cukup mirip dalam beberapa hal.


"Bunda belum mau pulang?" tanya gue mengalihkan pembicaraan.


"Kamu ngusir Bunda?"


Bukan, tentu saja itu bukan suara nyokap, melainkan suara Mala. Nada bicaranya terdengar protes dan seolah tidak percaya.


"Enggak, La, nanya doang. Astaga, ya ampun. Masa iya aku usir Bunda, orang yang paling berjasa dalam hidup aku? Enggak mungkin lah, La, kalau nggak ada Bunda nggak akan ada aku, Kai, atau calon bayi yang kamu kandung. Gimana sih?"


"Udah, nggak usah kebanyakan monolog, buruan mandi, Gha! Kamu itu loh, disuruh mandi kok susah banget sih kayak bocah?" Mala berdecak sambil menatap gue galak, "udah mau punya bocah dua loh ini, Gha, kelakuan dikondisikan sedikit bisa nggak sih?"


"Kamu juga jangan galak-galak bisa nggak sih?" balas gue tidak mau kalah, "oh ya, Bun, tahu nggak tadi pas di rumah sakit aku ketemu siapa?"


"Yang ketemu kamu, kenapa yang nanya kamu juga, Gha?" sahut Mala dengan nada snewen.


Gue berdecak sambil melirik Mala sinis. "Apaan sih nyahut-nyahut, aku kan mau cerita sama Bunda."


Mala langsung mendengus lalu melempar bantal sofa ke arah gue. "Mandi dulu, Gha, jangan kebanyakan omong!" decaknya makin kesal.


Spontan gue tertawa lalu mendekat ke arahnya. "Bentar dulu kenapa sih, La? Aku masih capek banget tahu, aku butuh istirahat."


"Kan kalau udah mandi lebih enak istirahatnya, Gha, astaga, Tuhan. Kamu ini bener-bener deh. Minta ampun banget aku kalau ngadepin kamu. Mandi sekarang atau nggak usah tidur di kamar!"


Kalau Mala sudah berkata demikian gue bisa apa selain nurut. Maka dengan pasrah akhirnya gue berdiri dengan wajah cemberut.


"Iya, iya, aku mandi sekarang, La," ucap gue pasrah. Sebelum mandi gue mencuri kecupan pada perut Mala, baru setelahnya gue pergi meninggalkan ruang tengah menuju ruang atas, ke kamar kami.


*


*


*


Begitu selesai mandi, gue kembali menuju ruang tengah lagi. Bunda sedang mengupas buah apel buat Mala, gue langsung mencomot potongan apel yang baru saja Bunda kupas baru setelahnya duduk tepat di sebelah Mala.


"Agha, iihh, itu kan Bunda kupas buahnya buat aku kenapa malah kamu yang makan?" protesnya dengan wajah ditekuk.


Karena takut Mala makin ngambek, gue langsung menyuapi sisa gigitan gue ke mulut Mala.

__ADS_1


"Sama suami sendiri masa begitu, La?" protes gue kemudian.


Gue protes bukan tanpa alasan, melainkan karena Mala menerima bekas gigitan gue tadi. Gue pikir Mala akan mengikhlaskannya begitu saja, eh, taunya masih mau meski itu bekas gue.


"Kamu lupa pas kamu lagi ngidam es krim Viennetta?"


Gue mencoba mengingat-ingatnya, namun tidak bisa mengingatnya. Bukan tanpa alasan soalnya selama kehamilan pertama Mala, gue sering pake banget ngidam tuh, jadi sekarang mana gue inget apa aja dulu yang gue pengenin. Soalnya seinget gue ada banyak.


Gue kemudian mengangguk dan mengiyakan. "Iya, La, aku lupa."


Mala berdecak lalu mendengus tidak percaya. "Halah, pura-pura lupa aja kan kamu? Nggak mungkin lupa beneran. Dulu kamu pas ngidam itu sampai nggak mau berbagi sama aku loh."


"Serius aku begitu?" tanya gue sedikit tidak percaya. Perasaan tiap gue beli atau pengen sesuatu tuh lebih seringnya Mala sendiri yang dapat jatah buat ngabisin, gue mah ya paling makan doang.


"Iya tauk, dan parahnya dulu kamu malah berbagi sama mantan kamu, si tetangga sebelah." ia kemudian mengadu pada Bunda, "Bun, dulu Agha parah banget deh masa sampai begitu, nggak mau berbagi sama aku eh, giliran sama mantan dibagi, ngeselin banget kan?"


Mendengar aduan dari sang menantu, Bunda langsung menatap gue serius.


"Bener itu, Gha?" tanya memastikan.


Gue meringis salah tingkah, kalau ini gue inget soalnya kami sempat berantem karena hal ini, jadi nggak mungkin kalau gue sampe lupa.


"Tapi Agha punya alasan, Bun--"


"Apapun alasannya mana boleh kamu begitu sama istri sendiri, kondisi istrimu yang lagi mengandung. Mana boleh kamu begitu, mau gimana pun istri harus jadi prioritas kamu baru yang lain. Ngerti nggak, Gha?"


Dengan kepala menunduk gue mengangguk cepat. "Ngerti, Bun."


"Besok-besok nggak boleh lagi."


Gue kembali mengangguk. "Iya, Bun, lagian itu kan kejadiannya udah lama juga kok."


"Paham, Bun."


Bunda itu tipe yang amat sangat jarang marah. Marahnya beliau bahkan bisa dihitung jari, saking jarang terjadinya. Jadi kalau semisal gue ditegur doang begini tuh rasanya udah campur aduk.


"Syukurin!" ucap Mala sambil menjulurkan lidahnya puas. Merasa udah menang aja dia.


Sementara gue merengut kesal. "Ngeselin banget sih kamu, La."


"Ya itu salah kamu sendiri karena nggak mau berbagi sama istri."


"Iih, Bunda Agha bukannya nggak mau berbagi, Agha maunya beliin dia sendiri, kalau semisal Mala mau, ya aku beli dua, kalau nggak mau ya aku beli satu aja," protes gue tidak terima.


"Ya, kenapa harus beli dua kalau beli satu aja bisa dibagi?"


"Tuh, dengerin apa kata Bunda, Gha. Di mana-mana namanya perempuan pasti perhitungan, kamu pake segala mau beli dua, ya nggak aku kasih izin lah. Kamu bilang nggak mau berbagi, eh, ketemu mantan dua detik aja langsung kasih ke mantan gitu aja, belum move on kamu?" sindirnya Mala sambil mendengus.


"Kok jadi bawa-bawa belum move on itu apa maksudnya, La? Aku kalau belum move on nggak bakal ada adik Kai di perut kamu, La." gue berdecak kesal sekaligus tidak terima.


Gue paling nggak suka kalau pembahasan kita itu udah bawa-bawa mantan. Pasti ujungnya bakal ribut. Malesin.


"Udah-udah, kok malah jadi berantem?" lerai Bunda sambil menyodorkan buah apel yang baru saja selesai beliau kupas.


"Gara-gara kamu sih, Gha," ucap Mala menyalahkan.


Gue melotot tidak terima. "Kok jadi aku? Kan kamu duluan yang mulai loh, kok bisa-bisanya jadi aku."


"Ya kalau kamu nggak comot buah apel yang dikupas Bunda buat aku, aku nggak bakalan tetiba keinget kelakuan kamu yang dulu itu."


Tak ingin perdebatan kami bertambah panjang, gue pun akhirnya memilih untuk mengangguk dan mengiyakan.

__ADS_1


"Iya, iya, salah aku, pokok semua salah aku. Udah beres."


"Nah, gitu dong ngalah sama istri, jangan maunya menang sendiri terus."


"Ya namanya usaha, siapa tahu bisa menang beneran?"


"Sama istri itu yang ngalah," ucap Bunda menasehati sambil menyodorkan potongan buah apel yang sudah dikupas ke gue, inisatif biar nggak terjadi adu mulut karena buah apel sih gue rasa.


"Jangankan sama istri, Bun, sama anak sendiri aja masih mau menang sendiri kok," sahut Mala.


"Enggak boleh begitu, Gha, nanti anakmu ikut-ikutan loh, kamu mau?"


Tin Tin Tin


Tak lama setelahnya suara klakson terdengar. Bunda langsung berdiri dan beberes barang-barangnya.


"Itu Ayahmu sudah dateng, Bunda langsung pamit, ya."


"Lah, kenapa Ayah nggak disuruh turun terus masuk ke sini dulu, Bun, emang mau langsung pulang?" gue pun ikut berdiri.


"Kayaknya takut kecapekan soalnya besok mau berangkat pagi-pagi ke Bandung, daripada telat mending kita langsung pulang."


Gue mengangguk paham.


"Enggak usah dianter, kayak nggak tahu jalan aja mending itu kamu lanjut kupas buahnya. Bunda tinggal ya, assalamualaikum!"


"Wa'allaikumasalam. Hati-hati, Bun!"


Bunda buru-buru langsung pergi begitu saja mumpung Kai lagi asik sendiri. Soalnya itu bocah bisa mendadak tetrum kalau ditinggal Bunda.


Setelah memastikan punggung Bunda menghilang gue kembali duduk di sebelah Mala, sengaja tidak memberi jarak di antara kami. Kalau nggak lagi hamil udah pasti Mala bakalan mengomel panjang, untung saja aman.


"Gha," panggil Mala tiba-tiba.


"Hm," respon gue seadanya.


"Kayaknya aku pengen mie deh."


"Mie ayam?"


Mala menggeleng cepat.


"Terus mie apa?"


"Mi Singapure."


Spontan gue langsung terbahak.


"Iiih, kok malah ketawa, aku serius. Gimana ya? Ayah pasti nggak kasih izin aku terbang kan?"


"Kamu serius?" tanya gue dengan ekspresi tidak percaya.


"Kenapa pengen di Singapura, astaga, La, kamu jangan aneh-aneh deh, kondisi janin kamu nggak kayak pas hamil Kai, La."


Mala merengut. "Ya kan aku nggak tahu, tetiba pengen gitu aja," ucapnya sambil menahan tangis.


Astaga ya ampun, kenapa tetiba banget?


Tbc,


"

__ADS_1


__ADS_2