
*
*
*
"Kenapa muka lo, suntuk banget? Kayak nggak abis dapat jatah aja," ledek Abbas saat gue masuk ke dalam apartemennya.
Gue hanya mendengus sebagai respon lalu memilih menghempaskan tubuh pada sofa. Ceritanya Mala tadi pagi tetiba ngambek entah gegara apa, pokoknya gue nggak dikasih izin buat pulang, itu intinya.
"Eh, emang nggak dapet ya soalnya Mala masih hamil muda dan kondisinya yang butuh perhatian ekstra," jawabnya sendiri, ia kemudian berdecak dan geleng-geleng kepala, "bini lagi hamil, kondisi butuh perhatian khusus, eh, malah ditinggal. Dasar lo, Gha, gue kalau jadi Mala udah kepikiran buat ke kantor pengadilan paling."
"Jaga mulut lo!" amuk gue kesal. Gue kemudian berdiri menuju dapur, "masak apaan lo hari ini?"
"Enggak masak, jarang masak sih gue sekarang."
Gue menaikkan alis heran. "Kenapa begitu?"
Sesibuk-sibuknya Abbas, biasanya dia selalu menyempatkan diri untuk tetap memasak. Ini kok tumben bener.
"Hehe, kan sekarang ada partner makan malam, jadi ngapain gue repot-repot masak?"
Partner makan malam?
Otak gue berpikir sejenak. "Alisa?" tebak gue kemudian.
Abbas langsung mengangguk dan mengiyakan.
"Oh, jadi kalian ini sebatas partner makan malam doang nih ceritanya?" ledek gue setengah terkekeh.
Kali ini ekspresi Abbas berubah kesal. Pria itu berdecak kesal lalu menatap gue sinis. "Gue si penganut step by step, Gha, nggak kayak lo. Nggak sabaran," cibirnya kemudian.
__ADS_1
Gue langsung terbahak. "Dih, gue mah sat set lah, nggak kayak lo lelet, kebanyakan mikir, ditikung orang ntar nangis-nangis terus mabok." kini gantian gue yang mencibir, "dih, cemen."
Abbas langsung mengumpat kasar seraya terbahak. Mungkin ia merasa tertampar dengan kalimat gue barusan. Mampus, emang gue sengaja.
"Kata gue, lo harus gerak cepat, Bas, serius. Perempuan itu butuh kepastian. Perempuan kebanyakan itu hampir-hampir sama, mereka tuh cuma butuh pria yang berniat serius dan menunjukkan keseriusannya. Mereka tuh nggak butuh yang namanya pria yang ngakunya cinta mati tapi nggak ada bukti. Dih, buat apaan, mereka nggak butuh yang begituan, buang aja yang begitu tuh ke laut biar ditangkep ikan hiu."
"Mulut lo pedes banget sih kayak chili oil."
"Biarin, biar lu itu gerak cepat, Bas. Gue aja udah nggak tahan lo ngeliat lo selama ini, apalagi Alisa."
"Alisa slow tuh." Abbas kemudian berdecak kesal, "apaan sih? Kenapa jadi bahas gue? Lo tadi ke sini mau ngapain? Curhat kan? Sok buruan curhat, makannya lo pesen aja plus bayar sendiri."
Gue menggeleng cepat. "Enggak, gue nggak mau curhat tuh, mau numpang tidur."
Abbas bereaksi sedikit berlebihan, ia melotot tajam. "Numpang tidur? Maksudnya lo mau nginep di sini?"
"Iya lah, gimana sih? Masa maksud gitu aja nggak ngerti?"
Abbas berdecak kesal. "Enggak gitu maksud gue, bukan karena gue nggak ngerti, tapi gue kaget. Maksudnya kenapa lo mau nginep di sini? Emang rumah lo kebanjiran? Kan kaga."
"Terus lo nurut gitu aja?"
"Ya enggak lah, gue pulang dulu lah tadi, mau minta maaf gitu niatnya kalau semisal gue ada salah kata atau sikap, gue bawain makanan dong pulangnya. Gue beli martabak tuh kesukaan dia, eh, dia-nya malah tambah ngamuk. Ya udah gue langsung cabut ke sini lah."
"Gila, sampai sebegitunya?"
"Iya, sampai sebegitunya, Bas. Enggak tahu lah gimana cara ngehadapi itu orang. Pusing juga gue."
"Ya udah sih, sabar aja, kan Mala juga lagi hamil anak lo. Bosen kali dia di rumah terus, kan lo tahu sendiri dulunya Mala sesibuk apa, eh, sekarang disuruh di rumah doang dan nggak ngapa-ngapain pasti bosen lah, bawaannya pasti sumpek, stres, dan lainnya. Jadi maklumi aja!"
Gue mengangguk setuju. Apa yang Abbas katakan ada benarnya. Untuk saat ini Mala pasti sedang mengalami culture shock karena terbiasa dengan jadwal yang super duper sibuk, eh, sekarang disuruh duduk diem di rumah dengan kegiatan yang dibatasi. Jelas saja ia pasti bosan.
__ADS_1
"Lo sih pake acara kebobolan segala, kan Mala pengennya punya anak ntar-ntar dulu, eh, lo-nya malah ini, ya wajar kalau dia bawaannya sensi ama lo. Apalagi kan dulu pas kehamilannya yang pertama lo ngeselin parah juga, impas kan jadinya."
"Ya mana gue tahu kalau bakal kebobolan, soalnya gue selalu mengupayakan untuk main aman, Bas, karena gue tahu Mala sebenernya belum siap buat hamil lagi. Makanya gue selalu hati-hati, eh, taunya keblabasan juga."
Abbas mengangguk. "Tapi ya, Gha, gue agak heran deh sama Mala. Kan Mala sebenernya belum siap nih buat hamil lagi, dan kondisi janinnya begini, kenapa dia nggak relain aja sih, maksudnya karena ini kehamilan yang nggak direncanain, ya gue pikir ya bakal direlain gitu loh."
"Dibilang naluri seorang ibu juga, mau gimana pun keadaannya pasti dipertahanin lah. Tapi di awal gue juga agak heran sih, gue pikir Mala juga bakal relain gitu aja soalnya emang kondisinya begini, kita udah ada Kai juga dan posisinya dia harus tetap kerja. Eh, taunya Mala malah melepas karirnya demi ngejaga anak kami. Duh, jadi ngerasa bersalah gue sama Mala. Dia udah berkorban banyak, tapi mood swim dikit, eh, gue-nya ngeluh mulu."
"Nah, makanya malu lo harusnya banyak-banyak bersyukur dan bukannya banyak ngeluh."
"Ini gue juga bersyukur. Alhamdulillah untung aja bini gue Mala. Coba kalau bukan, duh, nggak tahu deh."
"Pulang gih!" usirnya tiba-tiba.
Gue melongo. Kenapa mendadak gue langsung diusir begitu saja?
"Buset, nggak pake prolog banget, masa tetiba diusir gitu aja."
Abbas berdecak kesal. "Enggak usah banyak nanya, pokok lo buruan pergi atau kalau nggak mau pulang juga nggak papa, lo bisa nginep di--"
"Lo lagi nungguin cewek lo ya?" tebak gue langsung memotong kalimatnya.
Abbas menggeleng cepat. "Bukan. Pokoknya lo harus pulang sekarang. Itu intinya."
"Kalau gue nggak mau?"
"Gue panggil supir," ancam Abbas terdengar serius dan tidak main-main.
Gue memandang Abbas curiga. "Lo nyembunyiin sesuatu dari gue?"
Tanpa repot-repot mengeluarkan suara, Abbas langsung menggeleng cepat. Hal ini membuat gue semakin menaruh kecurigaan yang berlebih. Hingga akhirnya suara bel terdengar. Kami langsung bertukar pandang sebentar dari berebut untuk membuka pintu.
__ADS_1
Penasaran aja gue siapa tamu yang ditungguin Abba. Apakah Alisa?
Tbc,