Married With My Besti

Married With My Besti
Quality Time With Papa Part 2


__ADS_3

*


*


*


Bubur Kai bahkan sekarang sudah berubah encer. Sekarang gue mulai tidak tahan, akhirnya gue memutuskan buat kasih nasi beserta sayur dan ati ayam yang gue haluskan sesuai intruksi Mala di awal.


Berhubung gue bingung biasanya Mala menggunakan alat yang mana untuk menghaluskan makanan Kai, gue memutuskan untuk menggunakannya menggunakan sendok. Bodo amat, yang penting lumayan halus. Toh, kata Mala nggak perlu terlalu dihaluskan banget.


Setelah selesai, gue kembali mencoba menyuapinya lagi. Dan berhasil, Kai makan lebih lahap dibandingkan makan bubur instan tadi.


Oke, masalah makan sudah kelar. Sekarang saatnya... Gue spontan meringis kala melihat wajah belepotan Kai. Baiklah, tugas berikutnya menanti.


Sebenarnya kalau masalah mandi memandikan, bagi gue itu adalah tugas yang mudah. Bukan bermaksud sombong, tapi dari Kai masih bayi sampe sekarang tetep masih bayi juga sih, gue sama Mala emang sering bergantian untuk memandikan Kai. Tapi akhir-akhir ini gue benar-benar menyerah kalah kalau disuruh memakaikan baju.


Soalnya Kai aktif banget, dia hobi kabur-kaburan kalau mau dipakaikan baju. Padahal dia belum bisa jalan, gimana kalau udah bisa jalan ya? Gini aja gue udah emosi duluan, gimana kalau udah bisa lari?


Kan, kan, baru juga rambutnya mau dikeringin bentar, udah kabur aja ini bocahnya.


"Dek, bentar dulu dong, mainnya nanti. Ini sekarang rambutnya dikeringin dulu, pakai baju biar ganteng. Nanti abis itu baru kita lanjut main," omel gue kemudian, "pokok kalau sama Papa, kamu bisa main sepuas-puasnya, seharian full juga Papa kasih izin. Tapi yang penting sekarang kamu duduk diem anteng dulu."


Kai kembali memberontak dan ingin melarikan diri sekali lagi. Kesabaran gue kali ini sudah menipis. Sesaat gue mencoba mengabaikan tangis Kai yang masih berusaha melarikan diri, agar gue sukses memakaikan dia baju. Kami sempat ribut kecil, Kai berusaha kembali memberontak. Sampai akhirnya gue benar-benar berhasil memakaikan dia baju.


Gue akhirnya bisa bernapas lega sambil merebahkan tubuh gue begitu saja. Membiarkan Kai langsung kabur sesuka hatinya.


"Astaga, ya ampun, Dek, perkara pake baju aja Papa sampe ngos-ngosan begini," keluh gue yang langsung membuat Kai berhenti merangkak dan menoleh ke arah gue, "Papa capek, kamu boleh main sendirian dulu," sambung gue kemudian.


Merasa mendapat lampu hijau, Kai kembali melanjutkan merangkaknya. Astaga, dia terlihat bahagia sekali setelah berhasil meloloskan diri.


Gue hanya memandang Kai dari kejauhan. Kondisi gue sekarang tergelatak di lantai begitu saja. Padahal ini masih pagi tapi rasanya energi gue seperti hampir tersedot habis.


Seketika gue langsung kangen Mala. Dia kapan pulang sih? Baru ditinggal berapa jam rasanya gue beneran kayak nggak sanggup menjalani hidup. Gimana Mala biasanya ya? Mana dia juga kerja kayak gue. Kok dia nggak pernah ngeluh? Soalnya gue kalau weekend juga nggak bisa melulu nemenin Mala buat ngurus Kai. Apa lagi akhir-akhir ini, gue mulai lumayan aktif memotret lagi. Lumayan, selain bisa melakukan hobi, penghasilannya lumayan juga buah nambah-nambah beli susu dan popok Kai.


Tak terasa tiba-tiba kedua mata gue memberat. Gue ketiduran. Tahu-tahu dibangunkan Kai dengan celotehan tidak jelasnya.


"Mamam, mamam."


Gue tertawa karena tiba-tiba Kai mencium pipi gue dengan sedikit agresif.


"Kan barusan udah mamam, nanti lagi dong, sayang," ucap gue langsung mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di atas perut gue, "emang adek udah laper lagi?"

__ADS_1


"Mamam, mamam," balas Kai.


Gue mengkerut bingung. Masa iya ini bocah udah laper lagi.


"Laper, dek?"


"Mam. Mamam, mamam."


Gue langsung menurunkan Kai dari atas perut dan mendudukkannya di atas karpet. Lalu gue segera mencari ponsel gue, setelah ketemu gue langsung menghubungi Mala.


"Ya, gimana, Gha? Kai rewel kah? Ini aku ketemu Kak Ale, kayaknya aku pulangnya agak siang, atau mungkin sorean deh."


Buset, kalau udah ketemu Kak Ale alamat bakalan pulang sore ini si Mala. Pasti Kak Ale menghasut Mala supaya pulang malam sekalian. Kakak gue emang gitu, nggak bisa banget liat gue seneng.


"Iya, iya, terserah kamu, yang penting kamu have fun," balas gue pasrah.


Kalau sudah berurusan sama Kak Ale gue cuma bisa pasrah.


"Duh, baik banget suaminya aku. Ada maunya ya pasti?"


"Iya lah, aku mau jatahku nanti malam dobel, buat bonus."


"Udah lah."


"Siapa yang pakaiin baju?"


Gue mendengus. Merasa konyol dengan pertanyaan Mala. "Ya, aku lah, masa Pak RT."


"Siapa tahu kamu telfon siapa gitu buat bantuin kamu jaga Kai."


Gue menggeleng tidak setuju. "Ya mana bisa, kan aku lagi mau luangin waktu berdua sama anak kesayangan, masa malah nyari bantuan. Btw, aku mau nanya. Ini dari tadi Kai ngoceh mamam terus, La, maksudnya ini anak udah laper lagi gitu?"


"Emang tadi nggak jadi makan?"


"Jadi kok. Aku halusin nasi sama sayur juga."


"Oh, berarti bukan. Dia emang lagi seneng ngomong itu sih kata Mama, mamam, mah. Mama, papa, juga udah bisa loh, Gha."


"Tapi seharian ini sama aku dia ngomongnya mamam doang, La. Enggak ada ngomong Papa atau Mama."


Kai tiba-tiba mendekat ke arah gue sambil ngomong. "Papa."

__ADS_1


"Adek ngomong apa barusan? Coba ulang sekali, dek!"


Gue tersenyum kecut karena Kai seolah tidak mau mendengarkan gue dan memilih asik dengan mainannya kembali.


"Anak kamu nggak mau nurut sama aku. Masa dia langsung nyelonong pergi gitu aja, La. Mana sekarang ngoceh mamam doang. Padahal tadi aku denger dia ngomong Papa."


Mala kembali menertawakan gue. "Dia udah bisa emang, cuma emang belum terlalu sering ngomong mama atau papanya. Lebih sering ngomong mamam. Gegara kita terlalu sibuk sama pasien kali ya?"


Gue berdecak sebal. "Kok kamu lebih tahu sih, padahal kan kita juga sama-sama kerja dan sibuk ngurus pasien. Tapi kenapa kamu tahu banyak sedangkan aku kayak sama sekali nggak tahu apa-apa gini?" protes gue kemudian.


Sekali lagi Mala menertawakan gue. "Ya iya lah, kan aku Mama nya, Gha. Wajar lah kalau aku tahu banyak, Kai anak aku, ya."


"Bedanya apa? Aku juga Papa nya, Kai juga anak aku, loh," balas gue tidak terima.


"Ya, soalnya kamu nggak mau tahu lebih detail soal tumbuh kembang anak kamu sendiri. Kamu kalau capek langsung tidur, giliran ada waktu luang dikit, main keluar, kalau nggak nongkrong sama bapak-bapak komplek, nongkrong sama Ohim atau Abbas. Gimana mau tahu banyak?" sindir Mala membuat hati gue rasanya tercubit.


Benar juga sih apa yang Mala ucapkan. Duh, gue jadi malu sendiri. Padahal Kai sama-sama anak kami, kami juga sama-sama bekerja dan punya kesibukan. Tapi Mala mampu membagi waktunya dengan sangat baik. Sumpah, sekarang gue beneran salut sama istri dan juga para ibu yang masih tetap bekerja. Mereka keren banget sumpah.


"Sayang, maafin aku ya selama ini. Nggak sering bantu kamu jagain Kai. Malah asik sendiri, padahal tanggung jawab Kai itu tanggung jawab kita bareng-bareng."


"Sekarang ngerti kan rasanya jagain Kai sendirian kayak gimana?"


Gue mengangguk paham. "Iya, capek banget ternyata ngurusin dia. Kita kayaknya perlu baby sister nggak sih?"


"Enggak," jawab Mala tanpa berpikir panjang, "Aku masih sanggup kok. Lagian kamu juga sering bantu-bantu, Gha. Nggak benar-benar lepas tanggung jawab juga kan. Udah ah, ini Kak Ale mau ngajakin pergi. Aku kayaknya pulang agak sore deh. Enggak papa?"


"Enggak papa, mau pulang malem juga boleh kok. Kai biar aku urus."


"Halah, gaya kamu. Belum ada setengah hari kamu udah ngeluh capek, apalagi kalau aku pulang malam. Udah, aku tutup. Yang akur ya kalian, have fun juga buat kalian. Mama sayang kalian."


"Hm. Papa lebih sayang Mamanya."


"Heh, anaknya gimana?" protes Mala tidak suka.


Spontan gue tertawa. "Iya, sama Kai juga. Sayang dua-duanya, cuma sayangan Mamanya lebih dikit."


"Dasar!"


Setelahnya, gue langsung menutup sambungan telfon dan menggendong Kai untuk mengajaknya main. Mungkin biar nggak suntuk di rumah gue harus mengajaknya pergi.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2