
*
*
*
"Gha!"
Gue terpaksa menghentikan kegiatan ngegame gue dan langsung berlari ke dapur, saat mendengar suara teriakan Mala.
"Apaan? Gasnya abis?" tanya gue.
Mala menggeleng. "Kecapnya yang abis. Minta tolong beliin dong. Tadi aku lupa nggak beli sekalian."
Gue langsung mengacungkan jempol. "Oke. Duitnya mana?" Sambil menodongkan telapak tangan di hadapan Mala.
Dia langsung menatap gue datar. Namun, meski demikian ia tetap meraih dompetnya yang tergeletak di atas meja tak jauh dari belanjaannya. Kebetulan Mala abis belanja dari tukang sayur depan jadi dompetnya belum dibalikin ke tempatnya.
Mala kemudian menyodorkan uang dua puluh ribuan.
"Uang parkir?"
Mala menarik napas panjang. "Beli yang kecil aja, Gha."
Gue mengangguk paham lalu bergegas meninggalkan dapur. Namun, baru beberapa langkah, gue tiba-tiba menghentikan langkah kaki gue dan kembali menghampiri Mala.
"Apaan lagi?" tanyanya dengan nada agak kesal.
Gue meringis sambil kembali menodongkan telapak tangan. "Nambah sepuluh ribu dong," pinta gue kemudian.
"Buat apaan?" Mala menyipitkan kedua mata curiga.
"Jajan."
Sambil berdecak Mala membuka dompetnya kembali. "Enggak ada," ketusnya kemudian.
Gue melongok ke arah dompetnya karena tidak percaya. Mala langsung mendekatkan dompetnya ke depan wajah gue.
"Astaga, nggak percayaan banget. Nih, beneran nggak ada, Gha."
"Tapi itu ada 50 ribuan."
"Ya udah 20 ribunya balikin!"
__ADS_1
Gue langsung menyodorkan uang 20 ribu kepada Mala, yang tadi sempat gue kantongin. Baru setelahnya gue terima uang 50 ribuan yang baru Mala sodorkan.
"Aku pergi dulu, sayang!" teriakku langsung pergi meninggalkan dapur.
Saat keluar dari rumah, gue tidak sengaja bertemu dengan Pak RT.
"Abis dari mana, Pak?" sapa gue ramah.
"Oalah, Mas Agha, ini loh, Mas, abis dari rumahnya Bu Yuni, nagih uang iuran, Mas Agha mau ke mana?" tanya beliau berbasa-basi.
"Mau ke indomaret depan nih, Pak, beli kecap."
Seketika gue lupa, gue udah bayar iuran belum, ya, bulan ini?
"Maaf, Pak, mau nanya, saya bulan ini udah bayar iuran belum ya? Kok saya lupa."
"Udah, Mas, kemarin Mbak Mala yang bayar. Aman."
Gue manggut-manggut paham. "Oh, baik, Pak, kalau begitu saya permisi dulu. Takut kena omel kalau nggak langsung berangkat."
"Oh, iya, Mas, hati-hati. Ini juga sama mau nagih ke warga yang lain."
"Mari, Pak!"
Setelahnya gue langsung meninggalkan beliau dan segera bergegas menuju indomaret.
Gue agak kaget karena saat masuk ke dalam pekarangan rumah, Mala nungguin di depan. Tunggu sebentar, emang tadi gue perginya lama banget sampe ditunggu di depan pintu banget gini? Perasaan enggak deh. Gue udah lumayan cepet-cepet.
"Emang aku perginya lama banget ya, sampe kamu tunggu di depan pintu banget gini?" tanya gue heran.
Bukannya langsung menjawab Mala malah menyuruh gue diam. "Ssst!"
"Kenapa sih?" tanya gue kebingungan.
"Kayaknya tetangga kita ada yang berantem deh, Gha."
"Astaga, La, aku kira ada apaan. Biarin lah, itu urusan mereka kita nggak usah ikut campur urusan rumah tangga orang. Kita juga sering berantem kan hari-hari, terus juga kita nggak suka kan kalau orang lain ikut campur urusan kita. Jadi, ya udah, ayo, mending kita masuk aja ke dalam!" ajak gue sambil merangkul pundak Mala.
Mala terlihat kurang setuju dengan ajakan gue. "Tapi aku tadi denger suara kayak sesuatu yang pecah gitu, Gha. Aku khawatir ada yang kenapa-kenapa, kita dokter loh. Kamu nggak khawatir?"
Gue menarik napas panjang. "La, beberapa orang mungkin nggak terlalu suka kalau kita ikut campur urusan mereka. Mau niat kita membantu kalau mereka pun, kalau mereka nggak suka karena kita udah ikut campur, nanti endingnya tetep nggak akan baik. Kamu ngerti kan maksud aku?" Gue kemudian mengajak Mala masuk, tapi tetap saja Mala bersikekeuh untuk menolak.
"Kamu cek dulu lah minimal, Gha. Kasian. Sebagai tetangga yang baik itu kita harus saling tolong-menolong, kalau seandainya mereka bener-bener nggak butuh bantuan kita, baru deh kamu pulang. Yang penting pastiin dulu, mereka butuh bantuan apa enggak."
__ADS_1
Gue berdecak gemas. "Astaga, ya ampun, Tuhan!"
"Gha, kasian," bujuk Mala.
"Aku panggil Pak RT aja gimana?" usul gue kemudian.
Serius gue rasanya enggak enak banget kalau harus ikut campur urusan rumah tangga orang. Seperti yang gue bilang tadi karena gue sendiri kadang nggak suka kalau orang lain terlalu ikut campur urusan rumah tangga gue.
"Kayaknya belum perlu deh, Gha, kamu aja kenapa sih yang memastikan sendiri. Baru kalau ngerasa butuh bantuan Pak RT, panggil beliau."
Gue menatap Mala tidak percaya. "Aku sendiri gitu?"
"Ya, masa aku?"
Gue kemudian menatap perut besar Mala lalu menggeleng. "Ya udah, iya, aku pergi sendiri. Tetangga yang mana emang?"
"Sebelah."
"Hah? Rumah Ririn?"
Mala langsung mengangguk cepat.
Gue pun juga langsung menggeleng tak kalah cepat setelahnya. "Big no!" tolak gue mentah-mentah, "La, Ririn itu mantan aku. Meski dulu kisah kami cuma kayak cinta monyet yang nggak berarti apa-apa, tapi tetep aja aku nggak enak kalau ikut campur urusan mereka."
"Kayaknya Ririn tadi pergi deh, soalnya aku tadi nggak sengaja liat mobil dia keluar."
Gue menjentikkan jari. "Nah itu!"
"Apaan?" Mala melotot tidak suka, "maksud kamu karena nggak ada Ririn di sana, kamu nggak punya alesan buat ke sana?"
"Tepat."
Mala langsung memukul pundak gue keras. "Agha!"
"Maksudnya bukan itu, La, astaga. Maksudnya, kalau Ririn aja pergi dari rumah gitu aja, kemungkinan besar suaminya nggak kenapa-kenapa. Enggak mungkin kan Ririn ninggalin suaminya dalam keadaan kenapa-kenapa?" Gue menggeleng lalu merangkul Mala untuk kesekian kalinya, "udah, ayo, mending kamu lanjut masaknya! Ini udah aku beliin kecapnya."
"Cek dulu, Gha!" paksa Mala tidak ingin menyerah.
Oke, kalau sudah begini kayaknya yang perlu menyerah gue deh. Akhirnya setelah menghela napas pasrah, gue pun mengangguk setuju. Meski sejujurnya masih agak terpaksa.
"Ya udah, aku ke sana dulu. Kamu masuk rumah sana! Lanjut masak."
"Iya, hati-hati."
__ADS_1
"Hmm."
Tbc,