Married With My Besti

Married With My Besti
Masih Negatif Ternyata


__ADS_3

*


*


*


Gue berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi, menunggu Mala keluar. Seolah melupakan fakta kalau gue tadi habis muntah-muntah sampai membuat gue lemas. Gue langsung bergegas menuju apotik untuk membeli testpack tanpa berpikir panjang. Setelah mendapatkannya gue langsung menyuruh Mala mencobanya.


"Gimana?" tanya gue saat akhirnya Mala keluar dari kamar mandi.


Jantung gue rasanya berdebar kencang dengan perasaan harap-harap cemas. Dan yang membuat gue emosi, Mala tidak segera memberitahu gue hasilnya.


"La!" rengek gue memanggilnya dengan nada tidak sabaran.


Mala terbahak. "Ngarep banget ya lo, Gha?"


"Dikit," aku gue jujur.


Gue nggak munafik kalau gue memang sudah mengharapkan hal demikian. Karena yang diharapan dari pasangan suami-istri yang sengaja tidak menunda kehamilan bukankah memang ini?


Mala menatap gue iba sambil menepuk pundak gue pelan. "Next try, ya, Pak. Yuk, bisa, yuk, semangat! Nggak papa, mungkin emang belum rejekinya. Ya, meski si bapak agak kalah jago sih sama bocil jaman sekarang, makanya belum gol," ucapnya masih sempat-sempatnya meledek.


"Oh. Berarti gue pure masuk angin doang nih?" tanya gue kemudian.


Mala mengangguk. "Kayaknya." Ia kemudian menyerahkan testpacknya. Gue kemudian memeriksanya sendiri dan memang garisnya masih satu.


"Ya udah, nggak papa. Besok-besok kita coba lagi deh sampe gol."


"Iya. Udah sana, lo mandi, gih! Biar gue siapin sarapan. Gue nggak mau telat."


Gue langsung mengacungkan jempol lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Begitu selesai mandi, gue langsung membuka lemari untuk mencari pakaian yang hendak gue pakai. Mala bukan tipe istri yang bakalan nyiapin pakaian untuk suaminya. Dia akan selalu membiarkan gue memilih pakaian sendiri.


Mala masuk ke dalam kamar saat gue sedang mengancingkan baju.


"Cepet banget. Bikin sarapan apa?"


"Telur ceplok."


Gue mengangguk tidak masalah. Mala bukan tidak bisa memasak, perempuan itu bisa, meski belum cukup ahli, toh, biasanya juga kami seringnya beli. Tapi setidaknya beberapa bulan menikah dengannya, masakannya belum masuk kategori sampai tidak bisa dimakan. Masih bisa lah gue toleransi. Karena ART yang kami pakai memang khusus buat bebersih rumah saja, bahkan untuk hari libur kami lebih sering melakukan semua sendiri termasuk berberes.


Masakan Mala kalau week days, biasanya memang hanya mentok antara telur goreng sama nasi goreng. Menu sarapan gue kalau bukan weekend cuma dua jenis ini doang. Paling beda varian atau campuran aja sih biar nggak bosen-bosen banget.


Oh, pernah sekali sih telurnya nggak digoreng, dibikin kuah gitu. Kayak telur di campuran mi rebus atau seblak, tapi ini telur doang, dan rasanya ternyata enak sih.


Ah, kok mendadak pengen itu ya? Tapi mengingat durasi jam, kayaknya enggak mungkin kalau gue minta dibikinin itu sekarang.


"La, besok mau sarapan telur dikasih kuah yang kayak waktu itu dong. Enak deh itu, mau lagi."

__ADS_1


"Iya, besok dibikinin."


Gue langsung bersorak kegirangan. Mala jarang-jarang langsung mengabulkan permintaan gue tanpa adegan mengomel terlebih dahulu. Jadi sudah sewajarnya kalau gue sampai bersorak kegirangan seperti sekarang.


"Oh ya, Gha, Kak Ale barusan ngechat."


Gue langsung berjalan menghampiri Mala. "Ngapain?"


"Ngingetin ulang tahun Gio kalau minggu ini acaranya."


"Oh."


"Kok cuma oh?" protes Mala sambil berdecak kesal.


Gue balik bertanya dengan wajah heran. "Ya, terus lo berharap gue sambil ngapain?"


"Astaga, Gha, kan kita belum cari kado. Gimana sih?"


"Santai. Ntar biar tinggal transfer."


"Gue nggak enak lah sama Kak Ale, masa nggak bawa kado sih? Kak Ale itu kakak lo, Gha. Kakak kandung lo."


Gue mengangguk. "Emang Kak Ale itu kakak gue, La, yang bilang bukan siapa?"


"Ya terus masa nggak kasih kado dan cuma transfer uang? Kayak kesannya kurang perhatian tahu."


Sontan gue tertawa. "Santai aja, La, Kak Ale lebih suka mentahan ketimbang kado. Dia kurang suka kalau dibeliin kado, dia lebih seneng dikasih uang atau dibayarin. Kak Ale tipe emak-emak yang perhitungan, soalnya menurut dia lebih efisien kalau dikasih duit ketimbang kado. Ntar juga liat aja nggak bakal ada yang bawa kado, semua pasti kasihnya amplop kalau nggak bukti transfer."


"Tapi ya sama aja, yang ngurus kan Kak Ale. Jadi dia memang lebih suka terima uang."


"Bisa gitu ya?"


"Bisa." Gue mengangguk lalu memilih mengajak Mala untuk segera turun ke bawah dan sarapan.


Mood gue kembali terjun bebas saat Mala menyodorkan nasi yang masih mengepulkan asap, tepat di hadapan gue.


"Segini cukup?"


Mendadak gue merasa mual lagi.


"Ah, La, baunya kok begitu sih?"


Mala langsung memasang wajah bingungnya. "Bau gitu gimana?" tanyanya tidak paham. Ia kemudian mendekatkan hidungnya pada nasi yang ada di piring, "enggak ada yang aneh. Nasi ya emang begini kan?"


"Tapi bikin gue mual..."


Mendadak perut gue seperti diaduk-aduk lagi. Karena tidak tahan, gue kemudian berlari menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur. Berhubung tadi pagi gue sudah muntah, alhasil, sekarang gue tidak bisa mengeluarkan apapun kecuali cairan bening.


"Muntah lagi?" tanya Mala khawatir.

__ADS_1


"Enggak ada yang keluar. Udah abis gue muntahin tadi pagi."


"Terus lo mau sarapan apa ini? Gue beliin bubur ayam depan mau? Atau ketoprak deh, kan biasanya lo suka tuh. Mau?"


Gue memutuskan untuk membasuh wajah lebih dulu sebelum membalas tawaran Mala. Biar segeran dikit.


"Lo yakin nggak sih sama hasil testpack tadi?"


Mala menaikkan alis tidak paham. "Maksudnya?"


"Aneh nggak sih kalau gue cuma masuk angin tapi liat nasi doang sampe begini. Gue beneran kayak suami yang lagi morning sick gegara istrinya hamil, La."


Mala mendesah panjang. Seolah malas membalas kalimat gue. Ia langsung pergi begitu saja, tapi tak lama setelahnya dia kembali sambil membawa handuk bersih.


Meski kedua matanya terlihat melirik gue sinis, namun, kedua tangannya dengan telaten membantu mengeringkan wajah gue menggunakan handuk yang baru dibawanya.


Kalau boleh jujur, awal-awal menikah sama Mala gue mengalami cukup banyak culture shock. Maksud gue ya nggak banyak-banyak sih, tapi setidaknya lebih banyak dari apa yang gue bayangin. Soalnya gue sama Mala udah kenal lama dan label kami sebelum menikah adalah teman yang udah tau jeleknya masing-masing.


Ya, seperti barusan. Perhatian dia. Meski selalu dibarengi dengan gerutuan atau omelan panjang, Mala ternyata tipe istri yang lumayan perhatian. Tanpa gue minta dia sering banget bantuin gue melakukan sesuatu, yang sebenarnya gue bisa banget ngelakuinnya sendiri. Jadi sekarang gue udah mulai agak kecanduan, kalau dia nggak bantuin pasti gue bakal ngerengek minta dibantuin.


"Ya udah, besok gue coba tes lagi, kali aja pagi ini kurang akurat," ucap Mala mengalah. Namun, nada suara jengkelnya masih terdengar jelas.


"Kelamaan nggak sih? Gimana kalau langsung cek kadar beta-hCG aja?"


"Nggak bakal sempet. Gue hari ini sibuk." Mala menggeleng tidak setuju.


"Izin bentar lah, La," ucap gue menyarankan.


"Ya ampun, Gha, nunggu sampe besok aja nggak sabar banget? Lo nggak mikirin perasaan gue? Kalau hasilnya negatif yang ada kecewa gue double triple, udah kecewa sama hasil, terus tambah kecewa lagi karena gue belum bisa nyenengin lo."


Gue merasa beruntung karena menikah dengan sahabat sendiri. Mala tahu dan paham banget kalau gue suka kurang peka, jadi dia akan selalu mengungkapkan apa yang dirasakan tanpa lempar-lempar kode.


"Maaf gue nggak kepikiran sampe sana. Otak gue nggak bisa mikir jernih gegara mual, La, serius. Soalnya beneran aneh gue ngerasanya. Seumur-umur gue nggak pernah ngerasa kayak setakut ini nyium aroma nasi doang. Duh, mana cuma kebayang nasi tadi aja gue rasanya mual lagi."


"Iya, gue ngerti. Tapi ini sekarang nasib lo mau sarapan sama apa?"


"Gampang lah, ntar biar gue nyari makan di RS."


"Lo nggak lupa kan kalau kita pagi ini ada operasi pagi?"


Gue menggeleng sebagai tanda jawaban.


"Itu artinya lo butuh sarapan sekarang, Agha. Gue nggak mau lo tumbang lagi kayak kemarin, lo ngerepotin banget kalau lagi sakit tahu nggak sih?"


Dengan wajah cemberut gue mengangguk. "Tapi gue beneran kayak masih trauma perkara liat nasi tadi, La. Udah lo makan dulu sana, gue tunggu di ruang tamu."


Mala berdecak kesal. "Sumpah ya, Gha, ngadepin lo tuh bener-bener butuh extra kesabaran banget."


Sambil terkekeh gue menepuk pundak Mala. "Enggak papa, sayang, mungkin memang begini cara Tuhan supaya kamu belajar sabar," ujar gue sambil mengedip genit.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2