
*
*
*
"Yah, Agha sama Bunda pamit duluan, ya?"
Raut wajah Ayah seketika langsung berubah kaget. Pandangannya beralih antara gue dan Bunda secara bergantian. "Mau ke mana?" tanya beliau heran.
"Belanja bulanan," sahut Bunda mewakili, di sebelah beliau gue hanya mengangguk untuk mengiyakan sambil memainkan kunci mobil, "loh, kan tadi Bunda udah bilang kan sama Ayah."
Bokap gue menatap nyokap sedikit tidak suka. "Kan tadi Ayah bilang bisa nganterin, kenapa malah jadi pergi sama Agha?"
Waduh! Gue langsung menatap kedua orangtua gue secara bergantian. Suasana sedikit tidak mengenakkan.
"Bisa nganterin tapi nggak bisa nemenin? Ya, mending sama Agha sekalian kan, Yah?"
Kini giliran bokap yang menatap gue tidak suka. "Bukannya tadi kamu bilang mau ketemu temen klub fotografi kamu?"
Gue meringis seraya menggaruk tengkuk gue yang mendadak gatal. "Hehe, acaranya ternyata masih minggu depan. Agha salah inget tanggalnya."
Bokap melirik gue sinis. "Kebiasaan," gerutunya kesal, beliau kemudian beralih menatap sang istri, "emang harus banget ya belanjanya hari ini? Enggak bisa gitu ditunda sampe besok?"
Astaga, bokap gue. Perkara belanja bulanan gue anter aja seenggak rela itu? Ini gue loh yang mau nganter, bukan anak menantu atau anak tetangga, tapi anak kandungnya sendiri. Mau heran tapi ini bokap gue, yang kelakuannya sehari-harinya emang begini.
"Ya, emang kenapa sih kalau Agha yang nganter? Masalah banget gitu?" tanya gue sedikit kesal. Tadi gue masih bisa menahan diri, tidak dengan sekarang.
"Ya, jelas masalah lah," balas bokap gue sewot, "enak banget kamu jalan berduaan sama istri Ayah."
Astagfirullah, ini kenapa bokap gue makin tua, kenapa malah makin nggak sadar umur begini sih? Beneran bokap gue bukan sih ini?
"Ya, udah kalau gitu Ayah yang nemenin Bunda belanja," ucap gue pada akhirnya.
"Mana bisa? Ayah udah terlanjur ada janji sama temen-temen Ayah mau main badminton." Bokap langsung memasang wajah memelasnya kala netranya bersitatap dengan nyokap, "besok aja ya, Bun, belanjanya. Ayah udah tua loh ini, perlu olahraga dulu."
"Bisa. Berarti makan malam di luar ya?" balas Bunda yang seketika membuat gue menggeleng panik.
No! Jerit gue dalam hati. Gue udah terlalu sering makan di luar dan gue jelas nggak rela kalau gue harus kembali makan malam di luar malam ini. Big no!
"Ok, fix, keputusan final Ayah tetep main badminton, Bunda belanja bulanan yang anter Agha, malam ini agenda makan malam di rumah. Final."
Mendengar kalimat gue bokap gue jelas tidak terima. "Kok kamu yang atur, Gha? Kan yang kepala keluarga di sini Ayah."
Gue mengedipkan sebelah mata gue, mengkode agar Ayah menurut saja kalau masih ingin menikmati makan malam dengan tenang. Beliau yang merasa tidak mampu membalas hanya memasang wajah masamnya.
Bunda langsung tersenyum cerah setelahnya. "Oke, kalau gitu Bunda sama Agha berangkat duluan ya, Yah?" pamit beliau sambil mencium punggung tangan Ayah.
Dengan wajah setengah tidak rela, bokap gue pada akhirnya mengangguk dan membiarkan gue dan Bunda berangkat. Tepat saat gue selesai memasang sabuk pengaman dan mulai mengemudikan mobil, meninggalkan komplek perumahan, gue langsung bertanya kepada Bunda dengan wajah kepo.
"Bun, dari zaman pacaran Ayah emang begitu ya?"
"Begitu gimana?" Bukannya menjawab, Bunda malah balik bertanya diiringi kekehan.
"Ya, begitu. Lebay, alay, bucin. Astaga, Bun, kan Ayah udah nggak muda lagi, nggak cocok lah begitu, udah punya cucu loh kalau sekarang."
__ADS_1
Kak Ale udah lahiran, jadi sekarang bokap gue udah resmi dipanggil Kakung.
"Kenapa? Kan itu tandanya Ayah kamu sayang banget sama Bunda."
Ya, emang bener sih. Cuma menurut gue itu berlebihan, kayak tidak sewajarnya terjadi pada pasangan pada umumnya.
Nyokap kembali tersenyum. "Nanti kalau kamu udah nikah dan punya anak bakal ngerti kok. Atau bisa jadi kamu begitu juga sama Mala."
Spontan gue tertawa. "Kok jadi bawa-bawa Mala sih, Bun?" protes gue tidak habis pikir.
"Loh, emang harusnya siapa?" Bunda malah balik bertanya.
"Ayah. Kan yang dibahas tadi Ayah, Bun."
Nyokap gue menggeleng. "Enggak, maksudnya calon mantu Ayah sama Bunda Mala kan?"
Gue kembali tertawa. "Ya, kalau itu Agha belum bisa memastikan. Bisa jadi emang dia, tapi bisa jadi bukan."
"Ada kandidat lain?"
Gue menggeleng. "Untuk sementara sih belum."
"Ya udah, berarti emang Mala," ucap Bunda menyimpulkan sendiri.
Sejujurnya gue kalau udah diginiin suka bingung harus merespon gimana. Kenapa sih orang-orang yakin banget kalau Mala yang bakal gue nikahin?
*
*
*
Bukannya langsung menerima paper bag ukuran kecil yang gue bawa, Mala malah memasang wajah bengong sambil membekap mulutnya sendiri. Ekspresinya terlihat sedikit dramatis, menurut gue. Hal ini reflek membuat jari telunjuk gue maju dan mendorong dahinya, sehingga perempuan itu sedikit terhuyung ke belakang.
"Lo kenapa sih, anjir, serem banget?"
"Itu lo bawa apa?"
Lah, ditanyain malah balik nanya?
"Ya, pesenan lo lah. Lo nggak bisa lihat tulisan paper bag-nya? Nggak bisa baca?"
Mala terlihat masih shock. "Tiffany&Co beneran?"
"Ya, menurut lo?" sungut gue kesal.
"Lo gila ya? Dalam rangka apa?"
Sekali lagi gue mendorong dahinya lalu berjalan melewati. "Punya gue yang mana?" tanya gue langsung berjalan menuju dapur, "nggak lo kasih ke tetangga kan?"
Gue langsung membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air mineral dari sana. Sesuai yang dikatakan Mala tadi, kulkas Mala terisi penuh. Meja makan minimalisnya pun terdapat beberapa makanan dan kue kering. Gue langsung menarik kursi dan duduk di sana, mencomot kue kering dan langsung memakannya.
Seperti biasa kue bikinan nyokap Mala emang yang paling enak, menurut gue. Manisnya pas, sesuai dengan selera gue.
"Gue bawa berapa ini?"
__ADS_1
Mala tidak menggubris, perempuan itu sibuk membuka bingkisan kecil yang gue bawa. Wajahnya terlihat makin shock saat membuka kotak cincin berlian itu.
"Gha, bisa lo jelasin ini maksudnya apa?"
Gue langsung menegak air mineral gue dan berdiri menghampirinya. "Pesenan lo. Nurutin mau lo lah."
"Tapi kan gue cuma bercanda!"
"Lah, ya mana gue tahu kalau lo lagi bercanda. Gue pikir kode." Gue kemudian duduk di sofa, "btw, dicoba dulu deh, kekecilan atau kegedean nggak sih?"
"Lo gila ya?!"
Gue berdecak. "Astaga, perkara cuma nyobain cincin lo sebut gue gila?"
"Ya, ini mahal, Gha."
Gue mengangguk setuju.
"Terus kenapa lo beli?"
"Ya kan, lo minta itu." Gue kembali berdecak karena merasa obrolan kami tidak berujung, "udah sih, kalau gitu lo anggep aja itu DP buat ultah lo tahun depan."
Mala tidak berkata apa-apa lagi setelahnya, karena perempuan itu langsung memukuli gue tanpa ampun setelahnya.
Gila! Badan gue jadi sakit semua rasanya.
Setelah dirasa lumayan puas, akhirnya Mala berhenti. Napasnya terdengar sedikit ngos-ngosan, gue dengan sigap langsung menyodorkan botol air mineral yang gue bawa dari dapurnya tadi. Meski dilengkapi lirikan sinis, ia tetap menerima dan meneguknya hingga tandas.
"Wow, ciuman nggak langsung," ucap gue diiringi kekehan samar.
Sumpah demi Tuhan, maksud gue bilang begitu niatnya cuma bercanda dan ingin mencairkan suasana. Tapi ternyata yang gue dapat malah pukulan cukup keras pada kepala bagian belakang gue.
Gue mengaduh keras. Karena rasanya memang sesakit itu. Gue sampe merasa sedikit pusing karenanya.
"Jahat banget sih lo?" protes gue kesal.
Mala ternyata terlihat tidak kalah kesal. "Lo juga jahat, kambing!" umpatnya kemudian, "gue udah 30 tahun, Gha, demi Tuhan! Gue batal kawin sama calon gue dan lo bisa-bisanya baperin gue? Kelewatan lo. Sumpah!"
Spontan gue terbahak. "Anjir, lo baper sama gue, La?"
Emosi Mala semakin tersulut. "Ya, menurut lo? Gue perempuan normal ya, Gha."
"Gue kira bukan."
"Enggak lucu," ketus Mala dengan wajah judesnya.
Gue mengangguk seraya menutup bibir rapat-rapat, guna menahan diri agar tidak kembali terbahak. Tangan gue kemudian terulur mengambil cincin yang gue beli tadi dan meraih telapak tangan Mala.
"Udahan ngomel-ngomelnya, mending cobain cincinnya," ucap gue langsung memasangkan cincin itu pada jari manis Mala. Dan dapat gue dengar umpatan kasar keluar dari mulut Mala setelahnya. Gue yang mendengar itu hanya mampu terbahak seraya berkomentar, "pas ternyata. Syukur deh, Bunda nggak salah milihnya."
Umpatan kasar kembali terdengar tak la setelahnya. "Lo beli ini sama Bunda?" Mala menggeleng cepat, "eh, maksud gue Tante Ayu?"
Dengan wajah santai, gue tentu langsung mengangguk dan mengiyakan. Mala terlihat makin naik pitam. Dia memaki dan memukuli gue habis-habisan seolah tidak ingin memberi ampun. Ya Tuhan salah gue di mana sih? Udah keluar duit banyak masih aja digebukin dan dimaki. Nasib gue begini banget?
Tbc,
__ADS_1