
*
*
*
"Sesuai dugaan Ny.Alisa memang benar tidak sedang menstruasi. Darah yang keluar bukan darah periode bulanan, melainkan karena Ny.Alisa mengalami pendarahan."
Abbas tidak bisa berpikir jernih saat mendengar penjelasan sang dokter. Pikirannya seketika langsung berkecamuk, kesana-kemari.
Pendarahan? Batinnya bertanya-tanya. Maksudnya sang istri bukan periode bulanan seperti biasa, melainkan pendarahan? Kalau terjadi perdarahan itu artinya?
"Benar sekali, Ny. Alisa memang sempat hamil."
"Maksudnya sempat?" tanya Agha memastikan, "sekarang udah enggak?" sambungnya memastikan.
Dokter jaga itu mengangguk dengan penuh penyesalan. "Iya, dok, Ny. Alisa mengalami pendarahan sehingga menyebabkan beliau mengalami keguguran. Dokter akan melakukan tindakan kuret hari ini juga."
Seluruh tubuh Abbas seketika langsung lemas. Terkejut, shock, dan juga merasa bersalah. Semua bercampur jadi satu. Di sampingnya, Agha terlihat sama terkejutnya. Namun, bedanya kalau Agha lebih bisa menguatkan Abbas. Mau bagaimana pun juga, ia pernah berada di posisi Abbas kehilangan calon bayinya.
"Bas, yang tabah ya," bisik Agha mencoba menguatkan.
“Tunggu sebentar, ini maksudnya istri saya sebelumnya hamil begitu?” tanya Abbas mencoba memastikan.
Sang dokter jaga langsung mengangguk untuk mengiyakan. “Betul sekali. Tapi mohon maaf dengan sangat menyesal kami harus memberitahu kalau anda baru saja kehilangan calon bayi anda.”
__ADS_1
“Gha,” panggil Abbas sambil menoleh ke arah Agha dengan raut wajah putus asanya, “ini gimana sih, Gha, masa gue baru dapet berita kehamilannya tapi gue langsung dapet kabar kalau gue udah kehilangan dia.” Ia tertawa hambar, “bahkan gue nggak tahu sekarang harus bersikap kayak gimana.”
Agha menghela napas berat. Jujur ia sendiri bahkan tidak tahu harus mengatakan kalimat apa untuk menghibur pria itu. Karena dulu saat ia kehilangan calon bayinya pun, ia tidak merasa terhibur sama sekali dengan kalimat orang-orang yang mencoba menghiburnya. Ia tahu perasaan kacau dan sulit didiskripsikan itu.
“Sekarang mending kita temui Alisa dulu, ya?” saran Agha pada akhirnya, ia beralih fokus dengan sang dokter jaga, “bisa dijenguk kan?”
Dokter tersebut mengangguk dan mempersilahkan. Setelahnya Agha langsung mengajak Abbas untuk menemui Alisa. Sesuai tebakannya kondisi Alisa terlihat sangat terpukul. Abbas yang melihat kondisi sang istri merasa tidak tega, hatinya seolah teriris pilu. Ini adalah kehamilann kedua perempuan itu, tapi lagi-lagi Alisa harus kembali kehilangan calon bayinya. Abbas bahkan tidak mampu membayangkan betapa terpukulnya sang istri saat ini.
“Bas, aku minta maaf, aku bodoh banget ya jadi istri. Aku bikin kamu harus kehilangan calon bayi kamu, maafin aku!”
Isak tangis Alisa seketika langsung pecah saat keduanya saling bertegur sapa. Abbas yang sama terpukulnya dengan sang istri ikut menangis dan memeluk tubuh perempuan itu penuh pilu. Agha yang merasa keduanya butuh waktu berdua pun memilih untuk menyingkir dan memberi waktu untuk keduanya.
“Sa, kamu nggak usah ngomong yang aneh-aneh. Ini bukan tentang siapa yang salah, emang mungkin belum rejeki kita. Jadi kamu nggak perlu mikir yang aneh-aneh. Oke? Kesehatan kamu sekarang adalah yang utama, kamu paham. Nggak usah mikirin hal aneh-aneh!”
“Tapi—“
Abbas menggeleng tegas. “Pokoknya nggak usah mikir aneh-aneh! fokus ke kesehatan dan pemulihan kamu dulu. Inget, Sa, usaha memang nggak akan mengkhianati hasil, tapi kalau Tuhan masih belum bilang ya, ya hasilnya tetep enggak. Mau kita usaha mati-matian agar kamu cepet hamil, tapi Tuhan belum kasih izin kamu buat hamil, maka endingnya mungkin akan begini. Jadi, please, jangan overthinking karena aku percaya kalau memang sudah waktunya maka kamu akan hamil sampai bisa melahirkan dan nanti kita akan membesarkan bayi itu bareng-bareng. Percaya sama aku!”
Alisa tidak mampu berkomentar apapun, yang dilakukan perempuan itu hanya memeluk sang suami dengan sangat erat. Memang benar, meski cobaan yang ia hadapi berat, ia percaya bisa melaluinya asal bersama Abbas. Sekarang ia benar-benar merasa beruntung karena memutuskan menikah dengan pria itu.
*
*
*
__ADS_1
Bohong kalau seandainya ia tidak merasa kecewa dengan takdir yang Tuhan gariskan padanya. Meski semua orang memintanya untuk tidak berkecil hati atau bersedih dan lain sebagainya, tapi tetap saja perasaan kecewa itu tetap ada. Ia merasa seperti mendapat hidup yang tidak adil, dari sekian banyak jutaan manusia kenapa harus dirinya yang mendapat nasib seperti ini? Memang apa salahnya sampai ia mendapat takdir seperti ini? Di pernikahan sebelumnya ia sudah kehilangan calon bayinya, lalu kenapa sekarang ia harus kehilangan lagi calon bayinya. Bahkan ia tidak diberi kesempatan untuk merasakan kehadirannya.
“Kenapa nggak tidur?” tegur Abbas yang baru selesai mandi.
Kedua orang tua mereka memang belum dikabari, bukan tanpa alasan, Alisa yang memintanya. Abbas tidak masalah, toh, saat statusnya hanya teman perempuan itu pun dirinya lah yang mengurusi Alisa, jadi tidak masalah kalau sekarang hanya dirinya sendiri lah yang harus mengurus sang istri.
Tes!
Alisa cepat-cepat menyeka air mata yang jatuh. Sekuat tenaga ia mencoba untuk tidak menangis, nyatanya tidak semudah itu. Semua terasa sulit untuk ia lewati. Alisa merasa belum rela jika harus kembali kehilangan sang calon bayi.
“Kok malah nangis? Ada yang sakit? Mau aku panggilin dokter jaga?” tawar Abbas yang langsung dibalas Alisa dengan gelengan kepala.
“Sedih ya?”
Pertanyaan yang jawabannya jelas masih saja ditanyakan.
“Enggak papa, Sa, kamu boleh sedih karena kehilangan bukan perkara mudah. Asal jangan lupa aja kalau kamu masih punya aku, kita masih bisa berjuang sama-sama abis ini.”
“Maafin aku ya karena nggak bisa jadi perempuan yang tegar seperti perempuan kebanyakan.”
Abbas menggeleng tidak setuju. “Kamu tetap hebat versi kamu, Sa, stop banding-bandingin diri kamu sama perempuan lain. Oke?”
Alisa menangis sesegukan tak lama setelahnya. Abbas langsung memeluknya saat mencoba menangkan sang istri.
Tbc,
__ADS_1