Married With My Besti

Married With My Besti
Akhirnya, Mala Mau Cerita


__ADS_3

Saat gue pulang ke rumah, rumah nampak sepi. Ruang tengah terlihat masih berantakan, gue tebak Mala pasti ikut ketiduran saat mencoba menidurkan Kai. Gue kemudian memutuskan untuk membereskan mainan yang masih berserakan.


Gue sama Mala memang sepakat untuk menjadi team work yang baik. Jadi masalah beberes rumah akan kita lakukan bersama selagi Mbak Ratih nggak ada, kira-kira siapa yang sempat maka dia yang akan membereskannya. Bahkan untuk memasak terkadang kita bergantian, kemampuan gue di dapur sekarang udah lumayan, meski kalau untuk urusan yang satu masih ala kadarnya, gue jelas hanya mampu sekedar menggoreng telur atau goreng frozen food. Atau tinggal manasin makanan di microwave. Selebihnya gue angkat tangan.


"Udah lama pulangnya?" tanya Mala saat gue selesai membereskan mainan Kai.


"Baru aja," balas gue singkat.


Mala mengangguk paham. "Udah makan?" tanyanya kemudian.


Gue menggeleng. "Belum."


"Mau..." kalimat Mala mendadak terhenti saat menyadari bibir gue yang terluka, "astaga, itu bibir kamu kenapa?" tanyanya panik.


Posisi gue tadi emang sedang membelakanginya, jadi saat gue berbalik baru lah Mala melihat luka pada sudut bibir gue. Ia langsung menghampiri gue untuk memastikan kondisi gue.


"Siapa yang ngelakuin?" tanyanya dengan kedua mata melotot tajam.


Gue menggeleng dan berusaha menyingkirkan tangan Mala yang memegang wajah gue. "Enggak papa. Luka kecil ini, La. Udah biasa. Namanya juga cowok."


"Siapa?"


"Apanya?" gue balik bertanya karena tidak paham.


Mala berdecak kesal. "Ya, yang bikin muka kamu begini. Siapa orangnya?"


"Oh. Serius nggak papa, La."


"Aku tahu, tapi yang mau aku tahu siapa orangnya, Gha. Apa susahnya tinggal bilang?"


"Abbas," jawab gue pada akhirnya.


Mala kembali melotot kesal. "Abbas?" beonya dengan ekspresi wajah tidak percaya, "Abbas yang aku kenal?"


Gue mengangguk cepat untuk mengiyakan.


"Astaga, Gha, kamu itu udah tua, udah jadi Papa. Udah nggak cocok berantem- beranteman gini. Lagian kalian berantem ngerebutin apa sih sampai bikin muka kamu jadi begini?" tanyanya sebal.


"Soalnya aku kesel banget sama Abbas, La. Dia bego banget tahu jadi orang."


Mala menatap gue datar. "Terus menurut kamu, kamu pinter gitu?" sindirnya dengan nada sarkas.


Gue hanya terkekeh. Mala mendengus. Setelahnya ia menarik gue ke ruang tamu dan menyuruh gue duduk di sana. Gue langsung mencekal pergelangan tangannya saat Mala hendak pergi.


"Laper, La. Mau makan dulu."

__ADS_1


Mala tidak membalas. Ia hanya menatap gue tajam lalu pergi begitu saja.


Saat ia kembali, bukannya membawa makanan Mala malah membawa kotak P3K. Seketika gue langsung manyun. Padahal gue serius laper dan butuh makan sekarang.


"Jadi Abbas kenapa?" tanya Mala sambil membersihkan luka gue dengan gerakan kasar.


Gue langsung berdecak kesal untuk memprotes, "Pelan-pelan dong, La, sakit," rengek gue kemudian.


"Salah sendiri, udah tua sok jagoan pake berantem segala."


"Ya abis aku emosi, La."


"Makanya jadi orang jangan emosian." Mala berdecak sekali lagi, dan kembali bertanya, "jadi Abbas kenapa?" ulangnya kemudian.


"Aku tonjok mukanya."


"Bukan itu maksud aku, Gha. Tapi kenapa kamu sebut dia bodoh. Emang dia ngapain?"


"Mau nikahi artisnya."


Mala menghentikan kegiatan membersihkan luka gue dan menatap gue dengan sebelah alis terangkat. "Emang letak ke salahannya di mana?" tanyanya tidak paham. Ia kembali membersihkan luka gue.


"Hamil."


Sekali lagi, aMala menghentikan kegiatan membersihkan luka gue. Pandangan matanya kini sepenuhnya beralih menatap kedua bola mata gue. Dapat gue lihat binar penasaran dari kedua matanya.


Mala terlihat seperti kehilangan kata-kata.


Gue menggeleng. "Bukan. Untungnya bukan."


"Bentar, aku masih bingung."


"Kalau bukan dia yang menghamili, kenapa Abbas yang mau menikahi perempuan itu?"


"Karena Abbas bego," cibir gue sambil berusaha menahan emosi.


Emosi gue kembali naik saat ingat kebodohan Abbas. Gue benar-benar nggak ngerti dengan isi otaknya.


"Yang menghamili Farhan. Adik Abbas dan bodohnya Abbas yang mau bertanggung jawab. Bego banget kan, La?"


"Hanya karena itu terus kamu berantem sampe tonjok muka dia?" tanya Mala memastikan.


Gue mengangguk cepat. Namun, bagi gue ini bukan hanya sekedar hanya. Tapi ini masalah serius.


"Bagi aku ini serius, La, nggak sekedar hanya," balas gue dengan raut wajah kesal tidak bisa gue sembunyikan.

__ADS_1


Mala menghela napas. "Oke, aku minta maaf kalau pemilihan kataku menyinggung kamu. Maksud aku, hanya karena terbawa emosi bukan berarti kamu bisa main hajar orang lah, Gha. Apalagi ini Abbas loh, sahabat kamu sendiri. Kamu ngerti kan maksud aku? Segala sesuatu itu bisa dibicarain baik-baik. Nggak perlu pake kekerasan, kamu bisa loh nasehatin Abbas baik-baik."


"Tapi terkadang beberapa orang tidak cukup dengan dinasehati baik-baik."


"Tapi menurutku Abbas pasti bisa di--"


"Itu menurut kamu," potong gue agak sinis, "aku lebih kenal Abbas ketimbang kamu, La. Kamu jangan sok tahu."


Gue langsung berdiri karena kesal dengan reaksi Mala. "Aku mau mandi dulu lah. Gerah."


"Enggak makan dulu? Tadi katanya kamu bilang laper, aku pa--"


"Enggak usah, tiba-tiba nggak nafsu," potong gue langsung pergi meninggalkan Mala.


"Kamu sebenernya masih marah karena kejadian di Anyer minggu lalu kan?" seruan Mala tiba-tiba.


Langkah kaki gue spontan terhenti saat mendengar seruan Mala.


Gue langsung berbalik. "Kali ini aku nggak marah. Aku cuma agak kecewa karena kamu nggak kunjung cerita. Tapi aku hargai keputusan kamu, La."


"Oke, aku bakal ceritain semuanya."


Gue menghela napas lalu menghampiri Mala. Dapat gue lihat kedua matanya yang terlihat seperti orang yang sedang mati-matian menahan tangisnya. Perasaan bersalah seketika langsung membanjiri diri gue. Apa gue udah keterlaluan?


Cepat-cepat gue langsung menghampiri Mala dan memeluknya erat.


"Jangan cerita kalau emang beneran belum siap, La. Maaf kalau kata-kata aku tadi nyakitin kamu. Pokoknya aku bakalan nunggu sampai kamu beneran siap buat cerita semuanya. Nggak usah buru-buru, toh, kan kita bareng-bareng setiap hari."


Gue sedikit mengurai pelukan kami untuk membantu menyeka pipinya yang basah.


"Udah, ya, nggak usah nangis!"


"Aku egois nggak sih, Gha, kalau belum berani cerita?"


Gue menggeleng cepat lalu memilih untuk kembali memeluknya. Sejujurnya perasaan gue jadi semakin tidak menentu dengan sikap Mala yang begini. Tapi sepertinya Mala benar-benar masih perlu waktu untuk semuanya.


"Enggak, La, justru aku yang bakalan jadi egois kalau maksa kamu cerita sekarang padahal kamu-nya begini. Maafin aku, ya?" bisik gue sambil mengecup pucuk rambutnya.


"Tapi kayaknya lebih baik aku cerita secepatnya deh, biar kamu nggak makin overthinking."


"Kamu yakin udah siap?" tanya gue ragu-ragu.


Awalnya Mala masih terlihat ragu-ragu, namun, tak berapa lama setelahnya ia mengangguk cepat sambil mengulas senyum tipisnya.


Oke, gue siap mendengarkan semuanya.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2