Married With My Besti

Married With My Besti
Kualat


__ADS_3

"Gha," panggil Mala.


"Hm," respon gue seadanya.


Sejujurnya hari ini gue capek banget. Pengen langsung tidur biar besok segeran, tapi melihat kaki Mala yang hari ini keliatan seperti agak bengkak membuat gue tidak tega. Kebetulan Mala udah masuk kerja lagi sejak dua hari yang lalu, pagi ini aja dia udah join juga di operasi gue.


Alhasil ketimbang memilih langsung rebahan, gue memilih untuk memijat kakinya sebentar. Untuk melancarkan sirkulasi darahnya.


"Lo capek? Eh, kamu maksudnya," koreksi Mala cepat-cepat.


Tidak seperti hari-hari sebelum kena omel Mama, sekarang Mala bakal langsung mengkoreksi panggilannya semisal keliru menggunakan panggilan lo-gue.


Gue menggeleng sambil tersenyum. "Enggak papa. Kamu lebih capek, La. Aku mah strong. Masih kuat nih kalau  semisal ada emergency call tiba-tiba," canda gue sambil terkekeh geli.


Mala langsung memukul pundak gue pelan. "Hush, sembarangan banget mulutnya! Ntar didenger malaikat lewat terus beneran dapet emergency call gimana? Aku nggak mau ya tidur sendirian," omelnya kemudian.


Gue langsung terbahak gemas. "Enggak, enggak, takut banget ya gue tinggal?" goda gue kemudian.


Mala tidak membalas dan hanya memasang wajah cemberutnya. Gue hanya terkekeh tak lama setelahnya.


"Btw, Gha, kamu nggak mau cerita sesuatu?" tanya Mala tiba-tiba.


Gue mengerutkan dahi bingung. "Soal?"


"Tetangga baru."


Gue mengerutkan dahi bingung. "Kenapa emang sama tetangga baru kita?"


Mala terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya bertanya. "Kalian dulu kenal di mana?"


"Sekolah. Dia adik tingkat aku," jawab gue santai.


Namun, di luar dugaan Mala malah menatap gue penuh curiga. "Yakin cuma itu?" selidiknya seolah tidak percaya.


Gue langsung menghela napas panjang sambil garuk-garuk kepala. "Mantan, La. Kamu puas?" ucap gue pada akhirnya.


Mala berdecak kesal. "Tuh, kan bener, kamu kenapa nggak cerita kalau dia mantan kamu? Gila, ya, kamu parah banget sumpah, Gha. Ini kalau semisal aku nggak nanya kamu pasti nggak bakal cerita kan?" tuduhnya kemudian.


Memang benar sih, karena menurut gue tidak terlalu penting juga, jadi kalau Mala nggak nanya, ya gue nggak akan kasih tahu. Toh, Ririn hanya masa lalu gue.


"Ya, kamu nggak nanya kemarin-kemarin. Menurut aku nggak penting juga aku cerita, toh, kan cuma mantan. Jadi kalau kamu nggak nanya, ya aku nggak bakal cerita lah."

__ADS_1


"Wah, parah banget kamu, Gha! Untung istri kamu itu aku, coba kalau yang lain."


Gue tertawa dan berhenti memijat kaki Mala. "Ya karena aku tahu istri aku itu kamu, La, makanya aku begini."


Mala mendengus sambil memutar kedua bola matanya. Gue kembali melanjutkan kegiatan memijat kaki Mala.


"Jadi mantan pas zaman apa? SMA?"


Gue menggeleng. "SMP."


Mala langsung berseru tidak percaya. "Gila! Aku pikir kamu tuh tipe cowok yang nggak bakalan berani nebak cewek pas jaman SMP loh, Gha, tahunya. Gokil juga ya, lo."


"Ya, emang," ucap gue seraya mengangguk dan mengiyakan.


Mala menatap gue bingung. "Hah? Emang apa?"


"Ya, emang nggak berani. Lebih ke nggak begitu tertarik sih sebenernya."


Mala semakin menampilkan wajah tidak percayanya. "Enggak tertarik tapi sampe punya mantan? Maksud anda apa ya?"


Gue hanya merespon dengan mengangkat kedua bahu gue secara bersamaan.


"Enggak, seriusan aku mau nanya. Ririn itu mantan pacar apa cuma mantan gebetan?"


Gue jarang naksir cewek duluan sih kebetulan.


"Terus yang nembak bukan lo?" tanya Mala kepo.


Gue langsung menjawab dengan gelengan kepala cepat.


"Kok bisa?!" seru Mala heboh, "gila, ya, pantesan lo suka songong jadi cowok. Ternyata udah biasa dikejar?"


Sambil tersenyum malu-malu, gue langsung mengangguk dan mengiyakan.


"Seriusan dia yang nembak?" tanya Mala seolah masih tidak percaya.


Sekali lagi gue mengangguk dan mengiyakan. "Serius. Kalau nggak percaya tanya aja orangnya langsung."


Wajah Mala terlihat masih seperti tidak percaya. "Tapi yang naksir duluan siapa?"


Gue menatap Mala datar. "Ya menurut kamu aja lah, La. Dia yang nembak ya, udah jelas dia duluan yang naksir, masa aku? Aku mah tinggal ngeiyain doang."

__ADS_1


"Astagfirullah, kok kamu jahat banget sih, Gha?"


"Jahat bagian mananya?" protes gue tidak terima.


"Ya, itu, masa cuma tinggal iyain doang. Terus-terus aslinya dulu kamu suka beneran nggak sama Ririn?"


Gue garuk-garuk rambut gue yang mendadak gatal. "Ini seriusan kamu harus nanya ginian?"


"Aku kepo."


Gue berdecak. "Ya namanya anak SMP, La, emang udah ngerti beneran, ya, soal suka-suka ginian? Aku rasa belum deh."


"Ngerti lah. SMP udah gede ya, Gha, udah paham lah rasanya suka sama lawan jenis mah. Terus siapa yang mutusin?" tanya Mala terlihat benar-benar kepo.


"Ya dia juga, kan dia yang ngajakin pacaran. Masa iya, gue yang mutusin. Nggak enak lah. Mana tega aku."


"Mana tega, mana tega, tapi kamu tega pacaran sama anak orang padahal kamunya nggak suka?"


"Ya, kan masih SMP."


Mala langsung menutup bibirnya rapat-rapat. Kedua matanya menatap gue datar. Kakinya yang ada di hadapan gue langsung dijauhkan dan ia tidur dengan posisi membelakangi gue.


"Tahu lah, Gha, mau tidur aku. Ngantuk."


Gue mengangguk paham lalu ikut rebahan. "Selamat malam kesayangan, Papa," bisik gue sambil mengelus perut Mala dari belakang. Kecupan ringan gue daratkan pada pundak Mala yang sedikit terekspos bebas, "selamat malam juga buat Mamanya," sambung gue ikut membelakanginya.


Bukan apa-apa, gue ikut pake posisi ini karena takut khilaf tiba-tiba peluk Mala dari belakang. Soalnya dia kurang suka kalau gue peluk. Jadi terpaksa kami tidur saling membelakangi, karena biasa nanti kalau udah malem Mala yang bakalan peluk-peluk.


"Gha," panggil Mala tiba-tiba.


Gue berdecak kesal, karena barusan banget nyaris masuk ke alam mimpi. Tapi tiba-tiba dibangunin Mala.


"Kenapa? Perut kamu nggak nyaman? Ada yang sakit?" tanya gue khawatir.


Meski kesal, perasaaan khawatir itu tetap ada. Takut kalau Mala dan calon bayi kami kenapa-kenapa.


Bukannya menjawab Mala malah menyodorkan ponsel gue.


Gue masih bingung jadi tidak langsung mengambil ponsel itu dan hanya menatap Mala dengan kerutan di dahi.


"Dari RS. Emergency call," ucap Mala dengan wajah juteknya.

__ADS_1


Seketika gue pengen teriak. Astaga, Tuhan, kan tadi gue cuma bercanda. Kenapa malah beneran dapet emergency call?


Tbc,


__ADS_2