Married With My Besti

Married With My Besti
Kunjungan Mama (Pov 3)


__ADS_3

*


*


*


"Sarapan, Ma," sapa Mala langsung menawari sang Mama yang baru masuk ke dalam rumahnya.


Wanita paruh baya yang telah melahirkan dirinya itu berdecak sambil geleng-geleng kepala. Ia kemudian meletakkan plastik besar yang dibawanya di atas meja.


"Jam segini kok baru sarapan? Udah hampir masuk jam makan siang ini, La. Terus juga masa makan di ruang tamu, ntar kalau ada tamu gimana? Kayak nggak punya ruang makan aja. Kamu itu tahu nggak fungsinya ruang makan itu untuk apa, ruang tamu untuk apa?" Yana kemudian duduk di sebelah sang putri sambil mengomel panjang.


"Mama kalau mau berisik mode on macem nenek, mending pulang deh," usir Mala terang-terangan.


"Kamu ngusir Mama?"


"Iya, kalau Mama berisik," balas Mala tanpa beban.


Dengan emosi Yana langsung memukul sang putri. "Dasar kurang ajar." Ia kemudian berdecak kesal, karena gemas dengan kelakukan anaknya, "ya udah, iya, iya. Mama nggak bakalan cerewet, itu kamu makan apaan sih, La?" Kedua matanya menatap heran ke arah piring yang berada di atas pangkuan Mala.


"Nasi campur."


Yana memandang Mala dengan ekspresi tidak percayanya. "Nasi campur apaan?"


"Nasi putih campur nasi goreng."


"Kenapa dicampur?"


Yana kembali berdecak sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurd putri semata wayangnya. Coba kalian pikir mana ada orang makan nasi goreng dicampur nasi putih, masih ditambah sayur pula tapi langsung satu piring.


"Tadi Agha minta dibikinin nasi goreng, tapi nggak diabisin. Terpaksa Mala yang makan, kalau makan nasi goreng aja nggak bakal bikin kenyang," balas Mala santai. Kedua matanya fokus menatap layar televisi yang sedang menampilkan acara kartun. Selera menonton perempuan itu memang terkadang serandom itu.


"Astaga, La, kan bisa kamu ngabisin nasi gorengnya dulu baru kamu makan nasi putih. Nggak perlu dicampur begini."


"Males, Ma, ntar cucian piring Mala banyak."


"Loh, kan bisa pake piring bekas nasi gorengnya lagi, La. Lagian bukannya kamu pake ART? Emang nggak jadi?"


"Libur. Emang dari awal perjanjiannya kalau weekend Mbak Suci minta libur buat quality time sama keluarga."


"Terus ini apa ijo-ijo?" tanya Yana sambil menunjuk ke arah daun bayam yang berada di atas nasi putih.


"Sayur bayam. Mala masak sayur bayam sama goreng ikan, Mama mau?"

__ADS_1


Yana menggeleng. "Tadi Mama udah sarapan. Terus suami kamu mana? Emang biasanya nggak bagi tugas sama dia?"


"Biasanya sih bagi tugas sama Agha, cuma akhir-akhir ini nggak tega juga kalau mau nyuruh dia. Soalnya kalau pagi tempatnya dia di kamar mandi terus. Kalau nggak depan wastafel ya depan closet."


"Ya ampun, emang masih belum sembuh juga?" tanya Yana dengan tatapan prihatinnya.


"Sebenernya kalau muntah udah jarang, Ma, terakhir ya semalam. Pas pulang dari RS nggak sengaja ngelewati penjual duren, eh, abis itu langsung muntah-muntah pas di rumah. Sampe nggak tidur, baru mulai tidurnya tadi abis subuh."


"Terus sekarang dia masih tidur?"


"Kayaknya. Soalnya belum teriak-teriak manggil sih."


Salah satu kebiasaan Agha memang hobi teriak-teriak kalau dirinya jauh dari pandangan pria itu. Udah macem anak ayam kehilangan induknya.


"La, Mama serius mau nanya deh."


"Bentar, Mala abisin sarapan Mala dulu."


Sepertinya Mala peka arah pembicaraan sang Mama, ia lebih memilih untuk menghabiskan sarapannya dulu. Karena ia malas kalau nanti mendadak hilang selera makan, hanya karena pembahasan mereka. Yana mengangguk paham dan menyuruh sang putri menghabiskan makanannya.


"Mama mau lihat suami kamu boleh?"


Masih dengan pandangan yang fokus menatap layar, Mala mengangguk. "Boleh. Asal jangan diapa-apain aja suami Mala. Inget, Mama udah punya Papa."


"Ya, namanya antisipasi, takutnya kejadian yang viral dulu bikin Mama terinspirasi, kan Mala nggak tahu. Apalagi kata Papa, Mama itu orangnya nggak bisa liat yang ganteng dikit. Gampang oleng, gampang khilaf. Wajar dong kalau Mala khawatir? Suami Mala kan ganteng, masih muda lagi."


Yana berdecak kesal karena kesulitan untuk membalas. Ia seperti merasa sedang mendapatkan karma karena dulu sering kali menjawab terus kalau berdebat dengan nenek Mala.


"Jawab aja terus! Nanti anak kamu juga bakal begitu baru tahu rasa."


"Kalau masalah ini sih Mala emang terinspirasi sama Mama yang sukanya mendebat nenek," balas Mala tidak mau kalah.


"Iya, ntar kamu rasain sendiri kalau udah punya anak."


Kali ini Mala tidak menjawab. Hanya terkekeh samar dan membiarkan sang Mama naik ke kamarnya yang ada di lantai atas.


Setelah piringnya bersih, ia langsung berdiri meninggalkan ruang tamu dan bergegas menuju dapur untuk mencuci piring kotornya. Sebenarnya Mala tipe yang suka menumpuk piring kotor dulu, ia baru mencucinya  setelah dirasa cucian piringnya sudah lumayan. Tapi berhubung ada sang Mama, jadi dia harus segera mencucinya sebelum kena ceramah panjang lebar. Ia sedikit malas kalau harus membasahi tangannya hanya demi mencuci satu piring saja. Menurutnya itu juga kurang hemat sabun.


"Kamu nggak percayaan banget sama Mama? Nggak bakal Mama apa-apain juga suami kamu, La," gerutu Yana begitu menyadari keberadaan Mala di belakangnya.


Agha masih tertidur pulas di atas ranjang dengan selimut tebalnya. Sedangkan Yana hanya berdiri di depan pintu.


Mendengar gerutuan sang Mama, Mala hanya terkekeh. Tanpa berkomentar ia langsung masuk ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu. Setelah mendapat yang dicari, ia langsung keluar kembali dan mengajak Yana turun ke bawah.

__ADS_1


"Sekarang Mama mau kamu jujur sama Mama, sebenernya kamu beneran udah coba tes belum sih, La."


Tanpa repot-repot mengeluarkan suara, Mala langsung menunjukkan beberapa testpack miliknya kepada Yana. Wanita paruh baya itu langsung mengecek testpacknya satu-satu dan memang hasilnya sama, negatif.


"Ini kamu sebenernya paham nggak sih cara pakenya?"


Mala langsung menampilkan wajah datarnya. "Ma, Mala masih bisa baca petunjuk aturan pakai, ya."


"Terus kenapa hasilnya begini semua?"


"Ya, emang mungkin karena Mala belum hamil," balas Mala terdengar ragu-ragu.


"Kamu terdengar ragu-ragu, La. Sekarang jujur sama Mama!"


Mala menghela napas panjang. "Enggak tahu, Mala bingung, Ma."


"Bingung gimana? Kamu udah coba cek kadar beta-hCG kamu belum?"


Mala menggeleng lemah.


"Kok belum?"


"Sebenernya Mala takut, Ma. Mala takut kalau hasilnya akan negatif juga kayak hasil testpack yang selama ini Mala coba terus. Aku suka nggak tega liat wajah kecewa Agha tiap tahu hasil testpack aku yang negatif terus."


Kini giliran Yana yang menghela napas panjang. Ia menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan sang putri.


"Ya ampun, sayang, kok kamu mikirnya gitu sih? Oke, kalau kamu masih ngerasa takut besok Mama temenin ceknya, ya? Biar kita tahu hasilnya. Biar nanti kamu juga bisa lebih hati-hati kalau semisal hamil beneran, kan kasian baby-nya juga, La, kalau beneran udah ada tapi nggak kamu perhatiin. Mau ya?" bujuk Yana.


Meski awalnya terlihat ragu-ragu, Mala akhirnya mengangguk setuju dan mengiyakan.


"Tapi jangan kasih tahu Agha dulu, ya, Ma?"


Yana terlihat kurang setuju.


"Ma, please!" ucap Mala dengan ekspresi memohon.


Yana terlihat berdecak kurang setuju. "Dia suami kamu loh, La."


"Iya, Mala tahu, tapi aku belum siap kasih tahu, Ma. Mala janji nanti bakal langsung kasih tahu kalau hasilnya udah keluar."


"Ya udah terserah kamu lah. Yang penting nanti harus kamu sendiri yang kasih tahu. Ngerti?"


Mala mengangguk paham. "Iya, Ma."

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2