
*
*
*
Tok Tok Tok
"Ya? Masuk!"
Gue langsung menyempulkan kepala gue setelah mendapat respon dari sang pemilik ruangan.
"Sibuk nggak lo?" tanya gue berbasa-basi.
Si pemilik ruangan mengangkat wajahnya sebentar guna melihat siapa yang mencarinya. Baru kemudian membalas, "Tergantung."
"Tergantung apa?"
"Lo mau ke sini dalam rangka apa? Kalau cuma mau ngeledekin karena gue pejuang LDR ya jelas, gue sibuk, tapi kalau lo datang dengan tujuan jelas, anggap aja gue lagi nganggur."
Gue mengangguk paham lalu masuk ke dalam ruangannya dan duduk di salah sofa yang menganggur. "Tujuan gue jelas nih, mau konsul gue."
Raut wajah Mia seketika langsung berubah cerah. "Lo mau nambah adek buat Kai?" godanya kemudian.
"Sembarangan," komentar gue kemudian, "bentar dulu lah, Mala pengennya gap yearsnya minimal tiga atau empat tahun."
"Kalau lo?"
"Kalau gue sih sedikasihnya aja, nggak ikut ngandung dan melahirkan soalnya. Kalau masalah ini, manut yang bawa ke mana-mana sembilan bulannya lah."
Mia manggut-manggut paham. "Terus lo mau konsul soal apa? Kai GTM?"
"Alhamdulillah enggak sih, asal nggak makan sendiri, dia gampang kok makannya. Yang penting ada temennya makan aja, pokok kalau dia cuma disuapin buat makan gitu biasanya dia ogah makan."
"Terus?"
"Gue sama Mala mau ambil cuti buat liburan."
"Widiihh, asik, mau ke mana?" tanya Mia antusias. Yang mau liburan kan gue sama Mala, kenapa Mia yang antusias?
__ADS_1
"Yang deket-deket aja sih, Mala ngajakin ke Solo."
"Lah, ngapain ke Solo? Masa liburan cuma ke Solo, mau cari apaan? Kenapa nggak Jogja aja sih? Seenggaknya kalau di Jogja lebih banyak tempat wisatanya kan?"
"Mau sekalian main ke rumah Bude gue, rencana ntar mau ke Jogja juga sih."
Mia kembali mengangguk paham. "Oh, gue kirain. Mau sekalian ke rumah saudara toh." ia kemudian tersadar akan sesuatu, "lah, terus lo mau konsul soal apa?"
"Nah, kalau mau ke Solo enakan naik pesawat atau mobil? Soalnya kan bawa bocil, gue takut ngerasa ribet kalau naik pesawat bawa-bawa bocah."
Di luar dugaan, Mia langsung terbahak. "Pertanyaan lo, ya, ngada-ada banget. Lo kalau ke Solo biasa naik apa dulu?"
"Pesawat."
"Nah, itu, jawabannya, Gha. Naik mobil Jakarta-Solo itu capek loh, gila aja lo kalau sampai ngide nyetir PP Jakarta-Solo, terus lanjut ke Jogja gitu?" Mia langsung menggeleng cepat sambil berdecak, "nggak bakalan sanggup lo, semisal cuma nyetir berdua sama Mala nih, bisa gantian aja udah capek, apa kabar kalau sampai nambah sambil bawa anak? Enggak bakal sanggup lah, Gha. Capek loh."
Gue mengangguk setuju. Memang benar sih, nyetir kan melelahkan, mau gantian sama Mala juga kasian. Oke, fix, berarti ide terbaik memang naik pesawat.
"Kalau saran gue sih mending lo dari Jakarta ke Solo tuh naik pesawat, terus dari Solo ke Jogja naik kereta. Biar seru," saran Mia membuat gue mengerutkan dahi heran.
"Emang nggak ribet? Maksud gue bawa bocah loh, Mi, riweh nggak sih?"
"Ya elah, lo kayak baru belajar jadi orang tua aja sih, Gha."
Mia spontan langsung tertawa. "Oh iya, ya, Kai masih setahun ya? Udah bisa apa aja dia?" tanyanya kemudian.
Gue menyandarkan punggung pada badan sofa. "Gue aja ngerasa cepet loh, Mi, perasaan kemarin masih gue gendong sekarang udah ngajak jalan mulu, padahal belum bisa jalan sendiri."
"Oh, udah mau belajar jalan?"
Gue mengangguk untuk mengiyakan.
"Enggak bisa diem dong?"
"Sebelumnya aja emang nggak bisa diem dia, persis emaknya. Lincah banget, gue sampe kewalahan. Apalagi kalau abis mandi, Mi, buset, dah, nyerah sih gue kalau soal pakein baju," curhat gue kemudian.
"Eh, mandinya sama lo?"
Gue mengangguk dan mengiyakan. "Tapi ya kadang gantian sih, tapi seringnya tetep gue."
__ADS_1
Tanpa terduga, ekspresi Mia tiba-tiba berubah. Ia mengumpat samar setelahnya. "Sialan, gue merasakan yang namanya sirik, iri, dan juga dengki."
"Hah?" gue memasang ekspresi bingung, "kenapa emang?"
"Gue pejuang LDM, Gha, kalau lo lupa. Mana laki gue tipe yang pulang cuma buat molor, anjir, udah kalau pulang sebulan sekali belum tentu, giliran pulang, banyakan tidurnya ketimbang main sama anak-anaknya." Mia menghela napas panjang, "lo tahu nggak sih, Gha, kadang gue mikir nyesel tahu nikah sama abdi negara. Ya, gue tahu sih sebelum nikah gue udah dikasih gambaran bakalan diginiin, tapi setelah ngalami semua secara langsung dan selama bertahun-tahun, rasanya tetep berat. Kalau enggak inget anak, gue mungkin udah gugat cerai suami gue kali," curhat Mia diiringi kekehan ringan. Sudut bibirnya membentuk senyum miris, yang membuat gue sedikit iba melihatnya.
Status Mia itu punya suami, tapi ngurusin anak udah kayak single parents. Jelas saja pasti berat.
"Mi, jangan ngomong gitu lah!" ucap gue mendadak merasa tidak enak hati.
Suasana tiba-tiba berubah. Ekspresi Mia berubah seperti orang yang sedang menahan tangis. Ia terbahak tak lama setelahnya sambil menarik selembar tisu untuk menghapus air matanya yang tiba-tiba turun.
"Hahaha, sorry, sorry kok gue jadi melow gini ya?"
"Lo oke? Kalau berat banget lo bisa berhenti sekarang, Mi, lo berhak bahagia juga. Jangan menderita dengan mengatasnamakan anak, nanti anak lo sedih kalau udah paham. Atau gini, coba lo bayangin kalau lo berada di posisi anak lo. Gimana perasaan lo?"
Mia tidak langsung menjawab dan melirik gue ragu-ragu. Setelahnya ia menggeleng. "Gue nggak tahu. Menurut gue definisi kebahagiaan anak tuh punya keluarga ya utuh, Gha, gue nggak bisa ngebayangin kalau anak gue tanpa Papa."
"Lah, kan meski kalian bercerai Papa-nya anak-anak bakalan tetap jadi Papa mereka, mungkin ada mantan suami atau mantan istri, tapi kalau anak kan nggak ada yang namanya mantan anak."
Gue sedang dengan mode serius gue, tiba-tiba Mia melempar tisu bekasnya ke wajah gue.
"Si anjir, lo kok malah mengajarkan hal sesat gitu? Nyuruh gue cerai sama suami gue?"
Gue melotot tidak terima. "Ya, lo bilang berat, anjir, ya, kalau berat ya gue saranin udahan aja daripada capek makan ati kan?"
"Ya namanya rumah tangga, LDM, pasti berat lah, Gha. Lo kalau kasih masukan yang bagus dikit bisa nggak sih? Seneng banget lo liat gue janda?"
Buset, kok ngegas ya ini ibu dua anak?
"Kenapa jadi gue yang disalahin? Lagian lo yang salah, kan lo udah nikah bertahun-tahun sama suami lo, ngapain lo minta saran dan masukan dari orang yang belum genap nikah 3 tahun?" protes gue kesal. Gue langsung berdiri, "tahu lah, gue mau cabut aja lah daripada kena sembur lo."
"Dih, cowok kok ngambekan, pantes aja Mala suka ngeluh," gerutu Mia. Otomatis gue langsung berbalik dan menatapnya tajam.
"Iri bilang bosku!"
"Iya, gue iri dan gue bilang. Puas lo?"
"Belum sih sebelum lo jadi janda," canda gue sebelum kabur dari ruangan Mia. Samar-samar gue dapat mendengar teriakan menggelegarnya yang diiringi umpatan kasar.
__ADS_1
Wkwk, ngamuk dia. Serem banget buset.
Tbc,