Married With My Besti

Married With My Besti
Perkara Jemput Kai


__ADS_3

*


*


*


Wifei❤️ : Gha, jangan lupa jemput Kai di rumah Bunda ya!


Anda: bukannya bareng? Kan kita tadi berangkatnya juga bareng?


Wifei ❤️ : aku belum pasti nih pulangnya jam berapa. Jadi mending kamu jemput Kai dulu aja


Anda : terus kamu?


Wifei ❤️ : gampang. Nanti aku bisa cari taksi atau ojol


Anda : eh, tapi La, aku kan nggak bawa car seat. Kan tadi Kai kamu pangku, gimana dong?


Wifei❤️ : ck. Kamu sih, kan aku tadi pagi udah bilang, bawa car seat, tapi kamunya ngeyel minta Kai dipangku aja😒


Wifei ❤️ : ya udah, berhubung udah terlanjur kamu pulang dulu baru ke rumah Bunda buat jemput Kai


Anda : ☹️ enggak bisa ya, kita pulangnya bareng, aku nungguin kamu sampai operasinya kelar, jam berapa aja nggak papa deh, daripada bolak-balik


Wifei ❤️ : jemput Kai, Gha!


Anda : iya, iya, aku jemput Kai abis ambil car seat-nya☹️


Wifei ❤️ : enggak ikhlas?


Anda : apaan sih? Kok jadi nuduh? Iya, iya, ikhlas, syangg😚😘🥰😍😊☺️


Setelah membaca chat Mala, gue langsung bergegas pulang. Jam praktek gue udah kelar, cuma tinggal nunggu Mala kelar operasi. Tapi sepertinya emang operasi Mala belum pasti kelar jam berapa, daripada kasian nanti Kai kelamaan nunggu kita, jadi lebih baik gue pulang ke rumah ambil car seat lalu ke rumah Bunda. Beruntung jarak rumah gue sama rumah Bunda tidak terlalu jauh, jadi aman. Besok-besok gue bakal lebih dengerin Mala lah, takut kualat lagi.


"Lah, mau ke mana lagi, Bang?" sapa Aldi saat melihat gue kembali membuka pintu kemudi.


"Jemput Kai. Gue duluan ya," balas gue langsung masuk ke dalam mobil.


Gue memilih untuk tidak berbasa-basi karena takut kelamaan. Mala bisa mengomel panjang kalau gue ketahuan nggak segera menjemput Kai.

__ADS_1


Saat gue sampai di rumah Bunda. Kai nampak masih asik bermain sama bokap. Karena lapar akhirnya gue memutuskan untuk makan dulu di rumah Bunda.


Btw, Kai sekarang udah bisa merangkak. Cepet banget kan? Iya, gue juga nggak nyangka. Perasaan kemarin baru belajar tengkurap deh, ini tahu-tahu udah merangkak. Udah nggak bisa diem dan jago banget berantakin ini-itu. Pokoknya rumah Bunda atau Mama kalau udah kedatangan Kai, dijamin langsung kayak kapal pecah. Apalagi emang Kai anaknya aktif banget. Gue sama Mala udah mulai kewalahan ngurusinnya. Bener-bener udah nggak aman kalau ditinggal sendirian.


"Gha, malam ini nginep di sini aja," celetuk Ayah di sela bermain dengan cucunya, "istrimu suruh aja pulang ke sini."


Gue otomatis menghentikan kunyahan gue. Wajah gue seketika langsung berubah masam.


"Ayah tahu nggak Agha barusan dari mana?"


"RS kan?"


Gue menggeleng. "Rumah. Ambil car seat biar bisa bawa pulang Kai nantinya, soalnya kan tadi berangkat bareng Mala. Eh, Ayah malah minta kita nginep." Gue menggeleng tegas, "enggak mau lah. Percuma dong Agha mondar- mandirnya. Dapet capeknya doang."


"Terus istrimu pulangnya gimana?"


Gue mengangkat kedua bahu tanda tak tahu. "Naik taksi paling."


"Kenapa nggak kamu jemput?"


"Cari aman, Yah, aku dapet tugas buat langsung jemput Kai terus pulang. Kalau mampir jemput dia bisa kena amuk aku."


Gue melirik ke arah jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan. Gawat. Gue udah kelamaan di sini, kalau beneran keduluan Mala bisa beneran diamuk dan nggak dikasih izin tidur di kamar nih.


Dengan gerakan buru-buru, gue langsung berdiri sambil menegak air minum. Bokap gue sampai berdecak kesal seraya mengomel panjang. Gue memilih tidak terlalu memperdulikannya dan langsung bergegas menuju dapur untuk mengembalikan piring dan gelas kotor. Setelahnya gue kembali ke ruang keluarga dan mulai membereskan barang-barang Kai. Setelah selesai gue langsung pamit pulang.


Wajah gue seketika langsung berubah pias saat melihat lampu rumah sudah menyala semua. Sebuah tanda bahwa artinya Mala beneran sudah pulang.


"Duh, Nak, habislah kita. Mama-mu udah pulang, gimana ini? Papa takut. Ah, tahu gini mending kita nginep sekalian di rumah Kakung-mu tadi. Ntar pokoknya kamu harus bantuin Papa, ya, kalau Mama ngomel panjang. Nanti Papa janji deh bakal beliin mainan yang banyak buat kamu. Oke?"


Kai merespon dengan ocehan tidak jelasnya seraya tertawa. Gue langsung menggendongnya keluar mobil, membuka pintu bagian belakang untuk mengambil tas bawaan Kai. Bocah kalau main doang bawaannya udah kayak orang dewasa mau pergi dinas dua hari ya.


Kai masih terus mengoceh saat kami masuk ke dalam rumah, sesekali gue pun menanggapinya meski sebenarnya nggak paham juga bahasa bayi.


"Mampir ke mana dulu sih, kok bisa-bisanya duluan aku yang pulang? Udah gitu ditelfon nggak diangkat," sambut Mala langsung meraih Kai dari gendongan gue.


Cepat-cepat gue merogoh kantong celana dan mengeluarkan ponsel dari dalam sana. Oho, ternyata ponsel gue masih dalam mode diam. Sambil meringis gue menunjukkan layar ponsel pada Mala.


"Hehe, lupa belum matiin mode silent."

__ADS_1


Mala berdecak. "Terus mampir ke mana dulu?"


"Nggak mampir ke mana-mana kok, cuma di rumah Bunda dulu bentaran, minta makan. Hehe, laper, La."


Mendengar jawaban gue Mala langsung memukul pundak gue. "Kamu ini gimana sih? Aku udah beli makan malam, aku juga nungguin kamu kenapa kamu malah makan duluan di rumah Bunda?"


"Ya, mana aku tahu kalau kamu belum makan dan nungguin aku."


Ups! Sepertinya gue salah ngomong. Mala langsung melotot tajam saat gue selesai mengucapkan kalimat barusan. Sambil meringis canggung gue langsung merangkul pundaknya.


"Hehe, tapi tenang, sayang, perut aku masih muat kok buat makan lagi," bujuk gue kemudian.


Gue sepenuhnya berbohong demi membujuk Mala yang sudah terlanjur kesal. Karena asli, perut gue rasanya udah kenyang banget sebenernya.


"Enggak ada. Kalau udah makan ya udah. Ini mending kamu tidurin Kai, biar aku makan sendirian."


Mala langsung menyerahkan Kai ke gue. Gue menerimanya dengan ekspresi protes. Namun, tentu saja bibir gue nggak berani protes beneran.


"Oh ya, Gha, kita belum beli baby chair deh buat Kai. Kamu kira-kira kapan ada waktu?"


Mala yang niat awalnya hendak menuju dapur mendadak berbalik lagi. Gue mengerutkan dahi bingung.


"Baby chair buat apa?" tanya gue bingung.


"Ya buat Kai belajar makan lah, Gha. Kok buat apa? Anak kamu bentar lagi mau diajarin makan loh."


"Hah? Udah mau belajar makan dia? Cepet banget, emang bayi belajar makan umur berapa?"


"Enam bulan."


"Kai umurnya berapa?"


"Lima bulan."


"Masih lama berarti, nanti lah gampang."


"Kamu kebiasannya kegampangin, Gha. Pokok minggu ini kita pergi cari baby chair-nya, nggak ada alesan. Kosongin jadwal kamu buat nongkrong sama Bapak-bapak komplek atau yang lainnya, sekalian belanja bulanan."


Tak ingin semakin merusak mood Mala gue akhirnya hanya bisa mengangguk dengan pasrah.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2