Married With My Besti

Married With My Besti
Sah!!


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Nirmala Afsheen Gavaputri binti Sagarana Naurel Cakra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana saksi? Sah?"


"SAH!!"


Sah? Gue sah menikah sama Mala? Gue sama Mala resmi jadi suami-istri dan gue udah bebas kalau mau ngapa-ngapain sama dia? Secepet ini?


"Gha, Agha! Tangan lo!"


Lamunan gue seketika langsung buyar.


Tangan gue?


Oh, saliman. Gue cepat-cepat mengulurkan tangan gue. Mala terlihat seperti menahan kesal, namun, pada akhirnya tetap berusaha tersenyum dan mulai menjabat tangan gue. Spontan gue langsung menarik tangan gue saat Mala mencoba mencium punggung tangan gue.


"Lo mau ngapain, anjir?"


Mala terlihat kaget, bahkan beberapa tamu undangan dan sanak keluarga kami pun tak kalah kaget.


Pak penghulu yang duduk di hadapan kami tiba-tiba tertawa. "Aduh Mas Agha masih malu-malu aja, kan sudah sah suami-istri, jadi Mbak Nirmala mau cium tangan Masnya toh. Masa masih ditanya mau ngapain?" goda beliau, yang sukses mengundang gelak tawa seluruh tamu undangan.


Gue meringis malu. Lalu kembali menyodorkan tangan gue agar dicium Mala.


"Kocak banget sih lo," cibir Mala saat mencium punggung tangan gue.


"Ya maaf, kan gue masih agak culture shock. Lagian gue nggak berekspektasi bakalan nikah sama lo hari ini."


"Ya, lo pikir gue udah? Sama aja, anjir," balas Mala tidak mau kalah, "lagian orangtua kita ada-ada aja sih. Masa ijab qobul semendadak ini. Kan harusnya ini acara lamaran dulu, ah, gagal pamer di sosmed kan gue jadinya ntar," gerutu Mala dengan wajah ditekuknya.


"Niat lo jelek sih, nggak didukung semesta kan jadinya," balas gue. Lalu mencium kening Mala sesuai instruksi sang fotografer. Lalu setelahnya kami mulai menanda tangani buku nikah. Sesuai yang dikatakan Kak Ale, ternyata semua surat-surat sudah disiapkan. Gue dan Mala sudah sah jadi suami-istri secara hukum dan agama.


Anjir lah, besok gue aja ada praktek rawat jalan shift pagi. Tahu begini kan gue ambil cuti sekalian. Masa sah suami-istri nggak ngapa-ngapain. Agak miris juga ya.


"Congrats, bro, akhirnya nyusul gue juga lo," ucap Ohim sambil memeluk gue dan menepuk pundak gue pelan, "wkwk, tinggal lo doang sekarang, Bas." Setelah melepas pelukan kami, sempat-sempatnya Ohim menggoda Abbas dulu.


Abbas yang diledek langsung mendengus sambil memutar kedua bola matanya malas. "Gue diem doang padahal, ya, masih aja lo bully," gerutunya kemudian, "btw, congrats juga ya, bro. Sorry, amplopnya belum gue siapain. Lo sih gokil, katanya mau lamaran kok tahu-tahu ijab qobul, ya jangan salahkan kami kalau belum ada yang bawa amplop."


"Kan gue tadi udah ngabarin di grup, anjir. Tapi ya udah nggak papa deh, thanks, ya, bro. Cepet nyusul lo, jangan gamon mulu."


"Hah, Abbas gamon sama siapa?" tanya Alisa mampu membuat suasana menjadi canggung.

__ADS_1


"Tapi seriusan sih, semua tamu undangan pada kaget banget loh pas tahu ini acara ijab qobul. Kan soalnya undangannya emang acara lamaran, masa tahu-tahu ijab qobul. Emang gokil sih lo berdua."


Gue sedikit bernapas lega karena Ohim tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


"Jangankan kalian, gue sama Agha aja kaget," balas Mala kemudian.


Gue mengangguk setuju, membenarkan ucapan Mala. "Gue bahkan baru dikasih tahu pulang dari RS tadi, njir."


Awalnya, Alisa masih terlihat bingung. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Karena paham privasi Abbas tak ingin tersebar.


"Eh, kok kalian udah sah suami-istri kok masih lo-gue sih ngomongnya? Ganti aku-kamu dong, La," tegur Alisa.


"Ntar aja lah kalau udah ada anak," balas Mala.


Gue pun mengangguk setuju. Rasanya disuruh bayangin aja gue geli, apalagi kalau praktek beneran ngomong pake aku-kamu. Duh, jangan dulu deh.


"Mereka mana sudi kalau disuruh aku-kamuan kayak kita, Lis, gue aja malah mikir ntar kalau mereka udah punya anak, curiga mereka masih lo-gue ngomongnya." Ohim ikut menyahut sambil merangkul pundak istrinya.


Mala yang mendengar itu tidak terima langsung memukul pundak Ohim. "Enggak sampe sebegitunya, anjir, serem tahu ntar kalau gue sama Agha udah punya anak terus kita lo-gue, bisa diikutin mereka yang ada. Kan nggak lucu, bisa kena omel bonyok kita lah ntar."


Gue meringis sambil mengangguk dan membenarkan. Benar juga ya apa yang Mala omongin, apa gue sama Mala coba latihan aku-kamu pelan-pelan ya? Biar nggak terlalu kaget ntar kalau tahu-tahu Mala isi.


Kayaknya perlu gue omongin sama Mala nih perihal ini.


Oke, positif thinking aja. Istri gue kayaknya belum terbiasa, masih malu-malu. Ntar kalau udah terbiasa paling juga nempel sendiri.


*


*


*


Gue menggeliat sambil merenggangkan tubuh gue yang rasanya pegal luar biasa. Ternyata orangtua kami cukup pengertian, acara kemarin selesai tidak terlalu malam. Setidaknya cukup membuat kami beristirahat dan bisa membuat kami sanggup bangun tengah malam untuk melakukan kegiatan malam yang biasa dilakukan pasangan suami-istri pada umumnya.


Haha. Yes, gue dan Mala jelas sudah melakukannya. Gue pikir awalnya bakalan canggung karena status kami yang dari awal dilabeli kata teman. Tapi ternyata tebakan gue salah, semua berjalan dengan nyaman dan kami benar-benar melupakan perasaan canggung kami masing-masing.


"Lo nggak tidur lagi, La, abis subuhan?" tanya gue pada Mala yang kini sibuk mengeringkan rambutnya.


Gue menoleh ke arah ranjang kami yang spreinya sudah diganti. Kebetulan sehabis subuhan tadi Mala menyuruh gue tidur di sofa karena sprei kami yang kotor mau langsung dia ganti.


Mala menggeleng. "Enggak sempet."

__ADS_1


"Kenapa? Lo nyuci sprei kita dulu?" tebak gue ragu-ragu.


"Ya menurut lo?"


Kali ini Mala menoleh sambil menatap gue sinis. Gue hanya meresponnya dengan tertawa.


Haha, istri gue malu ternyata, guys.


Gue menggeleng sambil mengulum senyum, karena kebetulan gue takut dilempar sesuatu kalau masih menertawakannya.


"Tungguin ya!"


"Lo mau ngapain emang?"


"Ganti baju."


"Terus kenapa minta ditungguin, anjir?" seru Mala agak emosi.


"Ya, maksud gue biar kita bisa ke RS bareng lah, La. Pake nanya lagi."


"Berangkat sendiri-sendiri aja," balas Mala sambil memoles bibirnya.


Gue menghentikan niat gue untuk melepas kaos gue. "Kenapa gitu?"


"Lo lama. Gue udah harus berangkat nih, takut telat."


"La, lo nggak lupa kan kalau kita udah sah suami-istri. Semalam kita bahkan udah--"


"Iya, iya, gue inget, Gha. Ya nggak mungkin juga gue lupa, nggak usah rewel deh cuma perkara nggak berangkat bareng. Pulangnya aja ntar kita bareng."


Gue merengut kesal sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.


"Serah lo, gue mau berangkat sekarang." Setelah dirasa penampilannya sudah oke, Mala langsung berdiri sambil mencangklong tas selempangnya, "gue duluan, ya. Cium tangan dulu deh buat nyenengin lo," imbuhnya sambil meraih telapak tangan gue untuk salim.


"Hati-hati nyetirnya," teriak gue kemudian.


Tak berselang lama Mala tiba-tiba kembali. "Btw, gue pake mobil lo ya, Gha. Lo minta dianter supir Bunda aja atau nebeng ke Ayah, biar ntar kita bisa pulang bareng." Tanpa menunggu jawaban dari gue, Mala langsung pergi begitu saja.


Astaga, ya ampun istri gue kok kurang ajar sih? Kerja di tempat yang sama bukannya ditungguin malah ditinggal. 


Ya Tuhan, belum juga genap nikah 24 jam kok gue udah diginiin? Gimana seterusnya?

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2